Bab 31. Pacar Kedua (2)?

1074 Kata
Happy reading Typo koreksi ***** 'Gue cuma perlu mengontrol dia sekarang' ... Fathur Artha Putra ... **** Gudang belakang kantin. J dan Tegar tengah bermain catur di meja kecil kayu yang ada di sana. Sedangkan Akmal dan Fathur duduk bersandar di sofa. Kedua kelopak mata Fathur tampak tertutup rapat, pemuda itu sepertinya sangat kelelahan. Akmal yang duduk di sampingnya sejak tadi harus menahan pertanyaan-pertanyaan yang terlintas di dalam pikirannya saat ini. "b*****t curang lo, t*i!" u*****n J seketika mengagetkan Fathur yang tengah beristirahat. Kesal, Fathur melempar ponsel miliknya cepat hingga mengenai tepat ke belakang punggung J sampai pemuda itu mengaduh. Bugh "AAAWWW! NJIR SAKIT!" J menoleh dan terkejut melihat sorot mata tajam sahabatnya itu. Detik kemudian ia pun mengulas senyum cengengesan kala menatap Fathur. Akmal dan Tegar sudah menahan senyum geli mereka berdua. "Sorry, Bang." Seru J menyengir. "Tur, gue mau tanya sesuatu sama elo. Tapi elo jangan marah, oke." Pertanyaan Akmal membuat Fathur menatap sahabatnya itu heran. "Tumbenan amat elo izin dulu. Tanya apaan?" "Elo punya pacar lain selain Sia ya?" Deg Fathur sedikit melebarkan matanya kaget, ketika mendapati pertanyaan demikian dari temannya. "Ngaco lo, Mal. Nggak mungkin lah kalau si Tol punya pac--" "Iya." Potong Fathur tenang. Hah. Mulut Tegar menganga lebar, begitupula dengan J yang melongo sedangkan Akmal tampak biasa saja. "GILA NJIR! SAMA SIAPA? KAPAN ELO NEMBAKNYA?" cerca Tegar heboh. "Kemarin." Jawab Fathur begitu santai hingga membuat Tegar yang mendengarnya geleng-geleng kepala tidak percaya. "Parah lo, Tol." Komentarnya masih dalam mode syok. "Siapa? Apa cewek yang ngasih elo bekal tadi pagi?" Ujar Akmal kembali bertanya penasaran. Fathur memandang sahabatnya itu lurus, sebelum menjawab. "Iya, dia." "SINTING." Pekik Tegar kencang. "Jadi ini cara elo bikin tuh anak diam, biar dia nggak ngomong apapun ke Sia." Lanjut Akmal tidak mempedulikan kehebohan Tegar barusan. Berdehem kecil, sebagai jawaban dari Fathur. "Wih, mantap dong Pak Bos sekarang punya dua istri nih. Senangnya dalam hati kalau beristri dua~~~~" Fathur tidak menanggapi ejekan nyanyian J kepadanya. "Hati-hati aja, gue rasa dia bukan cewek yang bisa elo bungkam dengan mudah Tur." Timpal Akmal lagi mengingatkan sahabatnya tersebut. Fathur sontak mengangguk paham. "Iya, gue juga nggak lengah sama tuh cewek. Setidaknya dengan dia jadi cewek gue. Gue bisa lebih leluasa ngontrol dia. Dan bikin dia nurut ke gue." Seru Fathur mulai serius. Akmal manggut-manggut setuju. "Yang penting jangan sampai ibu negara tau aja status elo sama tuh anak. Bisa berabe, mereka satu kelas kan." Tegar mulai ikut serius. "Iya, gue udah ancam tuh cewek buat nggak ngomong apapun ke Sia. Kalau dia masih mau jadi pacar gue." "Heran ya gue. Kenapa anak-anak cewek di sekolah banyak banget yang ngebet sama elo, Tol. Kelakuan elo aja nggak ada bagus-bagusnya, minus banyak njir." Ucap J terheran-heran di balas gedikkan bahu acuh pemuda itu. "Si t*i, kaya elo nggak minus aja." Seloroh Tegar, mengundang gelak tawa J geli. "Jangan lupa PJ nya ya, Mas." Lanjut Tegar menaik-turunkan alisnya, membuat Fathur menatapnya tajam. "PJ dari gue cuma sekali dong. Nggak bisa lebih dan itu cuma pas Sia jadi cewek gue." Sahutnya bangga. Tegar mencibir dengan dengkusan kasar. ***** Berbeda tempat dan kota. Bandung "Kamu kenapa buru-buru banget sih, Sayang." Pinkan cemberut melihat Arash tunangannya sudah bersiap-siap ingin meninggalkan rumahnya. "Aku di telepon mama katanya ada yang mau di bicarakan. Nggak apa-apa kan aku tinggal kamu sebentar. Nanti malam aku nginap lagi di sini, oke." "Janji?" Seru wanita berusia dua puluh tahunan tersebut semangat. Arash Jaya Saputra mengangguk cepat. "Aku janji, boleh kan?" "Oke, tapi nanti malam kita dinner ya." Tangan Arash terangkat mengusap pipi wanita itu lembut dengan tatapan sayang. "Iya, aku janji. Kalau gitu aku pergi dulu ya, nggak enak sama mama." "Titip salam buat mama ya, Sayang. Maaf kalau aku nggak bisa ikut. Aku ada janji sama teman nanti siang." Arash mengangguk, "It's oke. Mama pasti ngerti kok." Cup Arash mengecup bibir Pinkan sekilas. "Aku berangkat ya." "Hmm, hati-hati." Sahut Pinkan membalas dengan senyum manis wanita itu. Raut Arash seketika berubah 180° pria tampan itu mengusap bibirnya kasar kala sudah berada di dalam mobilnya dengan tissu. Ia melirik ke arah rumah Pinkan sejenak, sebelum tersenyum smirk lalu pergi meninggalkan rumah itu untuk pulang ke kediaman keluarganya. Tak butuh waktu lama, sambutan asisten rumah tangga di rumah orangtuanya menyambut kedatangan Arash seperti biasa. "Mas Arash pulang." "Iya, Bu. Mama dimana, Bu?" Tanyanya sopan. "Ada di taman belakang, Mas." "Oke, terima kasih ya, Bu." "Sama-sama, Mas. Mas Arash mau minum sesuatu biar Ibu buatkan." Tanya beliau kepadanya. "Nanti saja, aku mau ketemu Mama dulu, Bu." Balasnya dengan senyum ramah kepada wanita paruh baya yang bekerja di rumahnya tersebut. Kaki Arash melangkah ke area taman belakang rumah keluarganya, di sana ia melihat sosok figur ibunya tengah membereskan tanaman hias dengan sangat telaten. "Sibuk banget, Ma." Seruannya membuat sosok itu langsung membalikkan badan, senyum lebar menyambutnya dengan sorot mata hangat. "Astaga, kamu sudah datang. Sini Nak. Mama kangen banget." Ucap beliau, di balas kekehan pelan Arash. Lelaki itu mendekat, memeluk tubuh ibunya erat. "Hmm, Arash juga kangen sama Mama." Bugh "Dasar, kalau kamu kangen nggak mungkin kamu lupain Mama." Cibir sang ibu sebal. Arash tertawa, melepas pelukannya. "Siapa yang lupain Mama sih. Aku tuh kerja Ma. Kalau aku malas-malasan, aku jadinya nggak enak sama Om Yudha." "Ah, iya. Bagaimana keadaan om kamu? Dia baik-baik saja kan?" Tanya Liana ibu Arash. "Om baik-baik saja kok Ma. Aku sama om Yudha masih berusaha cari informasi tentang keberadaan Sia." "Aduh ... dimana anak itu. Kenapa dia bikin om sama tante kamu khawatir. Seharusnya dia tetap tinggal bersama kita sekarang. Meskipun dia bukan anak kandung om dan tante kamu. Tapi mereka sayang banget sama dia. Kalau Mama ketemu Sia di jalan pasti sudah Mama jewer dia." Papar sang ibu sedikit menggerutu gemas. Arash tersenyum tipis. Di keluarga besar mereka Fersia Raxenta sudah di anggap seperti keluarga kandung. Walau fakta kenyataan itu menyakiti hati gadis itu, tapi mereka tidak langsung melupakan gadis itu dan menganggapnya orang asing. "Mama selalu berdoa, semoga Sia cepat segera di temukan dan berkumpul lagi dengan kita. Mama juga rindu sekali dengan dia. Di rumah ini kan anak Mama laki-laki semua, kalau ada Sia Mama merasa sangat senang sekali." "Aku janji akan segera bawa Sia kembali, Ma. Doakan Arash ya, Ma." Liana mengangguk kuat. "Pasti Nak. Doa Mama selalu menyertai niat baik kamu, Mama senang kamu membantu om Yudha dan menemaninya." "Iya, Ma." Balas Arash tenang. "Dan aku akan bawa Sia bukan sebagai sepupuku lagi, Ma." Lanjutnya dalam hati tidak sabaran. ***** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN