Bab 34. Jemput Fanny

1215 Kata
Happy reading Typo koreksi **** 'Jangan jadiin gue alat buat menghasilkan uang' ... Fathur Artha Putra ... *** "Papa senang sekali kamu bisa menjaga sikap di hadapan pak Yudha. Dan beliau seperti menyukai kamu, sampai mau mengundang kamu untuk datang ke rumahnya. Iya kan Ma." Seruan bernada riang ayahnya membuat Fathur seketika mendengkus dalam hatinya. Lihat, bagaimana ayahnya begitu senang. Padahal dirinya tidak melakukan apapun di acara itu tadi. "Iya, Pa. Ngomong-ngomong apa pak Yudha punya anak perempuan ya, Pa. Hmm kalau ada kan siapa tahu kita bisa jadi be--" "Bercandaan Mama nggak lucu!" Sentak Fathur di kursi belakang mengejutkan kedua orangtuanya. "Astaga! Fathur, kamu ngagetin Mama saja. Ya Mama tahu kalau kamu sudah punya pacar. Tapi kan siapa tahu jodoh kamu orang lain." "Ma, aku udah berusaha nahan sikap aku buat nggak bikin kalian malu. Jadi jangan bikin aku ngelakuin hal yang bisa bikin keadaan berbalik nanti." Serunya tidak suka. "Sudah, Ma. Jangan bahas hal itu sekarang. Papa nggak akan melarang kamu pacaran. Tapi Papa harap kamu bisa membantu jalan untuk kerjasama dengan pak Yudha." Selak Fahmi membuat Fathur berdecak mendengarnya. "...." Tidak mendapati respons putranya, Fahmi berpikir jika Fathur mengiyakan ucapannya tadi. Padahal putranya sudah sangat muak membahas hal tersebut. Mobil mereka pun sampai di rumah, Fathur langsung turun dan melangkah masuk ke dalam tanpa menunggu kedua orangtuanya. "Dasar anak itu. Temperamennya jelek sekali." Desah Fahmi geleng-geleng kepala melihat tingkah putranya. "Sudahlah, Pa. Lebih baik kita istirahat, Mama sudah lelah sekali." Sahut Adinda ikut turun di susul suaminya. Keduanya pun ikut masuk ke dalam rumah bertingkat mereka. Di kamarnya, Fathur membuka jaket, dan menanggalkan seluruh pakaiannya kasar hingga berserakan di lantai. Ia kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Menyalakan shower dingin, ia merasa harus mendinginkan kepalanya dan tubuhnya yang terasa panas menahan amarah. Bisa-bisanya, Adinda ibunya mengatakan hal yang menyulut emosinya. Apa mereka begitu tergila-gila dengan harta sampai dirinya juga harus di jadikan alat untuk kelancaran bisnis mereka. Fathur menyugar rambutnya yang basah terkena air shower, ia menatap pantulan dirinya di balik kaca kamar mandi. Matanya memerah dan urat-urat di lehernya belum sepenuhnya hilang. Fathur tidak akan membiarkan siapapun memisahkan dirinya dengan Fersia Raxenta kekasihnya. Tidak peduli jika kelak ia harus melawan kedua orangtuanya jika hubungannya dengan Sia tidak di restui. "Nggak akan ada yang bisa misahin gue sama Sia. Nggak akan pernah." Gumamnya dengan mata nyalang melihat dirinya sendiri. Lama Fathur mendinginkan tubuhnya dengan air dingin, pemuda itu akhirnya keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya. Ia membuka lemari pakaian mengambil celana pendek asal. Tanpa atasan, Fathur mulai membaringkan tubuhnya yang lelah tidak peduli dengan rambutnya yang masih basah. Pemuda itu memilih mengistirahatkan dirinya, sebelumnya Fathur mengecek ponselnya tidak ada pesan dari Sia yang masuk ke sana hanya pesan dari pacar keduanya. Fanny Fathur besok bisa tidak jemput aku. Mobil supir aku masuk bengkel tadi siang. Aku nggak berani naik taksi atau gojek. Boleh ya, kamu bisa pakai alasab nolongin aku lagi kalau Sia tanya nanti. Mau ya? :( (Read) Fathur terdiam sejenak setelah membaca pesan tersebut, ia menimang apakah harus menjemput Fanny besok. Namun, jika dirinya tidak menuruti satu saja permintaan wanita itu. Fanny pasti bisa saja refleks mengatakan malam di hotel itu kepada Sia kekasihnya. Dengan helaan napas berat, ia pun membalas singkat. Fathur Oke (Send) Fathur menutup kembali room chat dengan Fanny. Lalu kembali menyimpan ponselnya di atas nakas lampu tidur. Fathur menguap lebar sebelum matanya tertutup rapat, hingga dirinya benar-benar masuk ke dalam alam mimpi. **** Ke esokkan harinya. Seorang gadis tampak meloncat kegirangan usai membuka ponselnya. Ia menepuk-nepuk pipinya yang terasa panas. Hari ini Fathur mau menjemputnya. Ya. Gadis bernama Fanny Kailana itu terlihat sangat senang. Bahkan ia nyaris melempar ponselnya saking bahagianya. Tak ingin membuat Fathur nanti menunggunya, Fanny bergegas bersiap-siap meski hari masih memiliki waktu yang cukup untuknya berangkat ke sekolah nanti. "Aku harus buat sarapan apa ya?" Gumamnya bertanya pada diri sendiri saat mandi. Pukul 06.30, Fanny sudah siap dan rapih. Di lantai bawah gadis itu bertemu ibunya Gita yang sedang membantu asisten rumah tangganya di dapur. "Pagi, Ma." "Pagi, loh tumben anak Mama sudah siap. Mmm ... harum banget lagi. Ada apa nih?" Goda beliau kepada putrinya. "Ih, Mama apaan sih. Memangnya aku selalu kesiangan." "Ya, enggak sih Nak. Ada apa tumben sudah rapih? Sudah mau berangkat. Hari ini berangkat naik apa?" Tanya sang ibu lagi. "Aku di jemput teman aku, Ma." Mata Gita memicing curiga. "Teman apa teman? Sayang ingat ya, jangan sembarangan pilih teman." Ucap Gita mengingatkan. Fanny pun mengangguk patuh. "Iya, Ma. Teman aku kok yang jemput." Balas gadis itu. "Kalau teman tidak apa-apa. Kamu ingat kan kalau papa kamu nggak suka kalau kamu nggak jadi nggak fokus belajarnya karena sibuk pacaran. Kamu masih muda, perjalanan kamu masih panjang." "Iya Mama ku, Sayang. Mama bawel lama-lama kaya papa." Cibirnya bernada bercanda. "Kamu tuh ya." Ujar Gita melotot kearah putrinya. Fanny hanya tersenyum melihat masakan apa yang akan di buat ibunya. Drrtt drrtt Getaran ponsel di saku kantong seragamnya menyentak Fanny, gadis itu terburu-buru menerimanya membuat Gita tersenyum geli melihat tingkah putrinya pagi ini. "Hallo," "Lima belas menitan lagi gu-- ah aku sampai."  Fanny tersenyum malu-malu mendengar nada kaku Fathur yang mulai mengatakan aku-kamu kepadanya. Ya. Orang yang menghubunginya adalah Fathur Artha Putra pacarnya. "Iya, nanti aku tunggu di teras depan. Hati-hati ya." Tut. Sambungannya di putus sepihak oleh pemuda itu. Fanny tidak tersinggung, ia sontak bergegas kembali naik ke pantai atas mengambil tas sekolahnya. "Sudah mau berangkat kamu, Fanny? Naik apa? Pergi sama Papa saja." Seru Aldo yang tiba-tiba muncul ketika Fanny baru saja kembali ke lantai bawah dengan sebuah tas di tangannya. "Nggak perlu, Pa. Aku berangkat bareng teman hari ini." Balas Fanny membuat Aldo ayahnya memicing seketika. "Cowok?" Tebaknya cepat. Fanny dengan polos mengangguk. "Iya, Pa." "Suruh dia masuk dulu, jangan langsung pergi. Papa harus tahu siapa anak yang jemput kamu." Bibir Fanny langsung cemberut sebal. "Pa, jangan bikin teman-teman sekolah aku takut deh buat temenan sama aku." "Loh? Apa salahnya? Papa cuma mau kenalan saja. Apa itu juga salah?" Tanya Aldo heran. Fanny mendesah berat. "Aku tanya dulu orangnya dulu nanti Pa. Nggak semua teman-teman aku berani berhadapan langsung sama Papa." Aldo tidak membalas, pria paruh baya itu hanya menggedikkan bahu acuh. Merasa jika Fathur sebentar lagi akan sampai, gadis itu pun memilih keluar menunggu pacarnya tersebut di teras rumahnya. "Ajak dia masuk dulu, Fanny!" Teriak ayahnya membuat gadis itu berdecak. Benar saja, tidak lama terdengar suara motor di depan pagar rumahnya. Fanny berdiri kemudian membuka pintu gerbang. Sesaaat gadis itu terpesona dengan ketampanan Fathur di pagi hari. "Buru." Ujar Fathur menyentak lamunannya. Menggigit bibir bawahnya bingung, Fanny menatap Fathur ragu. "Fanny, ayo buruan." "Fathur maaf, tapi papa nggak izinin aku berangkat sebelum papa ketemu sama kamu katanya." Hah Mulut Fathur terbuka di balik helm fullfacenya tidak mengerti. "Kenapa gu-- aish, kenapa aku harus ketemu papa kamu segala?" Fanny meringis, "Maaf tapi papa terlalu overprotektif ke aku. Kamu mau kan mampir dulu sebentar, please." Serunya memohon. Fathur menghela napas kasar, saat matanya tidak sengaja menangkap sosok yang berdiri di ambang pintu rumah gadis itu. Mau tidak mau Fathur mengatakan hal yang tidak di inginkannya. "Oke." Fanny menarik sudut bibirnya sempurna. Tanpa peduli perubahan wajah kesal Fathur di balik helm yang di kenakan pemuda itu. Pagi-pagi gue udah kena sial aja. **** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN