Happy reading
Typo koreksi
****
'Aku rindu mereka'
... Fersia Raxenta ...
****
Di sebuah apartement bertingkat tinggi, Fersia Raxenta tampak berdiri menatap keluar balkon ruang tengah tempat tinggalnya. Ia melihat awan yang hitam penuh dengan bintang-bintang malam ini. Chat dari kekasihnya beberapa saat lalu sempat membuatnya menggeleng heran atas tingkah Fathur Artha Putra. Namun, ia juga menghela napas lega. Setidaknya malam ini pemuda itu tidak jadi balapan liar lagi.
Hal yang sebenarnya tidak begitu Sia sukai.
Drrtt drrtt
Ponsel Sia kembali berdering, kali ini ada sebuah sambungan telepon dari Arash sepupunya itu. Gadis itu menghembuskan napas pelan sebelum menerima panggilan tersebut.
"Hallo, kak."
"Hallo, Sia. Kamu sedang apa?"
"Aku baru selesai makan malam. Ada apa kak?"
"Tidak ada apa-apa aku cuma mau tau keadaan kamu saja. Kamu beneran tidak mau oleh-oleh dari sini? Atau kamu mau aku bawain masakan mama? Kamu suka banget masakan mama kan."
"Masakan tante Liana." Ucap Sia teringat sosok wanita paruh baya tersebut. Ibu kandung Arash yang begitu baik kepadanya, mengingat kebaikan keluarganya dulu membuat Sia menjadi sedih sekaligus merindukan mereka.
"Sia." Panggil Arash menyentak lamunannya.
"Tidak perlu, kak. Aku nggak mau ngerepotin tante."
"Tidak kok. Kamu tahu kan kalau mama itu kangen sekali sama kamu. Aku nggak akan maksa kamu untuk kembali ke rumah. Karena aku tahu ini sudah menjadi pilihan kamu, Sia. Tapi ... kamu tetap harus ingat kalau orang-orang di rumah ini sangat-sangat menginginkan kamu kembali dan berkumpul bersama."
"...."
Hening, Sia tidak memberi jawaban apapun saat Arash mengatakan hal yang sudah ia tahu jawabannya.
Mereka adalah keluarga terbaik dalam hidupnya. Namun, keinginannya untuk bertemu keluarga kandung tentu tidak bisa Sia lewatkan. Walau bagaimanapun Sia berharap bisa bertemu dan menanyakan hal yang selama ini ia tahan sehingga begitu menyesakkan dadanya.
"Sia, maaf kalau aku buat kamu sedih. Ya sudah, aku nggak akan tanya-tanya lagi kamu mau oleh-oleh apa. Tapi, ingat ya kalau kamu butuh sesuatu. Jangan sungkan untuk bilang ke aku, mengerti kan?" Seru Arash penuh perhatian di ujung telepon.
Sia menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Baik, kak. Terima kasih."
"Oke, good nite, Sia. Jangan kelelahan ya." Ucap pria itu lembut.
"Hmm, baik kak." Jawab Sia biasa.
Sambungan pun berakhir, Sia kembali menatap lurus ke depan. Melihat kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya dari lantai atas apartementnya.
Papa, mama. Lirihnya miris tiba-tiba mengingat keluarga angkatnya.
*****
Mobil Fahmi ayah Fathur sampai area basement sebuah hotel bintang lima. Pemuda itu turun lebih dulu di susul ayah dan ibunya. Fahmi tampak sangat gagah dan Adinda ibunya tampak sangat cantik dengan gaun berwarna putih senada dengan jaketnya.
"Ayo masuk. Fathur ingat pesan Papa tadi. Jaga sikap kamu. Jangan buat Papa dan Mama malu di dalam nanti." Ujar ayahnya tegas.
Fathur berdehem malas.
"Sudah, Pa. Jangan khawatir, anak kita pasti mengerti kok. Mana mungkin Fathur buat kita malu di dalam nanti. Dia pasti bisa jaga sikap, iya kan Nak?"
"Iya." Jawabnya ketus.
Helaan napas berat Fahmi terdengar kuat, berharap putranya tidak membuat malu dirinya malam ini.
Tanpa banyak bicara pria paruh baya itu segera menggandeng lengan istrinya sebelum akhirnya merek melangkah beriringan dengan Fathur yang stay mengikutinya dari belakang.
Gue harap acara ini cepat selesai. Batin Fathur yang sudah merasa tidak betah padahal ia sama sekali belum masuk ke area utama pertemuan tersebut.
"Malam ini, ada acara lelang. Papa dan teman-teman kolega Papa sengaja ingin mengikuti event ini. Karena kita bisa menambah partner untuk kemajuan perusahaan." Jelas Fahmi yang hanya seperti angin lalu bagi Fathur yang mendengarkannya.
Ting
Suara pintu lift terbuka, mereka sampai di lobby menuju ballroom hotel tersebut.
"Ingat pesan Papa tadi." Bisik Fahmi dingin sebelum mereka masuk melewati pintu besar yang di jaga oleh petugas hotel.
Ramai.
Ya, hal itu pertama kali langsung menyambut Fathur yang baru merasakannya. Aura para pembisnis benar-benar terasa di sana. Dan hal itu membuat kepalanya langsung berdenyut sakit.
Aish, sial. Pusing lagi kepala gue. Gerutunya dalam hati.
Fathur melihat kemana ayahnya pergi, ia pun terus mengikuti. Menyapa satu persatu kolega kerja ayahnya. Bahkan tidak lupa selalu memperkenalkannya kepadanya mereka.
Hal yang membuat dirinya semakin muak ikut ke acara seperti ini.
"Pa, aku mau ke sana sebentar boleh." Bisik Fathur menunjuk ke arah deretan meja berisi cemilan dan minuman.
Fahmi mengangguk dengan senyum menawan milik ayahnya. Berpura-pura bersikap baik kepadanya di hadapan orang lain tanpa tahu malu.
"Jangan lupa kembali ke sini ya. Ada seseorang yang mau Papa kenalkan ke kamu nanti."
Menurut, Fathur hanya manggut-manggut mengiyakan ucapan ayahnya.
Menghembuskan napas kasar, Fathur melihat-lihat minuman apa yang bisa meredakan sakit kepalanya sekarang.
Lalu mendengkus kuat, saat tidak melihat alkohol di atas meja tersebut.
"Dih, kenapa mereka nggak nyediain alkohol sih. Cemen banget." Gerutu Fathur cukup keras.
"Nggak baik, minum alkohol loh."
Fathur terlonjak kaget, ia menoleh terkesiap melihat seseorang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya dengan kedua tangan berada di saku celana, sosok itu kini tengah menatapnya dengan senyum geli di balik kerutan wajahnya yang mulai menua.
Fathur yang malu, hanya balas menyengir kecil.
"Saya nggak lagi cari alkohol kok, Om." Ujarnya mengelak gugup.
"Syukurlah, Om kira kamu mencari itu tadi." Balas beliau kepadanya dengan senyum berwibawa.
"Om mau minum? Mau saya ambilkan?" Sosok pria paruh baya itu menggeleng kecil menolak.
"Tidak perlu, terima kasih, Nak. Om sudah minum tadi. Kayanya sudah mulai kembung."
Fathur hanya ber-oh ria seraya manggut-manggut pelan.
"Kamu ke sini sama siapa?" Tanya beliau kepada Fathur.
"Saya--"
"Pak Yudha." Suara seseorang memotong ucapan Fathur. Keduanya serentak membalikkan badan, Fathur melihat kedua orangtuanya sudah berdiri tepat di depan pria paruh baya tersebut.
"Oh, Pak Fahmi. Senang bertemu dengan anda." Ujar beliau mengulurkan tangan menyapa ayahnya.
Fahmi menyambut uluran tangan tersebut dengan wajah ramah. "Saya juga senang. Bisa bertemu dengan Pak Yudha di sini. Oh iya Pak, kenalkan ini putra saya satu-satunya. Namanya Fathur Artha Putra sekarang dia sudah kelas 3 SMA."
Fathur menundukkan kepalanya sekali dengan gestur sopan memperkenalkan diri.
"Fathur, Om."
"Oh, dia anak kamu. Hallo, Fathur. Saya Yudha Dirgantara, kamu bisa panggil Om Yudha saja." Ucap beliau tersenyum hangat ke arah pemuda tampan di sampingnya.
Fathur pun menurut.
"Baik, Om Yudha."
"Selamat malam~~~." Suara MC menyentak obrolan mereka.
"Sepertinya acara sudah mau di mulai, Pak Fahmi. Lebih baik, kita ke sana saja." Ajak Yudha Dirgantara kepada Fahmi di balas anggukan mantap pria paruh baya tersebut.
"Baik, mari, Pak Yudha."
Melihat ayah dan Om Yudha berjalan lebih dulu, Adinda berubah menjadi menggandeng lengan putranya mengikuti suaminya.
"Dia itu investor terbaik di Jakarta sekarang. Papa sedang berusaha membuat beliau mau berinvestasi di perusahaan kita. Kamu harus jaga sikap di hadapan beliau, mengerti Nak."
Pandangan Fathur tertuju pada sosok Yudha Dirgantara yang sedang mengobrol dengan ayahnya.
"Nak Fathur, kapan-kapan berkunjung ke rumah Om ya. Jangan sungkan."
"Ah, iya Om. Terima kasih atas undangannya." Balas Fathur tidak tahu harus menjawab apa.
Dalam diri Fathur sedikit merasakan rasa kagum saat melihat sosok Yudha Dirgantara, bagaimana perawakan luwes beliau dan sikap baik juga pintar beliau membuatnya merasa tidak heran jika ayahnya sangat ingin sekali bekerja sama dengan beliau.
Ck, dasar Papa.
****
Bersambung