Bab 10. Tidak Bisa Melupakan

1310 Kata
Happy reading Typo koreksi ***** 'Susah melupakan pesonanya' ... Fanny Kailana ... **** Ke esokkan harinya. Suasana salah satu kafe di ibukota masih belum terlalu ramai, wajar saja hari baru saja memasuki pukul 10.00 pagi dan seorang gadis dengan rok abu-abu yang dan jaket rajut merah muda menutupi seragam sekolahnya. Gadis itu dengan santai menyecap ice chocolate di atas meja yang ia pesan. Mengabaikan tatapan karyawan kafe yang melihatnya. Tentu saja mereka bisa menebak mengapa gadis itu bisa berada di sana. Yang tentu saja, sudah di pastikan kalau dirinya BOLOS dari sekolah. Fanny Kailana, menatap keluar jendela kafe hanya ada tiga orang pengunjung termasuk dirinya. Gadis itu melamun, membayangkan wajah tampan dan rupawan pemuda bernama Fathur kemarin. Fanny tidak bisa tidur semalaman karena dirinya sibuk mencari informasi tentang Fathur. Dan hari ini ia sedang menunggu jam pulang sekolah pemuda itu. Ya. Fanny berhasil tahu dimana sekolah pemuda itu dari akun sosmed salah satu anak laki-laki yang ia yakini adalah teman pemuda itu. Meski, tidak ada nama ig pemuda itu, Fanny cukup senang setidaknya ia mengetahui kalau Fathur adalah anak SMA PELITA. Itulah sebabnya, gadis cantik ini rela bolos meski tahu ayahnya akan kembali marah kepadanya karena absen dari sekolah. Di tempat lain, Fathur dan ketiga sahabatnya sudah nongkrong di kantin meski jam istirahat belum berbunyi. Tidak ada yang memergoki ke empat siswa nakal itu sekarang. Bahkan, Fathur tidak segan-segan menyulutkan sebatang rokok dan menikmati aroma tembakau tersebut. "Semalam, elo bawa tuh cewek kemana  Bro?" Akmal memecah keberisikan di antara mereka berempat. Fathur mendongak, menatap wajah Akmal sekilas dan hanya membalas dengan menggedikkan bahu santai. "Lupa gue." "Anjirrr ... anak orang pasti udah elo apa-apain kan tuh semalam!" Pekik heboh Tegar yang gemas melihat tingkat acuh tak acuh Fathur. "Enak aja lo kalau ngomong suka beber hahaha." Gelak tawa pemuda itu membuat ketiga pemuda di sekitarnya menganga mendengar sebelum akhirnya mereka ikut tergelak dan menggeleng tidak percaya. "Parah lu, Tol." "Dasar buaya." "Stress nih anak." Komentar ketiganya di balas kekehan menyebalkan pemuda tampan itu. "Tapi, tuh cewek cantik juga ya. Sayang banget elo pasti nggak akan ketemu dia lagi sekarang." "Terserah, bodo amat. Nggak gue pikirin." "Iya lah, orang di pikiran elo cuma ada Sia doang kan?" Cibir Tegar mendengkus sebal. "Pastilah." Sahut Fathur tegas. "Bulan depan kalian ikut camping sekolah?" J memberitahu informasi soal rencana sekolah mereka. "Kemana emang?" Tanya Tegar antusias. "Belum tahu sih, gue dengar-dengar aja katanya ke puncak." "Yah ... cuma ke sana." Keluh Tegar menjadi tidak bersemangat. "Wajarlah mereka pilih ke sana. Emangnya elo mau kemana? Luar Negeri gitu?" J bertanya. Anggukan kuat Tegar membuat pemuda itu mendapat tampolan tangan Akmal dari belakang kepalanya. Hingga pemuda itu mengaduh kesakitan. Plak. "Gegayaan lo, upil anoa." Cibir Akmal geram. Tegar cemberut membuat Akmal dan J menertawakan sahabatnya itu. "Kalian jahat banget sih, WOY AKMAL ANAK PAK HASAN, sakit bege!" Teriaknya di balas lemparan kotak tissu oleh Akmal yang kesal nama ayahnya di sebut. "Bangke lo, manggil-manggil nama bokap gue." Gerutunya, perdebatan keduanya membuat meja mereka semakin berisik saja. Fathur beberapa kali mengecek jam istirahat kedua mereka lewat layar ponselnya. Pemuda itu menunggu kedatangan kekasihnya, meskipun tahu kalau Fersia tidak akan mau bergabung dengan mereka. Setidaknya dirinua bisa melihat wajah gadisnya di tempat yang sama. Tet tet tet Bel akhirnya berbunyi selang 15 menit kemudian, murid-murid berbondong-bondong masuk ke area kantin. Lewat ekor matanya Fathur melirik ke arah pintu masuk, bertepatan dengan itu Sia masuk sendirian. Fathur tidak heran melihat gadisnya datang seorang diri. Sejak awal masuk sekolah mereka, gadis itu memang lebih banyak mengasingkan diri. Padahal wajahnya tidak jelek, hanya saja sifatnya yang pendiam membuat banyak anak-anak perempuan di kelas gadis itu segan menyapa. Apalagi kalau ada tugas kelompok. Sia lebih memilih mengerjakannya sendiri,  tapi jika sang guru mengharuskan kerja kelompok. Gadis yang terbiasa melakukannya tanpa campur tangan orang lain itu hanya akan memberi hasil kerjaannya yang sudah siap dan memberikannya kepada teman kelompoknya. Fathur sedikit gemas, sebab Fersia terlihat sangat jelas jika dirinya tidak mau bersosialisasi dengan siapapun. "Copot dah tuh mata, ngeliatin bebebnya sampai kaya gitu." Fathur mendengkus, mendegar cibiran heboh Tegar kepadanya. Namun, pemuda itu tidak peduli. Pandangannya masih terfokus melihat apa yang akan di makan oleh pacarnya itu. Tubuhnya tersentak saat sebuah tangan melingkar di lehernya ia menoleh menggeram dalam hati melihat siapa yang datang. "Awas sana." Sentaknya menjauhkan lengan siswi yang bergelayut tersebut. Siswi itu menekuk bibirnya cemberut. "Nanti malam jangan lupa datang ke party birthday aku ya. Kamu tamu special aku loh." Seru murid perempuan itu mengingatkannya. "Lihat nanti aja." "Yah ... jangan gitu, kamu harus datang ya. Ajak teman-teman kamu juga boleh. Ayolah." Fathur menggertakkan giginya kesal. "Bawel banget sih, udah sana. Gue lagi nggak mau di ganggu njir." Wajah siswi itu merah padam karena malu di usir oleh Fathur. Namun, ia mencoba mengontrolnya dan pergi dengan dagu terangkat seolah baik-baik saja. "Dasar cabe." Gerutu Fathur membuat Tegar tertawa terbahak-bahak. "Ngatain anak orang cabe, elo sendiri apa? Bawang?" Gelaknya puas. "Diam, bangke. Berisik tai." Umpatnya semakin membuat Tegar tergelak. "OIII SIA! SINI LAH DUDUKNYA BARENG BABANG FATHUR!" Suara teriakan membahana Tegar membuat Fathur melotot kesal. "b*****t nih anak." Gumam Fathur membalas. Hahaha. Akmal dan J menggeleng kepala heran serya terkekeh puas, mereka memilih menikmati wajah kesal dan marah Fathur karena di ejek terus oleh Tegar. Sedangkan Sia yang mendengar namanya di panggil hanya diam, melengos mengabaikan tingkah sahabat kekasihnya itu. Brak "Lah mau kemana, Tur?" Tanya J melihat Fathur berdiri dari duduknya lalu berlalu meninggalkan kantin tanpa kata. J menatap Tegar tajam. "Becanda aja lu, t*i. Bayar makanan kita. Yuk, Mal cabut." Tegar membuka mulutnya lebar syok. "AISHHH SIALAN KOK GUE YANG BAYAR!" ***** Jam berlalu begitu cepat, tidak jauh di luar gerbang sebuah taksi sudah menunggu pagar sekolah tersebut terbuka. Saat semua murid sekolah keluar, si penumpang lekas buru-buru membayar ongkos taksi dan keluar dari sana, masih mengenakan jaket rajut berwarna merah muda melekat di badannya. Ia melihat satu persatu murid-murid yang keluar dari bangunan SMA PELITA dengan seksama. Tepat ketika sebuah motor berhenti di samping gadis dengan jaket biru langit tidak jauh dari gerbang sekolah tersebut. Kakinya melangkah masuk melewati beberapa murid sekolah itu, kemudian memanggil nama seseorang yang sudah ia tunggu sejak tadi. "Fathur." Seruannya berhasil membuat pemuda itu menoleh begitu pula gadis di samping cowok itu. Mata Fathur sendiri menyipit, lalu membelalak seperkian detik saat mengingat siapa yang memanggilnya. "Elo?" "Hai, akhirnya kita ketemu." Sapa gadis berbeda sekolah itu senang. "Elo, ngapain ke sini? Ada apaan?" Tanya Fathur masih tidak mengerti. "Oh, aku?" Tunjuk gadis itu ke arah dirinya sendiri. Lalu kembali berujar, "Nggak ngapa-ngapain kok. Aku cuma mau tahu sekolah kamu aja. Ternyata benar kalau kamu anak SMA  PELITA." Serunya. Masih tidak paham, Fathur hanya diam. "Eh, sorry ganggu ya. Oh iya kita belum kenalan, aku Fanny, teman Fathur." Ucap gadis bernama Fanny itu mengulurkan tangan ke arah Fersia yang hanya berdiri melihat. Tatapan gadis berwajah datar itu hanya melirik uluran tangan tanpa minat. "Aku pulang sendiri aja. Kasihan teman kamu, jauh-jauh cariin kamu ke sini." Eh. Fathur terkejut mendengar ucapan kekasihnya tersebut. Dengan cepat ia menahan tangan Sia yang sudah bersiap pergi meninggalkannya. Grep "Nggak." Tolak pemuda itu geram. "Kamu pulang sama aku, dan sorry ya Fanny. Gue sibuk hari ini, gue mau antar cewek gue pulang dulu." Ujar Fathur tidak peduli, bahkan pemuda itu tidak menangkap ekspresi kecewa Fanny saat pemuda itu memilih pulang daripada mengobrol bersamanya. "Ayo naik, aku antar kamu." Titah Fathur bernada tegas. Sia tidak memberontak, menerima helm dari pemuda itu. Namun, gadis itu bisa menangkap sorot mata sendu gadis bernama Fanny saat ia naik ke atas motor dan kendaraan kekasihnya melaju meninggalkan sekolah dengan cepat. Di tempatnya Fanny mendesah berat, merasa amat kecewa karena rupanya pemuda itu sudah memiliki pacar. Tapi, egonya merasa tertantang. Terlebih mereka pernah menghabiskan malam bersama dan Fanny merasa lebih memiliki peluang untuk bisa bersama pemuda tampan itu. Aku pasti bisa dapetin kamu, Fathur. **** Bersambung..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN