Bab 29. Bekal

1083 Kata
Happy reading Typo koreksi **** 'Dekatin musuhmu, lalu kamu bisa hancurkan dia dengan sikap santai dari belakang' ... Fanny Kailana ... **** Akmal, Tegar dan J saling pandang satu sama lain. Kini mereka sedang berada di depan balkon kelasnya dan anehnya Fathur terlihat santai ketika gadis yang sejak kemarin membuat sahabatnya itu kesal tiba-tiba datang memberi kotak bekal. Dan lebih membuat mereka bingung Fathur menerimanya dan mengucapkan terima kasih. "Fathur, aku tadi pagi buat sandwich banyak. Kamu makan ya." "Oke, thank." Fanny yang masih berdiri di hadapan pemuda itu kini jadi tersenyum lebar saat Fathur tidak lagi cuek kepadanya. "Isinya ada banyak kok, kamu bisa bagi-bagi juga ke teman-teman kamu. Kalau begitu aku ke kelas dulu ya." Fathur berdehem pelan mengiyakan. Kepergian gadis itu berhasil membuat ketiga sahabat Fathur jadi menatap heran dengan apa yang sedang terjadi barusan. "Ekhm, ada apa nih? Kayanya kita ketinggalan berita penting deh guys. Sejak kapan seorang Fathur Artha Putra mau nerima bekal selaij dari nyonya besar." Ejek Tegar menaik-turunkan alisnya dengan muka jenaka. Akmal dan J yang mendengar hanya terkekeh kecil. Fathur menyodorkan kotak bekal itu ke arah muka Tegar sebal. "Nih, kalian makan aja. Gue lagi nggak mood sarapan." Tegar menggeleng lalu memasang wajah iba. "Aduh, kasihan amat. Kalau si cewek tadi tau elo nggak makan bekal dari dia pasti tuh anak nangis-nangis bombay deh." Ucap Tegar yang langsung mengambil kotak bekal tersebut dengan senang hati. "Kasihan-kasihan elo embat juga tuh makanan. Dasar rakus." J mencibir membuat Tegar balas cengengesan karenanya. "Tur, tapi beneran deh. Tumben elo nggak kesel sama tuh cewek. Kenapa?" Fathur hanya menggedikkan bahunya acuh tidak menjawab. "a***y diam bae." Gerutu J yang tadi bertanya. "ENAKKK!" Pekik Tegar heboh. Pemuda itu menyodorkan sandwich yang baru di gigitnya ke arah Fathur. "Tol, elo beneran nggak mau nih? Gue habisin ya." Seru Tegar lanjut dengan ekspresi senang. Fathur hanya menggeleng kecil menolak. Tampak tidak tergiur dengan sandwich tersebut sedikitpun. "Elo kaya lagi ada problem? Kenapa, Tur?" Tanya Akmal yang jauh lebih manusiawi di antara kedua temannya yang lain. "Biasa, di rumah ada bokap nyokap. Gue males kalau udah ketemu mereka." Seru Fathur akhirnya. Tegar dan J ikut menatap sahabatnya itu. Merasa tidak enak, karena tidak tahu sama sekali perihal tersebut. Dan seenaknya pagi-pagi sudah membuat Fathur kebal. "Sorry, Bro. Kita nggak tau kalau orangtua elo udah pulang. Terus semalam elo tidur dimana?" Fathur tidak marah atau menyalahkan para sahabatnya. Ia hanya berusaha bersikap santai. "Semalam gue ke Bar sebentar, terus balik pulang." Jawabnya membuat teman-temannya membelalak terkejut. "Elo kesana sendirian? Kenapa nggak ajak-ajak kita?" J bertanya heran. "Nggak tau juga gue, lagi pengen ke sana sendirian aja. Lagi pula gue cuma sebentar doang kok. Gara-gara ada Fanny juga di sana semalam." "Fanny? Oh cewek tadi." Seru Tegar kemudian mengingat nama gadis yang memberi bekal tersebut. "Hmm, dia bikin kacau semalam di bar. Tapi gue udah beresin tuh cewek, makanya sekarang dia nggak berulah." Jelas Fathur tidak begitu detail. "Nekat juga tuh anak, dia kok tau elo di sana." Fathur lagi-lagi hanya menggedikkan bahu saja. "Jadi elo semalam di bar sama tuh cewek?" "Iya, cuma sebentar." Jawabnya santai. Akmal menatap Fathur kasihan, meski baru berteman dengan Fathur ketika bertemu di kelas satu SMA. Akmal bisa tau dengan jelas kalau keluarga Fathur tidak dalam keadaan baik-baik saja. Karena itu dirinya senang berteman dengan Fathur karena merasa satu frekuensi. "Malam balap yuk." Seru Fathur tiba-tiba. "Mau gue tanyain bang Jack? Ada yang mau turun apa nggak nanti malam?" J ikut berucap. Manggut-manggut, Fathur pun setuju. **** Di kelas XII-IPA2, Fanny senyum-senyum sendirian membuat Hani memandangnya keheranan. "Senyam-senyum aja, Bu. Kenapa nih? Habis dapat lotre ya." Ucap gadis itu. Fanny tertawa pelan, ia memukul bahu Hani lembut. "Ih, apaan sih Hani. Aku nggak habis menang lotre kok." "Mana mungkin, dari pas elo datang tadi gue udah bisa lihat aura-aura bunga bermekaran tau nggak." "Astaga lebay banget." Kekeh Fanny jadi tertawa lebar. Hani menggeram sebal melihat Fanny yang justru menertawakannya ucapannya barusan. "Nyebelin banget sih, Fan." Gerutu Hani di balas senyum manis Fanny. "Iya, iya, maaf, habis aku lucu aja dengar kamu ngomong bunga-bunga bermekaran. Emangnya aku taman apa. Tapi, kamu bener kok, aku memang lagi senang aja. Aku punya info penting sebenarnya. Tapi ... aku belum berani bilang ke kamu atau siapapun. Aku takut kalau." Fanny menjeda dengan ekspresi sok misterius membuat Hani mendengkus. "Kalau elo takut ya nggak usah bilang-bilang ke gue juga, Fan. Bikin makin penasaran aja ih." Decaknya sebal. Fanny menoleh ke arah lain, kala melihat Fersia yang baru kembali dari toilet. Gadis itu kembali duduk di kursinya dan membaca buku. "Sebentar ya, Han." Ucap Fanny tiba-tiba merogoh sesuatu dari laci meja dan berdiri menghampiri Fersia. "Hai, Sia. Ini aku tadi pagi buat sandwich lebih, kamu mau?" Sia mendongak melihat kemunculan gadis itu yang mendadak. Lalu, tatapannya beralih pada kotak bekal berukuran sedang yang di letakkan di atas mejanya oleh gadis bernama Fanny tersebut. "Makasih, tapi aku udah sarapan." Tolaknya halus. Wajah Fanny sedikit tertekuk ke bawah. "Tapi, aku udah niat buatin ini untuk kamu loh. Aku boleh kan jadi teman kamu?" Ujar Fanny semakin membuat Fersia merasa bingung. "Aku kan sudah pernah bilang--" "Iya, aku tau. Kalau kamu lebih suka sendirian kan? Tapi aku tetap mau berteman dekat sama kamu. Nggak salah kan?" Sia mendesah dalam hatinya. "Terima kasih, aku terima makanan ini. Tapi ... maaf, kalau aku nggak bisa terima ajakan pertemanan kamu. Aku harap kamu mengerti." Balas Sia berusaha menjelaskan secara baik-baik. Fanny pun manggut-manggut paham. Gadis itu kemudian menarik sudut bibirnya ke atas dengan ekspresi tidak merasa tersinggung sedikitpun. "Oke. Nggak apa-apa. Makasih ya, aku harap kamu suka sama sandwichnya. Kalau gitu aku balik ke bangku ku ya." Serunya lalu pamit pergi dengan senyum lebar masih tercetak jelas di wajah cantiknya. Fersia hanya mengangguk kepala pelan mengiyakan. Di kursinya Hani menatap sikap aneh Fanny hari ini dengan kerutan dalam. "Elo kenapa sih, Fan? Aneh banget?" Bisiknya pelan-pelan agar tidak terdengar oleh gadis yang duduk di barisan berbeda dengan mereka tersebut. "Nggak apa-apa kok. Aku cuma pengen kasih sandwich yang aku buat aja ke Sia. Kamu mau juga?" Baliknya bertanya. Hani menggeleng dengan wajah cemberut kesal. "Seharusnya elo tadi nawarin gue dulu, baru ke Sia, Fan. Gimana sih." Cibirnya membuat teman barunya itu merangkul bahunya erat. "Maaf ya, sebagai gantinya nanti aku traktir kamu pulang sekolah. Kita nongkrong yuk." "Nah, gitu dong. Gue setuju." Ucap Hani jadi semangat lagi. Fanny melihat Sia meletakkan kotak bekal darinya ke bawah meja. Aku harus terus baik sama Sia, supaya Fathur makin suka sama aku. **** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN