takut dan cemburu

3236 Kata
[Satu minggu kemudian...] Satu minggu sudah Jeff dan Anna lalui dengan baik. Tak ada lagi drama-drama menghilang alias ghosting seperti dulu saat keduanya belum berpacaran. Walaupun memang tak pernah saling mengirimi pesan setiap saat, atau telepon tiap malam, keduanya tetap bisa menjaga komunikasi. Seperti malam ini, usai Jeff tadi siang mengirimi pesan pada Anna bahwa ia akan bermain billiard bersama teman-temannya dan mungkin baru menghubungi ketika malam hari, laki-laki itu menepati janjinya. Padahal ini sudah pukul setengah sepuluh, biasanya pada jam tersebut Anna sudah bergelut dengan bunga tidurnya, tapi karena hari ini gadis itu menyempatkan tidur siang, akhirnya Anna tak bisa tidur. Jeff tadi hanya iseng mengirimi pesan pada Anna karena ia kira kekasihnya sudah tidur. Jeff Rei J : yang Dan ternyata tak perlu menunggu bermenit-menit seperti biasanya, Anna mengirimi balasan. Anna J : baru pulang? Jeff yang terkejut karena Anna masih terjaga jadi langsung memilih panggilan telepon pada Anna yang diangkat pada detik berikutnya. “Kok belum tidur?” tanya  Jeff tanpa basa-basi, seperti biasanya. Anna memiringkan posisi tidurnya, ia menyamankan letak bantal. “Belum ngantuk. Tadi abis tidur siang. Kamu baru pulang?” “Iya.” “Dari tempat billiardnya?” Jeff menggeleng lucu sambil menguap. Terlihat menggemaskan. Kalau ini sedang berhadapan, bukan via telepon, Ana pasti sudah menciumi pipi laki-laki itu karena gemas. “Dari billiard abis sholat isya tadi balik ke rumahnya Bisma.” “Lucu banget pakai piyama warna merah muda.” komenta Jeff saat Anna berdiri dari tidurnya entah untuk apa, membuat kamera bisa menampilkan kepala hingga pinggang gadis itu karena Anna menjauh dari ponsel. Anna memperhatikan penampilannya. “Lucu, kan? Abis dapet dari give away, tahu.” “Serius? Yang kemarin kamu bikin snap gram itu?” Anna mengangguk cepat. “Pertama kalinya, deh, dapet hadiah ikut beginian. Tapi ternyata celananya kegedean, Jeff, huhu.” Jeff mengamati Anna yang memperlihatkan bahwa ukuran pinggang bawahan piyama tersebut lebih dari yang seharusnya. “Gak keliatan banget, kok, kalau kegedean.” “Beneran?” “Iya. Lagian kamu lebih bagus, deh, yang, pakai warna merah muda gini. Aku perhatiin baju-baju kamu kebanyakan warna gelap.” Anna tertawa. “Emang iya. Sembilan puluh persen baju aku, mau atasan atau bawahan, warnanya kalau gak item, ya abu-abu.” “Nah, kan. Coba mulai koleksi yang warna cerah aja.” Anna berdeham saja. Mereka saling diam selanjutnya. Anna sibuk menghadap cermin, mengoleskan sesuatu seperti gel pada bawah matanya, dilanjutkan dengan bahan-bahan lainnya yang tak Jeff mengerti. Sedangkan laki-laki itu jelas sedang mengamati kekasihnya dalam diam. Sudahkah Jeff pernah bilang kalau ia tak pernah bosan memandangi Anna Jovanka dalam keadaan apapun? Anna pernah mengatakan pada laki-laki itu bahwa Anna lebih percaya diri jika keluar rumah dengan riasan atau polesan make up di wajahnya. Padahal menurut Jeff, Anna tambah lebih manis ketika Anna tidak memakai apapun di wajahnya. Tidak sekalipun hanya lipstick atau bedak tabur. Seperti saat ini, usai Anna membersihkan seluruh wajahnya dan menghadap kameranya, Jeff bisa melihat bahwa Anna memiliki lingkaran hitam di wajahnya juga bekas jerawat di sudut bibir, tapi Jeff bersumpah Anna lebih cantik begini. Terlihat lebih natural dan Jeff suka. Untungya, steelah Jeff mengutarakan pendapatnya, Anna lebih percaya diri untuk menemui Jeff atau bahkan keluar rumah tanpa polesan apapun. Benar-benar Anna Jovanka dengan wajah telanjang, tanpa apa-apa. “Yang, aneh banget gak, sih, jaman sekarang masih aja ada jodoh-jodohan?” “Hm?” Anna menidurkn kembali tubuhnya, menarik selimut hingga d**a. “Kamu dijodohin?” “Ck, bukan.” “Terus?” “Akbar tadi lagi galau banget, makanya dia ke billiard bawa minuman, terus—“ “Minuman apa maksudnya? Keras?” Jeff mengangguk. “Kamu ikut minum?” Jeff menggeleng. “Bener? Kan, lagi rame-rame.” “Beneran, yaaaang. Kamu mau aku dicoret dari kartu keluarga sama Ayah?” Anna merilekskan kembali bahunya yang sempat tegang. “Terus gimana Kak Akbar?” “Iya, jadi dia tadi galau sampai mabuk disana. Untung tempat billiardnya punya bokap si Abram. Terus antara sober sama enggak, dia curhat sama kita-kita, bilang kalau dia di jodohin gitu. Kasian, deh, aku sama dia.” “Dijodohin for real?” Jeff diam, mungkin juga tak tahu jawaban yang tepat. “Eung— Akbar, sih, bilangnya orang tau dia abis ngenalin dia sama anak temennya, terus jadi sering nyuruh Akbar ketemuan gitu sama si ceweknya. Apa coba namnaya kalau bukan berusaha buat nyomblangin Akbar sama cewek itu?” “Kak Sevya udah tahu?” “Belum. Akbar mana tega mau bilang ke pacarnya.” “Kasian juga, ya. Jaman udah kayak gini masih aja dijodoh-jodohin.” Jeff menguap satu kali sambil tetap mencoba membuka mata walaupun sepertinya tidak akan mampu. “Tidur, gih, Jeff. Kamu udah sepuluh kali nguap padahal baru setengah jam teleponan sama aku.” “Gak mau. Mau nemenin pacarku begadang aja.” “Alah, mana kuat. Orang mata kamu aja udah merah gitu. Udah, deh, dimariin aja video callnya, ya?” Jeff menggeleng, tapi matanya sudah hampir benar-benar tertutup. “Kamu dongengin aku aja, biar aku bisa ceept tidur.” Anna tertawa. “Dongengin apa, coba? Kancil sama petani?” “Enggaklah, kamu kira aku anak usia lima tahun? Ceritain kamu ahri ini ngapain aja di rumah. Jangan berhenti cerita sampai aku ketiduran, ya?” Perempuan cantik itu tersenyum emnatap layar ponselnya. Jeff versi mengantuk memang akan berubah sepuluh kali lipat lebih manja dari biasanya. Seperti anak kecil yang minta ditemani sang ibu sampai terlelap. Persis seperti itu. “Aku ngerjain apa yang biasanya aku kerjain. Gak ada yang spesial. Seperti biasa...” Anna mulai bercerita kegiatannya hari ini dari pagi, mulai dari bangun tidur, sampai hal-hal tidak penting seperti Anna yang tak sengaja melihat katak di belakang rumah saja ia ceritakan. Baru Anna bercerita sampai ia yang akhirnya memutuskan untuk tidur siang karena lelah setelah setrika banyak pakaian kusut, Jeff sepertinya sudah menyerah dengan rasa kantuk. Dengan mata hampir tertutup sempurna, Jeff menginterupsi kalimat Anna. “Yang?” “Hm? Kenapa, Jeff?” Anna menyempatkan meng-screen shot wajah Jeff yang sudah teler itu. Lucu saja, Anna ingin mengabadikannya. “Aku gak kuat. Mau tidur duluan. Gak apa-apa?” “He-em, enggak papa. Tidur, gih.” Jeff mengangguk pelan. “Kamu jangan tidur malem-malem, ya? Love you a lot, Ann.” Anna tersenyum. Tak perlu ragu dengan satu pernyataan dari Jeff itu. “Have a good sleep, sayang.” ucap Anna sebelum akhirnya Jeff benar-benar tertidur usai meninggalkan satu senyum kepada Anna karena perempuan itu memanggilnya sayang.   ** [Hari berikutnya...]   Jujur saja, Anna kira jadwal antara ia dan Gilang, Denny, Putri, dan Gezya bertemu yakni setiap seminggu sekali itu sudah cukup dikatakan membosankan karena satu bulan artinya empat kali mereka berlima nongkrong bareng. Tapi ketika Jeff menceritakan bahwa laki-laki itu malah hampir setiap hari nongkrong bareng teman-temannya: Bisma, Abram, dan Akbar membuat Anna cukup tercengang. “Masa’ sih hampir tiap hari?” tanya Anna beberapa hari yang lalu via telepon. “Eung— tapi enggak dijadwal kayak kamu, sih. Kadang ada yang iseng tiba-tiba mampir ke rumahnya siapa, terus tiba-tiba ada yang tahu jadinya nyusul. Dan, iya, itu hampir tiap hari.” Anna mengangguk-angguk. “Rumah kalian pada deketan, ya?” “Rumahku sama Akbar deket, masih sekomplek. Rumahnya Abram agak jauh tapi masih satu wilayah. Nah, rumah Bisma yang jauh banget di Antartika.” “Terus emangnya gak bosen hampir tiap hari ketemu?” tanya Anna heran. “Pernah, tuh, sekali pas Akbar sama anak-anak tiba-tiba ke rumah, aku mikirnya ya elah, lo lagi-lo lagi, tapi so far, sih, enggak, kok. Mungin karena udah deket dari lama kali, ya? Berapa tahun, deh, empat— eh, lima tahun, yang, aku bareng sama mereka. Jadi kalau ada seminggu yang gak muncul batang idungnya gitu kadang suka kangen sendiri. Idih, geli banget ngomong ginian.” Anna bisa membayangkan sedekat apa persahabatan antara kekasihnya dan tiga sahabatnya tersebut. Lima tahun menghabiskan waktu bersama tentu saja pasti membuat Jeff— “Mereka jadi kayak sodara sendiri, gitu loh, Ann, saking deketnya.” Nah, itu yang Anna maksud. “Sekalipun kita sempet punya temen masing-masing pas awal masuk kuliah dan beda jurusan, atau pas lagi punya kesibukan masing-masing, pasti ujung-ujungnya juga balik lagi ke mereka.” “Lima tahun temenan gitu pernah, gak, sih, ada yang berantem, Jeff?” “Pernahlah, Ann.” jawab Jeff cepat, tak perlu berpikir lagi. “Gak cuman sekali, malahan. Dulu pas SMA sering, tapi mulai masuk kuliah udah gak pernah, sih, kalau diinget-inget.” “Eum, cowok kalau berantem biasanya gara-gara apa?” “Cewek.” Anna memekik. “Ih, masa’ sih?” “Iya, dulu Akbar pernah ditonjok sama Abram gara-gara si Akbar ketahuan nyepik Maura. Bodoh banget gak, tuh, cowok satu? Punya siapa aja kayak mau diembat asal cakep. Makanya aku awal-awal juga agak gak yakin mau ngenalin kamu ke Akbar, karena kemungkinannya ada dua, Akbar yang bakal naksir kamu atau kamu yang bakal naksir dia—“ “But i am not.” Jeff terkekeh. “He-em, untungnya kamu enggak. Dan yang bikin aku akhirnya mikir ya udahlah gak apa-apa dikenalin, itu karena aku inget Akbar bucin abis sama Sevya.” Usai percakapan via telepon sore sebenarnya membuat Anna sedikit merasa iri hati karena ia tak pernah punya teman dekat yang bisa bertahan di sisinya sampai bertahun-tahun seperti Jeff yang punya Akbar, Abram, dan Bisma. Pertama kalinya Anna memiliki sahabat dekat adalah saat ia duduk di Sekolah Dasar, namanya Lena, siswa pindahan dari Kediri. Namun nyatanya mereka tak lagi berteman usai keduanya masuk ke SMP yang berbeda. Sahabat keduanya ia miliki saat berada di kelas 10 SMA, namanya Rachel, yang ternyata hanya sekolah disana selama satu tahun saja kemudian pindah ke Bangka Belitung. Sebenarnya walaupun mereka tak lagi berada pada kota yang sama, mereka masih menjalin hubungan dengan baik, namun keduanya mulai renggang saat Rachel memiliki kekasih yang mana adalah senior disekolahnya bernama Deny. Yang Anna tahu, tiba-tiba Rachel sulit sekali diajak berkomunikasi atau sekedar bertemu karena waktunya lebih banyak dihabiskan dengan sang pacar. Sahabat selanjutnya yang ia miliki adalah Caca alias Natasya Aurora. Mereka bersahabat erat, selalu berdua kemana-mana, namun mereka hanya betahan dua tahun akibat kesalahpahaman lalu benar-benar lost contact. Bahkan bisa dibilang sedang bermusuhan sampai sekarang. Kini Anna hanya punya Putri sebagai sahabat dekat dengannya. Mereka baru dekat setengah tahun namun Anna berharap mereka bisa bersahabat hingga akhir hayat. Semoga saja. Bicara mengenai Gilang dan yang lain, bukan berarti Anna tidak menganggap mereka sebagai sahabat. Namun jika dibandingkan dengan Putri, mereka tentu memiliki tahta yang berbeda. Apa lagi belakangan Anna sudah jarang berkumpul dengan teman-teman karena menghargai Jeff sebagai kekasihnya. Tak mungkin ia masih akan terlalu sering bertemu dengan teman laki-laki sedangkan ia sudah memiliki kekasih yang harus dijaga hatinya. Apa lagi, Anna dan Denny juga baru berbaikan usai beberapa minggu bertengkar akibat Bali yang berakhir jadi wacana. Itu memang hal sepele dan Anna juga masih tak habis pikir mengapa Denny sampai begini. Syukurnya mereka berdua sekarang sudah bisa berkomunikasi dengan baik lagi walaupun memang canggung dan sedikit kaku, tak bisa kembali seperti semula. Siang itu, Jeff baru mengabari Anna bahwa lelaki tersebut baru sampai di rumah Bisma bersama tiga teman yang lainnya. Anna hanya mengiyakan dan mengatakan pada Jeff semoga ia bisa have fun. Maksud Anna bicara begitu sebenarnya hanya karena ia tak ingin mengganggu waktu Jeff berkumpul bersama para sahabat, jadi Anna berpamitan untuk mematikan sambungan data. Namun ternyata Jeff tidak setuju dengan itu. Jeff bilang bahwa Anna tetap harus menemaninya mengobrol karena ia sedang gabut. Akbar sedang tanding game dengan Abram sedangkan Bisma malah tidur-tiduran di karpet ruang tengah. Maka dari itu Jeff memilih untuk melakukan panggilan video dengan Anna yang syukurnya langsung diangkat pada dering pertama. “Lagi dimana?” tanya Jeff saat menemukan Anna tidak berada di ruang kamar miliknya sendiri yang memang sudah Jeff hapal. Kali ini ruangan itu berwarna hijau kalem sedangkan ruangan milik Anna berwarna biru langit. “Lagi di kamar Mbak Nia, abis beresin lemari bukunya Iqbal.” Jeff manggut-manggut. “Kedengeran, gak, Akbar sama Abram yang berisik banget?” Anna terkekeh sambil mengangguk. Walaupun hanya via telepon wajah, Anna tentu masih bisa mendengar u*****n demi u*****n yang slaing dilempar oleh dua teman pacarnya itu. “Berisik banget?” “Enggak, kok.” “Kalau aku ngomong masih kedengeran, kan?” “Masih, ko—“ “ANJING, MATI!” “HAHAHAHA MAMPOS!” Dua kalimat yang menyela pembicaraan Anna itu dari Akbar dan Abram yang sepertinya menandakan bahwa permainan sudah berakhir. Anna baru tahu Abrambisa mengumpat juga, bahkan bisa berteriak. Gadis itu kira Abram hanya bisa menatap penuh intimidasi. “Jeff, giliran lo.” Tapi Anna bisa melihat bahwa Jeff menggeleng, menolak. “Males. Kalian aja lanjut.” “Idih, tadi aja ngeluh nunggu giliran?!” “Ya, kan, tadi, badak!” Akbar beranjak dari duduknya, meraih ponsel yang sedari tadi dianggurkan olehnya lalu menghampiri Jeff yang duduk di sofa lebar. Baru laki-laki yang punya garis wajah keturunan Arab itu akan membuka ponsel, matanya tak sengaja melirik kegiatan Jeff dengan ponselnya. “Elah, lo lagi pacaran?” “Lah, lo gak denger emang dari tadi Jeff sama pacarnya sibuk sayang-sayangan?”  ujar Bisma yang kini juga ikut duduk di samping Jeff. Jadi posisi laki-laki itu kini diapit oleh kedua temannya: Akbar dan Bisma, sedangkan Abram kini mengagnti LCD di depan mereka menjadi tampilan salah satu stasiun televisi luar negeri. Dengan isengnya, Bisma tiba-tiba merampas ponsel Jeff lalu menghadapkan layar kamera pada wajahnya. “Halo, Anna!” sapanya dengan ceria sambil melampaikan tangan seperti bocah yang baru dijemput sekolah oleh sang ibu. Anna sempat terkejut sebelum langsung tersenyum kikuk. “Eh, halo, Kak Bisma.” “Gue, dong, gue! Hadepin gue, Bis, hapenya, t***l lu!” ujar Akbar ikut bersemangat yang membuat jeff jelas mendengus dan berakhir bersandar pada sofa. Membiarkan lagi-lagi ponselnya dirampas oleh orang lain saat ia asik bercengkerama dengan sang kekasih. “Ann, kapan, nih, ke Tangerang?” tanya Akbar yang dijawab seadanya oleh Anna. Dan usai itu, hingga satu jam kemudian, yang ada Anna malah melakukan panggilan video dengan Bisma dan Akbar, bukan dnegan Jeff. Apakah Jeff sudah pernah bilang kalau selama ini ternyata Anna sudah bisa dekat dan berteman dengan Bisma? Entah tepatnya sejak kapan, namun ynag pasti Jeff juga terkejut ketika dnegan luwesnya Anna bilang bahwa Bisma memang bisa membaur dengan mudah. Jeff, sih, tak masalah. Soalnya ia tahu persis Bisma emang jagonya nyeret anak orang biar bisa cepet jadi temennya dia. Toh, ia tahu ini akan terjadi cepat atau lambat.   **   [Hari berikutnya...]   Anna tak pernah cemburu lagi usai kejadian Jeff membuat snap gram dengan Tasya dahulu kala. Iyalah, gak ada yang perlu dia cemburuin sekalipun Jeff sedang jauh darinya. Karena Anna sellau punya kepercayaan tinggi untuk Jeff, pun sama saja dengan yang dilakukan oleh laki-laki itu. Jeff selalu mengatakan pada Anna ketika Jeff punya jadwal pergi yang agak jauhan, misal ke Bogor, atau tiba-tiba mau ke Mall sama ibunya, dan lain-lain. Jadi apa yang perlu di khawatirkan? Tapi semuanya tak lagi sama sampai suatu hari, Jeff cerita bahwa ia memiliki tetangga baru, yang mana ternyata tetangga barunya ini memiliki anak perempuan yang sedang duduk di bangku SMA kelas 3 dan sialnya, perempuan yang diketahui Jeff bernama Gladis ini sekolah di sekolah Jeff dulu, yang artinya berarti ia adalah senior Sab, adik Jeff. Awalnya, Anna hanya mengangguk-angguk ketika Jeff menceritakan tentang tetangga barunya tersebut karena menurut Anna, “ya udah, kan, cuman tetanggaan?”. Tapi semuanya berbeda saat Jeff cerita bahwa Gladis sering mengunjungi rumahnya. Sekali, dua kali, sih, gak apa-apa, alasannya biar deket sama tetangga, jalin silahturahim. Tapi kok lama-lama Anna mikirnya keseringan, ya? Beruntungnya, Jeff tak pernah berusaha menutup-nutupi apapun dari kekasihnya. Jadi suatu hari, Jeff jujur pada Anna mengenai Gladis yang sekarang sering ke rumah mengantar makanan kemudian malah asik berbincang dengan Sab. “Tadi abis ke rumah kamu lagi?” tanya Anna saat Jeff usia bercerita. Laki-laki itu mengangguk. “Nganter donat. Katanya mamanya abis masak-masak gitu.” “Bukannya kemarin baru dari ruamh kamu nganter makanan juga?” Jeff mengangguk lagi. Anna tak bersuara. Tiba-tiba perasaan dongkol muncul begitu saja di hatinya. Bagaimana tidak? Bayangkan jika menjadi Anna. Berada jauh dari kekasihnya, lalu ada perempuan yang setiap hari ke rumah Jeff dan tak hanya sehari dua hari mampir ke sana untuk mengantar makanan tapi berakhir duduk di ruang tamu berbincang dengan kekasih dan adiknya? Hah. Tahu bahwa suasana hati Anna memburuk juga mungkin ada perasaan tak nyaman disana, Jeff akhirnya memilih mengutarakan dugaannya mengenai Gladis. “Ann, aku mau cerita, deh.” Anna membalas tatapan Jeff di kamera tanpa menjawab sepatah katapun. “Aku sebenernya juga gak mau suudzin, sih. Gak mau asal negative thinking sama orang apa gimana. Tapi, Ann, masa beberapa kali aku gak sengaja nangkep Gladis kayak lagi ngeliatin aku gitu?” Hm, Anna sudah menduga pasti Gladis akan semudah itu jatuh cinta pada Jeff. Memang siapa yang tidak terpesona dengan lelaki setampan Jeff Rei Jericho? Tapi masalahnya, hei, Jeff ini punya pacar. “Sab juga pernah bilang ke aku kalau kayaknya si Gladis itu, eum, anu—“ “Apa? Suka sama kamu?” Jeff meringis kecil. “Eung, ya gitu...” “Gak kaget.” jawab Anna seadanya. “Dari awal kamu cerita dia jadi sering ke rumah kamu dengan alasan nganter makanan atau main sama Sab karena mereka satu sekolah, semuanya masuk akal, sih.” Jeff diam, tak tahu harus merespon kalimat Anna dengan kalimat apa dan bagaimana. Tapi dilihat dari wajah gadis itu yang terlhat malas atau lebih tepatnya menahan emosi, Jeff tahu bahwa Anna tak baik-baik saja. Gadis itu pasti merasa tak nyaman dengan situasi ini. Annanya cemburu. “Kamu... marah?” tanya Jeff hati-hati. Anna yang sebenarnya sedang memalingkan wajah ke arah lain jadi menoleh pada kamera lagi, menatap Jeff yang sedang memasang raut wajah bersalah. “Bukan marah, sih.” “Tapi?” “Takut? Cemburu? Gak ngerti juga.” Jeff menghela nafas pelan. “Takut kenapa, sayang?” “Aku jauh, kita gak bisa setiap hari ketemu, tapi Gladis...” “Kamu mikir apa, sih, Ann? Emangnya kalau Gladis bisa nemuin aku tiap hari dan kamu enggak, aku bakal tiba-tiba suka sama dia terus ninggalin pacar aku yang padahal lagi nunggu di Malang?” Anna suka Jeff yang selalu peka dan tak basa-basi tapi langsung to the point ke inti masalah begini. Tapi gadis itu memang benar sedang sedih, sedang takut. Tahu, kan, biasanya perempuan gimana kalau tahu tiba-tiba cowoknya ditaksir cewek lain? Ada aja yang bikin hati jadi gak tenang. “Emangnya enggak?” “Ya, enggaklah!” jawab Jeff cepat, kemudian berdecak dan menggelengkan kepala karena Anna meragukannya. “Kamu gak percaya sama aku yang bisa jaga hati walaupun kita jauh?” “Aku bisa percaya sama kamunya, tapi sama Gladis? Duh. Kemarin malem aja Gladis stalk i********: kamu, spam like sampai postingan yang kamu paling lama.” Itu memang benar. Karena akun i********: Jeff memang ad di ponsel Anna dan juga sebaliknya, Anna bisa tahu saat Jeff mendapat notifikasi apapun. Beberapa hari lalu, Anna tahu akun Gladis mengikuti akun kekasihnya, tapi Anna tak merespon juga tak membahas apapun pada Jef, tahu-tahu sorenya Jeff ternyata sudah mem-follow back Gladis. Lalu Anna akhirnya stalk Gladis yang ternyata cantik banget itu. Cantiknya khas orang Belanda. Mungkin memang ada keturunan dari sana. Bagaimana Anna tidak was-was dan balik suka insecure, apa lagi follower Gladis sampai empat ribu sedangkan Anna hanya seribuan, belum juga pergaulan Gladis yang sangat mencerminkan milenial sekali dengan foto-foto instagramable sedangkan Anna? Hm, apa daya. “Yang penting aku gak bales spam like ke akun dia, kan? Dia juga pernah mintain nomerku ek Sab ta[i aku gak ngebolehin.” “Gladis sampai minta nomer kamu lewat Sab?” tanya Anna takut salah dengar. ”Iya, tapi aku gak kasih izin Sab buat asal ngasih nomer ke cewek.” ulang Jeff. “Ann, jangan suka mikir aneh-aneh. Tugas kamu disana cuman nungguin aku dan kasih kepercayaan seutuhnya buat aku. Insya Allah, aku gak bakal bikin kamu kecewa, apa lagi sengaja.” “Aku tiba-tiba insecure, Jeff...” aku Anna akhirnya. “Gladis cantik, bisa deket sama kamu, dia—“ “Tapi aku sayangnya sama kamu. Gak cukup itu buat yakinin kalau aku gak bakal lari kemana-mana?” Ah, kalau Jeff sudah seperti ini Anna malah jadi kicep tapi ingin menangis. Matanya berkaca-kaca. Selain rasa takut karena trauma atas mantan-mantannya dulu yang selalu berujung selingkuh di belakangnya, Anna hanya benar-benar takut kehilangan. Tak siap. “Jangan nangis, yang...” ujar Jeff lirih, tak tega melihat Anna yang maatnya sudah berkaca-kaca. Anna menutup wajah dengan kedua tangannya, menumpahkan kesedihannya disana. PMS di hari pertama ini membuat emosinya semakin menjadi-jadi. Ia jadi sensitif. Gadis itu mengusap matanya, menatap kamera sambil memberengut, bibirnya mengerucut walaupun matanya sudah memerah karena sempat menumpahkan air matanya. “Jeff, kangen...” Jeff terkekeh kecil melihat kekasihnya bersuara dengan intonasi menggemaskan walaupun laki-laki itu tahu bahwa Anna belum sepenuhnya baik-baik saja. “Kamu kira kamu doang?” “Cepet ke Malang...” “Iya, yang, sepuluh hari lagi, kan, aku udah mulai kuliah.” Jeff tertawa lagi. “Udah, ah, jangan nangis. Kamu gak kasian sama aku yang malah pengen langsung ngebut kesana biar bisa meluk kamu?” Anna ikut tertawa kecil diakhiri dengan ia yang menyedot ingus.”Aku sayang kamu. Kmau tahu itu, kan?” Jeff mengangguk. “Itu cukup buat bikin kamu percaya kalau aku beneran takut kamu ninggalin aku?” “Ann, kamu mikirnya kejauhan. Mana ada, sih, aku mau ninggalin kamu? Yang biasanya takut ditinggalin, tuh, aku." "Janji gak?" Jeff tak bisa menahan senyumnya karena melihat Anna yang terlihat begitu menyayanginya sampai menangis karena takut dan cemburu. "Iya, yang. Janji." ** Kau bertanya padaku Kapan aku akan kembali lagi Katamu kau tak kuasa Melawan gejolak di dalam dada Yang membara menahan rasa Pertemuan kita nanti Saat kau ada di sisikuSemua kata rindumu Semakin membuatku tak berdaya Menahan rasa ingin jumpa Percayalah padaku aku pun rindu kamu 'Ku akan pulang Melepas semua kerinduan Yang terpendam
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN