Bab 39. Fanny Hamil?

1034 Kata
Happy reading Typo koreksi **** 'Bukan salah gue, kenapa gue harus tanggung jawab' ... Fathur Artha Putra ... **** Kantung mata hitam menandakan dirinya tidak tidur nyenyak semalam. Hal itu ternyata di sadari oleh orangtuanya, Fathur duduk dengan wajah tidak bersemangat di meja makan. "Kamu begadang, Nak? Mata kamu sedikit bengkak, kompres es dulu ya." Tanya Adinda penasaran dan juga khawatir. Pemuda itu langsung menolak. "Nggak perlu, Ma." "Tapi--" "Sudahlah, Ma. Fathur bilang dia nggak mau, jangan di paksa. Lagi pula dia kan anak laki-laki. Wajar saja kalau matanya sedikit ada kantung mata panda." "Jangan keseringan begadang, Nak. Nggak baik, apalagi main game sampe pagi hari." "Sudahlah, Ma." Potong Fahmi meminta istrinya untuk diam. Di tempat duduknya pria paruh baya itu menatap putra satu-satunya itu lurus dengan alis terangkat sebelah heran. Adinda akhirnya menurut, ketiganya mulai sarapan dalam diam. Hanya terdengar suara dentingan sendok yang beradu saja pagi itu. Drrtt drrtt Getaran di saku celana Fathur menyentak sarapan pemuda itu. Fathur melihat siapa yang menghubunginya. Ia menerima panggilan tersebut dan berbicara dengan nada pelan. "Hallo. Iya. Iya. Bentar lagi otw." Usai mengatakan itu sambungan terputus, Fathur kembali makan mengabaikan raut penasaran kedua orangtuanya. "Pa, Ma, Fathur berangkat sekarang." Seru pemuda itu tiba-tiba. Adinda terkejut, berbanding dengan Fahmi yang tampak diam saja. "Kok buru-buru, kamu ada piket memangnya." Seru sang mama penasaran. Fathur hanya menggeleng sebagai jawabannya. "Nggak. Cuma mau jemput teman aja. Udah janji." Adinda pun manggut-manggut ber-oh ria. Fathur langsung keluar rumahnya dengan langkah tergesa-gesa. Ia berharap segera bertemu gadis itu dan menanyakan kebenarannya. "Awas aja kalau dia bohong." Gumamnya menahan amarah yang sejak semalam tidak mau hilang. Fersia baru selesai mandi, ia mengecek ponselnya. Tidak ada pesan masuk di dalam sana. Apa nggak jemput lagi hari ini. Tanyanya dalam hati. Sia tidak mengharapkan pemuda itu menjemputnya. Hanya saja Sia butuh kabar agar dirinya bisa memutuskan akan pergi naik apa nantinya ke sekolah. Dasar, kebiasaan. Enggan membuat moodnya hancur, Sia memilih bersiap-siap memakai seragam sekolahnya. Ting Ada pesan masuk berbunyi. Namun itu dari Arash. Arash Lusa aku balik ke Jakarta. Bisa kita ketemu, Sia? Sia Bisa Kak. Arash Eh, langsung di balas :) Makasih ya. Sia Apaan sih Kak Kebetulan aku baru siap-siap mau berangkat Arash Berangkat bareng cowok kamu itu? Wajah Arash di ujung sana tampak tidak suka bertanya hal demikian. Sia Nggak kayanya. Arash pun tersenyum senang tanpa Sia ketahui. Arash Oke, hati-hati. Sia Baik Kak Room chat pun Sia tutup, ia keluar kamarnya menyantap roti di olesi selai kacang dan s**u. Sampai berapa lama gadis itu menunggu tidak ada satu pesan atau kabar satu pun dari Fathur. Oke. Hari ini ia naik taksi lagi. **** Taman Fanny memilih jemari-jemarinya gugup menunggu kedatangan Fathur. Ia meminta turun di taman itu kepada pak Andi sang supir dan mengatakan jika dirinya akan pergi bersama Fathur. Di temani udara pagi yang cukup dingin hari ini, Fanny mengeratkan sweater yang melekat di tubuhnya. Wajahnya yang biasa berseri kini tampak pucat pasi, meski sudah ia coba menutupinya dengan make up tipis. Terdengar suara deru motor di sekitar taman tersebut. Fanny menoleh menelan ludah susah payah kala melihat sosok yang di tunggunya tiba. Pemuda itu mengenakan jaket kulit hitam membalut di tubuh kekarnya. "Gue harap elo nggak lagi bohong." Seru pemuda itu tidak lagi berbicara aku-kamu kepadanya. Kilatan menahan amarah itu tampak di kedua mata Fathur untuknya. "Apa kamu nggak bisa tanya kondisi aku dulu?" Lirih Fanny lemas, gadis itu bahkan memaksakan diri untuk berdiri dari duduknya. "Nggak perlu basa-basi. Gue cuma mau bukti." Sentak Fathur ketus. "Kamu bahkan nggak ada rasa belas kasihan sedikitpun ke aku. Kamu pikir aku mau semua ini terjadi." "FANNY GUE NGGAK BUTUH BACOT ELO, NJING." bentaknya kuat, urat-urat di lehernya menonjol tercetak. Benar-benar menandakan jika cowok itu sedang dalam keadaan sangat marah. Fanny terkesiap, kepalanya langsung berdenyut sakit mendengar suara kencang pemuda itu yang berteriak ke arahnya. Kesal, Fanny merogoh saku roknya melempar alat yang ia pakai kemarin untuk melakukan test. Tuk Alat itu jatuh ke aspal, dengan cepat Fathur mengambilnya. Napasnya tercekat melihat hasil yang tertera di sana. Garis dua. "KAMU PIKIR AKU BERCANDA HAH? KAMU HARUS TANGGUNG JAWAB." Deg Kepala Fathur terangkat menatap Fanny tidak percaya. "Jangan gila, gue masih mau sekolah." Selorohnya sebal. "Aku juga, Fathur. Memangnya kamu aja, hah." "Ya udah, elo aja yang urus." Fanny menggeleng syok. Sungguh tidak menyangka kalau pemuda itu akan mengatakan hal yang tega kepadanya. "Tega kamu ya. Setelah ngelakuin itu ke aku, kamu mau lari gitu aja. Lepas dari tanggung jawab kamu ke masa depan aku." Seru Fanny nanar. Fathur menggeram mengacak rambutnya frustasi hingga berantakan. "Heh, Fanny, elo tahu sendiri. Semua bukan keinginan gue malam itu. Gue cuma bantuin elo, nggak lebih. Apa gue juga harus terlibat tanggung jawab. Padahal itu kesalahan bodoh elo yang mau aja jalan sama cowok berengsek malam itu?" Sentak Fathur masih tidak terima. Pandangan Fanny mulai mengabur, rasa denyutan di kepalanya semakin kuat membuat ia berusaha untuk tetap berdiri meski sedikit sempoyongan. "Aku nggak minta apapun selain tanggung jawab kamu, Fathur. Aku nggak mau gugurin anak ini. Karena hanya akan menambah dosa buat kita berdua. Apa kamu mau seperti itu?" Lirihnya miris. Kepala Fathur juga rasanya mau pecah, ia tidak bisa membiarkan Fanny mengatakan tentang kehamilan cewek itu kepada siapapun. Tapi, dirinya juga tidak bisa bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Masa depannya akan hancur jika orangtuanya mengetahui perihal janin yang sedang di kandung Fanny. Menggugurkannya. Mungkin itu pilihan yang bagus, tapi ia juga tidak ingin mengambil resiko yang berbahaya. Fathur tahu bagaimana resiko buruk bisa saja terjadi pada Fanny. Meskipun ia tidak menyukai gadis itu. Jika menyangkut sesuatu yang berbau nyawa, Fathur tidak berani. Apalagi Fanny bukan siapa-siapa dirinya. "Terserah elo mau ngapain, jangan minta tanggung jawab apapun ke gue." Seru Fathur setelah lama terdiam. Mata Fanny memanas hingga bulir air mata yang sudah mengumpul di pelupuk matanya turun membasahi kedua pipi gadis itu. "Fathur hiks kamu--" Bruk Bola mata Fathur melotot lebar. Melihat tubuh Fanny terhuyung dan jatuh terduduk di kursi taman. Fathur sontak mendekat, menepuk pipi Fanny yang terasa sangat panas di tangannya. "Fan, Fanny bangun. Fanny." Panggilnya berulang kali, berharap gadis itu membuka matanya. Tidak mendapat respons apapun, Fathur mengumpat kesal. Sialan, pakai acara pingsan lagi. Gerutunta dalam hati. **** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN