Happy reading
Typo koreksi
*****
'Gue laki-laki, dan elo yang kasih tubuh elo ke gue'
... Fathur Artha Putra ...
***
Sinar matahari masuk melalui jendela kamar yang tertutup gorden, di luar cuaca begitu cerah sedangkan dua onggok tubuh masih bergelung di dalam selimut yang sama di kamar hotel.
Lenguhan kecil mulai terdengar, selimut yang menutupi leher pun tertarik turun sebatas pinggangnya. Tubuh kekar itu pun mulai bergerak, dahinya mengerenyit kala merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangnya tidak terlalu erat. Kepalanya tertoleh ke samping, sedikit membelalak saat melihat sosok perempuan tidak mengenakan busana tidur di samping tubuhnya.
Bangke jangan bilang semalam gue ONS. Decaknya.
Kemudian sekelebat bayangan percintaan semalam terngiang di dalam pikirannya yang masih mencoba mencerna hal tersebut.
Shit.
Fathur mengumpat saat tersadar jika dirinya dan cewek bernama Fanny itu melakukannya tanpa pengaman.
Pemuda itu menyingkirkan tangan itu dari atas perutnya perlahan, ia lalu turun berkacak pinggang melihat tubuh bagian atas cewek itu terekspos di depan matanya.
"b*****t, pagi-pagi bikin gue ON aja. Aishhh." Gerutunya kecil. Ia menarik selimut hati-hati dan menutupi tubuh polos Fanny sebelum pergi ke kamar mandi mendinginkan si junior miliknya.
Sampai Fathur keluar dengan handuk melilit di pinggangnya gadis itu tidak kunjung bangun. Fathur dengan cepat mengenakan kaos dan celana jeans yang semalam ia pakai.
Matanya melihat ke arah jaket miliknya yang ada di sofa, merogohnya cepat mencari ponsel. Fathur lalu menyalakan ponselnya yang memang dengan sengaja tidak ia aktifkan semalam, karena ingin bersenang-senang bersama ketiga sahabatnya. Dan sialnya ia justru berakhir di hotel bersama perempuan yang baru di bantunya.
"Dasar berengsek emang elo, Tur." Desisnya menyumpah serapahin dirinya sendiri jika mengingat kejadian semalam.
Tatapannya beralih kepada sosok Fanny, ia mendengkus kasar.
Bisa-bisanya ini cewek tidur dengan nyaman sampai sekarang.
"Fanny." Panggilnya membangunkan gadis di atas tempat tidur tersebut malas.
"Oi, Fanny."
Tubuh itu terlonjak duduk kaget, lalu suara pekikkan kencang menyentak gendang telinga Fathur membuat pemuda itu menggeram kesal.
"KYAAA."
"Berisik, Njir." Omel Fathur membuat Fanny yang kaget karena selimut itu tidak menutupi badan polosnya saat terduduk tiba-tiba pun sontak kembali menarik selimut itu.
"Ka-- kamu ... Fa-- Fathur, kenapa aku sama kamu ada di sini?" Syok gadis yang baru bangun tidur tersebut terbata.
"Ngapain elo tanya gue, elo sendiri yang minta ikut."
Hah.
Dahi Fanny mengkerut dalam.
"Apa?" Fanny melongo seraya mengeratkan selimut itu lagi melilit tubuhnya erat.
"Bukan gue yang ajak elo ke sini, itu kemauan elo sendiri. Dan apa yang terjadi semalam juga atas keinginan elo bukan gue yang maksa." Ujar pemuda di depannya santai.
Mulut Fanny setengah terbuka menganga mendengar nada bicara pemuda yang di ingatnya semalam sudah membantunya pergi dari seseorang di Club.
"Jadi semalam kita--"
"Nggak perlu gue jabarin kita ngapain juga kan semalam, biar elo nggak heboh?" Sarkas Fathur santai.
Wajah Fanny memerah padam karena malu, ia menggeleng-geleng kepala kuat tidak ingin mendengar apapun itu. Cukup, dirinya sudah tahu kemana arah yang di maksud oleh pemuda tampan di depannya.
Sedangkan Fathur hanya menatapnya tenang, pemuda itu kemudian berjalan ke arah sofa dan duduk di sana. Jemarinya mulai sibuk dengan ponsel. Fanny yang melihat hal itu, bergegas turun dari tempat tidur dengan tergesa-gesa membawa selimut tebal itu ke dalam kamar mandi. Pergerakan susah payah gadis itu rupanya di lihat oleh Fathur sekilas sebelum pemuda itu kembali menggulir layar ponselnya dengan cepat.
Hal pertama yang pemuda itu lakukan adalah berdecak gemas, karena Fersia tidak membalas pesannya sama sekali.
Ia pun mendial nomor sang pacar dengan perasaan rindu yang menggebu. Nada sambung terhubung, cukup lama telepon darinya di terima sampai akhirnya ia bisa mendengar nada bicara datar khas pacar menggemaskannya tersebut.
"Hallo," suara Fersia menyambut.
"Kenapa chat semalam nggak di balas?" Tanya Fathur dengan wajah tertekuk.
"Harus banget di balas," balas gadis di seberang sana cuek.
"Harus dong, kamu nggak tahu apa kalau aku itu rindu banget sama kamu. Dan nungguin balasan kamu, Sia."
"Oh."
Fathur terkekeh mendengar respons gadisnya. Ia bersandar pada sofa dengan kepala mendongak menatap langit-langit kamar hotel.
"Kamu lagi dimana? Kok berisik?" Tanya pemuda itu ingin tahu.
"Di luar."
Jawaban Fersia Raxenta berhasil membuat Fathur menegakkan kembali punggungnya hingga duduk tegap dengan sorot mata menajam.
"Di luar? Sama siapa? Aku ke sana sekarang." Ujarnya cepat.
"Nggak usah, aku mau sendiri."
"Nggak bisa begitu dong, aku ini pacar kamu Sia. Kita biasanya jalan pas weekend, jadi sekarang jadwal kita kencan loh." Seru Fathur ngotot tidak terima gadis itu sekarang berada di luar dan tidak bersama dirinya.
"Aku ada urusan, jadi kamu nggak perlu ikut."
"Urusan apa? Sampai sepenting itu sih, daripada ketemu sama aku, Sia-ku." Desisnya menahan amarah dengan urat leher mulai menonjol.
"Nanti lagi telepon, aku sibuk hari ini."
"SIA!" Bentak Fathur bersamaan dengan sambungan di putus sepihak oleh Fersia menambah puncak kemarahan pemuda itu semakin naik.
"SIALAN!" teriaknya lagi mengagetkan Fanny yang terlonjak saat baru keluar dari kamar mandi. Gadis itu sudah rapih dengan pakaiannya yang semalam ia kenakan.
Gadis itu tampak mengelus d**a pelan berharap detak jantungnya kembali normal, matanya melirik ke arah Fathur yang tengah memakai jaket dengan gerakan buru-buru.
"Kamu mau pergi?" Tanya Fanny hanya bermaksud bertanya.
Tubuh tegap dan tinggi itu memutar menghadap gadis cantik itu, dengan sorot mata dingin.
"Elo bisa pulang sendiri kan. Nggak perlu gue juga yang anterin elo." Nada bicara kesal dari pemuda itu membuat Fanny hanya manggut-manggut kaku menjawabnya. Setelahnya sosok Fathur pergi menghilang, keluar dari kamar hotel tersebut tanpa berkata sepatah kata lagi. Meninggalkan kesunyian yang menyesakkan untuk Fanny seorang diri di sana.
Aku bahkan belum tahu dia tinggal dimana. Desahnya dalam hati.
****
Di lain tempat, seorang gadis dengan hoddie berwarna putih dan celana jeans berwarna biru itu baru saja keluar dari bilik yang kemudian di masuki lagi oleh seseorang yang menunggu. Kakinya berjalan lurus meninggalkan tempat tersebut.
Tangannya memegang botol air mineral yang di dapatnya dari tempat itu.
Fersia Raxenta.
Mendongak melihat cuaca cerah hari ini. Ia melihat jam yang melingkar di tangan, pukul 12.15.
Sudah siang, Sia pun akhirnya memutuskan untuk makan siang sejenak di daerah sekitarannya saja.
Sebuah notifikasi masuk, Fathur mengirim pesan kepadanya menanyakan dirinya berada dimana. Dengan terpaksa, Sia pun akhirnya mengirim alamat kafe yang akan ia kunjungi sekarang.
Fathur
Dimana? Share lock sekarang?
Atau aku hancurin apartement kamu.
Fersia
Kafe P'Box
(Send)
Setelah membalas dan memasukkan ponselnya kembali, Sia menaiki salah satu taksi yang berjejer di depan gedung yang baru saja ia kunjungi.
"Kafe P'Box, Pak."
"Baik, Neng." Sahut sang supir taksi.
Fersia menatap keluar jendela, pikirannya berkecambuk. Namun, nyatanya ia belum menemukan apapun yang ia cari selama ini.
Pertemuannya tadi dengan seseorang tidak membuat hatinya lega, tapi Sia mencoba kembali bersabar dengan apa yang sudah ia lakukan hingga sekarang.
Drrtt drrtt
Ponselnya berdering, Sia mendesah pelan. Apalagi melihat nama Fathur lagi-lagi tertera di layar ponselnya.
Sia merasa bodoh seharusnya ia mematikan saja ponselnya, supaya pemuda itu tidak terus mencarinya.
"Dimana? Kenapa belum sampai juga? Aku udah di kafe yang kamu kasih tahu tadi." Celoteh pemuda itu dengan nada cepat.
"Masih di jalan."
"Lama?" Tanya pemuda itu lagi.
"Nggak, sebentar lagi."
"Ya udah, aku tunggu kamu di dalam." Seru Fathur di seberang sana, Sia hanya berdehem.
Tut.
Fersia menyimpan kembali ponsel gengamnya, gadis itu tampak sedikit berpikir sesuatu. Seakan teringat hal yang harus ia lakukan, ia pun meminta sang supir untuk ke suatu tempat terlebih dahulu.
"Pak, maaf. Apa bisa mampir ke apotek di depan sana." Ucapnya di balas anggukan sang supir taksi di depannya.
"Bisa, Neng."
"Terima kasih, Pak."
Fersia menghembuskan napas perlahan, membuka kaca jendela cukup lebar. Angin berhembus menerpa wajahnya, Sia duduk bersandar menikmati sisa perjalanannya dengan terpaan angim yang membuat perasaannya menjadi sedikit lebih baik.
Aku nggak akan menyerah. Batinnya bergumam dengan sisa harapannya.
*****
Bersambung ...