Bab 41. Tegar Yang Dewasa

1053 Kata
Happy reading Typo koreksi **** 'Dia cuma butuh waktu' ... Tegar ... **** Hening Hening Dan Hening Tidak ada yang mengeluarkan suara apapun setelah mendengar dua kata yang di keluar dari mulut pemuda tampan yang memasang wajah serius ke arah mereka semua. Detik berikutnya semua menoleh ke arah perempuan satu-satunya yang ada di rumah tersebut. Gadis itu menundukkan kepalanya dalam tidak berani menatap mereka kali ini. Tegar menelan salivanya susah payah tidak tahu harus bereaksi seperti apa. "Fathur elo ...." bahkan pemuda yang biasanya bawel dan heboh itu tampak kehabisan kata-kata untuk di keluarkan sekarang. Terlalu syok. Membuatnya sulit mencerna ucapan Fathur barusan. Fanny hamil. Kata-kata yang langsung menyentak fakta bahwa telah terjadi sesuatu sekarang. "Gue tau kalian pasti kaget, bukan cuma kalian tapi gue juga begitu juga Fanny. Gue mau kalian jaga rahasia ini sampai gue menemukan cara buat bikin orang-orang nggak sadar sedikitpun sama perubahan fisik Fanny." "a***y! ELO MAU TETAP NUTUPI HAL INI?" teriak Tegar akhirnya berhasil menguasai dirinya lagi kembali seperti semula. Fathur masih dalam mode serius, pemuda itu balas memandang sahabatnya sejak SMP tersebut lekat. "Terus elo mau gue ngapain? Nikahin dia? Jangan gila, Gar. Kita berdua masih sekolah, dan perempuan akan gue nikahin cuma Sia bukan cewek lain." "Tapi gimana caranya elo nutupin hal ini. Lambat laun pasti ketahuan, Tur." Timpal Akmal berpendapat. "Iya, pasti orangtua nih cewek juga bakalan tau kalau anaknya lagi hamil. Jangan main-main sama insting orangtua, Tur." J pun ikut berkomentar. Fathur kemudian menggeram. "Tanpa kalian kasih tau, gue tau hal itu pasti bisa aja kejadian. Gue harus apa sedangkan Fanny nggak mau gugurin janinnya." Ucapnya frustasi. Tegar melihat jika tubuh Fanny sedikit bergetar, tampaknya gadis itu ketakutan. "Mal, bawa Fathur ke kamar aja deh. Kita bahas nanti." Pinta Tegar selaku anak dari pemilik rumah. Akmal sejenak bingung, namun melihat pandangan kasihan dan kaget Tegar ke arah gadis yang ada di antara mereka sekarang. Pemuda itu pun mengerti. "Tur, kita pikirkan caranya. Pindah dulu yuk." "Apaan sih? Kenapa pindah-pindah sega--" protesan Fathur tertahan ketika ia mendengar suara isakan seseorang. Mereka semua sontak menatap ke arah Fanny. Pandangan ke empatnya jelas berbeda. "Hiks, aku mau pulang." "Kita antar ya." Seru Tegar berusaha tidak membuat gadis itu semakin takut. Fathur mendesah kasar, ia bangun dari duduknya dan pergi menuju lantai dua. "Temenin Fathur dulu deh, Mal, J. Biar gue urus nih cewek." Suruh Tegar tenang. "Yakin? Bisa elo ngurus cewek nih." Sanksi J melihatnya. Tegar hanya mengangguk sebagai balasan, J pun akhirnya setuju. Ia dan Akmal ikut bangun dari duduknya dan menyusul Fathur ke kamar Tegar. "Sudah nggak ada Fathur. Maaf ya, Fathur emang gitu anaknya." Ujar Tegar mencoba menenangkan gadis yang baru di kenalnya tersebut. "Dia ... dia minta aku gugurin anak ini. Aku takut menambah dosa, apa salah kalau aku cuma minta Fathur tanggung jawab hiks." Isaknya lirih. Tegar diam. Mengerti maksud gadis itu. Tapi, ia juga mengerti perasaan sahabatnya. Bagaimana bisa sahabatnya itu bertanggungjawab kepada gadis ini sedangkan di hati sahabatnya itu hanya ada nama Fersia Raxenta. "Gue nggak mungkin nyalahin elo, begitupun sebaliknya. Gue nggak mau negebela Fathur juga, apalagi ini semua juga salah dia. Maaf Fanny, boleh gue minta kasih Fathur waktu. Ini terlalu mendadak dan gue yakin Fathut masih syok dapat kabar ini dari elo. Jujur Fathur itu orangnya baik, dia teman terbaik yang selama ini gue kenal. Biar pun sikapnya kasar dan nakal, dia setia kawan." Papar pemuda itu panjang. "Aku takut papa dan mama tahu hal ini. Aku nggak berani bertemu sama mereka sekarang. Aku takut ketahuan." Tegar mulai dilema. "Tenang aja, elo cuma perlu bersikap tenang  dan biasa aja. Gue yakin untuk sementara orangtua elo nggak akan curiga." Ujarnya tetap berpikir jika masalah ini masih bisa mereka atasi untuk sementara waktu. Isakan Fanny mulai mereda. Setelah benar-benar reda dan ia menjadi lebih tenang. Gadis itu mendongak melihat ke arah kamar dimana Fathur berada dengan tatapan dalam. "Apa elo sesuka itu ke Fathur?" Hah. Tegar tertawa kecil melihat ekspresi kaget Fanny. "Mata elo nggak bisa bohong. Wajar aja sih kalau elo suka sama sahabat gue itu. Cuma ... kayanya Fathur hatinya udah mentok di Sia. Memang Sia nggak pernah kumpul bareng kita-kita semua. Tapi gue yakin Sia itu gadis yang baik." Tegar menjeda tersadar jika ia tengah memuji kekasih sahabatnya tersebut di depan pacar kedua Fathur. "Oopss, sorry ya Fanny. Gue bukannya bilang kalau elo nggak baik buat Fathur. Gue cuma nggak mau kalau elo berpikir jelek soal Sia. Apalagi sikap Sia kadang bikin kita keki, jadi gue harap elo nggak benci dan merasa tersaingi. Fathur lebih dulu suka ke Sia, jadi buat elo mungkin sedikit sulit. Tapi gue harap elo sama Fathur sama-sama bisa bahagia. Janin itu nggak bersalah, ini salah kalian berdua." Lanjutnya entah mengapa kali ini Tegar terlihat lebih dewasa dari biasanya. Fanny menunduk menatap perutnya sejenak. "Jaga baik-baik kehamilan elo. Kita nggak tahu akan menghadapi masa depan seperti apa nanti. Tapi gue harap semua baik-baik saja." "Makasih. Makasih sudah mau menghibur aku." "Nope." Balas Tegar dengan senyum menawan. Fanny pun mulai sedikit lebih tenang sekarang. Tegar berhasil membuat gadis itu tidak lagi ketakutan karena ulah Fathur. Walau dalam hati Tegar, ia sedikit kesal dengan sikap Fathur menyikapi permasalahan ini. Jelas-jelas ini adalah juga kesalahan sahabatnya tersebut. Tapi hanya karena tidak memiliki perasaan ke gadis tersebut. Fathur menolak untuk mencari cara terbaik dalam menyelesaikan masalah. Dan pemuda itu tidak memikirkan kondisi syok yang juga di alami gadis di sebelahnya itu. "Aku pulang saja Tegar." Ucap Fanny usai terdiam beberapa menit. Tegar melihat jam dinding rumahnya. "Orangtua elo nggak akan curiga kalau pulang jam segini?" Tanyanya. Fanny tidak menjawab. "Di sini aja dulu, tenang aja kita-kita nggak akan berani ngapa-ngapain elo. Nanti pas siangan dikit elo bisa pulang. Biar gue yang antar nanti." "Makasih Tegar." "You're welcome. Santai aja. Geu cuma mau bantu apa yang bisa gue bantu aja kok. Jangan sungkan. Elo lapar nggak? Mau gue pesanin makanan?" "Kamu ada roti, boleh aku minta." Roti ya. Batin Tegar berpikir sejenak. "Sebentar gue lihat dulu ya." Pamit pemuda itu pergi kemudian berjalan ke arah dapur rumahnya memeriksa semua laci dan kulkas. "Adanya roti tawar, elo mau?" Serunya setengah berteriak. Kepala Fanny menoleh ke belakang lalu mengangguk pelan. "Iya." Dari tempat duduknya Fanny bisa melihat bagaimana sikap baik Tegar, sikap yang ia harapkan Fathur lah yang melakukannya. Fathur. Batinnya menyebut nama pemuda itu nanar. ***** Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN