Happy reading
Typo koreksi
*****
'Aku cuma butuh kehadiran kamu'
... Fanny Kailana ...
****
Suasana di ruang tengah keluarga Tegar tampak canggung. Fanny Kailana kaget ketika yang turun dari lantai dua rumah itu bukan Tegar, melainkan Fathur Artha Putra sendirian saja. Bahkan, pemuda itu berjalan menghampirinya dengan mimik wajah yang sulit di jelaskan. Berhasil membuatnya merasa takut sekaligus gugup.
Kini, keduanya duduk bersama di sofa dengan sedikit jarak memisah mereka.
"Gue mau minta maaf, gue tahu ucapan gue kasar waktu di taman. Gue terlalu syok karena berita ini. Elo pasti ngertikan?" Ujar pemuda memulai pembicaraan.
Fanny merunduk memilin pinggiran pakaiannya gugup.
"Iya. Aku mengerti."
"Sekarang, gue nggak tau harus mulai darimana ngomong sama elo. Oke, gue ngerti kalau elo minta gue tanggung jawab. Tapi, jujur gye belum siap Fanny. Terserah kalau elo mau bilang gue pengecut. Karena memang sepeti itu kenyataannya. Gue belum bisa."
Fanny mencoba mendengarkan apa yang di katakan Fathur.
"Kita masih muda. Gue yakin elo punya cita-cita, begitu pula gue. Jujur aja keluarga gue bukan keluarga perfect dan bahagia yang di bayangin anak-anak di sekolah. Mereka sibuk dan gue menyibukkan diri gue dengan kesenangan." Lanjut pemuda itu mendadak menceritakan tentang keluarganya.
"Gue yakin elo bisa bayangin gimana reaksi mereka kalau tahu elo hamil. Dan gue rasa orangtua elo juga nggak akan terima soal ini."
"Kalau menggugurkannya bukan solusi baik, oke gue nggak akan maksa elo buat gugurin janin itu. Gue cuma mau elo berusaha buat untuk menjaga kandungan elo dari orang-orang. Gue akan bantu sebisa gue, tapi gue nggak bisa 100% dan 24 jam ada di samping elo, Fan. Gue harap elo mengerti."
Fanny mendesah berat.
Mungkin baginya jika tidak ada Sia di antara mereka, Fathur mau bertanggung jawab dan bisa selalu berada di sisinya.
Tapi, ada atau tidak Sia rupanya sama saja.
"Fanny." Panggil Fathur menyentak lamunannya.
"Apa aku boleh pertahanin anak ini?" Tanya gadis itu pelan.
"Itu hak elo, gue harap elo bisa menjaganya dan merahasiakannya. Jangan sampai ketahuan orang lain." Tutur Fathur mengingatkan.
Fanny menatap pemuda itu lekat.
"Kamu bisa berjanji satu hal sama aku?" Tanya gadis itu, ia memerlukan sebuah kepastian yang membuat hatinya menjadi lebih tenang dari pemuda itu.
"Apa?"
"Apa kamu bisa berjanji buat selalu datang jika nanti aku butuhin kamu. Aku nggak akan minta kamu ada di samping atau di dekat aku selama 24 jam hanya saja. Jika ... jika aku mendadak ingin ada kamu di samping aku. Apa itu di perbolehkan?" Tanyanya ragu-ragu.
Fathur menaikkan alisnya sebelah ke atas sebentar, sebelum ia menghela napas panjang.
"Oke. Gue usahain." Jawabnya tidak tegas dan juga tidak berbohong.
Senyuman manis Fanny tercetak sempurna. Ia menatap perutnya yang masih datar. Hal itu rupanya di tangkap oleh pemuda di sampingnya. Fathur mengikuti arah pandangan Fanny. Ikut menatap perut itu dengan perasaan aneh.
"Dia pasti senang banget, kalau kamu ada di dekatnya." Gumam gadis itu membuat Fathur tersentak.
"Gue nggak benci dia. Cuma kehadiran dia nggak tepat waktu, dan gue nggak bisa melepaskan Sia cuma karena kalian." Selaknya, Fanny mendongak hingga kembali menatap sosok tampan itu lagi.
Benar.
Tidak akan pernah bisa.
Fathur tidak akan pernah bisa melepaskan Sia, semua hanya ada di tangan Sia. Harus gadis itu yang melepaskan Fathur untuknya.
Agar dirinya bisa bersama Fathur seutuhnya.
"Aku harap kamu nggak akan lari lagi Fathur."
"Gue akan coba. Dan sorry gue nggak terbiasa ngomong aku-kamu sama elo. Gue harap elo mengerti."
Fanny hanya mengangguk kecil.
Tidak masalah.
"Aku boleh pulang sekarang?"
"Elo mau pulang. Sama siapa?"
"Hmmm taksi saja."
"Sama gue aja." Suara lain tiba-tiba mengintrupsi obrolan keduanya.
Dari arah tangga Tegar turun membawa bungkusan sampah kotak pizza.
"Kenapa sama elo, Gar?" Tanya Fathur aneh.
Menggedikkan bahu santai. "Nggak apa-apa. Kebetulan gue ada yang mau di beli. Biar gue anterin aja sekalian."
"Mau kemana memangnya elo?" Mata Fathur memicing memandang sahabatnya itu.
"Adalah. Kepo banget sih, Mas. Pulang sama gue nggak apa-apa kan?" Tanya Tegar kepada Fanny.
Gadis itu tampak terkejut, karena Tegar lagi-lagi ingin membantunya. Pemuda itu bersikap baik kepadanya.
"Aku naik taksi aja." Balasnya berusaha menolak.
"Dapat yang gratisan, kenapa harus bayar sih. Biar sama gue aja. Nggak apa-apa kok." Seru Tegar bernada bercanda.
Fanny menoleh ke arah Fathur sekilas, pemuda itu masih menatap heran Tegar yang ada di antara mereka.
"Ya sudah." Jawab Fanny akhirnya setuju.
Tegar tersenyum tipis, pemuda itu mengabaikan sorot penuh menyelidik sahabatnya tersebut.
"Nanti bilangin anak-anak yang lain. Gue keluar sebentar. Dan jangan berantakin rumah gue. Awas aja gue kebiri kalian semua." Ancam pemuda itu berusaha garang.
"...." Fathur tidak merespons.
Sedangkan Fanny sudah berdiri, lalu mendekati Fathur untuk berpamitan.
"Aku pulang duluan, Fathur."
"Hah, oh iya. Hati-hati."
"Pakai motor gue aja, Nyet." Ujar Fathur kepada sahabatnya itu.
Tegar menggeleng.
"Kasihan naik motor, biar naik mobil bokap aja. Tapi Fanny mobil bokap gue nggak keren nggak apa-apa kan?"
Fanny mengangguk dengan senyum tipis.
"Nggak apa-apa kok. Naik apa aja boleh."
"Sip. Yuk berangkat. Gue berangkat dulu Bro." Pamit Tegar kepada Fathur yang hanya bisa memandangnya bingung.
Si Tegar kenapa sih?
****
"Kalian bicara apa aja tadi?" Tanya Tegar saat mereka dalam perjalanan.
Gadis itu pun menoleh menatap wajah Tegar dari samping.
"Cuma minta aku buat berusaha jaga janin ini. Dan berusaha supaya nggak ketahuan sama siapapun terutama orang rumah." Jelas Fanny tenang.
"Elo setuju?"
"Hmm."
"Begitu. Gue harap masalah kalian cepat selesai. Gue nggak mau masalah kalian ini terlalu larut, karena bukan cuma ada kalian aja. Tapi ada orang-orang di sekitar kalian juga yang bisa kecewa nantinya." Seru Tegar.
Fanny membenarkan perkataan pemuda di sampingnya tersebut.
"Kamu kenapa baik sama aku?" Pertanyaan tiba-tiba dari Fanny membuat Tegar yang fokus menyetir langsung menoleh.
"Memangnya kenapa? Gue nggak boleh baik ke orang lain?" Baliknya bertanya.
Fanny menggeleng cepat, takut Tegar tersinggung dengan pertanyaannya barusan.
"Maaf, aku cuma ...."
Tegar tertawa pelan, membuat dahi Fanny mengkerut mendengarnya.
"Hahaha, astaga. Nggak perlu di pikirin juga. Gue cuma mau bantu elo aja kok. Nggak ada niat jelek apapun. Ya syukur-syukur kalau elo bayar pake doa, biar gue panjang umur itu lebih bagus kayanya." Kekehnya membuat Fanny mau tidak mau ikut tertawa geli.
"Kamu memang suka bercanda ya."
"Kadang sih. Hidup itu nggak harus di bawa stress. Apalagi terlalu ribet. Kalau kita ada masalah pun, cukup yakinin diri aja kalau Tuhan pasti kasih jalan. Dan semua jalan yang kita pilih juga pasti ada kurang dan lebihnya. Semua kembali ke diri sendiri aja." Ucapnya menasihati.
"Aku cuma takut Fathur nggak mau ada di samping aku pas aku butuh seseorang." Cicit Fanny mendadak merasa takut lagi.
Rasa khawatir yang ia rasakan itu tidak bisa sepenuhnya hilang.
Fanny takut melewatkan masalah ini sendirian. Dia tidak memiliki pengalaman apapun tentang kehamilan. Dan jika dirinya harus melewati masalah ini seorang diri. Fanny takut ia tidak sanggup.
Cibiran.
Hinaan.
Bahkan amarah orangtuanya lah yang paling Fanny takutkan sekarang.
Bukankah sudah sewajarnya jika dirinya menginginkan seseorang menemaninya. Memberi dirinya dukungan yang baik untuknya.
Bayi ini tidak bersalah.
Dan Fanny tidak melenyapkan nyawa tidak berdoa di dalam perutnya sekarang.
Jika Fathur tidak mau menemani dan bertanggung jawab. Fanny takut ia akan menyakiti dirinya sendiri.
****
Bersambung