Happy reading
Typo koreksi
****
'Sakit melihat sikap dingin kamu ke aku'
... Fanny Kailana ...
****
Sebuah taksi melaju membelah jalan raya, dua remaja tampak mengisi mobil tersebut. Fathur menahan kepala Fanny yang bersandar di bahunya. Mata gadis itu masih terpejam rapat, Fathur mengumpat baru menyadari kalau wajah Fanny tampak sangat pucat tadi.
Mobil taksi pun berhenti di sebuah halaman rumah milik seseorang.
Tegar.
Fathur tadi langsung menghubungi sahabatnya itu saat Fanny jatuh pingsan, beruntung Tegar belum berangkat ke sekolah. Dan di rumah pemuda itu sedang tidak ada orangtuanya. Hal itu, membuat Fathur memutuskan membawa Fanny ke sana.
Tak lama motor miliknya pun ikut masuk ke dalam halaman garasi rumah tersebut. Tegar turun dari atas motornya.
"Bawa masuk dulu aja, Tur." Ucap sahabatnya itu sebelum Tegar akhirnya membayar ongkos taksi yang pemuda itu pakai tadi dan juga ongkos dirinya ke rumah ini.
Fathur membawa gadis itu dengan menggendongnya. Dengan hati-hati Fathur meletakkan Fanny di atas sofa tengah rumah Tegar.
"Oke, sebelum gue tanya sesuatu sama elo. Minta penjelasan, gue mau minum dulu oke." Ujar Tegar aneh kepadanya.
Tidak protes, Fathur membiarkan cowok itu ke arah dapur. Dengan langkah pelan, ia juga mengikuti Tegar untuk mengambil minum.
Keduanya sama-sama menegak habis air mineral botol seperti orang kehausan.
Trak.
"Oke sekarang ceritain. Untung gue belum berangkat tadi. Coba kalau udah. Gimana elo bawa tuh cewek pingsan nantinya hah?" Omel Tegar gemas.
Fathur duduk di kursi pantry dapur.
"Please, Gar. Gue lagi mumet, jangan nambahin njir."
"Dih, elo mumet. Apalagi gue, bangke." Mata Tegar tertuju pada sofa panjang rumahnya. Dimana sosok Fanny ada di sana.
"Terus itu cewek kenapa? Kok bisa pingsan?"
"Nggak tau gue." Balas Fathur malas.
"Tur, dengerin gue. Dia itu cewek loh, kalau pingsan pasti dia kenapa-kenapa? Dia lagi sakit ya? Kenapa nggak di bawa pulang ke rumahnya aja?"
"NGGAK!" pekik Fathur membuat Tegar terlonjak kaget.
"Gue nggak mau ketemu bokapnya Fanny." Lanjutnya enggan.
Tegar menggeram semakin gemas dengan tingkah sahabatnya tersebut.
"Terserah, terserah elo aja, Tol. Susah ngomong sama elo. Urusin dah tuh cewek. Hari ini kita kayanya mesti bolos, gue telepon anak-anak yang lain dulu." Ujar Tegar sebal.
Pemuda itu pergi menuju kamarnya untuk berganti pakaian rumah.
Percuma memaksa Fathur untuk bercerita kepadanya. Lebih baik ia meminta Akmal saja untuk bertanya.
Ck, dasar bocah.
Fathur tidak mendekati Fanny lagi, ia tetap duduk pada posisi dimana berbicara dengan Tegar tadi. Pikirannya tampak bercabang, ia tidak tahu harus berbuat apa jika gadis itu bangun.
Teringat kekasihnya. Fathur mengeluarkan ponselnya dari saku jaket. Tangannya mendadak ragu untuk mengirim chat kepada Sia. Terlebih hari ini dirinya tidak masuk sekolah, Fathur takut Sia kembali marah kepadanya.
Enggghh
Suara itu membuat pendengarannya langsung menatap lurus ke arah sofa.
Fathur sontak berdiri dan mendekat. Di sana ia melihat Fanny mulai membuka matanya perlahan. Sebelum akhirnya pandangan mereka bertemu.
"Fathur." Panggil gadis itu sangat pelan nyaris tidak terdengar olehnya jika saja posisinya tidak berada tepat di hadapan gadis itu sekarang.
"Syukurlah, elo udah bangun. Mau gue panggilin dokter?" Tawar Fathur yang di balas gelengan kecil gadis itu.
Fanny berusaha bangun tanpa bantuan pemuda di depannya tersebut. Ia melihat ke sekelilingnya, rumah yang rapih dan tatapannya berhenti pada potret keluarga yang terpajang di dinding. Salah satunya adalah sahabat pemuda itu, yang Fanny tahu bernama Tegar.
"Kenapa bawa aku ke sini?" Tanya Fanny serak.
"Terus elo mau gue bawa kemana? Rumah sakit atau rumah elo sekalian. Biar orangtua elo tahu kalau elo lagi--"
"Nggak, makasih." Serunya memotong cepat.
Fathur manggut-manggut tidak peduli.
"Aku mau pulang aja sekarang."
"Kuat emang." Sinisnya menyindir.
Fanny merasa kepalanya masih sama sakitnya seperti di taman tadi. Ia menatap wajah datar dan dingin pemuda itu. Rasa sedih tiba-tiba menggelayuti perasaanya. Mengapa Fathur harus bersikap demikian kepadanya.
Apakah salah jika dirinya meminta pertanggung jawaban pemuda itu. Karena tidak mungkin Fanny menanggungnya sendiri, apalagi jika kedua orangtuanya mengetahui hal ini. Fanny tidak tahu apa yang akan di lakukan oleh ayahnya nanti.
Derap langkah kaki lain terdengar, Fanny menoleh ke samping. Sosok yang ada di figur potret rumah ini muncul dari lantai dua dengan pakaian rumah.
"Oh, udah sadar. Perlu minum, Fa--"
"Fanny, aku Fanny." Serunya memberitahu namanya.
Tegar manggut-manggut. "Mau minum, tapi cuma air mineral yang ada. Sirup sama minuman kaleng di rumah gue lagi habis."
"Air putih aja, boleh minta yang hangat." Pinta Fanny. Ia perlu minuman hangat untuk sedikit meredakan sakit kepalanya.
"Oke. Air hangat kan."
"Iya."
Tegar melirik Fathur yang hanya berdiri bak patung pancoran. Pemuda itu menggeleng heran.
Dasar diam-diam bae.
"Jangan bicara apapun." Bisik Fathur bernada mengancam kearah gadis berwajah pucat pasi tersebut ketika Tegar berjalan menjauh.
"...." Fanny tidak membalas.
Tak lama Tegar kembali, dengan segelas air hangat di tangannya.
"Nih, sorry ya. Cuma air putih doang."
"Iya, nggak apa-apa. Makasih, ya." Ucap Fanny tulus berusaha tersenyum di balik wajah pucatnya.
Tegar berdiri di sisi tubuh Fathur, menyenggol lengan pemuda itu dan berbisik.
"Elo ngapain berdiri aja sih. Duduk sana, pusing gue liatnya."
Akhirnya Fathur mau duduk meski memasang jarak kepada gadis tersebut. Dalam hati Tegar berdecak heran.
"Maaf ya, Fanny. Elo kenapa pingsan? Lagi sakit?" Tanya Tegar penasaran.
"Iya, kayanya aku demam."
Tegar ber-oh ria mengerti.
"Kalau tau sakit. Kenapa tetap maksa pergi ke sekolah?" Lanjutnya bertanya.
"Aku ada perlu sama Fathur tadi." Balasnya tidak sepenuhnya bohong.
Tegar melirik sahabatnya itu yang membuang muka ke arah lain.
"Perlu gue panggilan dokter nggak? Kalau sakit lebih baik di periksa. Biar di kasih obat." Seru Tegar entah mengapa merasa kasihan pada gadis di sebelahnya sekarang.
Fanny menggeleng kecil.
"Nggak usah, terima kasih. Aku masih kuat kok."
"Elo mau pulang sendiri nanti? Atau perlu kita anterin?" Tanyanya lagi tidak tega melihat wajah pucat Fanny.
"Makasih." Tolaknya lagi.
"Sorry, nih. Elo nggak nyaman ya. Gue pergi aja deh." Ucap Tegar dramatis mencoba mencairkan suasana.
Fanny ingin sekali berterima kasih kepada Tegar karena mencoba menghiburnya. Namun, melihat sikap Fathur yang masih diam saja di depannya membuatnya sedih.
"HELLO GUYS!"
"BERISIK WOY!"
teriakan J dari ambang pintu di balas bentakan Tegar si pemilik rumah kesal.
"Dih, si Abang sewot aj-- eh ... ada siapa nih? Hallo, cantik." Sapa J ketika menangkap sosok Fanny di antara kedua sahabatnya.
"Ha-- hai." Sapa gadis itu balik ragu-ragu.
"Jangan sok tebar pesona deh, Tai." Umpat Tegar geram.
J tertawa mendengarnya, Akmal memilih tidak bereaksi apapun. Telepon mendadak dari Tegar tadi membuat dirinya dan J harus loncat lewat pagar belakang sekolah.
"Ngomong-ngomong kenapa ada--"
"Fanny. Fanny, Mal." Seloroh Tegar memberitahu nama gadis itu.
Jangan salahkan mereka yang lupa nama gadis itu. Sebab, yang mereka perlu ingat hanya nama Fersia Raxenta. Ibu negara, sahabat mereka Fathur Artha Putra.
"Aku ... aku--"
"Gue mau kalian jaga rahasia." Ucapan Fathur tiba-tiba membuat semua pasang mata melihat kearah pemuda itu.
Kerutan dan tatapan bingung muncul di wajah satu persatu sahabatnya.
"Rahasia apaan?" Tanya Akmal lebih dulu bertanya.
Fathur menghembuskan napas kasar. Melirik Fanny yang tertunduk dengan wajah semakin pucat. Sedangkan Fathur berpikir, mungkin dengan mengatakan kepada sahabat-sahabatnya ia bisa mendapat ide terbaik untuk merahasiakan kehamilan Fanny.
"Fanny hamil."
Deg.
*****
Bersambung.