Happy reading
Typo koreksi
*****
'Ada sesuatu yang akan mengubah kisah mereka'
... author ...
****
Fathur rasa pipinya sekarang jadi pegal dan bengkak. Bagaimana tidak, sejak tadi senyum lebar tidak pernah lepas dari wajah tampannya. Bahkan ketika ia menatap satu piring nasi goreng sosis kornet buatan Fersia Raxenta, kekasihnya saat di apartement gadisnya beberapa saat lalu.
Flashback on.
"Makan dulu. Maaf cuma ini yang ada."
"Nggak apa-apa kok. Terus besok kamu masak gimana? Perlu belanja nggak? Aku temanin ya." Seru pemuda itu perhatian.
Sia lantas menggeleng cepat.
"Nggak perlu. Nanti saja."
"Oke. Boleh aku makan sekarang kan?" Tanya Fathur meminta izin.
Perutnya sudah berbunyi nyaring menahan lapar.
"Silahkan." Ujar Sia membalas pelan.
Fathur mengangkat sendok lalu memasukkannya ke dalam mulut. Matanya membulat, ia menatap Sia tidak percaya.
"ENAKKK!" pekiknya heboh pertama kalinya.
Sia menggeleng heran di tempat duduknya.
"Biasa aja. Jangan berlebihan." Serunya.
Tangan pemuda tampan itu bergerak ke kanan dan ke kir cepat. "Siapa bilang biasa aja. Ini beneran enak banget. Aku boleh kan sering minta kamu buatin ini." Pintanya tanpa basa- basi.
Sia memandang Fathur lurus.
Apakah seenak itu. Pikir gadis itu keheranan.
Padahal Sia memakai bumbu biasa saja, tidak ada yang istimewa dari racikan nasi gorengnya. Lalu, mengapa pemuda itu begitu histeris hanya karena mencicipi masakannya sekarang.
"Boleh ya, Sia-ku. Kalau bisa setiap pagi ya. Aku jarang sarapan di rumah soalnya akhir-akhir ini." Ucap pemuda itu. "Apalagi sekarang ada mama dan papa di rumah, bikin aku malas sarapan." Lanjutnya dalam hati tidak di utarakan.
Sia tidak langsung menjawab, gadis itu tampak menimang permintaan Fathur.
"Nggak boleh ya. Ya sudah nggak apa-apa. Nanti pas kamu masak, lebihkan buat aku ya." Ucap pemuda itu penuh harap.
Sia akhirnya membalas dengan mengangguk pelan, membuat Fathur menarik sudut bibirnya ke atas sempurna.
"Makasih, Sia-ku."
Keduanya menikmati nasi goreng sosis kornet tersebut dalam hening. Sia bernapas lega pemuda itu menyukai masakan dan makan dengan sangat tenang bersamanya kali ini. Bahkan Fathur tidak sungkan meminta nambah, untung saja masih ada sisa nasi goreng tadi di atas wajan.
Flashback off.
Di sinilah Fathur sekarang, ia baru sampai di rumahnya dan di sambut dengan sorot mata tajam dan dingin Fahmi ayahnya membuat senyumnya langsung luntur seketika.
"Apa kamu selalu pulang telat jika Papa dan mama tidak di rumah?" Suara ayahnya menyentak langsung tanpa menunggu Fathur sampai di hadapan beliau.
Mendesah, Fathur menutup pintu cepat.
"Aku ada tugas kelompok tadi, Pa."
"Oh ya? Benarkah? Kamu tidak berbohong?" Cerca beliau.
"Oke, aku bohong. Aku dari rumah pacar aku, dan ketiduran di sana." Ujarnya yang langsung di salah artikan Fahmi ayahnya.
"Apa? Tidur di sana? FATHUR KAMU JANGAN BERBUAT YANG ANEH-ANEH. PAPA BISA TARIK SEMUA FASILITAS KAMU KE DEPANNYA." sentak beliau kencang.
Alis Fathur pun terangkat heran.
"Apaan sih, Pa. Papa tuh jangan mikir aneh-aneh. Aku cuma numpang tidur di sofa aja. Lagipula pacar aku tuh cewek baik-baik, Pa. Aku juga nggak mau ngerusak dia." Seru Fathur tegas.
"Benar? Kamu cuma numpang tidur di sofa saja?"
"Iya, Pa." Jawabnya mantap.
Fahmi bisa bernapas lega mendengarnya. Ia pikir putranya sudah melakukan kesalahan di luaran sana.
"Kamu numpang tidur di rumah pacar kamu? Memang orangtuanya mengijinkan?" Seru Fahmi masih merasa aneh usai mendengar putranya numpang tidur.
"Orangtuanya tinggal di luar kota, dia di sini karena studynya." Ujar Fathur setengah berbohong.
"Dia ngekost?"
Menggeleng cepat, Fathur menjawab. "Dia tinggal di apartement."
Kerutan di dahi Fahmi tercetak jelas.
Masih SMA dan tinggal sendirian di apartement.
Seperti apa pacar putranya itu. Batinnya berpikir keras.
"Besok kamu ajak pacar kamu ke rumah. Kenalkan dengan Papa dan mama." Ucap pria paruh baya itu tiba-tiba.
"Buat apa? Aku nggak mau." Tolak pemuda itu tegas.
"Buat apa? Apa salah kalau sebagai orangtua mau mengenal pacar putranya."
Fathur mencibir dalam hati.
"Salah. Karena sikap Papa terlalu mencurigakan. Dan aku juga nggak memperkenalkan pacar aku ke Papa atau pun mama."
"Papa hanya tidak mau kamu salah dalam berpacaran, Fathur. Apa rasa khawatir Papa salah?"
"Sejak kapan, Papa khawatir sama aku?" Sindirnya ketus geleng-geleng kepala heran.
Fahmi menghela napas kasar.
Jika terus berdebat dengan putranya, Fahmi yakin jika dirinya akan tersulut emosi lagi.
"Baiklah, terserah kamu. Papa hanya ingin mengenal siapa pacar kamu. Jika kamu tidak mau memperkenalkannya tidak apa. Papa tidak akan memaksa. Lebih baik kamu bersihkan badan kamu, lalu istirahat. Papa yakin kamu sudah makan di luar tadi. Jadi bi Asi tidak perlu repot siapin makan malam buat kamu." Papar ayahnya panjang.
Tanpa membantah Fathur mengikuti ucapan ayahnya, pemuda itu naik ke lantai dua kamarnya meninggalkan Fahmi dengan berbagai pertanyaan dalam benaknya tentang pacar putranya tersebut.
Sesampainya di kamar yang ia rasakan adalah perasaan tenang dan hening.
Ponselnya bergetar notifikasi masuk. Ia merogoh saku jaketnya mengambil ponselnya.
Detik berikutnya ....
Kedua bola matanya membulat lebar nyaris keluar dari rongganya membaca pesan yang baru di terimanya dari seseorang yang membuat jantungnya terasa di hantam sesuatu kuat.
Aku telat.
Dua kata itu cukup membuat Fathur Artha Putra sadar jika kata telat yang di maksud akan berujung pada sesuatu yang akan menghancurkannya.
Dengan tangan terkepal kuat Fathur menahan tangannya untuk mendial nomor itu cepat. Ia menggeram tertahan. Fathur yakin, orang yang mengiriminya pesan juga merasakan hal yang sama dengannya saat ini.
Berengsek, nggak mungkin. Umpatnya menyumpah serapah dengan mata nyalang.
****
Sedangkan di tempat berbeda, gadis berparas cantik itu menangis tersedu-sedu terduduk di lantai kamar mandinya sejak 1 jam lalu. Mata dan hidungnya sudah memerah. Ia menatap kosong pandangan di depannya, tepat ke arah sebuah alat yang ia letakkan asal di atas closet. Dalam hati. Dalam hatinya ia bergumam merapalkan doa. Dan berharap apa yang baru saja ia lakukan adalah sebuah kebohongan dan tidak nyata.
Sebuah hasil yang ia harap hanya prank belaka.
Dengan tangan bergetar gadis itu mencari kontak person seseorang, bahunya masih bergetar hebat. Ada rasa takut menjalar di dalam hatinya. Dengan sekuat tenaga ia mengetik dua kata itu dengan telapak tangan berkeringat dingin.
Berbagai bayangan apa yang akan terjadi kepadanya mulai hinggap silih berganti. Dari yang baik hingga adegan terburuk kelak.
Fanny Kailana, gadis itu hanya bisa terpaku sendirian malam itu. Memeluk tubuhnya erat di dalam kamar mandi. Berharap ia terbangun dari ilusi ini dengan segera. Gadis itu menatap kembali ponselnya melihat pesan yang ia tulis tadi.
Pacar
Aku telat.
Kata yang ia kirim kepada Fathur Artha Putra, berharap pemuda itu mengerti maksud pesan singkat. Dan berharap Fathur tidak lari dari tanggung jawabnya.
*****
Bersambung.