Bab 30. Pacar Kedua?

1096 Kata
Happy reading Typo koreksi **** 'Apa yang kita Tuah, itulah yang akan kita pertanggung jawabkan kelak' ... Fersia Raxenta ... *** Jam istirahat di gunakan oleh murid-murid untuk sekedar jajan di kantin, duduk di pinggir lapangan koridor, atau ada sebagian berada di Perpustakaan. Kali ini, Sia duduk di kantin sendirian. Di depan salah satu stand penjual makanan. Fanny dan Hani tampak tengah menunggu antrian. "Liatin siapa Fan?" Tanya Hani kala melihat Fanny diam-diam selalu menatap ke arah pintu masuk kantin. "Oh, aku nggak ngeliatin apa-apa kok." Jawab gadis itu tersenyum tipis kembali menatap antrian di depannya. Mendengar itu Hani tak lagi bertanya, ia juga ikut menunggu antrian mereka. Tak berapa lama, terdengar suara heboh yang datang dari pintu masuk kantin. Hal itu .enarik intuisi otak Fanny untuk bekerja dengan sangat cepat, sehingga ia sudah menoleh menatap ke arah pintu. Benar saja, di sana ia melihat Fathur dkk baru saja tiba. Pemuda itu berjalan beriringan dengan teman-temannya. Tangan Fanny refleks sudah siap ingin membuka room chat dengan pemuda yang sekarang sudah menjadi pacarnya tersebut. Namun, ia tahan kala melihat Fathur justru lebih dulu menghampiri salah satu meja. Bisikan anak-anak kantin mulai terdengar karena pemandangan yang sedang terjadi. Fathur menebar senyum lebarnya menambah ketampanan pemuda nakal itu. Hati Fanny berdenyut sebab hal itu bukan untuknya. Ia pun memalingkan wajah segera dengan tangan yang meremas ponselnya erat. Sedangkan Fathur sudah duduk menatap lurus sosok Fersia Raxenta yang sedang melahap sandwich yang ada di mejanya. "Kamu buat sandwich? Kok aku nggak di kasih." Ujar pemuda itu bertanya kepada kekasihnya. "Bukan aku yang buat." Hah. Alis Fathur terangkat bingung, tidak mengerti. "Bukan kamu yang buat? Terus dapat dari siapa?" Seru Fathur dengan alis menukik tajam. "Fanny." Fathur tampak diam seperkian detik, sebelum melihat ke arah kotak bekal yang masih ada satu lagi sandwich. "Oh ... dari Fanny. Dia yang kasih kamu?" Sia hanya berdehem kecil, kembali melahap sandwich di tangannya perlahan. "Kamu nggak mau makan yang lain? Aku belikan ya?" Sia langsung menggeleng, menelan makanannya terlebih dahulu sebelum menjawab Fathur. "Nggak usah. Aku udah kenyang." Sahutnya. Menghela napas pendek, Fathur menuruti ucapan kekasihnya tersebut. "Aku nanti malam balap ya. Nggak apa-apa kan?" Sia meneguk jus jeruk di hadapannya dan kembali memandang Fathur lurus tanpa ekspresi. "Kenapa izin ke aku?" Tanyanya heran. Fathur menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal pelan. "Ya ... kan kamu--" "Karena aku pacar kamu. Fathur aku kan sudah pernah bilang, itu hak kamu. Aku nggak akan melarang apapun yang kamu lakuin di luaran sana. Karena nantinya kamu sendiri yang harus bertanggung jawab nantinya." Papar Sia datar. Manggut-manggut mengerti, pemuda itu balas menjawab. "Kamu memang benar, toh kalau terjadi sesuatu pasti aku sendiri yang rugi. Iya kan?" Ucapnya dengan kekehan geli. "Balapan liar itu berbahaya, tapi itu keinginan kamu buat ngelakuinnya. Aku nggak akan mencegah selama kamu bisa menerima apapun resikonya. Kamu ngerti kan maksud aku." Fathur berdehem membalas. "Ya udah, aku makan dulu. Nanti pulang sama aku ya?" "Iya." Jawab Sia singkat dan padat. Fathur tersenyum lebar, sebelum berdiri meninggalkan tempat duduk tersebut. **** "Ini Neng." Suara penjual bakso menyentak kesadaran Fanny yang melamun. Ia penasaran apa yang dibicarakan pemuda itu kepada Sia. Karena, sorot mata Sia terlihat seperti orang yang sedang menasihati. "Makasih, Pak." Balasnya mengucapkan terima kasih dan menerima makanannya. "Duduk dimana, Fan?" Tanya Hani yang juga sudah memegang mangkuk berisi bakso. "Di sana aja yuk." Tunjuk gadis itu dengan dagunya. Belum sempat Hani protes, Fanny sudah jalan lebih dulu ke arah meja siswi perempuan yang duduk sendirian. Siapa lagi kalau bukan Fersia Raxenta. Dalam hati Hani menyumpah serapah atas tindakan tiba-tiba Fanny tersebut. "Hai, Sia. Aku sama Hani boleh duduk di sini. Kebetulan meja yang lain penuh. Boleh kan?" Izin Fanny dengan wajah bersahabat. Hani menelan ludahny susah payah, saat melihat teman sekelasnya itu terlihat tidak menyukainya. "Duduk saja. Aku juga sudah selesai." Ucap Sia memberikan meja itu kepada kedua gadis di hadapannya sekarang. "Loh, kamu sudah mau balik? Kenapa nggak duduk di sini aja dulu. Ngobrol-ngobrol aja dulu." "Nggak, makasih. Aku harus balikin buku ke Perpus." Tolak Sia mentah-mentah. Fanny akhirnya pasrah mengangguk tidak memaksa kekasih dari pacarnya itu lagi. Hani seketika langsung duduk, menghirup napas panjang setelah Sia berlalu meninggalkan meja tersebut. "Huh ... elo ngapain sih, Fan." Omel Hani sebal. Fanny hanya menggedik bahu acuh, ikut duduk di kursi bekas Sia duduk tadi. Tepat ketika gadis itu duduk sebuah pesan notifikasi masuk ke dalam ponselnya membuat gadis cantik itu tersenyum manis. Pacar❤ Elo ngomong apa sama Sia? Fanny Nggak ngomong apa-apa kok. Kenapa? Pacar❤ Jangan bicara aneh-aneh ke Sia, soal apapun. Fanny Ya ampun, kamu kayanya ketakutan banget kalau aku bakalan bongkar sesuatu ke Sia. Tenang aja, aku nggak ngomong apapun. Pacar❤ Bagus Fanny Aku boleh minta sesuatu nggak? Di tempatnya Fanny melihat mimik wajah Fathur tampak sedikit mengerutkan keningnya. Pacar❤ Minta apa? Fanny Bisa tidak kalau kamu bicaranya aku-kamu ke aku. Jangan pakai elo-gue kaya tadi. Biar bagaimana pun aku perempuan dan sekarang aku pacar kedua kamu. (Read) Fanny menggigit bibir bawahnya saat Fathur hanya membaca pesannya. Kepalanya diam-diam mendongak untuk melihat ke arah Fathur. Ia kemudian menarik kedua sudut bibirnya sempurna, saat menerima pesan balasan yang membuatnya senang. Pacar ❤ Oke (Read) Blush. Pipi Fanny mulai merona, gadis itu bahkan menahan pekikkan gembiranya karena Fathur mau mencoba berbicara memakai aku-kamu kepadanya mulai sekarang. "WOY! ITU BAKSO LONCAT DAH LAMA-LAMA DARI MANGKUK." seru Hani setengah memekik mengagetkan Fanny yang terlonjak. "Ihhhh ... Hani ngagetin tau." Gerutunya sebal memandang temannya tersebut. "Jangan mesem-mesem kaya orang gila deh. Gue nggak tau elo lagi chattingan sama siapa? Tapi, please jangan gitu di depan orang yang masih jomblo, Fan." Fanny tergelak. Ia terkekeh kecil, mendengar ucapan Hani barusan. "Ya ampun, kasihan banget yang jomblo. Sabar ya. Nanti aku cariin jodoh ya buat kamu, oke." Sahut Fanny tersenyum jahil. "Sialan lo, Fan. Gue sambelin juga mulut elo nih." Desis Hani sudah bersiap menyodorkan sesendok penuh sambal cabe ke arahnya. Fanny memundurkan kepalanya syok, gadis itu segera menyimpan ponselnya kembali kedalam saku roknya. "Iya iya, gitu aja ngambek. Nanti nggak jadi aku traktir loh." Seru Fanny berpura-pura mengancam, yang langsung di balas dengkusan kasar Hani. Di meja Fathur dan teman-teman nongkrongnya duduk. Tanpa di sadari Fathur kalau Akmal yang duduk tepat di sebelahnya, tidak sengaja ikut membaca isi chat pemuda itu dengan kontak person bernama 'cewek aneh' di ponsel pemuda itu. Namun, bukan itu yang membuat Akmal terheran-heran sekarang. Tapi isi chat yang mengatakan 'pacar kedua' dari si kontak tersebut kepada Fathur sahabatnya jelas membuat dirinya jadi kepikiran. Jadi, Fathur punya pacar baru di belakang Sia sekarang. Batinnya di tengah kebingungannya. ***** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN