Hapy reading
Typo koreksi
****
'Ini baru permulaan'
... Fanny Kailana ...
****
Senyuman lebar gadis cantik itu tidak luntur ketika ia berhasil mengajak pemuda yang di sukainya untuk singgah berkunjung ke rumah bertemu kedua orangtuanya.
Kini, mereka sedang duduk di ruang tamu bersama-sama. Fathur Artha Putra sudah menolak ajakan sarapan pagi di rumah ini dengan alasan jika dirinya sudah sarapan di rumah. Tentu saja hal itu membuat Aldo ayah Fanny Kailana tidak bisa memaksa pemuda itu untuk sarapan bersama keluarganya.
"Jadi kamu teman satu kelas anak Om?"
"Tidak, Om. Saya beda kelas." Jawab Fathur sopan.
Aldo manggut-manggut ber-oh ria mengerti. Pria paruh baya itu sesekali melirik putrinya lewat ekor matanya. Ia hanya bisa mendesah melihat binar dari tatapan putrinya kepada pemuda di depannya sekarang.
"Maaf ya, kalau Fanny buat kamu repot pagi-pagi. Padahal dia bisa berangkat sekolah dengan Om hari ini."
Mengangguk sekali, "Tidak apa-apa, Om."
"Kamu anak yang sopan ternyata. Pokoknya sekali lagi Om mau bilang terima kasih dan meminta maaf sudah mengambil waktu luang kamu buat mengantar putri Om."
"Iya, Om."
"Pa, aku sama Fathur berangkat dulu ya. Kita berdua takut telat." Fanny pun memotong pembicaraan keduanya.
"Kamu ini ya, tidak lihat Papa sedang mengobrol sebentar. Huh, ya sudah kalian berdua hati-hati ya. Nak Fathur jangan ngebut-ngebut bawa motornya. Mengerti kan?"
Fathur kembali mengangguk dengan senyum tipisnya.
"Baik, Om. Jangan khawatir."
"Bagus." Puji Aldo senang.
"Kita pergi dulu ya, Pa. Ma, Fanny berangkat ya!" Teriak Fanny memanggil Gita yang sedang merapihkan meja makan untuk sarapan bersama ayahnya.
"Loh, kok sudah mau pergi. Nak Fathur tidak sarapan dulu."
"Terima kasih, Tante. Tapi saya sudah sarapan di rumah."
"Duh ... sayang banget ya. Ya sudah hati-hati ya. Jangan ngebut-ngebut ya Nak." Ucap Gita berpesan.
Kedua orang dewasa di dalam rumah itu hanya bisa tersenyum menatap kepergian putri mereka bersama seorang pemuda.
"Helm buat aku nggak ada?" Tanya Fanny kala mereka sudah sampai di depan motor Fathur yang terparkir.
"Nanti beli di jalan."
"Tapi itu kan ada hel--" ucapannya menggantung saat pemuda itu mulai memandangnya tajam. "Punya Sia ya? Maaf aku nggak tau." Lanjut Fanny mencicit sedih.
"Nanti beli yang baru buat el-- buat kamu. Jangan pakai punya Sia."
"Iya," balas Fanny mengulas senyumnya paksa.
Meski dalam hati Fanny merasa kesal karena Fathur tidak mengijinkannya memakai helm tersebut, tapi setidaknya pemuda itu tidak membentaknya dan berjanji akan membelikan helm baru untuknya.
"Buruan naik."
Fanny mengangguk, lalu naik ke atas motor pemuda tampan itu tanpa kesulitan. Tangannya menjulur ke depan memeluk pinggang Fathur membuat tubuh pemuda itu terkesiap kaget.
"Lepas." Titah Fathur tidak suka.
"Nanti aku jatuh, Fathur."
"Ck, el-- kamu bisa pegang tas atau pundak aja. Aku nggak suka di pegang pinggangnya pas bawa motor." Paparnya memberi alasan.
Cemberut.
Fanny menuruti ucapan pacarnya tersebut. Akhirnya gadis itu hanya memegang tas Fathur yang ada di hadapannya.
Nyebelin. Betenya.
Motor pun mulai melaju membelah jalan raya. Dimana Fathur dan Fanny sudah menuju sekolah, berbanding dengan Sia. Gadis itu baru saja sampai di lobby apartementnya. Ia melihat ponselnya sekali lagi memastikan. Jika benar, pesan dari kekasihnya itu memintanya berangkat ke sekolah sendirian hari ini.
"Tumben banget. Ya sudahlah." Ujarnya, kemudian gadis itu membuka aplikasi pesan taksi online.
Untung dirinya tidak bangun terlambat, padahal semalam Sia kesulitan tidur hingga tengah malam karena merindukan keluarganya.
****
Murid-murid mulai berdatangan di SMA PELITA, mereka tampak berjalan santai sebab jam masih menunjukkan pukul 07.00 pagi. Masih ada waktu setengah jam lagi sebelum bel masuk berbunyi.
Tak berapa lama terdengar suara motor ninja masuk ke area parkir sekolahan mereka. Beberapa murid yang mengenal suara itu lantas menoleh cepat. Dahi mereka serentak mengkerut, melihat pemandangan tidak biasa pagi ini.
Mereka tahu betul jika itu motor punya Fathur Artha Putra. Namun yang membuat mereka bingung adalah tidak ada Fersia Raxenta yang notabenen adalah kekasih pemuda itu. Yang turun dari atas jok belakang motor adalah si siwa baru sekolah mereka.
Loh, Sia kemana?
Kak Fathur punya pacar baru?
Dia murid baru di kelas Sia kan?
Hei, lihat itu Fanny kan?
Bisikan heboh yang melihat keduanya membuat Fathur menggeram mendengarnya.
"Makasih ya, Fathur."
"Hmm." Dehemnya singkat.
"Helm nya gimana?"
"Bawa aja." Suruhnya, gadis itu pun mengangguk mengerti.
Ssssttt ada Sia tuh.
Hah, ceweknya malah naik taksi.
Mereka lagi berantem ya.
Mendengar nama kekasihnya, Fathur langsung menolehkan kepala ke arah gerbang. Di sana ia melihat sosok Fersia Raxenta menatap lurus dan datar ke arahnya.
Fathur dengan cepat turun dari motornya menghampiri Sia yang tidak bergerak untuk mendatanginya.
"Hei, kenapa diam aja."
"Nggak apa-apa." Balas Sia biasa.
"Tadi jadi naik taksi? Berapa ongkosnya? Nanti aku ganti ya uang kamu."
Sia menggeleng pelan. "Nggak usah."
Fathur yang melihat arah pandangan cewek itu mengarah ke Fanny membuatnya menggeram. Di sana ia melihat Fanny terang-terangkan balas menatap kekasihnya.
"Tadi aku ketemu Fanny di jalan. Dia minta tolong numpang ke sekolah."
"Iya." Jawab Sia padat.
"Kamu nggak marah kan, Sia-ku sayang. Jangan marah ya. Aku nggak ngapa-ngapain kok sama Fanny. Pure, aku cuma nolong dia aja tadi." Jelas Fathur memelas.
"Iya, aku nggak marah. Makasih sudah bantu Fanny sampai di sekolah dengan selamat." Ucap Sia yang sebenarnya terselip makna sindiran di sana.
Fanny pun ikut menghampiri Sia. Memegang tangan gadis di depannya sekarang pelan.
"Maaf ya Sia. Aku ngerepotin cowok kamu hari ini. Aku ketemu Fathur di jalan tadi, mobil aku tiba-tiba mati mesinnya. Jadi aku numpang ke sekolah." Ujar Fanny menjelaskan hal yang sama seperti Fathur tadi.
"Iya."
"Ya sudah, Fathur makasih ya. Kalau begitu aku balik ke kelas duluan ya, dadah." Pamit gadis cantik itu, meninggalkan sepasang kekasih itu dengan senyum bahagia.
"Aku antar kamu ke kelas ya." Seru Fathur kepada Sia.
Keduanya pun memutuskan melangkah beriringan, Fathur pun mulai menceritakan kejadian semalam saat ikut dengan ayahnya. Berusaha membuat Sia tidak marah karena dirinya berangkat bersama Fanny pagi ini.
Di dalam kelas XII-IPA2, Fanny di tatap heran oleh Hani.
"Gila ya, kenapa Fathur justru berangkat sekolahnya sama elo, Fan? Aneh."
Fanny hanya menggedik bahunya santai. Pandangan gadis itu mulai tertuju ke arah pintu kelas, ada sosok Fersia yang baru saja masuk. Sayangnya Fanny tidak melihat wajah Fathur sebab pemuda itu sudah menghilang.
"Sia nggak tau kalau elo berangkat bareng Fathur?" Bisik Hani kepo ingin tahu.
"Apa sih, Han. Udah ah," balas Fanny setengah terkekeh geli membuat temannya itu menggerutu sebal tidak mendapat jawaban yang di inginkan.
Hari ini aku menang dari kamu.
Besok dan seterusnya aku akan rebut Fathur dari kamu, Sia.
Tunggu aja.
****
Bersambung