Happy reading
Typo koreksi
****
'Fathur itu milik gue'
... Fanny Kailana ...
***
Ke esokkan harinya.
Ini adalah hari kedua Fanny Kailana menjadi murid SMA PELITA. Gadis itu datang cepat seperti biasa. Kebetulan, saat baru turun dari taksi yang di tumpanginya. Gadis itu juga melihat Fersia kekasih Fathur yang turun dari mobil sedan di depannya. Meski tidak tahu siapa yang membawa kendaraan itu, Fanny bisa menebak kalau di dalam mobil tersebut hanya ada Fersia dan seorang pria.
Ia tersenyum miring.
Pikiran aneh bergelayut di dalam otaknya.
Apakah itu selingkuhannya Fersia. Bisa saja, Fanny lantas mempercepat langkah kakinya agar bisa menyusul Fersia.
"Pagi, Fersia." Sapanya membuat gadis berwajah datar di depannya tersentak.
Tatapan mereka bertemu, Fanny masih dengan senyum manisnya menatap Fersia ramah. Berbanding terbalik karena hanya di balas dengan wajah tanpa ekspresi milik Fersia saja.
"Ah, iya sorry, aku lupa kalau kamu nggak suka dekat-dekat sama orang lain kan. Oh iya, tadi aku lihat kamu di antar? Sama siapa? Kakak kamu ya?"
"...." lagi tidak ada jawaban dari gadis di depannya.
Plak.
Fanny memukul bibirnya pelan dengan ekspresi menyesal.
"Uups, sorry ya. Aku pasti banyak tanya ya. Ya sudah, kalau begitu aku duluan ya. Dadah Fersia." Fanny pamit dengan mimik manisnya.
Sia menatap punggung si murid baru itu dengan tatapan tidak suka. Ia menghela napas pendek. Ia hanya bisa berharap, tidak akan berurusan dalam hal apapun dengan gadis itu. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa tidak nyaman jika berdekatan dengan anak bernama Fanny Kailana tersebut.
Sedangkan Fanny berjalan sambil mengetik pesan singkat pada seseorang.
My Boy
Cewek kamu punya kakak ya? Ganteng gak?
Tidak butuh waktu lama, balasan langsung ia terima dari kontak bernama 'my boy' tersebut.
Fanny
Ngomong apaan sih elo. Pagi2 udah ngaco aja.
Fanny terkekeh pelan.
My Boy
Loh, kok ngaco sih. Aku tadi liat Fersia di antar sama mobil loh.
Ya siapa tahu aja itu kakaknya? Orang keliatan ganteng kok.
(Read)
Fanny langsung duduk di bangkunya setelah sampai di dalam kelas. Ia meletakkan tasnya asal di meja, matanya masih tertuju pada chat room dengan pemuda itu. Namun, hanya pemberitahuan read saja yang muncul. Bukan sebuah balasan.
Gadis itu tersenyum dalam hati.
Ia yakin Fathur tidak mengetahui tentang laki-laki yang mengantar Fersia tadi.
Well, gampang banget bikin cowok marah. Batinnya bergumam senang.
Fanny akan membuat Fathur menjauhi Fersia dengan perlahan. Sosok yang tidak di sukainya tak berapa lama sampai juga di kelas mereka. Fanny melirik siswi perempuan itu dengan sorot mata senang.
Gue bakalan rebut Fathur dari sisi elo secepatnya.
*****
Berengsek.
Fathur melempar ponselnya ke tempat tidur asal. Urat di lehernya menonjol tegang. Fathur masih di rumah, pemuda itu baru saja selesai membersihkan diri untuk pergi ke sekolah.
Dan sialnya pesan dari cewek bernama Fanny itu tiba-tiba mengganggu paginya.
"Cowok? Siapa? Apa jangan-jangan?"
Kerutan di dahi pemuda itu terlihat jelas. Lalu ia kembali mengingat kejadian kemarin saat dirinya mampir ke apartement milik Fersia dan bertemu seseorang.
Falashback on.
119041
Klik
Suara klik dari password pintu yang terbuka terdengar. Fathur tersenyum sumringah karena rupanya Sia tidak mengganti password apartement gadis itu.
Belum sempat ia berteriak memanggil nama gadisnya seseorang muncul dengan gelas di tangannya sosok itu dari arah dapur.
"Sia ada yang dat--" suara orang itu terdengar dan langsung berhenti kala bersitatap dengannya.
Fathur mengerutkan keningnya, hingga alisnya saling menyatu.
"HEI ELO SIAPA? MALING YA LO!" bentak Fathur membuat sosok di depannya balik menatapnya heran.
"Maling? Kamu bilang saya maling?" Tunjuk sosok di depannya ke arah diri sendiri.
"YA IYALAH! KALAU BUKAN MALING KENAPA ELO ADA DI DALAM RUMAH CEWEK GU--"
"Ada apa Kak? Fathur?"
Sia datang dengan pakaian rumah yang sudah berganti, gadis itu kini tengah melihat lurus ke arahnya.
"Kenapa ke sini?" Tanya gadis itu setelahnya.
"Memangnya aku nggak boleh datang ke sini? Ini dia siapa? Selingkuhan kamu ya?" Cerca Fathur bernada kesal.
"Dia--"
"Saya kakak sepupu Sia. Kamu siapanya adik saya?" Selak laki-laki yang tadi di bentak oleh Fathur bernada berat.
"Hah? Kakak sepupu? Bohong kan elo?" Fathur masih tidak percaya, pemuda itu justru kembali menuduh sinis lagi kepada laki-laki dengan pakaian rapih di depannya tersebut.
"Sia bisa kamu putusin anak ini sekarang? Jangan sampai aku ngelempar dia ke lantai bawah gara-gara omongannya yang nggak sopan." Arash yang mulai terpancing emosi menatap serius gadis di sampingnya.
"Fathur, dia Kak Arash, kakak sepupu aku." Ucap Sia datar tanpa ekspresi.
Deg
Mata Fathur membulat sempurna, pemuda itu kemudian mengerjapkan matanya kaget.
Blush.
Kedua telinga pemuda itu pun seketika memerah karena menahan malu.
"Maaf." Bisik Fathur nyaris tidak terdengar oleh dua orang di depannya.
Sialan bikin malu aja. Umpatnya.
Flashback off.
"Aishh jangan bilang cowok yang di maksud Fanny itu Arash-Arash kemarin?" Tanyanya pada diri sendiri menggeram.
"Sialan, gue masih malu banget njir." Dumelnya kesal.
Fathur duduk di pinggiran kasur, ia mengusap wajahnya kasar.
Gimana caranya dia minta maaf sama Sia pacarnya, karena sikapnya kemarin. Bahkan, setelah adegan marah-marah di sana. Fathur langsung di suruh pulang oleh Sia. Gadis itu terlihat marah kepadanya meski tidak menunjukkan ekspresi demikian.
"Gue harus kasih Sia sesuatu. b**o banget sih gue, bisa-bisa ngebentak kakak sepupunya. Dasar bodoh." Gerutunya sebal sendiri.
Fathur bergegas bersiap-siap agar bisa secepatnya sampai di sekolah dan menemui kekasihnya itu.
Sesampainya di bawah, Fathur menemui Bi Asi.
"Bi Asi. Bi." Panggilnya bernada manja.
"Eh, Aden sudah bangun. Kirain Bibi masih tidur."
Fathur hanya tersenyum tipis mendengar seruan beliau.
"Bi, kalau cewek lagi marah biasanya di kasih apa biar luluh ya?"
"Hah? Apa Den?"
Bibir Fathur tertekun ke bawah sebal.
"Ih, Bi Asi. Fathur tanya kalau cewek lagi ngambek biasanya bakalan luluh lagi di kasih apa ya?"
"Aden punya pacar?"
"Bi, aku lagi nanya loh? Kenapa Bi Asi malah balik nanya sih." Gerutu pemuda itu membuat Bi Asi tertawa kecil.
"Atuh, Bibi kan cuma tanya Den. Bibi nggak paham masalah anak ABG atuh Den. Ya paling di kasih bunga, coklat atau boneka mungkin Den." Jawab beliau asal.
Fathur mendesah kasar.
Percuma, tanya Bi Asi. Pikirnya.
"Atau bawain makanan aja Den. Mau Bibi bungkusin. Ini Bibi masak nasi goreng kornetnya banyak. Siapa tahu pacar Aden teh suka." Perkataan Bi Asi seketika membuat senyum Fathur tertarik sempurna.
"Ide bagus Bi. Makasih Bi Asi." Seru pemuda itu semangat.
Wanita paruh baya di depannya tersenyum geli. Melihat tingkah anak majikannya. Fathur bisa seperti anak kecil jika sedang bersamanya. Tapi sikap anak itu akan berubah jika sedang bersama orangtuanya.
"Ya sudah, Bibi siapin dulu. Aden sarapan dulu atuh. Biar nggak sakit."
"Oke, Bi." Balasnya patuh.
Sementara Bi Asi menyiapkan bekal untuk Fersia, Fathur menikmati sarapannya dengan ekspresi tidak sabar. Ia ingin Sia memaafkannya dengan segera. Kesalahannya kemarin sudah pasti membuat gadisnya itu malu. Terlebih karena Arash adalah kakak sepupu gadis itu.
Tapi kenapa? Tumben sepupu Sia datang. Selama ini nggak pernah kelihatan.
Apa sudah terjadi sesuatu sama keluarga Sia ya?
Fathur merasa mulai khawatir dengan kekasihnya itu. Sia tidak pernah sedikitpun bercerita tentang keluarganya. Dan Fathur sadar betul jika dalam status hubungan mereka ada tembok besar yang menghalangi.
Aku harap keluarga kamu baik-baik saja, Sia. Batinnya penuh harap.
*****
Di tempat lain, mobil sedan milik Arash Jaya Saputra melaju membelah jalan raya. Tak lama kendaraan beroda empat itu berhenti di salah satu gedung kantoran. Lelaki gagah itu turun, dan masuk ke dalam gedung tersebut dengan langkah santai.
"Selamat pagi, Pak."
"Pagi."
Sapaan ia dapat kala melewati lobby dan koridor kantor.
"Pak Arash, sudah di tunggu Bapak di ruangannya."
"Oke. Terima kasih, Andi."
Laki-laki bernama Andi yang berada di sampingnya mengangguk pelan.
Arash masuk ke dalam salah satu ruangan bertuliskan 'DIRUT'.
"Akhirnya kamu datang juga, duduk dulu Arash." Seru suara berat yang tengah duduk di kursi balik meja kerja.
Arash tersenyum lebar merespons.
"Baik, Om."
"Bagaimana hasil pencarian putri Om. Kamu tahu kan, kalau Om rela pindah ke kota ini dan membangun bisnis demi menemukan putri Om."
"Maaf Om. Aku belum dapat informasi apapun."
Terdengar helaan napas dari sosok pria paruh baya yang ada di ruangan tersebut.
"3 tahun. Apa Om harus menunggu lagi demi menemukan keberadaan Fersia. Arash, Om percaya sama kamu. Karena Om yakin kamu bisa menemukan Fersia. Kalian berdua sangat dekat, Om harap bisa mendengar kabar baik dari kamu secepatnya." Ujar pria paruh baya itu terdengar nyaris putus asa.
"Maafin Arash, Om. Arash berjanji akan berusaha menemukan Sia untuk Om dan tante." Sosok yang masih terlihat gagah itu di usia paruh bayanya hanya bisa mengangguk seraya berdehem pelan.
Tatapan beliau tertuju pada bingkai photo di atas mejanya.
Itu adalah photo 4 tahun lalu, ada dirinya, sang istri dan juga Sia putrinya.
Sia, kamu dimana Nak.
Papa rindu sekali dengan kamu. Batinnya miris.
****
Bersambung