Happy reading
Typo koreksi
****
'Jangan bicara soal sopan santun'
... Fathur Artha Putra ...
***
Fathur baru sampai di garasi rumahnya, pemuda itu mendesah ketika melihat mobil orangtuanya masih terparkir juga di garasi. Dengan langkah malas, ia turun dan memasuki rumahnya.
Sambutan yang tidak di inginkannya membuat Fathur harus menghentikan langkahnya ketika suara itu menyapa dengan nada penuh perhatian.
"Kamu sudah pulang, Nak. Mau sesuatu? Mama bisa buatkan."
"Nggak," balasnya ketus.
"Bagaimana sekolah kamu? Apa lancar?"
"Biasa aja." Jawabnya lagi singkat dan padat.
Nada berat penuh ketegasan mendadak muncul dari balik punggung Adinda ibunya.
"Kamu kalau bicara dengan orangtua harus sopan, Fathur. Jangan jadi anak berandalan kamu. Papa tidak suka."
Di sana pemuda itu melihat sosok ayahnya, Fahmi yang memandangnya tajam. Fathur pun mendengkus keras.
"Sopan? Maaf kayanya aku nggak tau tuh apa itu yang namanya sopan santun." Sahutnya bernada ejek.
"KAMU." Bentak ayahnya marah.
Grep
"Pa sudah, jangan marah ingat kondisi Papa." Bisik sang istri menahan lengan suaminya yang akan terangkat tersebut.
"Mama sama Papa masih lama, aku mau istirahat."
"Boleh Nak." Sahut Adinda dengan wajah di hiasi senyuman. Berbanding terbalik dengan Fahmi yang hanya menatap putranya datar.
Tepat ketika pemuda itu hampir melewati ayahnya, Fahmi pun mengeluarkan suaranya lagi. Kali ini jauh lebih tegas seperti sebuah titah yang tidak bisa putranya bantah.
"Kemarikan kunci motor kamu." Pinta pria paruh baya itu cepat.
"Buat apa?" Tanya Fathur tidak mau memberikannya.
"Berikan saja. Papa harus memastikan kamu tetap diam di rumah hari ini." Seru Fahmi dingin.
"Aku bukan anak kecil lagi, Pa." Desisnya menahan emosi.
"Papa tidak menganggap kamu anak kecil. Tapi, untuk malam ini. Berikan kunci motor kamu ke Papa. Cepat." Dengan hentakan tertahan, Fathur pun memberikan kunci motor kesayangannya kepada ayahnya.
"Bagus. Nanti malam kita pergi bersama. Papa mau kamu sudah siap jam 7 malam nanti. Jangan buat Papa malu dan semakin marah sama kamu, mengerti." Usai mendengar itu Fathur kembali melanjutkan langkah kakinya dengan tangan terkepal kuat bersama perasaan kesal.
Sialan. Gerutunya dalam hati.
"Ma, kamu awasi anak itu. Jangan sampai ada yang buka pintu dan izinkan dia keluar malam ini." Ucap Fahmi kepada istrinya.
Adinda terlihat pasrah, wanita paruh baya itu pun hanya menganggukkan kepalanya patuh.
"Baik, Pa."
"Papa mau keluar dulu menemui teman Papa. Mama ingat pesan Papa tadi. Kalau Fathur berbuat ulah segera hubungi Papa." Pesan beliau lagi mengingatkan.
"Iya, Pa. Ya sudah Papa hati-hati ya."
"Hmm."
Di kamarnya Fathur melempar jaket dan tasnya asal hingga terdengar bunyi gedebuk. Ia berjalan ke arah balkon, matanya seketika tertuju pada suara mesin mobil di halaman rumahnya yang menyala. Itu mobil ayahnya, Fathur mendengkus sebal kala mobil ayahnya keluar dari pagar entah mau kemana.
"Cih, dasar."
Teringat sesuatu, pemuda itu merogoh saku celananya mengambil ponselnya. Ia mencari nomor salah satu sahabatnya untuk memberitahu jika dirinya tidak akan bisa pergi ke area balapan.
Nada sambung mulai terhubung, suara J terdengar menyapa dirinya.
"Hallo, Sob. Tumben nelpon? Ada apa? Baru juga pisah udah kangen aja."
"Berisik, Nyet. J kayanya gue nggak bisa turun malam ini."
"Hah? Lah kenapa?" Suara sahabatnya terdengar kaget mendengar ucapannya.
"Gue lupa, kalau malam ini ada acara. Bokap udah sita kunci motor gue, biar gue nggak bisa keluar nanti malam." Jelasnya.
"Oh gitu, ya sudah. Nggak apa-apa. Nanti gue kabarin bang Jack lagi. Undur balapannya."
"Hmm, undur aja dulu. Aish, sial banget gue kayanya hari ini." Gerutunya membuat J tertawa di ujung telepon.
"Hahaha, sabar Bos. Ikutin aja dulu apa kata bokap elo. Daripada makin runyam masalahnya. Lagipula masih ada hari lain buat tanding." Ujar J.
Fathur manggut-manggut di tempatnya. Pemuda itu pun memutuskan sambungan teleponnya. Ia mendongak menatap langit berwarna jingga.
"Arrrgghhh." Geramnya kesal.
Fathur pun masuk kembali ke kamarnya, ia membanting tubuhnya di atas tempat tidur. Menatap langit-langit kamar, Fathur mencoba menahan rasa amarahnya kepada ayahnya dengan memejamkan mata dan mulai terlelap.
Tak terasa waktu berjalan cepat tepat pukul tujuh malam seperti ucapan ayahnya, suara ketukan pintu kamar membangunkan Fathur yang tertidur tenang.
Tok tok tok
"Aden. Aden tidur." Suara Bi Asi menyahut dari luar kamar.
Tubuh yang masih berbalut seragam sekolah itu melenguh dan mulai membuka matanya. Ia menguap lebar lalu tersentak ketika mendengar suara Bi Asi lagi.
Tok tok tok
"Den Fathur."
Pemuda itu langsung terduduk, ia melihat ke arah jendela yang masih terbuka lebar. Lalu mengumpat lupa jika ia harus bersiap-siap.
"IYA BI! SEBENTAR LAGI AKU TURUN!" teriak balasnya kencang.
Fathur bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri asal.
Sedangkan di lantai bawah, Fahmi sudah bersidekap menunggu putranya turun dari lantai dua.
"Maaf Pak, Aden baru bangun sepertinya."
"Huh, kenapa Mama tidak membangunkan anak itu cepat tadi."
"Aduh ... Papa kan tau kalau Mama juga harus dandan. Mama kira Fathur nggak tidur." Jawab sang istri mengelak.
Fahmi hanya bisa mendesah berat mendengar ucapan istrinya. Bi Asi memilih kembali ke area dapur untuk bersih-bersih.
Lima belas menit kemudian, Fathur turun ke lantai bawah dengan setelan kemeja hitam dan celana jeans senada di padukan jaket kulit berwarna putih. Rambutnya tertata rapih, penampilannya yang tampan membuat amarah ayahnya sedikit mereda.
"Baiklah, berhubung Fathur sudah siap. Kita langsung berangkat saja. Ayo, Ma." Ajak Fahmi berseru.
Fathur yang baru sampai di hadapan kedua orangtuanya hanya bisa pasrah. Pemuda itu tidak lupa pamit kepada Bi Asi dengan sopan. Sikapnya kepada asisten rumah tangganya membuat Adinda sang ibu merasa iri.
"Bi, aku pergi dulu. Hati-hati di rumah."
"Ya ampun, Aden teh ada-ada aja. Aden sama Bapak dan Ibu juga hati-hati di jalan. Semoga selamat sampai tujuan."
"Makasih, Bi."
"Fathur ayo, Nak." Sentak Adinda memanggil putranya setengah meninggikan suara.
Dengan langkah malas-malasan, Fathur mengikuti kedua orangtuanya dan duduk di kursi belakang mobil ayahnya sendirian. Selama perjalanana pemuda itu sibuk mengetik pesan kepada Sia kekasihnya. Setidaknya mengetahui pacarnya itu sedang apa di rumah, bisa membuat hatinya sedikit lebih tenang malam ini.
Fathur
Aku nggak jadi balapan, Papa ajak aku ke acara teman-temannya.
Sebenarnya aku malas ikut.
Apa aku kabur aja ya nanti?
Sia-ku
Terserah kamu.
Balasan Sia membuat pemuda itu tertawa sehingga menarik perhatian ayahnya yang tengah menyetir mobil.
"Kamu sudah punya pacar Fathur?"
Pertanyaan ayahnya membuat pemuda itu mendongak, saling pandang dengan ayahnya melalui kaca spion tengah mobil.
"Iya." Jawab Fathur tanpa rasa takut.
"Baguslah, Papa harap kamu bisa mendapatkan pacar yang bisa membawa kamu ke jalan yang baik. Zaman sekarang pergaulan bebas begitu banyak. Papa tidak mau kamu terjerumus ke lubang itu."
Dalam hati Fathur tersenyum mengejek mendengar perkataan ayahnya. Tampaknya ayahnya belum mengetahui bagaimana perawakan tingkahnya di luaran sana jika mereka sang ayah tidak ada di rumah. Berbanding terbalik dengan Adinda yang sudah memasang wajah gugup sebab ia semalam justru sudah memergoki putranya bau alkohol saat pulang ke rumah.
Astaga, bisa gawat kalau Papa sampai tahu Fathur sudah minum-minuman berakohol. Batin Adinda resah.
*****
Bersambung