Bab 45. Fathur Vs Tegar

1542 Kata
Happy reading Typo koreksi **** 'Gue nggak mau ada yang ikut terlibat lebih jauh ke dalam masalah gue' ... Fathur Artha Putra ... **** "JANGAN." Alis Tegar terangkat keatas menukik tajam mendengar jawaban Fathur setelah pemuda itu hanya diam. "Kenapa jangan? Elo memangnya bisa jagain dia kalau elo lagi sama Sia?" Telak Tegar menyindir. "Gar, gue tau niat elo baik. Tapi ... gue juga nggak mau elo masuk dan terlibat sama tuh cew--." "GUE TANYA ELO BISA NGGAK JAGAIN DIA?" bentak Tegar memotong dan mulai tersulut emosi. Fathur mendesah kasar. "Gue pasti usahain." Sahutnya tidak tegas. "Dih, nggak yakin juga kan lo. Terus kenapa kalau gue mau nolongin dia. Gue mau bantu elo, Tur. Emangnya salah?" Tanya Tegar lagi. "Gue nggak mau elo nanti ke seret sama masalah gue. Kalau gue nggak bisa bagi waktu buat dia. Ya udah sih, biarin aja. Kenapa ribet banget." "FATHUR! DIA CEWEK NJING. ELO COWOK KOK NGOMONG KAYA GITU. GAMPANG APA SIH!" "ELO KENAPA NGEGAS SAMA GUE, TAI." "ELO YANG t*i, BANGSAT." Umpat Tegar berteriak. Terdengar derap kaki gedebak-gedebuk menuruni anak tangga. Raut kaget dua sahabatnya yang lain muncul, mereka terlihat kebingungan melihat sosok Fathur dan Tegar yang saling menegang di hadapan mereka. "WOY BANGKE, KAGET GUE. KALIAN KENAPA SIH?" Teriak J ikut marah. Keduanya mendekat, J berdiri di sisi Tegar dan Akmal memilih berdiri di sisi Fathur yang terlihat seram. "Kalian kenapa pada berantem? Gara-gara apa? Hei, ayolah guys. Kita teman loh, sahabatan lama malah. Masa kalian harus banget teriak-teriakan kaya tadi. Kalau ada masalah, sok atuh kita bahas baik-baik." Ujar J melihat keduanya bergantian. Tegar menghela napas panjang, lalu meminta maaf. "Maaf, sorry gue keluar dulu." Serunya tiba-tiba pamit meninggalkan aura tidak menyenangkan di sana. "Lah ... malah pergi tuh anak." Gumam J heran. Akmal menepuk bahu Fathur pelan, agar sahabatnya itu bisa tersadar. "Tur." Panggilnya seperti berbisik. Fathur tersentak, ia menoleh kemana perginya Tegar. Taman belakang. Pemuda itu lalu mengacak rambutnya geram sekaligus tidak enak hati. "Gue cabut duluan ya guys." Pamitnya izin. "Nanti aja kenapa? Buru-buru banget. Masalah tadi selesaiin dulu dong, Bro. Masa main pergi aja." "Nanti gue beresin. Gue cabut duluan. Sorry ya." Ucapnya tetap ingin pergi dari sana. Akmal yang mengerti menganggukkan kepalanya berbanding dengan J yang jadi gemas sendiri. "Cabut ... cabut aja semuanya. Ck, dasar pada bocah." Gerutu J tidak peduli jika Fathur pasti masih mendengarnya. "Mereka berdua kenapa sih?" Akmal menggedikkan bahu pelan. "Ke belakang aja dah. Si Tegar pasti ngerokok dia." Ujar J lagi, kemudian memilih menyusul Tegar yang pergi ke arah taman belakang rumah ini. ***** Menjemput Sia. Ya, akhirnya Fathur memilih menjemput kekasihnya itu. Alih-alih datang ke apartement gadis itu. Menempuh waktu sekitar 35 menit, Fathur sampai di depan gerbang yang masih tertutup rapat. Tak berapa lama, suara bel terdengar. Tet tet tet Fathur tidak membuka helm fullfacenya, gerbang pun mulai terbuka. Kehadiran motornya yang berada di luar gerbang jelas menarik perhatian murid-murid lainnya. Bagi yang sudah hapal dengan plat nomor polisi kendaraannya, mereka bisa tau kalau ini adalah dirinya. Fathur mengabaikan raut-raut para penghuni SMA PELITA. Tatapan hanya tertuju pada seorang siswi terlihat berjalan sendirian di jarak sekitar 2 meter dari posisinya. Bibirnya tertarik ke atas. Hanya melihat gadisnya saja, hatinya menjadi lebih baik sekarang. Padahal sebelum sampai sekolahnya, perasaannya kacau sehabis bertengkar dengan Tegar. Fathur sontak menekan klakson motornya dua kali, Fersia Raxenta yang juga mendengarnya seketika memandang ke sumber suara. Gadis itu terdiam sejenak. Sebelum akhirnya menghampiri motornya. "Siang, Sia-ku." Sapa Fathur riang. "Kamu ngapain di sini?" "Jemput kamu." Jawabnya santai. Sia menatap pemuda itu dingin. "Kamu masih berani ke sini, sehabis bolos seharian?" Telaknya membuat pemuda tampan itu meringis di balik helm. "Aku ada keperluan tadi. Ini baru selesai. Makanya aku bisa jemput kamu." "Keperluan kok jamaah. Kalian memang sengaja niat bolos kan." Ujar Sia masih menyindir. Fathur mengambil tangan Sia cepat. Gadis itu berusaha menariknya namun pemuda itu justru tambah menggenggamnya lebih erat. "Oke. Aku minta maaf ya. Hari ini aja kok. Besok aku sekolah." "Sekolah aja sendiri." Celetuk Sia lempeng. Fathur mengumpat, lupa kalau besok sudah hari weekend lagi. "Hehehe, nggak jadi deh. Lusa aja." Serunya cengengesan. Sia geleng-geleng kepala dalam hatinya. "Ayo pulang, aku antar ya." Lanjut pemuda itu lalu memberikan helm milik kekasihnya itu. Terpaksa, Sia menerimanya dan memakainya. Walau ia masih merasa ada yang aneh. Namun, Sia memilih tetap bungkam. "Mau makan dulu nggak? Aku lapar banget nih? Sia ... boleh nggak aku minta nasi goreng kaya kemarin lagi?" "Bahan-bahannya habis." Jawab Sia jujur. "Kita mampir ke swalayan deh, beli bahan-bahannya ya. Aku mau makan masakan kamu lagi, boleh ya." Enggan berdebat, gadis itu pasrah mengiyakan saja. "Ya sudah. Ke swalayan dulu." "YES! LET'S GO, KITA BERANGKAT!" pekik pemuda itu terlalu bersemangat. **** Masih di rumah Tegar. Akmal dan J serentak sesekali melirik ke arah Tegar yang sudah menghabiskan banyak batang rokok. Mereka tidak tahu mengapa dua teman-teman mereka tadi saling bertengkar. "Gar, sorry nih ya. Elo jangan marah, tadi elo sama Fathur kenapa?" Seru J memecah keheningan mereka sejak tadi. "Teman elo tuh bego." Desisnya membuat J saling pandang dengan Akmal heran. "Elo kaya nggak tau dia aja. Kan emang rada-rada tuh bocah. Emangnya dia b**o kenapa?" Bugh "Aww! Sakit t*i," pekik J melotot tajam ke arah Akmal yang saja menabok punggungnya kuat. "Gue cuma mau bantu dia, gue bilang kalau dia pas lagi nggak ada waktu buat nemenin Fanny. Biar gue yang temanin tuh cewek." Hah. J mengkerutkan dahinya, bingung. "Maksudnya gimana? Elo mau bantuin Fathur buat gantiin dia kalau seandainya tuh bocah nggak bisa jagain Fanny pas lagi sama Sia gitu." Ucap J menjabarkan apa yang ada di pikirannya setelah mendengar perkataan Tegar barusan. "Iya." "Bukannya bagus ya? Terus kenapa kalian berdua malah berantem?" "Gue nggak tau, dia nggak ngebolehin gue bantuin dia." "Pasti Fathur punya alasan, Gar. Elo kam tau sendiri dia anaknya kaya gimana. Apalagi ini masalah dia sama tuh cewek. Pasti dia juga nggak mau kita-kita pada terlibat kejauhan sama masalah dia. Dengan Fathur yang udah mau bilang hari ini aja, kita udah bersyukurkan. Coba elo bayangin, kalau seandainya Fathur bilang belakangan ke kita? Pasti kalian ngerti lah." Jelas Akmal mencoba memberi pengertian kepada Tegar. Dalam hati, Akmal senang karena Tegar mau membantu Fathur. Namun, ia juga mengerti mengapa Fathur tidak mengijinkan mereka ikut campur lebih dalam atas masalah pemuda itu. "Gue salah dong?" Tanya Tegar bertanya ke Akmal dengan wajah cemberut. "Niat elo nggak salah kok. Cuma pikiran elo sama Fathur aja yang beda, Gar." Jawabnya membuat Tegar meraup wajabnya kasar. "Huh, sialan emang. Bikin pusing aja." Akmal tersenyum tipis, sedangkan J sudah menepuk-nepuk bahu Tegr prihatin. "Yang sabar ya, Bang. Saling maaf-maafan dah. Kaya lebaran." Helaan napas berat Tegar terdengar. Pemuda itu menjadi tidak enak karena sudah berpikir yang tidak-tidak kepada sahabatnya tersebut. Maafin gue, Tur. ***** Apartement Sia. "Harum banget," puji Fathur duduk di kursi pantry dapur di rumah ini. "Kenapa nggak makan di rumah aja." "Ini kan rumah aku juga." Sahut pemuda itu menyengir kuda. "Dasar." "Fathur." Panggil Sia tiba-tiba. Fathur masih memasang wajah sumringah di tempat duduknya. "Iya." Sahutnya senang. "Kamu tahu kenapa Fanny nggak masuk?" Deg "Emangnya Fanny hari ini nggak masuk juga. Aku nggak tau sih. Kenapa kamu tanya ke aku?" "Nggak apa-apa. Tanya aja." Jantung Fathur nyaris copot saat Sia menanyakan gadis itu. Ia pikir Fanny berbicara yang tidak-tidak kepada Sia tanpa sepengetahuannya. "Mungkin dia ada urusan kali. Aku nggak tau juga sih. Aku kan nggak kontak-kontakan sama dia." Ujar Fathur mencoba membuat Sia tidak curiga kepadanya. "Iya, mungkin." Sahut gadis itu singkat. Drrtt drrtt Nada dering ponsel Sia menyentak obrolan keduanya. "Ada telepon kayanya." "Maaf bisa tolong angkat dulu, Fathur." Ujar Sia meminta tolong, karena ia tidak bisa langsung mengangkatnya saat sedang masak "Oke." Fathur menggeram melihat nama yang tertera di layar. "Siapa yang nelpon?" "Hallo." Sapa Fathur ketus. "Loh, iya hallo. Ini siapa ya? Sia nya kemana?" Itu suara Arash, jelas sekali jika pria itu tidak suka saat mendengar suara Fathur yang menerima teleponnya. "Sia lagi masak, mau ngomong apa?" Tanya Fathur tidak ingin mendengar basa-basi pria di ujung sambungan. Arash mengeratkan genggaman ponselnya mendengar nada bicara pemuda itu. "Nanti saja saya telepon lagi." "Ok--" "Tunggu saya belum selesai bicara sama kamu. Saya tahu kamu pacar sepupu saya. Tapi saya tetap tidak mengijinkan kamu seenaknya berkunjung ke rumah Sia sendirian." Potong Arash tegas terdengar tidak suka. "Kenapa anda yang repot-repot mikirin. Sia juga nggak keberatan, kalau saya ke rumahnya." "Dia memang terlalu buat kamu." Celetuk Arash membuat Fathur kesal. "Ngomong apaan sih. Nanti telepon lagi aja. Dadah." Tut. Sebal, Fathur memutuskan sambungan dan meletakkan ponsel Sia di atas meja pantry. "Siapa yang telepon?" "Sepupu kamu." Ujarnya bernada sedikit ketus. Sia hanya menghela napas pendek. Gadis itu meletakkan sepiring nasi goreng untuk Fathur yang sudah jadi di atas meja pantry. "Jangan gitu sama kak Arash. Aku ganti baju dulu, kamu makan aja." "Kok cuma satu?" Heran Fathur baru sadar cuma ada satu piring saja di hadapannya. "Aku masih kenyang." Sahut Sia mengambil ponselnya dan pergi menuju kamarnya. Sebelumnya gadis itu mendial nomor Arash ingin menanyakan mengapa Arash menghubunginya. Di kursinya Fathur berdecak gemas. "Dasar, gue yakin banhet si Arash Arash itu nggak baik." Gerutunya melihat Sia mengobrol dengan sepupu gadis itu lagi di telepon. Awas aja tuh cowok, berani macam-macam gue sikat. ***** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN