Happy reading
Typo koreksi
****
Bau alkohol begitu menyengat tercium hidung, di sofa merah sudah ada Fathur Artha Putra yang tampak duduk sendirian menyandarkan punggungnya. Kedua matanya memerah, terlihat jelas jika pemuda itu sudah setengah sadar karena terlalu banyak minum. Sesekali kekehan kecil keluar dari bibirnya, matanya menyipit kala menatap ketiga sahabatnya sudah heboh bergoyang di lantai dansa malam ini. Mereka tampak senang merayakan kemenangannya tanding di club tersebut.
Tangan kekar Fathur mengambil pemantik di atas meja dan mengeluarkan sebatang rokok lalu menyulutnya.
Asap seketika keluar dari mulut dan hidungnya kala menyecap tembakau tersebut.
Hari bahkan sudah semakin dini hari, dirinya dan beberapa pengunjung masih larut dalam kenikmatan dan hentakan musik yang di mainkan DJ malam ini.
"Nggak turun Bro?" Akmal bertanya kala pemuda itu kembali ke meja mereka.
Fathur hanya menggeleng pelan.
"Gila, si Tegar. Semua cewek dia dempetin. Dasar kadal." suara lain ikut masuk, J datang sambil menyumpah serapahin sahabatnya itu.
Akmal terkekeh, meneguk habis cairan berakohol tersebut hingga membuat tenggorokkannya panas.
"Kalah saing lo?" Ejek Fathur menggoda J yang di balas dengkusan kasar.
Kedua sahabatnya sudah duduk lagi di sofa, J menuang cairan dari botol Vodka di atas meja ke gelas milik sahabatnya yang baru saja mengejeknya dengan nada menyebalkan. Fathur menerima minuman itu dan meneguk dengan sekali shot hingga alisnya mengerenyit sesaat.
"Gue bukan kalah saing, tuh anak heboh bener joget. Kesel gue, Tur." Seru J memberi alasan asal.
Fathur hanya manggut-manggut, sadar betul biarpun Tegar itu anak yang suka ceplos kalau bicara dan berisik. Pemuda itu mudah bergaul dan di sukai cewek-cewek yang modelannya seperti malam ini di club. J juga tampan, cuma pemuda itu suka pilih-pilih.
"Dah dah, cantik!" Pekikkan Tegar yang berdadah ria dengan tubuh sedikit oleh di balas gelengan Akmal dan J.
Pemuda itu sudah kembali, memamerkan senyum lebar dengan raut cengengesan bahagia.
"Si t*i senyum-senyum lagi."
Hehehe
Tegar terkikik merespons gerutuan J.
Pemuda itu ikut duduk di sebelah Akmal dengan gaya heboh.
"Heh, kalian kenapa pada jadi teler semua. Nanti kita pulang gimana Nyet."
"Taksi banyak, ribet amat sih hidup elo," sewot J geram.
"Oh iya, lupa gue." Balas Tegar
cekikikan.
Sofa yang mereka duduki bergetar, semua pasang mata tertuju kepada sosok raja mereka malam ini.
"Mau kemana, Tol?" Tanya Tegar.
"Toilet," balasnya padat.
Ketiganya hanya menatap punggung tegap berbalut jaket denim tersebut sesaat sebelum kembali berkoar membahas hal yang unfaedah di tengah kondisi mabuk para remaja tersebut.
Di lain tempat, Fathur mencoba berjalan dengan benar meski tubuhnya sedikit sempoyongan karena alkohol. Di lorong yang kecil dengan lampu temaram, ia berjalan pelan menuju toilet club tersebut.
"LEPASIN! GUE NGGAK MAU IKUT SAMA ELO SIALAN!" teriakan u*****n di balik dinding sebelah toilet menghentikan langkahnya. Dahinya mengkerut kala mendengar suara itu.
Fathur mencoba abai, namun belum sempat ia masuk ke dalam bilik toilet tangannya di tarik oleh seseorang hingga tubuhnya berputar menatap kembali ke arah dinding sebelah toilet lagi.
Fathur menggeleng sekali, terlalu terkejut di tarik tiba-tiba seperti tadi. Ia menoleh melihat wajah ketakutan seorang gadis berpakaian minim yang saat ini sudah bersembunyi di balik punggungnya menatap horor sosok lain di antara mereka. Fathur mengikuti arah pandangan gadis itu, mendapati seorang pemuda yang usia tidak jauh darinya terlihat marah ke arahnya.
"Please, tolongin aku." Bisikan itu ia dengar dari gadis di belakangnya.
"Ck, lepasin cewek gue. Elo nggak usah ikut campur." Tekan sosok di depan Fathur sinis.
"GUE BUKAN PACAR ELO!" Pekik gadis itu terdengar tidak suka.
"Fanny, kamu harus pulang sekarang. Jangan bikin aku kasar sama kamu."
"GUE NGGAK MAU PULANG. ELO AJA SANA BERENGSEK." umpat sosok di belakang pemuda itu lagi, membuat Fathur yang setengah mabuk terkekeh mendengarnya.
"Dia sama gue malam ini." Seru Fathur tiba-tiba yang membuat atmosfer mereka berubah semakin memanas.
Sosok yang berdiri di hadapannya terlihat tidak terima memandang Fathur dengan urat di lehernya yang menonjol menahan marah, sosok itu pun sudah bersiap maju untuk menghajar Fathur yang berbicara sembarangan soal gadisnya. Namun belum sempat kepalan tangannya melayang security jaga di sana memergoki mereka dan membentak dengan keras.
"KALIAN SEDANG APA? BUBAR, JANGAN BUAT KERIBUTAN DI SINI!"
"BANGSAT." sumpah serapah di lontarkan sosok yang ingin menghajar Fathur itu, sebelum pergi membiarkan gadisnya bersama dengan Fathur di sana.
"Kalian berdua juga bubar." Tekan sang security sebelum akhirnya Fathur mengangguk di tengah kesadarannya. Pemuda itu memutar tubuhnya menatap wajah cantik gadis berpakian minim tersebut seksama.
"Sana elo pulang." Usirnya membuat gadis itu tertegun menganga.
Ia pikir pemuda tampan itu benar-benar akan bersamanya malam ini, atau setidaknya mau mengantarnya pulang.
"Kamu usir aku? Aku nggak berani pulang sendiri." Dahi Fathur mengerenyit heran.
"Elo berani datang ke sini, berarti elo juga berani pulang sendiri." Cibirnya.
Fathur berniat menyelesaikan kegiatannya yang tertunda tadi, namun cekalan di tangannya membuat pemuda itu menggeram kesal.
Grep
"Apa lagi sih Nyet." Sentaknya meninggi.
"Aku mau pulang sama kamu."
Fathur mengusap wajahnya kasar, kepalanya mulai berdenyut karena terlalu banyak minum. Dan gadis itu justru menambah rasa sakit di kepalanya.
"Gue nggak pulang ke rumah. Elo pulang aja sendiri ke rumah elo."
"Aku ikut kamu pulang kemana aja." Seru gadis itu memaksa.
Hah.
Bola mata Fathur memicing, ia memindai penampilan gadis di depannya lama. Rok span di atas paha yang tampak ketat, baju tanpa lengan yang sama ketatnya membuat tubuh gadis itu tercetak menggoda iman.
"Elo mau ikut gue?" Tanya Fathur ulang.
"Iya, aku bakalan ikut kamu kemana aja. Aku nggak mau pulang ke rumah malam ini." Jawab gadis itu membuat senyum miring pemuda itu tercetak samar.
"Oke." Fathur menarik tangan gadis itu meninggalkan area toilet menuju mejanya.
"WOW BAWA SIAP--"
Brak
"Kalian bayar pake uang itu, gue balik duluan." Ucap Fathur seraya melempar amplop berisi uang ia menang balapan tadi.
"Wihhh, mau kemana lo, Tol?" Heboh Tegar menyeringai saat menatap tubuh gadis yang berada di belakang sahabatnya itu.
"Gue cabut."
Drap
Drap
Tegar berseru menggoda Fathur yang tidak menjawab pertanyaannya.
"PAKE PENGAMAN BRO!"
"Si tai." Komentar J dan Akmal berbarengan mendengar ucapan abstrud Tegar.
Detik berikutnya mereka bertiga tertawa lepas saat melihat amplop di atas meja tersebut.
"Party sampai mampus kita guys!"
****
Di luar Club, Fathur menyetop taksi lalu mengatakan alamat yang di tujunya. Gadis itu masih berada di sebelah pemuda tampan itu, menatap paras rupawan Fathur yang menarik.
"Aku Fanny, nama kamu siapa?"
Fathur menoleh ke samping wajahnya berhadapan dengan gadis itu. Senyum gadis itu mengembang kala pemuda itu menyebutkan namanya.
"Gue, Fathur."
"Makasih udah mau bawa aku. Aku lagi bosan di rumah, mereka terlalu berisik." Seru gadis itu bercerita tanpa di minta.
Fathur hanya berdehem, menyandarkan kepalanya selama perjalanan menuju hotel langganannya.
Fanny memperhatikan paras tampan pemuda itu lekat, ia tersenyum senang karena bisa bertemu pemuda tampan itu malam ini.
"Kita mau kemana?"
"...." tidak ada jawaban, hanya berselang beberapa menit dari pertanyaan itu. Mobil yang mereka tumpangi berhenti di lobby hotel.
Gadis bernama Fanny tadi melongokkan kepala melihat lokasinya dari dalam mobil.
"Pak, ini hotel kan?"
"Iya, Neng." Sorot mata Fanny beralih kearah Fathur yang sudah membuka mata dan tengah menatapnya.
"Kenapa elo mau balik. Sana balik. Gue mau istirahat di sini."
"Nggak aku ikut kamu. Anggap sebagai permintaan terima kasih karena sudah bantuin aku lolos dari si berengsek tadi."
Fathur hanya menyungging senyum aneh, lalu keluar dan masuk ke dalam. Tidak perlu ke resepsionis hotel itu, Fathur langsung menuju lift di ikuti oleh Fanny.
"Kamu sudah pesan kamar di sini?"
"Hmm."
"Kita satu kamar?"
Ck.
Fathur berdecak dalam hatinya. Merasa pusing mendengar suara ocehan gadis itu.
Mereka sampai di depan kamar, lalu membukanya. Fathur membiarkan gadis bernama Fanny itu masuk lebih dulu kemudian mengunci pintunya.
Tanpa aba-aba, Fathur melepas jaket dan kausnya merasa lengket.
Fanny menoleh dan buru-buru mengalihkan matanya dari pandangan menggiurkan dari tubuh pemuda itu.
"Astaga! Bikin kaget aja."
Alis Fathur tertarik ke atas sebelah. Pemuda itu melewati Fanny dan berjalan ke kamar mandi.
"Gue mau mandi." Ujar pemuda itu.
Suara gemericik air terdengar samar di luar, Fanny menelan ludahnya susah payah. Matanya terfokus pada single bed yang ada di hadapannya lalu beralih pada pintu kamar mandi yang rupanya tidak tertutup rapat.
Tanpa di duga Fanny justru mematikan saklar lampu kamar tersebut dan menggantinya dengan lampu tidur di atas nakas. Meski lampu temaram ia bisa melihat sedikit celah lampu kamar mandi di sana. Tangan gadis itu membuka bajunya dan menanggalkan seluruh pakaiannya. Mendengar suara air yang menyala dan hawa AC yang dingin membuat gadis itu ingin ikut membersihkan tubuhnya dari rasa panas yang mendadak muncul.
Tanpa rasa malu, dan diam-diam. Fanny menyelinap masuk ke dalam kamar mandi. Punggung kekar Fathur terpampang jelas di bawah guyuran shower, wajah gadis itu memerah. Entah mengapa ia berani bertindak demikian, padahal baru hari ini bertemu dengan pemuda itu. Kakinya perlahan melangkah mendekat, cipratan air dingin dari shower membuat ia memekik sehingga Fathur terlonjak dan menoleh.
"Fanny! Ngapain elo--"
Belum sempat pemuda itu kembali mengeluarkan suaranya tubuh polos milik gadis itu tiba-tiba memeluk tubuhnya yang juga tidak tertutup selembar kain apapun.
Fathur menyugar rambutnya dan mengusap matanya yang perih terkena air. Ia hendak menjauhkan tubuh gadis itu karena tindakan Fanny membangkitkan gairahnya sebagai laki-laki.
"Fanny." Bisiknya menahan gairah yang timbul tiba-tiba.
Sialan, nih cewek. Mengumpat dalam hati.
"Fathur, kenapa panas banget." Ringis gadis itu.
Fathur melongo heran. Ia memegang bahu gadis itu dan menjauhkan dari tubuhnya. Fathur terpaku melihat tubuh polos di depannya. Bentuk yang pas di hadapannya sekarang jelas sangat menggiurkan, mata lelaki itu beralih melihat wajah gadis itu. Matanya memerah bergerak tidak tenang. Ia kembali mengumpat, ketika sadar kalau Fanny rupanya sudah di beri obat. Dan Fathur yakini itu dari cowok di Club tadi.
"Elo mandi aja, biar gue keluar dulu."
"Kamu kenapa keluar, aku mau dekat sama kamu Fathur. Kenapa panas banget sih, airnya jangan air panas dong." Racau gadis itu sepertinya pengaruh obat itu mulai bekerja.
Pantas saja cowok tadi ingin mengajak Fanny buru-buru pulang, karena tahu reaksi obat di tubuh gadis itu akan muncul.
"Jangan buat gue make elo."
"Make apa? Dingin Fathur, peluk aku sebentar." Racau Fanny mendekatkan tubuh mereka lagi.
Sialan.
Bangke.
Segala u*****n terlontar di hati Fathur, tubuh bawahnya pun ikut mulai bereaksi karena tubuh polos Fanny yang terus merapat kepadanya.
"Jangan menyesal."
Itu adalah kata terakhir yang Fathur bisikkan di telinga gadis yang baru di kenalnya tersebut, sebelum ia menarik dagu gadus di depannya dan menciumnya rakus.
Gejolak gairah yang susah payah ia tahan, akhirnya ia keluarkan malam itu. Fathur mencium dan menyecap seluruh tubuh mengkilap milik Fanny dan meninggalkan banyak kissmark di sana.
Merenggut apa yang selama ini Fanny jaga dan memberikannya kepada Fathur Artha Putra.
Keduanya larut dalam kenikmatan di dalam kamar hotel, mengabaikan tubuh lelah dan peluh keringat yang meluncur dari tubuh mereka masing-masing.
*****
Bersambung...