Happy reading
Typo koreksi
*****
'Jangan ngambek dong, kan jadi makin sayang'
... Fathur Artha Putra ...
****
Jam pelajaran ketiga sudah masuk, namun sang guru yang harusnya mengajar di kelas XII-IPA2 tidak datang. Beberapa menit lalu sang ketua kelas sudah di beri tugas oleh guru pengganti. Karena itu, keadaan kelas tersebut sedikit hening sebab murid-murid fokus mengerjakan soal-soal yang harus di kumpulkan sebelum jam istirahat. Begitupula dengan Fersia dan Fanny, dua remaja itu juga duduk tenang di bangku mereka masing-masing.
Brak
"HELLO GUYS!"
Suara pintu di buka paksa dari luar s
Di susul teriakan heboh si pelaku mengagetkan semua penghuni kelas hingga terlonjak. Mereka menoleh serentak ke arah pintu, di sana tampak salah satu murid laki-laki yang sudah amat mereka kenal berdiri dengan tampak cengengesan sehingga decakan sebal pun tidak bisa di cegah karenanya.
"Hehehe ... sorry guys! Ngagetin ya." Kekehnya tanpa tahu malu memamerkan giginya.
Penghuni kelas yang lain hanya bisa menggeleng, berdecak heran melihat kedatangan salah satu anggota sang pembuat onar. Tegar.
Pemuda berwajah lumayan tampan itu kemudian mengendarkan pandangan lalu berhenti tepat ke arah meja milik Fersia Raxenta sang target. Pemuda itu melangkah mendekat, lalu meletakkan tupperware yang di titipkan Fathur kepadanya beberapa saat lalu. Sebelum pemuda nakal itu harus di seret paksa ke ruang BK karena datang terlambat.
Srek
"Sia, ini dari Fathur." Ucapnya memberitahu, gadis yang di panggil hanya menatap bingkisan di atas mejanya dalam diam.
"Fathur cuma minta tolong anterin ini dulu ke elo, dia lagi di ruang BK biasa sama Bu Rit cintanya." Lanjut pemuda itu.
Ragu, Sia pun mengambil bingkisan itu dan meletakkannya di bawah meja.
"Thank."
Tegar manggut-manggut kuat, "You're Welcome, sans ae. Ya udah gue cuma mau antar itu aja. Kagak tau dah apa isinya itu bingkisan, mending langsung gue anterin daripada kena amukan pacar lo itu." Ujarnya.
Sia tidak merespons, cukup tahu kalau sahabat-sahabat pemuda itu cukup segan dengan kekasihnya tersebut.
"Udah ah, gue keluar dulu. Takut ganggu." Pamit pemuda itu langsung keluar kelas.
Ya ampun, lebay banget nitipin barang aja harus banget pas jam pelajaran. Kaya nggak ada waktu aja, dasar.
Tau ih!
Cibiran pedas seseorang dari arah belakang di abaikan oleh Fersia, gadis itu kembali fokus mengerjakan soal. Tidak memikirkan apa komentar teman-teman sekelasnya dan bahkan ia tidak peduli apa isi bingkisan dari Fathur tersebut.
Sedangkan, Fathur duduk santai di depan Bu Rita guru BK SMA PELITA. Beliau terlihat memijat keras pangkal hidungnya setiap berhadapan dengan salah satu muridnya tersebut.
"Kamu lagi ... kamu lagi ... haduh, pusing saya lama-lama." Keluh beliau menulis nama Fathur Artha Putra di dalam buku hitam pelanggaran untuk siswa nakal di sekolah.
"Ya Bu Rit kenapa ajak saya ke sini. Seharusnya biarin aja saya masuk ke kelas XII-IPA2 dulu tadi. Saya tuh mau anterin makanan buat pacar saya Bu." Sahut Fathur membuat Bu Rita semakin geleng-geleng kepala makin berdenyut sakit.
Entah sampai kapan dirinya harus mengurus anak-anak bandel dan suka melanggar peraturan sekolah seperti siswa di depannya tersebut.
"Kelas XII-IPA2 sedang belajar Fathur. Kamu nggak malu apa mengganggu mereka yang serius belajar."
"Siapa yang mau ganggu mereka, Bu." Balas Fathur tidak terima.
"Bu, saya itu cuma mau antar makanan. Habis itu udah, saya langsung keluar kok dari kelas itu." Lanjutnya kembali memberitahu tujuannya tersebut.
Ya, Fathur terlanjur kepergok oleh Bu Rita saat mau jalan ke kelas sang pujaan hatinya. Padahal, jelas-jelas pemuda itu sudah terlambat datang ke sekolah pagi ini. Dan justru malah bersikap santai seperti tidak ada beban saat ia berjalan di koridor pada jam pelajaran kelas lain masih berlangsung.
"Terserah apapun alasan kamu Ibu tidak akan mentolerin. Fathur apa kamu mau main-main di kelas terakhir semester ini. Ibu hanya mau kamu jadi anak yang berguna, kamu tidak sayang dengan uang yang sudah orangtua kamu keluarkan demi kamu bisa sekolah. Di luaran sana banyak anak-anak tidak mampu yang harus kerja banting tulang demi bisa sekolah. Kamu? Di beri kelebihan harta tapi kenapa tidak kamu gunain demi masa depan yang baik."
Rahang Fathur mengeras mendengar ceramah beliau.
Fathur tidak suka saat ada yang membawa harta kekayaan orangtuanya dan seakan mengharuskannya untuk bisa menggunakannya dengan baik. Sedangkan, orang yang seharusnya ia anggap orangtua saja tidak pernah memberi apa itu KASIH SAYANG.
"Itu uang mereka, bukan uang saya." Jawabnya dingin membuat Bu Rita tercengang.
"Fathur, maaf jika perkataan Ibu menyinggung. Ibu paham, memang benar itu uang orangtua kamu. Mereka menyekolahkan kamu di sekolah ini pasti dengan harapan yang sangat besar demi masa depan kamu. Ibu harap kamu memikirkan hal baik setelah ini. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan sudah berikan ke kamu." Bu Rita kembali memberi nasihat.
Beliau tidak tahu apa yang di alami muridnya di dalam rumah. Tapi, sikap pembangkang dan suka membuat onar Fathur pasti memiliki alasan kuat dan sebagai pembimbing murid-muridnya beliau merasa harus memberi nasihat terbaik. Agar sang murid bisa intropeksi diri menjadi lebih baik lagi.
"Sekarang kamu boleh keluar, Ibu hanya akan memberi kamu poin saja hari ini. Kamu harus kembali ke kelas jangan bolos pelajaran lagi. Mengerti Fathur?"
"...." yang di tanya tidak menjawab.
Fathur berdiri dan tanpa kata langsung keluar dari ruangan BK tersebut, membuat Bu Rita mendesah berat.
Kamu bisa menjadi orang sukses, selama kamu mau berubah Nak. Batin beliau miris.
*****
Tet tet tet
Fanny menoleh ke arah meja Fersia, gadis itu masih duduk di kursinya tengah merapikan peralatan tulis. Bahu Fanny di tepuk pelan oleh Hani teman sebangkunya.
"Yuk, Fan. Ke kantin, laper nih." Gadis itu mengangguk mengiyakan.
Fanny penasaran kenapa Fathur tidak marah kepada kekasihnya itu dan justru menyuruh salah satu sahabatnya mengantar bingkisan ke dalam kelasnya.
Di tengah rasa penasarannya Fanny mengecek kembali room chat dirinya dengan Fathur. Tidak ada balasan atau jawaban apapun dari pemuda itu.
Kesal.
Fanny mengetik pesan lagi.
My Boy
Kamu nggak marah cewek kamu jalan sama cowok lain?
(Read)
Pesannya di baca tapi tidak ada balasan lagi. Fanny mengumpat sebal.
Dasar cowok nyebelin.
Suara Hani memanggil membuat Fanny tersentak, gadis itu buru-buru berjalan menyusul teman sekelasnya itu cepat.
"Maaf ya, tadi aku kirim pesan dulu."
"Iya, nggak apa-apa. Yuk." Fanny pasrah mengangguk mengikuti langkah kaki gadis di sampingnya.
Keduanya pergi ke kantin untuk istirahat, di dalam kelas hanya tinggal beberapa murid saja. Sia salah satunya.
Gadis berwajah innocent itu mengeluarkan bingkisan dari Fathur lalu membukanya. Harum kornet bisa ia cium saat berhasil mengeluarkan tupperware tersebut.
Sia memandang cukup lama visual nasi goreng di hadapannya. Ia menghela napas pelan, tidak mungkin membuangnya. Saat ia sibuk berpikir, diluar jendela seorang pemuda menatap gadis itu dalam. Lalu tangannya mengetik pesan untuk sang gadis.
Sia-ku
Aku nggak tau kamu suka apa nggak sama nasi gorengnya.
Jangan di liatin aja, apalagi di buang.
Kasihan nanti Bi Asi sedih masakan nggak di makan.
Maafin aku, soal kemarin.
Jangan ngambek ya.
Nanti aku makin sayang loh.
Xixixixi
*****
Bersambung