Happy reading
Typo koreksi
****
"Naik."
Fathur menyuruh gadisnya itu untuk segera duduk di jok motornya. Sedangkan Sia mendesah, ia harus ke suatu tempat lagi. Tapi, bertemu dengan Fathur saat ini membuatnya tidak bisa pergi.
"Aku naik taksi saja."
"Please Sia, aku masih bicara pelan sama kamu. Jangan buat aku marah dan bikin kamu malu di sini." Tekan pemuda itu sudah menahan amarahnya sejak tadi.
Sia menggeram dalam hatinya. Terpaksa, gadis itu akhirnya menuruti keinginan pemuda itu.
Fathur membawa motor ninjanya dengan kecepatan di atas rata-rata membuat Sia harus berpegangan erat di jaket pemuda itu.
Dasar.
Fathur sendiri mencoba tidak mengeluarkan amarah karena perkataan kekasihnya saat ini juga. Dirinya tidak ingin menyakiti Sia dengan kekerasan. Walau hatinya tersinggung dengan perkataan gadisnya, Fathur tidak akan melampiaskannya dengan Sia.
Keduanya memilih bungkam, sampai motor pemuda itu akhirnya sampai di lobby apartement.
Sia turun, membuka helm dan memberikannya lagi kepada pemuda itu.
Saat akan memutar tubuhnya, panggilan Fathur menghentikan langkah kaki gadis cantik berwajah datar tersebut.
"Sia."
Berbalik, keduanya kini saling bersitatap. Fathur sudah membuka helm fullface yang di pakainya demi bisa melihat wajah Fersia dengan jelas.
"Perkataan kamu memang benar. Status itu mungkin nggak berarti apapun buat kamu. Tapi aku, menginginkan kamu lebih dari yang kamu pikirkan. Kita memang masih remaja, kamu tidak ingin terjerat dalam hubungan serius. Tapi aku selama ini menganggap kamu istimewa. Kamu lebih berharga daripada gadis-gadis yang aku kenal. Gombal bukan? Ya aku tahu kalau kamu bakalan berpikir seperti itu. Tidak masalah, selamanya kamu tetap gadis istimewa buatku. Dan itu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun." Papar Fathur panjang lebar dengan senyum menawan tercetak di wajahnya.
Sia hanya diam, tidak berkutik atas ucapan pemuda di hadapannya.
Istimewa.
Satu kata yang menganggu perasaan gadis itu. Sampai sosok Fathur pamit pulang dan menyuruhnya masuk ke dalam pun. Satu kata itu membuat hati terdalamnya tersentil hingga Sia ingin menangis.
Udara kosong menerpa wajahnya, menyadarkan dirinya jika ia harus berbalik dan terus berjalan lurus tanpa memikirkan hal yang meruntuhkan harapan satu-satu tentang hidupnya selama ini.
Apa aku se-istimewa itu. Batinnya tersenyum miris dalam hati.
Sia bergegas masuk ke dalam lobby apartement tempat tinggalnya. Di lift gadis itu termenung bahunya tampak luruh tidak bersemangat. Ia menatap angka-angka yang tertera di lift yang semakin naik ke lantai atas.
Ting
Bunyi lift terbuka membuat gadis itu keluar berjalan dengan langkah kaki begitu pelan.
Mata gadis itu membulat kala melihat bingkisan paper bag tergantung di handle pintu apartementnya. Mempercepat langkah, Sia mendekati pintu. Ia mengambil paper bag tersebut lalu membuka kunci apartementnya dengan tergesa.
Sia berjalan ke arah sofa ruang TV, membuka isian dari paper bag tersebut.
Sebuah hoddie putih yang beberapa hari lalu ingin ia beli kini berada di hadapannya. Sia menggeledah kembali bingkisan tersebut, berharap ada memo yang di tinggalkan oleh pemberi hoddie tersebut.
"Siapa yang selalu mengirim barang ke sini?" Tanya pada diri sendiri.
Entah ini sudah yang keberapa kalinya gadis itu menerima barang dari seseorang yang tidak di ketahui olehnya. Bahkan Sia selalu meminta rekaman cctv dan berakhir dengan tangan kosong.
Pandangan gadis itu hanya terfokus pada hoddie di depannya dengan tatapan lekat dan mendalam.
Berharap pengirimnya adalah seseorang yang selama ini ia harapkan.
Sedangkan di jalan raya Fathur melajukan motornya pulang ke rumah dengan kecepatan di atas rata-rata. Area perumahan elit di masuki oleh motor ninja hitam milik Fathur. Pagar rumah terbuka otomatis kala pemuda itu sampai di sana. Ia segera memarkirkan motornya di garasi rumah. Turun dari sana dan berjalan masuk ke dalam. Pintu di buka dari dalam, wanita paruh baya menyambutnya dengan tatapan hangat seperti hari-hari biasanya. Jangan kalian kira itu ibu pemuda itu. Salah. Beliau adalah Bi Asi, asisten rumah tangga yang sudah mengasuh pemuda tampan itu sejak bayi.
"Aduh, Den Fathur kok baru pulang jam segini. Bibi khawatir, Den." Seru beliau dengan ekspresi cemas seperti layaknya seorang ibu kandung saja tapi kenyataannya Fathur hanya menerima hal itu dari seorang asisten rumah tangga saja.
"Maaf, Bi. Semalam teman Fathur ulang tahun. Jadi, Fathur tidur di rumahnya ramai-ramai." Balasnya terpaksa berdusta.
"Owalah, syukurlah kalau begitu, Den. Bibi takut Aden Fathur kenapa-kenapa di jalan. Tuan sama nyonya bisa marah besar kalau tahu Aden kenapa-kenapa." Seru beliau lagi.
Dalam hati Fathur tersenyum mengejek.
Khawatir, bullshit. Umpat pemuda itu.
"Aden sudah makan? Mau Bibi buatkan makanan atau minuman?" Tawar Bi Asi lagi.
"Nggak usah, Bi. Aku mau tidur lagi, masih ngantuk." Jawab pemuda itu menguap pendek.
Bi Asi manggut-manggut mengerti. Beliau hanya menatap punggung anak majikannya berjalan menaiki tangga menuju kamar lantai dua rumah besar ini.
Di sini hanya di huni oleh beliau, security dan anak majikannya saja. Sedangkan sang tuan rumah jarang berada di rumah utama keluarga ini.
Kasihan dan prihatin. Ya, itulah yang di rasakan Bi Asi kepada Fathur karena kondisi rumah ini.
Semoga Aden bisa menjadi anak yang baik lagi. Doa beliau tulus dalam hatinya.
Di kamar bernuansa abu-abu, Fathur merebahkan tubuhnya yang terasa lelah di atas kasur king size miliknya. Kedua bola mata tajam pemuda tampan itu tertuju pada langit-langit kamar.
Sepi.
Suasana itu selalu ia rasakan setiap berada di rumah, Fathur bahkan lupa kapan terakhir dirinya berkumpul bersama kedua orangtuanya. Karena selama ini, dirinya hanya lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah bersama para sahabatnya.
Apakah mereka tahu kelakuannya di luaran sana?
Entahlah.
Tapi, Fathur yakin mereka sudah mengetahuinya. Bagaimana hidup penuh kebebasan yang ia lakukan selama ini.
Salah.
Terserah.
Pemuda itu bahkan tidak ingin memikirkan apakah semua kelakuannya salah atau tidak.
Fathur merogoh saku jaketnya yang sudah ia lepas dan letakkan tepat di sisi tubuhnya di tempat tidur.
Wallpaper wajah Fersia Raxenta terpampang membuat hatinya bertambah suram, mengingat perkataan gadis itu yang cukup menyentil egonya saat di kafe.
Sadar betul, jika selama ini gaya berpacaran mereka tidak seperti pasangan lain. Fathur tidak ingin mempermainkan Sia dengan kenakalannya karena itu dirinya lebih memilih mencari pelampian lain daripada harus merusak gadis yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
Flashback on.
Semester baru sekolah baru saja di mulai, Fathur saat itu baru saja selesai masuk ke area parkir sekolah. Pemuda itu turun, melihat lorong koridor kelas yang sepi.
Jam pelajaran sudah di mulai dan Fathur bertaruh jika ia masuk ke dalam kelas. Guru yang ada di kelasnya sekarang pasti akan menceramahinya.
Belum sempat pemuda itu melangkah maju ke depan. Indra pendengarannya tertuju pada pagar sekolah yang tertutup rapat. Seorang siswi perempuan sedang mencari security dengan kepala yang celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri. Fathur terkekeh melihatnya, ia memasukkan tangannya ke saku celana dan berjalan ke arah sebaliknya.
Ya. Pemuda itu justru mendekati gadis itu cepat.
"Telat."
Suara bass milik Fathur membuat pandangan gadis di luar gerbang kini lurus ke arahnya.
Fathur terdiam, tertegun saat bersitatap dengan bola mata jernih milik siswi itu. Tanpa di duga, jantungnya berdetak kuat. Fathur menelisik penampilan biasa saja dari siswi itu. Entah apa yang membuat dirinya jadi berdebar sekarang.
"Maaf bisa tolong bukain pintu gerbangnya."
"Kenapa harus gue." Balas Fathur berusaha bersikap cuek.
"Ya sudah, tidak apa-apa kalau kamu nggak bisa bantu."
"PAK! PAK SATPAM!" suara teriakan gadis itu tidak begitu kencang jika menurut versi orang berteriak. Namun anehnya Fathur justru jadi tersenyum mendengar suara itu.
"Apa ada yang lucu?" Sentak gadis itu dingin, pemuda tampan itu hanya menggedikkan bahu acuh saja sebelum berlalu pergi meninggalkan siswi perempuan itu tanpa membantunya sama sekali.
"Dasar cowok aneh." Seru gadis itu masih bisa di dengar oleh Fathur yang hanya mengulum senyumnya sepanjang jalan menuju kelas.
Flashback off.
Fathur ingat betul, perbuatannya yang tidak membantu gadisnya saat itu terdengar tidak baik. Tapi, semua ada alasannya.
Fathur hanya tidak mau terlalu terpesona karena mata indah milik gadisnya saat itu.
Namun, siapa sangka.
Sekarang ia justru menjadikan gadis itu kekasihnya dalam sebuah status hubungan yang di bilang terlalu tiba-tiba.
I love you, Sia. Batinnya dalam hati bergumam.
****
Bersambung