Bab 44. Jagain Fanny?

1083 Kata
Happy reading Typo koreksi ***** 'Kenapa gue jadi kasihan ke cewek itu' ... Tegar ... *** Wanita paruh baya yang masih mengenakan celemek di pinggangnya, sebab ia baru saja membuat adonan bolu cokelat itu tampak terkejut melihat kedatangan putrinya. Kepalanya mendongak melihat jam dinding di area dapur. Belum waktunya pulang sekolah, lalu mengapa putrinya sudah sampai di rumah. "Fanny, kamu kenapa sudah pulang?" Yang di panggil menoleh cepat, ia menelan ludahnya gugup. "Mama," sapanya kemudian mendekat. Gita sang ibu melihatnya dari atas ke bawah, masih lengkap. Hanya saja wajah putrinya tampak sedikit pucat. "Kamu sakit?" Menggeleng Fanny mencoba tersenyum kecil. "Aku nggak apa-apa kok Ma. Cuma kayanya masuk angin, jadi aku izin pulang." "Ya ampun! Mama panggilkan dokter ya." Seru Gita heboh. Grep Gadis itu menahan lengan ibunya cepat, seraya menggeleng. "Nggak perlu Ma. Tadi sudah di kasih obat sama dokter jaga di sekolah. Aku cuma perlu istirahat saja. Pasti besok juga sudah sembuh." Bohongnya. Gita mengusap pipi putrinya lembut. "Oke. Ya sudah, kamu istirahat saja dulu. Jangan turun kalau belum enakan ya, biar nanti Mama antar masakan ke kamar kamu. Kamu mau apa? Mama baru aja selesai buat bolu cokelat. Atau kamu mau makan sesuatu, bilang saja Mama buatkan ya." "Makasih Ma. Aku istirahat aja dulu." "Oke. Mau Mama antar naik ke atas." Tawar Gita cemas. Fanny mengulas senyum manisnya. "Nggak perlu, Ma. Aku masih kuat kok." "Ya sudah, hati-hati ya. Selamat istirahat." Ujar Gita membiarkan putrinya kembali melanjutkan langkah kakinya menuju lantai dua. "Sebaiknya aku buat sup ayam." Gumam beliau kembali ke area dapur dan segera memeriksa isi kulkas di rumahnya. Di kamar, Fanny melepas seluruh  pakaian seragam sekolahnya yang ia kenakan dan menggantinya dengan piyama tidur. Setelah itu, Fanny membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya. Ia menatap langit-langit kamarnya berwarna putih dan termenung memikirkan apa yang sudah terjadi kepadanya hari ini. Bagaimana sikap awal Fathur hingga akhirnya pemuda itu mau menemaninya melewatkan masa sulit ini walau tidak 24 jam akan ada di sampingnya. Sekarang, Fanny berpikir jika dirinya harus bisa menjaga emosinya agar tidak ada mengetahui tentang kehamilannya. Terutama dari ayahnya. "Aku harus lebih berhati-hati sekarang." Tangannya mengusap perutnya yang tertutup piyama pelan. "Kamu harus bantu aku ya. Buat Fathur dekat sama aku." Bisiknya. Perlahan Fanny memejamkan matanya dan mulai terlelap menikmati tidur siangnya. Sedangkan berbeda tempat, Fathur bersidekap duduk di ruang tengah menonton acara televisi yang entah apa isinya. Ia tidak tahu, bahkan pemuda itu sudah lama tidak menyalakan televisi di rumahnya. Tiba-tiba pintu rumah ini dibuka dari luar, kepalanya menoleh melihat Tegar datang membawa satu kantong kresek swalayan di tangannya. "Jadi belanja?" Tanyanya di balas cepat sahabatnya itu. "Iya, tadi nyokap pesan kalau gue di suruh beli minyak, sama bumbu dapur yang mau habis." Jelasnya. "Kapan om sama tante pulang?" Seru Fathur kembali bertanya. "Besok atau lusa sih katanya, itupun kalau nggak ada halangan." Jawab Tegar melanjutkan langkahnya menuju dapur. Pemuda yang di kenal pecicilan itu terlihat lebih penurut kalau di rumahnya. Diam-diam Fathur tersenyum melihat kehidupan sahabat yang sudah ia kenal sejak SMP tersebut. Apalagi orangtua Tegar sangat welcome kepadanya, begitu pula kepada J dan Akmal dua sahabatnya yang lain. Dari sekian banyak rumah, rumah Tegar yang paling nyaman. Mereka bisa datang kapan saja dan selalu di sambut baik sang pemilik rumah. Kecuali Tegar tentunya. Cowok itu terlalu berisik jika mereka datang dan mengacau isi kamarnya. "Fanny elo antar sampai mana, Gar?" Tanya Fathur teringat gadis yang baru saja pulang dari rumah ini. "Rumahnya lah. Masa gue ninggalin dia di jalan, aneh lo." Sahut Tegar setengah ketus dari area dapur. "Sensi amat, gue cuma nanya, Gar. Elo ketemu orang rumahnya?" Tegar menggeleng menjawab. "Nggak, dia nggak kasih izin nganter sampai dalam rumahnya. Cuma sampai depan pagar aja." "Kira-kira dia bilang apa ya ke orang rumahnya. Soalnya dia pulang jam segini kan." Lanjut Tegar kepo ingin tahu. Fathur hanya menggedikkan bahu tidak peduli. "Elo udah kasih tau Sia kalau elo bolos hari ini." Seru Tegar membuat raut Fathur berubah bingung. "Gue takut Sia marah, makanya daritadi gue nggak berani nyalahin hp gue, njir." "Aneh lo, sama cewek aja takut." Cibir Tegar terkekeh. "Bangke, elo nggak ngerti aja." Gerutunya kesal. "Huh, nanti gue mampir ke apartement Sia deh. Sekalian bawa dia makanan." Lanjutnya pelan. Tegar heran. Mengapa sahabatnya itu begitu menyukai gadis bernama Fersia Raxenta. Jika di lihat, Sia dan Fanny jelas berbeda jauh. Fanny cantik, kulitnya putih dan manis jika tersenyum. Sedangkan Sia, gadis itu lumayan cantik tapi ekspresi wajahnya yang selalu datar dan terkadang dingin itulah yang membuat aura cantiknya tertutupi. Tapi, sepertinya hal itu nggak berlaku untuk sahabatnya tersebut. Benarkan. "Ngomong-ngomong dua bocah pada ngapain di kamar gue? Kenapa pada nggak turun?" Tanya Tegar yang melangkah mendekat ke arah sofa sambil membawa dua kaleng minuman bir dan duduk di sana. "Nggak tau, tidur kali." Jawab yang di tanya asal. Mendengkus kasar, Tegar duduk bersandar pada sandaran sofa nyaman. Hening kemudian. Tidak ada yang membuka suara lagi, Fathur dan Tegar duduk termenung dengan pikiran mereka masing-masing. Mendadak Tegar teringat keinginan gadis bernama Fanny saat di perjalanan tadi. Begitu simple permintaannya. Ia hanya ingin ada yang menemani. Dan Tegar yakin, pemuda di sebelahnya sekarant tidak akan bisa meluangkan waktu untuk Fanny setiap hari. Perasaan iba mendadak menggelayuti hati Tegar. "Gue boleh jagain Fanny, kalau elo nggak ada waktu buat dia, Tur?" Uhuk Uhuk Fathur tersedak bir yang baru akan di minumnya. Tangannya menutup mulut yang terbatuk-batuk cepat, lalu menoleh memandang Tegar horor. "Elo kesambet apaan, Gar?" Celetuknya usai berhasil meredakan sakit tenggorokkannya. Tegar tidak berani menatap wajah sahabatnya itu, ia memilih melihat lurus ke depan pada layar televisi yang masih menyala. "Gue cuma mau membantu kalian berdua. Mungkin kalau gue punya adik perempuan, dan dia lagi di posisi kaya Fanny. Gue yakin elo udah habis sekarang sama gue, Tur. Bayangin dia ngelewatin masa sulit soal kehamilannya aja gue udah ngerasa kasihan. Gue bukan mau sok pahlawan, gue juga tahu posisi elo lagi sulit. Elo cinta sama Sia. Tapi Fanny juga pasti butuh dukungan elo." Paparnya menjeda. Kemudian dengan ekspresi serius berbeda dengan sosok Tegar yang biasanya pemuda itu mengatakan hal yang membuat Fathur semakin tertegun. "Gue mau bantu elo sebagai sahabat dan gue mau jagain Fanny sebagai rasa peduli gue ke cewek itu. Bolehkan?" Sedetik. Dua detik. Hingga semenit berlalu, Fathur tidak menjawab apapun. Pemuda itu tampak mencari kebohongan dari mata sahabatnya. Namun, ketika melihat kejujuran dan bagaimana cara Tegar menatapnya sedemikian berbeda dari biasanya. Di saat itulah Fathur sadar, jika Tegar rupanya jauh lebih baik dari dirinya. Apa gue harus biarin Tegar terlibat juga sama Fanny. **** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN