Bab 36. Merayu Fersia

1050 Kata
Happy reading Typo koreksi ***** 'Gue nggak masalah kalau mereka jelekin gue, asal bukan Fersia' ... Fathur Artha Putra ... **** Rupanya kedatangan Fathur dan Fanny di pagi hari tadi masih menjadi bahan ghibahan anak-anak SMA PELITA. Mereka bahkan membuat berbagai cerita absturd mengenai hubungan keduanya. Ada yang mengatakan jika Fathur sudah putus dengan Sia. Ada pula yang mengatakan kalau Fathur menduakan Sia. Dan ada yang bilang kalau Sia yang justru berselingkuh dari Fathur. Oke. Oke. Fathur tidak marah jika mereka  menjelekkannya, tapi Fathur tidak terima ketika Sia yang justru mereka hina. "Gila ya, kemarin udah bikin kita bingung sama sikap elo ke tuh cewek. Hari ini malah berangkat sama dia lagi. Gue dengar-dengar dari para tukang gosip katanya Sia nggak tau kalau elo berangkat bareng tuh cewek. Iya Tur?" J bertanya langsung to the point tanpa basa-basi. Fathur mendesah berat. "Heran gue, kenapa orang-orang pada sibuk urusin masalah gue." Gerutunya kesal. "Wajarlah kalau mereka heboh, seorang Fathur Artha Putra ke sekolah sama murid baru. Dan lebih hebohnya bikin mereka pada jadi dapat bahan gosip ya karena pas elo datang ada Sia kan." Celetuk Tegar ikut berkomentar. "Bodo amat ah. Males gue dengerin mereka." "Tur, Sia nggak ada marah ke elo?" J yang masih kepo kembali bertanya. Menggedikkan bahu acuh. "Nggak tahu gue. Elo kaya nggak tau Sia aja." Balas Fathur. Mereka semua manggut-manggut paham. Benar juga, Sia adalah gadis yang jarang berekspresi. Tentu hal ini pun membuat mereka sependapat, kalau kekasih sahabatnya itu tidak akan bereaksi apapun. "Salut gue sama Sia, Tol. Tahan banting banget ngadepin tingkah elo yang kadang kelewatan." Sindir Tegar di balas dengusan kasar pemuda itu. J menimpali sindiran Tegar dengan kikikan geli. "Tur, Fanny tuh." J menunjuk Fanny yang masuk ke area kantin bersama seorang teman perempuannya. Fathur melengos mengabaikan kemunculan pacar keduanya itu malas. "Wih, ada Sia juga." Ucap Tegar semangat kala menangkap sosok Fersia Raxenta tak lama di belakang gadis bernama Fanny tersebut. Fathur sontak mendongak cepat, senyumnya seketika tertarik sempurna. Bagaimana tidak kekasihnya terlihat selalu cantik di matanya. "Mending elo diam dulu deh, Tur." Tahan J kala sahabatnya itu sudah bersiap mau bangun dari duduknya. "Apaan sih Nyet. Gue mau ke Sia bentar." "Tuh, tengok." Tunjuk J ke arah dimana Sia berdiri di belakang Fanny mengantri pesanan. "Jangan bikin heboh deh. Biarin aja dulu cewek elo pesan makanan. Mana di depannya ada Fanny, kalau elo samperin Sia. Si Fanny Fanny pasti bakalan cemburu, biar gimana pun dia pacar elo juga." Bisik J pelan. Fathur mengumpat, menahan geraman di dalam hatinya. Menurut usulan sahabatnya, pemuda itu pun masih pada posisi duduk di kursinya. Terlihat kalau Fanny mencoba mengajak kekasihnya itu berbicara, meski tanggapan Sia singkat di lihat dari sini. **** Di depan stand siomay, Fanny menoleh ke belakang cukup terkejut melihat sosok Fersia tepat di balik punggungnya. "Eh, Sia. Mau beli siomay juga." "Iya." Jawab gadis itu singkat. Fanny tersenyum. "Makan bareng yuk." "Makasih. Aku lebih senang sendirian." Tolak gadis itu lagi membuat Hani yang mendengarnya sedikit menendang sepatu Fanny seolah memberi isyarat 'tidak perlu ajak-ajak, dia'. "Memangnya enak ya. Makan sendirian, aku aja kalau di rumah suka nggam betah kalau nggak ada yang nemenin." Curhat Fanny mengabaikan ekspresi datar gadis yang ia ajak bicara tersebut. Sia tampak tidak berminat mengobrol dengan gadis itu. Tapi, sayangnya Fanny, tidak mengerti sama sekali. Sehingga gadis itu memilih terus berbicara berusaha mengobrol dengan Sia. "Maaf, kamu bisa maju." "Oh, iya." Fanny tertawa kecil maju ke depan mengikuti yang berjalan. Hani menarik lengan Fanny gemas. "Biarin aja sih, Fan. Demen banget deh gangguin dia." Bisik-bisik Hani begitu pelan. "Siapa yang gangguin sih. Aku cuma mau ajak makan bareng aja kok." Seru Fanny tidak setuju. Hani kembali memilih diam menatap antrian, gadis itu tampak sangat gemas dengan tingkah Fanny beberapa hari ini. Apalagi ia masih kepo dengan kedatangan teman barunya tersebut bersama Fathur. Akhirnya mereka selesai membeli siomay, Hani bergegas menarik Fanny mencari tempat duduk. "Han, kenapa buru-buru sih." "Udah deh, gue makin laper nungguin elo ngobrol sama Sia. Udah tahu tuh cewek nggak mau, masih aja suka maksa." "Aku cuma mau berteman loh." Ujar Fanny berpendapat. "Iya, ngerti. Tapi orangnya aja nggak mau ngapain repot-repot sih." Fanny mendesah. "Ya sudah kita duduk dimana sekarang." "Tuh, ada yang kosong." Tunjuk Hani langsung ke arah meja kantin yang kosong. Pasrah, Fanny mengikuti usulan temannya tersebut. Namun, mata sempat melirik ke arah perginya Sia. Gadis itu duduk di kursi biasanya. Dan yang membuat hatinya berdenyut adalah tepat ketika ia melihat bagaimana Fathur menghampiri gadis itu dan duduk di sana. "Ck, dasar." Decaknya sebal menghentakkan kaki. "Ngapain duduk di sini?" Tanya Sia merasa malas bertemu dengan Fathur. Karena ulah pemuda itu ia menjadi bahan gosipan anak-anak SMA PELITA hari ini. Wajah Fathur tertekuk ke bawah. "Masa aku nggak boleh duduk di sini sih." Rajuknya. "Terserah kamu aja." Sahut Sia malas. "Sia, kamu marah sama aku? Apa kamu marah gara-gara aku berangkat sama Fanny tadi? Kan tadi sudah aku bilang kalu aku kebetulan ketemu Fanny di jalan. Aku nggak enak pas supirnya minta tolong ke aku." "...." Sia tidak membalas, gadis itu lebih fokus melahap siomay di depannya mengabaikan wajah sedih kekasihnya tersebut. "Janji, kalau aku nggak sengaja ketemu Fanny atau cewek lain di jalan yang minta tolong aku bakalan izin dulu sama kamu." "Apa sih." Selak Sia tidak suka. "Ya makanya, kamu jangan marah-marah dong. Aku kan nggak sengaja ketemu dia di jalan. Aku minta maaf ya." "Fathur aku mau makan. Kamu balik deh." Usir Sia tidak ingin berdebat apapun lagi. "Maafin dulu ya. Mau ya, ya. Maafin aku dulu." Bisik pemuda itu menangkupkan kedua tangannya di atas meja memohon. Sia menggeram dalam hatinya. Jengah, ia pun mengangguk berharap pemuda itu tidak lagi merengek seperti barusan kepadanya. "Iya." "Yes! Gitu dong. Aku nggak mungkin selingkuh di belakang kamu, Sia-ku cantik. Pacar aku aja sudah cantik. Ngapain lirik-lirik cewek lain, benarkan?" Pujinya tidak membuat Sia bersemu merah sedikitpun. "TUR SINI NAPA? PACARAN AJA?!" Teriakan J menyentak obrolan keduanya. Fathur menoleh dan melotot tajam, di balas tos riang sahabat-sahabat laknatnya yang puas mengejek. "Aku balik dulu deh. Mereka perlu di kasih sambal kayanya." Ujarnya bernada menggerutu. "Nanti pulang sama aku ya." Lanjutnya berucap. "Iya." Fathur berdiri dengan senyum menawan membuat beberapa kaum hawa di kantin nyaris memekik karenanya. Di saat Fathur merasa lega, Fanny justru mencengkeram sendok di tangannya kuat. Cemburu. ***** Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN