Happy reading
Typo koreksi
****
'Perhatiannya memang tidak terlihat, tapi gue bisa ngerasain itu semua dalam hati gue yang menghangat'
... Fathur Artha Putra ...
****
Katanya kalau orang jatuh cinta itu bikin buta.
Sepertinya benar.
Seperti perasaan gadis di dalam mobil tersebut. Ia benci dan iri ketika melihat pemuda yang di sukainya pergi bersama gadis lain. Fanny membenci perasaan tidak menyenangkan tersebut. Sebab, semakin ia tenggelam di dalam rasa dengki itu semakin kuat. Bahkan, pikiran tidak baik pun mulai bermunculan di otaknya.
Rasa ingin memiliki Fathur Artha Putra seutuhnya semakin kuat saja. Meski, ia tahu masih panjang proses yang harus ia lalui untuk membuat pemuda itu berpaling menuju ke arahnya. Bukan lagi kepada Fersia Raxenta.
"Langsung pulang Neng." Tanya Pak Andi, supir keluarganya.
Fanny mengangguk pelan mengiyakan.
Ia menatap keluar jendela, membayangkan lagi bagaimana dirinya naik motor tadi pagi bersama Fathur.
"Kenapa aku bisa begitu ingin memiliki kamu, Fathur. Padahal kamu nggak ada perasaan apapun ke aku." Gumamnya tidak terdengar oleh siapapun.
Fanny merasa seperti terkena guna-guna.
Bagaimana bisa dirinya begitu menginginkan pemuda itu. Padahal mereka hanya melakukannya sekali. Dan itu pun dalam keadaan dimana dirinya tidak sepenuhnya sadar.
"Harus pakai cara apa supaya kamu melihat-- Ngg-- hoek." Fanny menutup mulutnya cepat karena rasa mual yang tiba-tiba muncul.
Pak Andi pun menoleh ke arah kursi belakang kaget dan cemas.
"Neng kenapa?"
Fanny mendongak, gadis itu meminta Pak Andi memberhentikan mobilnya cepat.
"Berhenti Pak!"
"Eh, iya, iya, Neng. Sebentar." Balas beliau terbata-bata.
Brak
Fanny menutup pintu mobilnya kasar setelah berhasil keluar dari dalam sana. Ia berjongkok di tepi trotoar. Pak Andi ikut turun bertanya dengan wajah penuh khawatir ke arah anak majikannya.
"Neng, nggak apa-apa."
Hoekkkk
Fanny memuntahkan seluruh isi perutnya. Gadis itu memijat dahinya pusing.
"Pak, tolong ambilin air mineral saya di mobil." Pintanya meminta tolong.
Beliau sontak bergegas mengambil air mineral tersebut. Fanny berkumur-kumur dengan air itu cepat.
"Neng Fanny, masuk angin mungkin. Mau berobat dulu, Neng." Usul Pak Andi.
Fanny menggeleng kemudian membilas bibirnya dengan air, membersihkan sisa-sisa muntahan.
"Nggak perlu, Pak. Saya cuma perlu istirahat aja." Jawabnya enggan ke rumah sakit.
Merasa sudah lebih baik, Fanny pun berdiri di bantu sang supir.
"Jangan pakai AC aja dulu ya, Neng. Bapak takut Neng mual lagi." Seru beliau masih cemas.
Fanny yang mendadak tubuhnya begitu lemas hanya bisa menganggukkan kepalanya setuju.
Selama perjalanan pulang, Fanny mencoba memejamkan matanya. Namun, hatinya tidak bisa tenang. Ketika teringat sesuatu.
Nggak mungkin kan. Batinnya mendadak resah.
****
Apartement
"Sepupu kamu masih suka datang ke sini?" Tanya Fathur kala ia masuk ke dalam apartement tempat tinggal Sia.
Gadis itu sebenarnya ingin istirahat dan mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Namun, pemuda itu memaksa ingin masuk ke dalam. Dengan terpaksa Sia mengiyakannya.
"Kak Arash lagi ada kerjaan di luar." Balasnya apa adanya.
"Dia orang mana sih?"
"Kenapa?" Balik Sia bertanya.
Fathur hanya menggedikkan bahu pelan. "Nggak apa-apa, aku cuma mau tau aja kok."
"Bandung." Ucap Sia memberitahu.
Fathur ber-oh ria saja.
"Mau makan nggak?" Tanya pemuda itu lagi melihat Sia yang melangkah ke area dapur dan membuka kulkas.
"Nggak, aku mau ngerjain tugas." Balasnya.
Fathur pun membanting tubuhnya di atas sofa kemudian mencari posisi nyaman dengan merebahkan badannya di sana. Sia hanya menghela napa melihat tingkat kekasihnya itu.
"Kamu ngapain?"
"Aku numpang tidur sebentar ya. Semalam aku kurang tidur." Izinnya yang langsung memejamkan mata tidak membiarkan Sia mengusirnya.
Pasrah.
Dan tidak mau menganggu, Sia memilih menuju kamarnya. Gadis itu berganti pakaian dan mengerjakan tugas sekolahnya di dalam kamar saja. Membiarkan Fathur mengistirahatkan dirinya di sofa tengah.
Diam-diam pemuda itu tersenyum, karena sikap Sia yang tidak mengusirnya menandakan jika gadisnya itu memiliki sedikit perhatian kepadanya.
Merasa nyaman, ia pun akhirnya terlelap di sofa.
1 setengah jam kemudian.
Sia melihat jam weker di atas nakas meja lampu tidur kamarnya. Teringat jika Fathur masih ada di rumahnya, gadis itu pun keluar berniat untuk membangunkan pemuda itu karena hari semakin sore.
Wajah tenang Fathur menyambutnya ketika Sia keluar dari dalam kamarnya. Seketika, niatnya meredam hilang. Sia justru memilih berjalan ke area dapur saja. Ia memeriksa isi kulkasnya, berharap ada bahan-bahan yang bisa ia masak. Di dalam sana hanya ada sosis dan kornet, serta bumbu dapur untuk membuat nasi goreng saja.
"Apa aku pesan makanan aja ya." Gumamnya berpikir sejenak.
Sia takut Fathur merasa kurang jika hanya makan nasi goreng saat bangun nanti.
Eungghhh
Suara melenguh milik Fathur membuatnya menoleh. Mendesah, Sia akhirnya memberanikan diri membangunkan pemuda itu saja.
"Fathur."
"Fathur."
Panggilnya dua kali. Detik berikutnya kedua mata itu pun akhirnya terbuka lebar, Fathur menatapnya lurus.
"Ada bidadari." Bisik pemuda itu masih setengah sadar.
Sia menggeleng. Menepuk pipi Fathur.
"Bangun, Fathur. Sudah sore."
Tersentak. Fathur langsung terduduk, pemuda itu mengusap matanya dengan punggung tangan. Ia melihat sekitar, lalu menggeram. Lupa kalau dirinya menumpang tidur di rumah kekasihnya tadi.
"Maaf, aku ketiduran lama ya?" Sia hanya menggeleng kecil.
"Nggak."
"Beneran? Sekarang jam berapa?"
"Mau jam setengah enam." Fathur meringis mendengarnya. Ia kemudian mendongak melihat Sia yang masih berdiri di hadapannya menatap lurus.
"Iya iya aku langsung pulang kok. Kamu mau usir aku kan?" Ujar Fathur terkekuk.
"Nggak."
Mimik Fathur berubah senang.
"Beneran? Nggak mau usir aku." Sia kembali menggeleng sebagai jawaban.
"Terus kenapa berdiri aja. Sini duduk." Seru pemuda berwajah bantal itu menepuk sofa di sebelahnya.
"Aku mau buat makanan, tapi di rumah cuma bisa buat bahan untuk nasi goreng aja. Kamu mau?"
Mata Fathur yang masih setengah-setengah sayu mengerjap beberapa kali terkejut.
"Ka-- kamu mau masakin aku?" Tanyanya terbata.
"Kalau mau."
"MAU BANGET ... BANGET ... BANGET ... BANGET. MAKAN APA AJA NGGAK APA-APA, PASTI AKU MAKAN KOK." pekik Fathur terlalu bersemangat.
Sia menatap Fathur aneh. Sebelum akhirnya ia hanya berdehem kecil, kemudian memutar tubuhnya kembali ke area dapur.
Ekspresi Fathur terlihat cerah seperti habis menang lotre, pemuda itu mendadak jadi segar dan langsung bangun mengikuti langkah kaki Sia di depannya.
"Aku bantu ya."
"Nggak perlu, cuci muka saja sana." Suruh Sia melihat muka bantal pemuda itu. Fathur balas tersenyum, ia pun berjalan ke arah kamar mandi samping dapur dan masuk ke sana untuk mencuci muka.
Ketika Fathur keluar, senyum di wajahnya semakin tidak hilang karena melihat Fersia Raxenta tengah berkutat di dapur membuatkan makanan untuknya.
Perasaannya tiba-tiba menghangat.
Fathur ingin terus mengalaminya. Mendapat perhatian kecil kekasihnya itu. Tidak masalah jika hanya makan telur atau pun hanya nasi goreng. Selama Sia yang membuatkannya, Fathur sudah merasa sangat bahagia.
****
Bersambung