Anna Jovanka POV
Setelah berabad-abad aku gak pernah komunikasi sama Jeff, pertama kali setelah hari-hari sepi itu, aku baru sadar kalau aku sekangen itu denger suara Jeff. Aku berusaha nyingkirin semua pikiran negatifku tentang Tasya setelah Jeff ngirim pesan nanyain aku lagi apa. Aku pikir dia udah ebrani ngechat lagi, aku mau mengapresiasi itu tanpa harus ungkit-ungkit Tasya. Toh siapapun Tasya sekarang di hidup Jeff, aku punya hak untuk buka mulut mengkomentari.
Hasil dari buah sabar adalah kebahagiaan itu benar adanya.
Aku yang udah mendam penasaran dan cemburu setengah mati, nyatanya penjelasan yang aku denger dari Jeff adalah hal ter-worth it buat ditungguin. Aku seneng dia mau jujur dan cerita gimana lengkapnya. Dan dari yang Jeff bilang, Kak Tasya bener-bener udah gak ada rasa ke Jeff.
Munafik kalau aku bilang aku langsung percaya tanpa ngerasa ke ancam sedikitpun, karena yes i do. Sebagai perempuan yang lagi suka sama Jeff, tentu aku ada sedikit rasa cemburu karena gimanapun Kak Tasya penah jadi bagian dari hidup Jeff dna itu lama, gak cuman sebulan dua bula. Yang kedua, insecureku kambuh. Aku masihlah Anna Jovanka yang emang gak ada apa-apa kalau dibandingin Kak Natasya Catherine. Tapi aku memilih bungkam atas semua yang ku rasakan apa lagi kesalahpahaman yang terjadi di antara aku dan Jeff kemarin juga berawal dari ketidakpercayadirianku sendiri.
Aku tak mau mengulangi kesalahan yang sama. Maka dari itu, pada akhirnya aku hanya mengiyakan segala omongan Jeff sembari menyampaikan pesan tersirat bahwa mantan adalah godaan yang sedikit berat dalam suatu hubungan. Aku mau ia mrnjaga hatinya jika memang benar ia ingin serius denganku.
Percakapan kami selanjutnya membuatku cukup terkejut—ralat, sangat terkejut karena Jeff mengenalkanku pada orang yuanya, via foto pula! Aku sudah panik tak karuan sedangkan Jeff disana malah tertawa.
“Enggak, Ann. Mereka tadi aja bilang kalau kayaknya kita emang jodoh. Soalnya muka kamu mirip sama Ibu.” Jawab Jeff saat aku takut mendengar respon ayah dan ibunya. Aku kira Jeff berbohong, tapi kemudian Jeff mengirimiku foto ibunya dan aku benr terkejut karena— walaupun enggak mirip-mriip banget, tapi tetep aja ada miripnya.
Itu adalah hal pertama yang membuatku terkejut. Yang kedua adalah karena Jeff tiba-tiba bilang begini.
“Kapan-kapan ke Tangerang mau, gak? Aku kenalin sama Ayah Ibu.”
Usai kami lama gak berkomunikasi tiba-tiba laki-laki tampan itu bilang begitu. Gimana enggak kaget? Aku tahu Jeff menyukaiku, beberapa kali ia mengatakan itu. Tapi aku tak tahu kalau Jeff seserius itu hingga ia ingin aku bertemu orang tuanya.
Bukan aku geer atau apa hanya karena ingin dipertemukan dengan ayah dan ibunya aku mengira Jeff ingin aku serius dengannya, tapi Jeff sudah eprnah bilang sendiri bahwa ia tak pernah mengajak perempuan ke rumah kalau memang ia tak punya niat untuk lebih. Hanya Tasya yang pertama. Lalu mungkinkah ia ingin menjadikanku yang kedua dan semoga yang terakhir? Semoga saja.
Maka dari itu, ketika Jeff bilang begitu, aku tak mau asal menjawab iya atu tidak. Banyak yang harus ku pertimbangkan. Jika kau bilang iya, itu arttinya aku harus siap mengenal lebih dekat dengan keluarganya, mau berjlaan lebih serius hubungannya dengan Jeff, dan hal besar lainnya yang tak bisa dianggap remeh. Jika pun aku memilih tidak, bukankah itu artinya aku menolak Jeff dan meminta berhenti disini?
Pikirannya melayang kemana-mana. tahu benar aku belum siap diajak ke tahap ini. Usai aku berdebat dengan pikiranku sendiri, akhirnya kuputuskan sesuatu yang semoga, semoga saja aku tak salah pilih jawaban.
“Iya, kalau ada waktu insya Allah kesana.”
Belum selesai keterkejutanku dari ajakan Jeff tersebut, usai aku membalasnya dengan kalimat demikian, Jeff kemudian memanggilku lagi.
“Ann.”
Aku sebenarnya sudah ingin mendengus karena Jeff suka manggil-manggil dulu. Maksudku kalau mau ngomong ya langsung ngomong aja, kek, gitu.
“Apa, Jeeeeff?” Jawabku gemas.
“Kangen.”
Jawabnya begitu saja membuatku diam, kelu, panik, kaget parah, tapi tak bisa menahan bibir agar tak senyum lebar. Ini pertama kalinay Jeff bilang begitu, dan aku benar-benar merasakan senang luar biasa. Ku gigiti bibir bawahku menahan diri agar tak menjerit girang.
“Aku juga.” Jawabku akhirnya.
Aku juga merindukannya. Sangat rindu Jeff. Hampir dua minggu tidak berkomunikasi sama sekali membuatku merasa sepi bahkan aku sudah pernah menangisinya. Jeff, semoga kita bisa cepet ketemu lagi, ya.
**
All I hear is raindrops falling on the rooftop
Oh baby, tell me why'd you have to go
'Cause this pain I feel it won't go away
And today I'm officially missin' you
I thought that from this heartache, I could escape
But I've fronted long enough to know
There ain't no way
And today, I'm officially missin' you
Ooh, can't nobody do it like you
Said every little thing you do, hey, baby
Said it stays on my mind
And I, I'm officially
Well, I wish that you would call me right now
So that I could get through to you somehow
But I guess it's safe to say, baby
Safe to say that I'm officially missin' you
Well, I thought I could just get over you, baby
But I see there's something I just can't do
From the way you would hold me
To the sweet things you told me
I just can't find a way to let go of you
Ooh, can't nobody do it like you
Said every little thing you do, hey, baby
Said it stays on my mind
And I, I'm officially
**
Baru tadi pagi aku merasakan suasana hatiku baik-baik saja. Luar biasa baik dan bahagia sampai-sampai aku tak berhenti bersyukur. Siangnya, usai Jeff pamit bahwa ia akan main ke rmah salah satu temannya yang katanya namanya Kak Abram, aku memutuskan untuk mengecek pesan-pesan lain yang memang belum ku buka karena asik telepon dengan Jeff.
Pulang dari Jogja kemarin, aku dan teman-temanku— Putri, Rara, Gezya, Gilang, dan Denny— kami memang memiliki destinasi selanjutnya. Kami sama-sama merencanakan untuk pergi liburan ke Bali sebelum masuk kulaih. Kami berenam sama-sama sepakat bahkan Gilang sampai sudah mencari travel untuk kesana.
Ketika di grup yang dinamai ‘2020 Umroh Bareng’ oleh Putri yang isinya kami berenam itu ramai notifikasi, aku pun membacanya dari awal yang ternyata mereka sedang membicarakan uang DP. Lalu aku teringat bahwa mantan suami tanteku— Mbak Nia— yang namanya Om Topan—beberapa hari lalu memberi tahuku bahwa ada open trip ke Bali dengan harga terjangkau bulan ini. Lalu aku memutuskan untuk mengirimkan brosur yang pernah difoto Om Topan untukku ke grup kami.
Layaknya sales, aku memberikan kelebohan-kelebihan yang akan kami dapatkan jika menggunakan open trip namun aku juga tak menyembunyikan kekurangannya. Awalnya yang mengusulkan ke Bali memang aku karena aku snagat ingin kesana dan belum pernah kesana. Maka dari itu ketika mendapatkan harga murah dari om tentu saja membuatku langsung mutlak ingin ikut open trip saja yang harganya dua kali lipat lebih murah dari pada harga travel yang direncakan teman-temanku.
Akhirnya karena gilang, Gezya, dan Denny tidak muncul di grup, aku hanya berrunding dengan Putri dan Rara. Aku menanyai mereka apakah mereka mau ikut open trip di bulan ini atau tetap sesuai jadwal travel awal rencana Gilang? Llau mereka berdua berkata terserah yang penting jadi berangkat. Lalu akhirnya aku memutuskan untuk bilang bahwa aku akan ikut yang open trip saja.
Alasan utamaku masih karena memang dilihat dari harga. Aku ingin liburan tapi aku juga ingin berhenti. Ada yang harus ku beli tahun ini dan itu tidak bisa ditunda lagi apa lagi aku tak bisa minta ke kakek atau ayah dan mama.
Lalu dengan sangat tiba-tiba, Denny membalas pesanku di grup dengan kalimat yang tidak enak dibaca. Dia marah-marah karena aku menghancurkan ekspetasi liburan kami. Aku awalnya sudah sakit hati karena tiba-tiba dimarahi begitu namun aku mencoba menjelaskan baik-baik bahwa ada kebutuhan yang harus ku cukupi maka dari itu alu harus membagi uang, Tapi Denny tidak mau tahu. Ia sudah tidak membalas pesan tapi aku tahu ia marah.
Beberapa menit kemudian, Putri mengirimiku pesan berisi screen shot Denny yang bilang ke Putri bahwa aku selalu begini. Bertindak semauku, egois, memiikirkan diri sendiri, suka merusak rencana, dan memiliki gengsi yang tinggi membuat orang lain rugi.
Demi Tuhan aku terkejut membaca pesan Denny seperti itu. yang pertama, aku terkejut karena—mengapa Denny harus ngomong ke orang lain? Mengapa enggak ke aku langsung? Yang kedua, aku tak percaya bahwa Denny suka membicarakanku di belakang. Aku tak suka ada orang yang munafik seperti ini. Seumur hidupku, aku berusaha untuk selalu jujur dan tidak bermuka dua. Apa bila aku suka, aku bilang suka. Jika tidak suka aku juga akan berkata demikian. Mengetahui Denny—sahabat yang selama ini kemana-mana bersamaku ternyata munafik, tentu emmbuatku marah dan kecewa.
Tak berhenti disitu, aku juga masih syok dengan segala pendapatnya mengenai aku. Aku tak merasakan merugikan orang lain— demi Tuhan aku tak tahu. Jika dia ingin emnyalahkanku akibat aku yang tiba-tiba memilih ikut open trip saja ektimbang travel, aku masih bisa terima. Tapi ia menuduhku bahwa aku selalu memprioritaskan gengsi. Kapan?! Aku sangat marah pada Denny. Aku marah karena ia menuduhku begitu padahal kapan aku merugikannya? Tak pernah sama sekali. Saking sakit hatinya, aku bahkan tak bisa menahan diri untuk tak berkaca-kaca walau aku tidak sampai benar menangis.
Jika yang bilang bahwa aku suak merepotkan itu Gilang, tentu aku tak masalah karena benar begitu nyatanya. Aku selalu merepotkan Gilang. Itu fakta. Tapi Denny?! Ya Tuhan...
Aku langsung meniutup ponselku. Tak ingin semakin sakit hati jika kembali teringat dnegan pesan Denny. Aku mencoba menahan diri meredam emosi, tak mau ikut marah walaupun aku ingin membela diri. Tapi sampai berpuluh-puluh menit ekmudian, aku masih tak berhasil menenangkan diri sampai tiba-tiba ponselku berdering.
Aku bangkit dari posisi tiduranku dan melihat siapa yang menelepon. Ternyata Gilang. Awalnya aku menebak bahwa mungkin Gilang juga akan marah seperti Denny dan Gezya, karena bagaimanapun aku juga salah karena memilih ikut open trip ketimbang travel seperti rencana awal.
Taoi yang ada, Gilang meneleponku dengan suara tenang. Tak ada emosi disana.
“Kenapa grup tiba-tiba rame?” Tanyanya entah pura-pura tidak tahu atau emmang ia belum membaca keseluruhan pesan kami.
“Belum baca grup?”
“Udah. Tapi bingung. Kenapa Denny tiba-tiba semarah itu, coba? Demi Tuhan elo, kan, cuman bilang mau ikut open trip, kenapa dia sampai ngejelek-jelekin lo?”
“Gue belum buka grup lagi. Dia ngejelek-jelekin gue di grup?”
“Hm.” Jawabnya singkat.
Ya Tuhan, ada apa sebenarnya dengan Denny? Aku tahu laki-laki memang suka cari masalah dengan semua orang, tapi kau tak tahu abhwa hanya karena masalah sepele seperti ini saja ia sampai menjelek-jelekkanku ke semua temanku?
Kemudian ku dengar Gilang berdecak. “Sumpah gue gak ngerti kenapa Denny gak jelas banget begitu.”
Aku menghela nafas. Antara lelah mrmikirkan Denny juga bersyukur karena Gilang ternyata tidak memarahiku. “Lo bener gak marah sama gue, Lang?”
“Ngapain? Gak jelas bnaget mau marahin lo.”
Inilah yang membuatku betah berteman dengan Gilang. Dia selalu begini, selalu bersikap dewasa, tidak memandang sesuatu hanya dari satu arah dan terburu-buru mengambil keputusan.
“Lo... bener gak marah sama gue? Gue lebih milih open trip—“
“Enggak, Ann, astaga.”
Aku merengek kecil karena merasa terharu. “Huhu, makasih, yaaa.”
Dia tertawa. “Gila, ya, lo?”
“Sumpah, Lang, gue tadi takut banget. Denny tiba-tiba marah, Gezya ikut-ikutan, Putri sama Rara mungkin takut kalau mau berpihak ke salah satu jadi mereka diem aja.”
“Ngaapain takut, sih? Orang elo nggak salah. Stop, deh. Suka banget over thinking. Lagian elo kayak gak apal sama kelakuan mereka berdua aja. Mereka kan emang suka gitu.”
“iya, iya. Makasih, pokoknya....”
“Iya....”
**
“Enaknya tahun baru nanti kemana, ya?”
Aku, bapak, dan Iqbal menoleh pada Mbak Nia yang tiba-tiba berceletuk di tengah-tengah heningnya suasana di meja makan. Biasanya, kami akan menghabiskan tahun baru di rumah bude dengan bakar-bakar jagung atau di rumah saja dan membuat camilan, kami tak pernah pergi kemana-mana kecuali aku yang biasanya keluar dengan teman untuk menikmati kembang api atau pergi ke pengajian.
Tapi kali ini sepertinya Mbak Nia punya rencana lain untuk tahun ini yang sudah tehitung tinggal empat belas hari lagi, kurang lebih.
“Ya, dirumah. Mau kemana, emang?” Jawab bapak balik bertanya.
“Bosen, dong, Pak, di rumah mulu.”
“Halah.” Bapak berdecak. “Bosen, ya, nonton tipi.”
Aku tertawa saja. Sebenarnya sudah menebak bahwa bapak tak akan mau diajak kemana-mana sat tahun baru. Bapak itu memang manusia yang paling betah di rumah. Entah memang betah atau ia yang tak suka pergi keluar. Bahkan di ajak liburan pun tak pernah mau kalau aku belum memaksa dua hari dua malam.
Iqbal mendengus. “Bapak, nih, gak seru.”
“Iya, Bapak emang gak seru.” Bales Bapak. “Yang seru, ya, itu, loh, sinetron Samudra Cinta.” Jawabnya membuatku tergelak hebat.
Selain tidak suka diajak keluar rumah, ciri khas bapak yang lainnya adalah suka nonton sinetron. Aku ingat sekali dari jaman aku masih TK, Bapak sudah doyan banget nonton sintron di salah stau stasiun televisi Indonesia. Apapun sinetronnya, pokoknya di stasiun yang itu-itu saja sampai sekarang usiaku sudah kepala dua ini.
“Kalau Mbak Anna mau tahun baruan dimana?”tanya Iqbal emmbuatku emnoleh usai meneguk air putih.
“Eum...” Aku pura-pura berpikir. “Gak kemnaa-mana juga. Males. Mau dirumah aja.”
“Idih, bosen bangettttt!” Jawabnya alay.
Aku memang tak pernah punya rencana apapun tentang dua minggu lagi yang harus ku habiskan untuk apa. Tahun baru pasti akan membuat jalanan sangat macet dan ramai, sedangkan aku juga sedang malas keluar rumah, sedang ingin bermalas-malasan di rumah saja. Ku pikir ini juga tak ada salahnya karena menemani bapak tahun baruan di rumah jelas akan lebih menyenangkan dan bermanfaat dari pada keluar bersama teman-teman. Toh, teman-temanku pun, siapapun, juga tidak ada— atau belum ada— yang mengajakku keluar untuk merayakan pergantian tahun.
Makan malam kali ini ku habiskan dengan membicarakan tahun baru dan resolusi 2021 dengan tante dan bapak sebelum pukul sembilan akhirnya kami berempat sama-sama saling berpamitan untuk kembali ke kamar dan mengucapkan selamat malam. Ternyata, ketika aku kembali ke kamar dan Jeff— seperti rutinitas kami sebelumnya— yakni telepon sampai beberapa menit atau jam kemudian— laki-laki itu juga membicarakan tahun baru.
Aku mengangkatnya pada dering pertama.
“Assalamualaiakum.” Sapa Jeff membuatku langsung tersenyum entah untuk apa. Dasar bucin!
“Waalaikumsalam.”
“Bapak udah masuk kamar?”
Jeff memang sudah pergi aku beri tahu tentang jadwal kegiatan di rumah, tak terkecuali ketika malam dan bagian dimana aku dan Mbak Nia sellau meemani bapak sampai sinteronnya bersambung itu juga tak ku tutupi. Aku menceritakan pada Jeff bahwa Mbak Nia selalu mnegajarkan kami untuk meluangkan wkatu untuk berkumpul bersamaa keluarga. Kala itu ketika kami melakukan panggilan video, aku ingat Jeffv merespon ceritaku dengan tersenyum lembut sambil bilang bahwa dia setuju dengan peraturan Mbak Nia.
“Udah, kok. Barusan kelar sinetronnya.”
Jeff tertawa. “Tiap hari nonton sinetron, ya, kamu?”
Aku mengedikkan bahu padahal sudah tahu bahwa Jeff tak akan bisa melihat. Ini, kan, telepon biasa. “Hehe, mau gimana lagi.”
“Eh, Ann.”
“Ya?”
“Kamu tahun lalu tahun baruan kemana?”
“Ih, keren.” Jawabku malah tidak nyambung.
“Heh? Apanya?”
Aku tertawa mendengar dia kebingungan. “Aku sama Bapak juga barusan bahas maukemana kita tahun baruan nanti.”
Jeff ber-oh ria. “Jadi, kemana?”
“Tahun baru kemarin ikut pengajian di alun-alun kota.”
“Seriius?”
Aku mengernyit karena aku menangkat nada suara tak percaya dari Jeff. “Iya. Kenapa, sih, kayak gak percaya gitu?”
“Bukan gak percaya, kaget aja.” Jawabnya. “Kaget sama kagum akrena masih bisa nemu cewek yang ikut pengajian pas tahun baru dan gak milih keluar sama pacar atau temen.”
“Aku dua tahun yang lalu main sama temen, kok. Y, tergantung lagi kepingin kemana aja, sih.” Jawabku jujur.
“Yang baik-baik dipertahanin.”
“Iya, Jeff. Insya Allah.”
“Terus kalau tahun ini mau kemana?”
“Mau dirumah aja sama Bapak. Kamu mau kemana?” jawabku denga balik menanyainya.
“Eungg— belum ngerti juga, sih, mau kemana. Tahun kemarin ke Bandung sama Ayah Ibu. Mungkin tahun ini aku keluar sama anak-anak.”
“Anak-anak kamu?” ujarku bercanda.
Jeff tertawa dan ternyata sialnya Jeff malah melayani leluconku. “Anak-anak kita.”
Aku diam tak menanggpai. Lebih tepatnya tak tahu harus menyanggah bagiamana karena terlanjur malu. Jadi aku hanya menggigit bibibir bawahku.
“Jangan digigit bibirnya.”
“Eh?”
Aku kaget, dong. Kok Jeff bisa tahu? Aku menjauhkan ponsel dari telinga, takut kalau ternyata itu panggilan video tapi ternyata tidak. Ini benar hanya panggialn suara.
“Kamu, kan, biasanya gitu kalau lagi salah tingkah.” Katanya sambil terkekeh seakan menjawab pertanyaan di kepalaku. “Bener, kan?”
“Enggak. Sok tahu.” Sanggahku. “Jadi tahun ini mau pergi sama temen-temen?” tanyaku mengalihkan pembicaarn.
“Mungkin.”
“Mau kemana emangnya?”
“Enggak tahu, Ann. Namanya aja masih mungkin. Belum ada omongan apapun sampai sekarang.”
Kemudian percakapan terus berjalan sampai pukul sepuluh. Tidak ada satu jam kami menelpon tapi Jeff memintaku untuk mematikan sambungan. Sepertinya ini karena ia mendengarku menguap.
“Udah ngantuk, gitu. Tidur, gih.”
“Beneran gak papa? Tadi bilangnya kamu mau begadang?”
“He-em.” Jawabnya. “Emang hari ini aku begadang. Kenapa?”
“Eung—“ Aku bingung gimana cara ngomongnya. “Emang gak butuh ditemenin?”
Disana Jeff tertawa renyah. Untung saja ini bukan panggilan video, kalau aku bisa melihat wajahnya sedang tertawa, pasti aku semakin jatuh cinta karena ia terlihat semakin tampan dua kali lipat.
“Enggaklah, Ann. Ngapain coba, aku minta temenin telepon? Lagian, ya kali aku maksa kamu buat begadang padahal udah sepuluh kali nguap?”
Aku meringis. “Hehe.”
“Nanti aja kalau udah serumah, temenin aku begadang.”
“Halah!”
“Hahahahahahahaha.”
**
Author POV
Anna tak tahu saja, dibalik Jeff yang mengatakan bahwa ia tak tahu harus kemana saat tahun baru, sebenarnya Jeff bahkan sudha membicarakan ini dengan teman-temannya kemarin setelah Jeff bilang rindu ke Anna.
Untuk yang pertama kalinya Jeff berani mengungkapkan rindunya, apa lagi dibalas dengan rindu yang sama oleh Anna, jujur saja mampu membuat Jeff merasakan senang yang tak biasa. Bukannya usai bilang rindu, rindunya bisa berkurang, yang ada malah semakin menjadi-jadi.
Jeff tak bisa berhenti bersenyum usai mendnegar Anna yang biilang bahwa ia juga merindukan laki-laki itu. Akibat girang yang berlebihan itulah, ketika Jeff setelahnya berkumpul dengan Abram, Akbar, dan Bisma, laki-laki jangkung itu dengan semangat menceritakan rencananya.
“Gue akhir Desember mau ke Malang.”
Yang mana kalimat sederhana tersebut bisa membuat Bisma keselek kacang dan Akbar menyemburkan yakultnya. Abram, sih, cuman noleh doang.
“Heh, anak ayam.” Panggil Akbar sambil mendekat pada Jeff. “Lo dateng kesini paling terakhir jangan tiba-tiba bikin kaget.”
Jeff mengangkat satu alisnya bingung. “Ngapain kaget?”
“Gue sama yang lain baru DP villa di Bandung biar kita bisa tahun baruan bareng, Toloool.”
“Lah, serius?”
“Bercanda.”
“Oooh.”
“Serius, kambing!”
Jeff mengurungkan niatnya untuk mengambil minuman. “Lahgian elo ngapain tiba-tiba DP villa padahal gue belum tahu rencana kalian?”
“Ya kita kirain elo tahun ini mau sama kita tahun baruannya. Kemari kan dah sama bokap nyokap lo.”
Jeff meringis. Sedikit merasa bersalah. “Terus gimana?” tanyanya sembari menatap satu-persatu temannya.
Bisma menelan hasil kunyahan kacangnya sebelum menjawab. “Ya udah, Bar. Kita ke Malang aja rame-rame.”
“Duit gue ilang, dong?” balas Akbar tak terima.
“Lo gak mau nyamperin Sevya di Malang emangnya?” Balas Bisma sambil menyeringai. Kemudian Akbar ikut menyeringai. Benar juga, mungkin begitu batinnya.
"Iya, ya, g****k, bat, dah." Balas Akbar mrutuki diri sendiri,
Abram yang dari tadi diam, sekarang jadi menghadapkan tubuh ke teman-temannya. Dahinya berkerut sedangkan tatapannnya tajam. "Lo, lo, lo." Tudingnya ke Akbar, Jeff, dan Bisma. "Kalian mau ngajakin cewek masing-masing tahun baruan di Malang. Lh gue? Cewek gue di Tangerang."
Kalimat tersebut sukses membuat ketiga temannya tergelak tertawa. Akbar terkekeh geli pada satu teman kulkasnya itu. "Ya, ajakin lah ke Malang juga. Emang lo mau jadi nyamuk kita-kita?"
Lain lagi dengan Bisma yang malah tertawanya jenis ejekan. "Eh, eh. Bentar, deh. Emang dia cewek lO? Kan, cuma temen." Sindir Bisma membuat Abram mengumpat dan melempari bantal sofa ke kepala laki-laki itu.
"Sialan."
Jeff sudah tersenyum sumringah sendirian. Kalau gini, kan, gampang. Batin Jeff. Tahun baru kali ini bakal kayak sekali mendayuh dua tiga pulau terlampaui. Menghabiskan malam pergantian tahun baru dnegan teman-teman sehidup sematinya dan perempuan yang disayanginya tentu adalah kombinasi terbaik. Mungkin beberapa tahun lagi bisa ditambah keluarganya biar makin lengkap.
"Jadi gimana, nih? Sewa villa di Malang?" Tanya Bisma akhirnya.
"Jangan villa, lah. Rawan dikira aneh-aneh apa lagi bawa cewek."
"Lah, kan, kita sama cewek masing-masing gak nginep bareng-bareng?" Tanya Jeff bingung."Gue bakalan nganterin Anna balik ke rumahnya kalau udah selesai acara. Lo juga, gitu, kan, Bis?"
Bisma mengangguk. "Iyalah. Mana berani gue ngajakin Lovin nginep sekalipun gak sekamar tapi tetep aja seatap. Bisa gak dapet restu dari calon mertua gue."
"Gue sewa hotel aja sama Sevya." Sela Akbar dengan snatai tapi respon dari teman-temannya auto tidak santai. Semuanya mendelik. Kecuali Abram, tentu saja.
"Lo gila?!" Semprot Bimsa.
Tapi Jeff yang langsung paham akhirnya menepuk-nepuk pundak Bimsa. "Jangan lupa. Akbar, kan, emang young wild and free person. Mana bisa sekali ketemu sama Sevya cuman pegangan tangan? Gak bakal puas dia."
"Goblok."
**