Happy reading
Typo koreksi
*****
'Status itu bukan apa-apa buat gue'
.... Fersia Raxenta ...
****
Mata tajam pemuda tampan yang mengenakan jaket denim itu tampak menyipit melihat ke arah jendela luar kafe. Detik berikutnya kedua sudut bibirnya tertarik naik ke atas kala melihat sang pujaan hati turun dari sebuah taksi. Fathur Artha Putra ingin menjemputnya namun ia urungkan, dan lebih memilih duduk memasang wajah sok marah.
Sedangkan di luar Fersia baru selesai membayar ongkos taksi dan berjalan pelan menuju kafe di sampingnya tersebut. Gadis itu masuk dan menoleh ke segala arah, saat mendapati wajah kesal pacarnya gadis itu hanya bisa mendesah dalam hati. Berharap jika pemuda itu tidak akan membuat moodnya turun hari ini.
"Kenapa baru sampai? Katanya tadi sebentar lagi sampai?" Cerca Fathur bernada ketus.
Sia memilih tidak menjawab, gadis itu mengambil duduk di kursi kosong depan pacarnya tersebut. Lalu mengulurkan bungkusan plastik berlabel nama apotek yang tadi ia kunjungi barusan ke arah pemuda di depannya.
"Ini apa?" Cuek Fathur menatap bungkusan tersebut.
"Obat pengar," jawabnya simple.
Fathur memeriksa plastik tersebut, pemuda itu menekan bibirnya agar tidak tersenyum saat itu juga. Perhatian kecil Fersia selalu membuat hatinya berbunga dan mengembang.
"Ngapain repot-repot beli ini. Aku udah nggak mabok kok." Seru Fathur berusaha menstabilkan nama suaranya yang ingin tetap terlihat sedang kesal.
Sia menggedikkan bahu acuh.
"Terserah, di buang juga boleh." Ucap gadis itu tidak peduli. Tangannya mengambil buku menu di atas meja dan melihatnya, sedangkan Fathur sudah berdecak karena ia pikir Sia akan merayunya dan memaksa dirinya untuk meminum obat pengar yang di beli gadis itu.
"Tadi, pergi kemana? Kenapa kemarin nggak bilang kalau mau pergi?" Tanya Fathur mengalihkan pembicaraan dengan cepat.
"Cuma urusan kecil aja."
"Kamu nggak selingkuh kan?" Fathur memicing saat mengatakannya.
Sia mendongak, membalas tatapan pemuda itu tenang.
"Aku nggak ada niat buat ngabisin waktu cuma untuk hal bodoh kaya gitu." Jawab gadis itu datar tanpa ekspresi.
Fathur tersenyum mengangguk mengerti.
"Bagus. Karena aku nggak akan biarin siapapun ambil apa yang sudah jadi milik aku. Nggak peduli siapapun mereka, aku bakalan buat mereka menyesal." Tegasnya.
Sia mengalihkan tatapannya enggan termakan gombalan kekasihnya. Fathur selalu mengatakan hal itu jika pemuda itu mengetahui dirinya pergi seorang diri tanpa di temani oleh pemuda tersebut.
"Kamu janji nggak akan selingkuh dari aku kan, Sia-ku?" Tekan pemuda itu saat menyebut namanya.
"Apa sekarang kamu mau menginterogasi aku atas apa yang aku lakukan hari ini. Kamu memang pacar aku, dan kamu juga harus ingat. Itu hanya status yang kamu buat sendiri selama ini tanpa persetujuanku. Benarkan?" Telak Sia sarkas, tidak peduli dengan wajah Fathur yang kini mengeras menatapnya.
Bukankah yang ia katakan memang sebuah kenyataan. Fathur menjadikannya pacar tanpa persetujuannya, selama ini dirinya menulikan apa yang di bicarakan anak-anak di sekolah tentang mereka. Jadi, Sia hanya menganggap hubungan mereka tidak lebih hanya permainan saja. Ia tidak pernah ingin serius menanggapi statusnya selama ini bersama pemuda itu.
Kebebasan pun masih di inginkan pemuda di depannya. Jadi, Sia tidak peduli apa yang akan di lakukan Fathur di belakangnya. Karena hati Sia belum ada cinta sedikitpun.
Cinta?
Entahlah, apa hal itu boleh ia dapatkan atau tidak.
Gadis yang bahkan tidak tahu siapa dirinya sebenarnya. Gadis yang selama ini mencari sebuah kunci tentang dirinya dalam tumpukan jerami yang menggunung.
Fersia tidak mau berharap, jika Fathur akan menjadi tempat dirinya pulang. Karena pulang yang ia inginkan adalah hal yang lain.
Hening.
Rupanya Fathur tidak menjawab hal yang ia ucapkan, dan Sia pun merasa tidak bersalah.
Ketegangan aura mereka di intrupsi oleh kedatangan pelayan kafe yang membawa minuman milik Fersia.
****
Rumah tingkat dua terlihat sepi, seorang gadis bernama lengkap Fanny Kailana tengah berada di dalam kamarnya yang terkunci rapat. Ia baru sampai di rumahnya kemudian membuka seluruh pakaian yang ia kenakan semalam, matanya terfokus pada bekas kissmark yang di tinggalkan oleh pemuda bernama Fathur itu.
Tangannya terangkat merabanya lembut, sontak kilasan adegan panas semalam yang terjadi terbayang olehnya.
Blush
Wajahnya seketika merona merabh padam, saat teringat pemuda itu tidak mengenakan pengaman barulah kedua bola matanya melebar nyaris keluar dari rongganya. Ia kemudian terduduk di pinggiran sofa, menggigit buku jarinya gugup.
Bagaimana jika dirinya hamil, sedangkan ia tidak mengetahui dimana tempat tinggal Fathur. Fanny gadis itu berlari ke arah lemari pakaian dan memakai pakaian rumah asal. Lalu duduk kembali di atas tempat tidur dengan ponsel yang sudah berada di tangannya.
Gadis itu mencari informasi lebih dulu, melalui sosmed. Berharap, bisa menemukan informasi tentang pemuda tampan itu.
Saat asyik menscrooll ponselnya, ketukan pintu terdengar dari luar. Suara pembantu rumahnya masuk memanggil namanya.
Tok tok tok
"Non Fanny, di panggil Bapak dan Ibu di bawah."
Gadis itu berdecak, dengan malas gadis itu melempar ponselnya asal di atas kasur sebelum keluar menemui orangtuanya.
"Maaf Non, di bawah ada Bapak sama Ibu."
"Iya, Bi. Nggak apa-apa, makasih ya." Seru gadis itu sopan.
Keduanya turun menuju lantai 1 rumah itu, Fanny melihat figur orangtuanya sedang duduk di ruang tengah rumah mereka. Aura suram terasa saat gadis itu turun dan sampai di depan keduanya.
"Nak, sini duduk." Ajak sang ibu, Gita.
Patuh, Fanny duduk tepat di sebelah ibunya menghadap ayahnya yang duduk di sofa single dengan mata tajam menatapnya.
"Mama kapan pulang?"
"Semalam Nak. Kamu semalam kemana kenapa nggak ada di rumah?"
Fanny mengangguk paham. "Aku nginep di rumah teman aku, Ma." Jawabnya.
"Oh, begitu. Tuh, Mas, kamu sudah dengar kan kalau Fanny semalam menginap di rumah temannya. Anak kita nggak mungkin main ke tempat itu, Mas. Pasti Mas dapat informasi yang salah." Seru Gita kepada suami, Aldo yang masih memicingkan mata curiga kearah putri mereka, Fanny.
"Kamu terlalu, memanjakannya Gita. Bagaimana kamu bisa langsung percaya dengan perkataan anak kamu, sedangkan aku dapat bukti kalau dia semalam di sana." Sentak Aldo setengah marah kepada sang istri.
Gita mendesah, Fanny yang sadar jika ayahnya pasti menyewa seseorang untuk membuntutinya. Karena itu ia tidak kaget jika ayahnya langsung marah kepadanya.
"Mas, Fanny anak kita satu-satunya aku pasti lebih percaya sama Fanny daripada orang-orang suruhan Mas itu."
Aldo memijat pangkal hidungnya pusing.
Gita terlalu memanjakan Fanny putri mereka, membuat anak itu terlalu bebas dan selalu pergi jika mereka tidak berada di rumah.
"Kamu pikir, orang-orang yang aku bayar untuk mengawasi anak kita itu kaleng-kaleng. Apa mereka menipuku selama ini, Gita. Karena kamu terlalu mengiyakan apa yang anak kamu inginkan sikapnya jadi seperti sekarang. Dia sudah besar, harus mengerti tanggung jawab dan menjaga diri sendiri. Bagaimana kalau di luaran sana dia mengalami hal yang mengerikan saat tidak bersama kita. Apa kamu bisa menerimanya."
"Mas kok, bicara jelek seperti itu." Gerutu Gita tidak terima.
"Makanya, kamu sebagai ibunya coba nasihatin anak kamu ini. Aku nggak akan memperlakukannya dengan peraturan ketat kalau dia mau berubah." Tegas Aldo kepada istrinya, tatapan pria paruh baya itu kini beralih ke arah putrinya yang hanya diam saja.
"Fanny, Papa tidak melarang apapun hal yang kamu inginkan selama ini. Papa hanya minta satu, jangan membuat nama baik keluarga kita tercemar karena kelakuan kamu di luaran sana. Kamu sudah dewasa, Papa yakin kamu bisa berpikir mana yang baik dan tidak. Jangan hanya berpikir hal senang saja sedangkan kamu tidak memikirkan hal pahit yang bisa saja terjadi. Papa mau kamu sukses seperti Papa, tapi jika kamu terus melakukan kesalahan jangan salahkan Papa kalau Papa akan sekolahkan kamu di asrama."
"AKU NGGAK MAU PA!" Teriak Fanny tidak mau.
"Papa harap kamu mau memikirkan soal masa depan kamu. Kalau nilai kamu masih jelek, jangan salahkan Papa kalau kamu Papa bawa ke sekolah asrama." Aldo menekankan setiap kata dengan wajah serius, bahu Fanny merosot menatap kepergian ayahnya.
"Ma, Fanny nggak mau masuk asrama." Rengeknya membuat Gita memukul lengannya kesal.
Bugh
"Kamu ini, sudah tahu Papamu seperti itu orangnya. Mama nggak ikut campur untuk kali ini, dan kamu harus bisa merubah diri. Terserah kamu mau memakai cara apa. Kamu harus mulai fokus dalam belajar." Seru Gita sebelum pergi menyusul suaminya yang sudah masuk ke kamar.
Fanny menghentakkan kakinya ke lantai.
Kesal.
Dasar Papa nyebelin.
Sekolah asrama? Wtf.
****
Bersambung...