pacar yang baik

3174 Kata
“Cie sekarang jarang di rumah!” Anan menoleh ke belakang saat ia mendengar suara bernada kledekan yang ditujukan ke arahnya. Iqbal, sepupu ciliknya sedang menatapnya jahil. Aku berdecak. “Jarang di rumah apanya, sih, orang kakak jarang keluar?” “Apanya yang jarang keluar? Dua hari Iqbal di rumah sendirian, tahu, semuanya kerja tapi kakak malah asik pacaran.” “Ih, siapa bilang?!” “Emangnya aku gak tahu? Namanya Kak Jeff, kan? Pacar kakak yang jemput kakak buat tahun baruan, kan?” “Heh, anak kecil gk boleh tahu ngomongin pacar-pacaran!” ujar Anna sambil menggeleng-gelengkan kepala tak percaya.  Tapi sepertinya bocah lanang di depan Anna itu juga tak mau kalah debat karena pada akhirnya satu rahasia pun terbongkar dari mulut Iqbal sendiri. “Aku udah punya pacar, tahu!” “HAH?!” Anna melotot sempurna pada Iqbal. “Apa kamu bilang?! Punya pacar?!” “Eh, anu— eung....” Anna masih terkejut dengan fakta baru yang ia dengar. memang, sih, melihat wajah keponakannya ini, Anna bisa menebak bahwa Iqbal adalah salah satu calon biit unggul. Walapun memiliki kulit cokelat, tapi Iqbal ini tampan dan keren sejak dini. Bahkan Anna saja hampir ditandingi tingginya oleh keponakannnya sendiri. Tapi, hei. Iqbal masih terlalu kecil untuk punya pacar. Bocah itu memang sudah SMP, sudah kelas 7, tapi itu, kan, baru lulus SD, astaga! “Aku bilangin mama kamu, ya, kalau kamu udah berani pacar—“ “Eh, eh, Kak Ann, ya Allah aku tadi bercanda! Mana mungkin anak sekecil ku punya pacar?!” “Alah, bohong. Pokoknya nanti kalau mama kamu pulang, kakak mau aduin kamu biar ponsel kamu dirampas!” “KAK ANNNNNNNN!” Tapi Anna sudah emnurup pintu tepat di depan wajah Iqbal. Membuat ponakan tampan Anna itu jadi dag dig dug sendiri takut kakaknya benar-benar melaporkan Iqbal pada sang mama. Ugh, apa semua tante di dunia memang semenyebalkan Kak Ann? Batin Iqbal kesal. “AWAS AJA, YA, KAK!” ** Tap yang dibilang Iqbal memang tak sepenuhnya salah. Sejak tahun baru, Anna memang lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Entah memang keluar dengan Jeff, atau ke rumah Putri, atau ke Mall sendirian. Anna sebenarnya sadar, sih, tapi ia tak merasa bersalah karena ia emmang sudah pamit ke Bapak dan Mbak Nia dengan jujur dan benar. Walaupun kadang ia sedikit merasa bersalah karena Iqbal jadi sendirian di rumah. Seperti sore ini. Baru dua hari yang lalu alias kemarin lusa Anna dan Jeff bertemu walaupun mereka hanya sekedar ke kafe menikmati dua gelas kopi s**u dan kentang goreng lalu pulang lagi, sekarang Jeff sudah berada di depan pagar rumah Anna, menjemput perempuan itu dengan alasan meminta Anna menemaninya mencari kado untuk Sab, alias adik kandungnya. “Masuk, Jeff.” ujar Mbak Nia ramah ketika ia usai membukakan pintu pada tamu yang mengetuk. Jeff mengangguk sopan sembari mengikuti Mbak Nia yang duduk di sofa ruang tamu. “Annanya masih di atas, gak tahu ngapain.” Jeff mengangguk lagi. “Iya, Te. Katanya lagi ganti baju.” “Oalah, iya. Tungguin disini sebentar, deh. tante bikinin teh.” “Eh, Te, gak usah—“ “Udah, nggak papa. Kan, sambil nungguin Anna. Anna kalau dandan lama.” Sela Mbak Nia kemudian beranjak dar sofa. “Bal, nih temenin Kak Jeff di ruang tamu!” teriak Mbak Nia memanggil anaknya yang sibuk ebrmain game online. Iqbal terlihat memberengut karena mamanya yang mengintrupsi konsentrasinya tapi tak ayal bocah itu menurut. Dari runag tengah, Iqbal maju malu-malu menghampiri Jeff allu menyalimi tangan laki-laki itu. “Hai, namanya siapa?” tanya Jeff seakan-akan Iqbal ini masih bocah tujuh atau delapan tahun. “Iqbal. Hehe.” Melihat bocah itu meringis lucu, Jeff ikut terkeeh. “Aku Jeff.” “Udah kenal.” “Eh? Kenal dari mana?” Jeff kira Anna pernah menceritakannya pada adik laki-lakinya ini tapi ternyata pendapatnya salah saat Iqbal menjawab. “Kan, kakak kesini waktu tahun baru.” “Oh, iya, ya? Tapi aku kok gak pernah ketemu kamu setiap kesini?” Iqbal mengangguk. “Aku lebih sering di kamar. Dan kakak, kan, baru dua kali masuk rumah sini.” “Kamu kelas berapa?” “Tujuh SMP.” Kemudian keduanya banyak mengobrol. Tepatnya Jeff yang bagian menginterogasi dan Iqbal yang bagian jawab. Mulai dari hal-hal kecil seperti Iqbal sekolah di mana, sampai menyerempet pertanyaan mengenai Anna yang hobinya ngapain, makan apa, kalau di rumah gimana dan lain-lain. “Kak Anna belakangan main laptop mulu. Dari jam 8 pagi sampai 8 malem.” “Eh, serius, Bal?” Iqbal mengangguk cepat. “Beneran. Dia, tuh, katanya lagi ngejar naskah buat dikumpulin gitu. Gak tahu juga sih dikumpulin kemana. Tapi pokoknya kalau udah ngumpulin bisa dapet uang.” Jeff sempat diam sebentar emmikirkan kegiatan apa yang sebenarnya dilakukan Anna belakangan ini sampai dua belas jam menghadap laptop. “Oh, nulis novel?” “Mungkin. Coba Kak Jeff tanya langsung ke Kak Anna. Soalnya kalau aku yang tanya pasti dimarahin.” Jeff tertawa kecil. “Kenapa dimarahin?” “Gak tahu. Pokoknya dia marah sambil bilang kalau anak kecil gak boleh baca.” Wah, nulis apaan, nih, pacar gue sampai adiknya liat jaa gak boleh. Pikir Jeff ngaco.  Kemudia laki-laki itu kembali menghadap Iqbal. “Kalau Iqbal, sukanya main apa? Sepak bola?” Iqbal menggeleng. “Game online.” Hfff, anak jaman sekarang banget kalau itu, mah. “Mobile Legend? Free Fire?” “Free Fire.” “Wah, boleh, tuh, kita kapan-kapan main bareng—“ “Dia aja dimarahin sama mamanya kalau berani download Free Fire lagi.” Tiba-tiba Anna sudah muncul di ruang tamu menginterupsi percakapan Iqbal dan Jeff. Iqbal mendengus mendengar kakaknya yang bilang begitu. Sedangkan Jeff langsung menoleh lagi pada Iqbal usia memusatkan perhatian pada Anna Jovanka yang selalu terlihat cantik dan manis dengan pakaian apapun. “Free Fire nya udah kamu hapus?” Iqbal mengangguk lesu. “Gara-gara Kak Anna, tuh!” “Hah, kenapa jadi nyalahin kakak?!” “Orang Kak Anna yang ngaduin aku ke Mama!” “Ih,kalau kamu gak lupa ngerjain tugas gara-gara asik main game online juga gak bakal kakak aduin kali.” Balas Anna tak mau kalah. Melihat sebentar lagi Iqbal masih akan mendebat kalimat Anna, Jeff langsung menengahi ekduanya. “Udah, udah. Gak boleh berantem.” Lalu Jeff berlanjut menasihati Iqbal untuk tak boleh lupa waktu walaupun ia suka bermain game online. Anna hanya bagian yang mengompori Iqbal seperti bilang, “tuh dengerin! tuh dengerin!” begitu-begitu saja membuat Iqbal emmanggil ammanya untuk mengadu. “Ma, Kak Anna, nih, bikin Iqbal kesel terus!” “Ann!’ “Aku gak ngapa-ngapain, Mbak!” Balas Anna teriak karena Mbak Nia sepertinya masih perjalanan ke ruang tamu. “Hih, cengeng, gitu doang nangis.” Ejeknya pada Iqbal yang matanya sudah memerah dan bibir mengerecutkan bibirnya siap menangis kencang. “Ann!” Jeff jadi ikut memarahi Anna. “Kamu, nih!” Anna langsung diam. Ia ikut mengerucutkan bibir bawahnya dan melotot pada Iqbal yang dibalas bocah ellki itu dengan ejekan karena Jeff membelanya. Kemudian Mbak Nia muncul membuat jeff langsung berdiri. “Loh, udah mau berangkat?” tanya Mbak Nia sambil disalimi oleh Jeff. “Iya, Te. Biar nanti Anna pulangnya enggak malem-malem.” “Oh, gitu. Iya, sih, jangan pulang malem-malem. Soalnya di daerha sini, tuh, emang gelap banget kalau malam. Takut ada bekal.” “Iya, Te.” “Udah, udah. Aku mau berangkat dulu, Mbak. Bye, bye.” “Wa alaikum salam!” Anna langsung nyengir. “Iya, lupa. Assalamualaikum!” “Wa alaikum salam.” Jawab Mbak Nia sekali lagi kali ini dibarengi dengan suara cempreng Iqbal. “Jeff, sering-sering kesini aja biar iqbal ada temen cowoknya.” Jeff meringis namun tetap mengangguk. “Siap, Te. Klau aku lagi di Malang pasti nyempetin ke rumah Tante.” ** “Sab ultahnya barengan pas kamu nyampe di Tangerang?” tanya Anna setelah mereka berdua sampai di salah satu Mall di Malang. Dilihatnya Jeff mengangguk. “Kok carinya sekarang? Bukannya kamu baru balik ke Tangerang masih tiga hari lagi?” “Biar ada alesan keetmu kamu aja, sih.” Anna mencibir. Matanya menatap satu persatu barang-barang lucu di rak-rak lmari salah satu stan di dalam Mall. Jeff sudah memberi tahu Anna bahwa Sab, adik Jeff itu walaupun tomboy, tapi suka memelihara barang-barang lucu bahkan warna kesukaannya saja merah muda. Hingga kemudian Anna terpaku pada salah satu lampu bohlam besra berwarna putih dan merah muda yang didalamnya seperti ada kelereng bertulikan 1 D alias One Direction. Anna langsung menepuk-nepuk pundak Jeff. “jeff, liat, deh. Ini, yang ini.” tunjuk gadis itu dan menyeret tangan Jeff untuk mengikutinya dari belakang. “Ini aja. Sab pasti suka.” “Ini lampu doang, loh, yang?” “Ih, bukan. Ini pasti ada tombolnya buat ngehidupin lampu terus keluar musiknya. Aku pernah liat di IG-IG. Kata kamu Sab juga suka One Direction, akn, ini didalemnya, liat tuh, ada simbolnya One Direction.” Jeff menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Bingung sendri. Karena yang ada di penglihatan Jeff benda itu sedar lampu bulat yang ukurannya sama seperti kepala bayi dan berwarna putih. Itu saja. ”Ya udah, aku nurut aja. Ke kasir, deh, sekarang.” “Kamu cuman mau beliin ini buat Sab?” Jeff mengangguk. “Gitu doang setengah juta sendiri, yang. Aku ultah aja gak pernah dikasih kado sama Sab.” Anna jadi terkekeh lalu mencubit pipi kiri Jeff dan meninggalkannya ke kasir. ** Mereka berdua duduk di salah satu kursi food court mall. Anna hanya memesan semangkuk rice bowl dan burger sedangkan Jeff memesan dua piring nasi goreng untuk dirinya sendirii dengan alasan, “Satu piring kalau belinya di stan yang itu, tuh, dapetnya dikit. Gak bikin kenyang. Beneran, deh.” Padahal, mah, Jeff emang lagi laper aja. “Kata Iqbal tadi pas aku tanyain, kamu nulis naskah, ya?” Anna yang sedang bermain ponsel— bukan bermain, sih, hanya mengecek pesan masuk saja— jadi mengangkat kepala lalu mengangguk. “Iya.” “Nulis di aplikasi? Atau cetak novel?” “Aplikasi.” “w*****d?” Anna menggeleng. Sebenarnya, Anna paling tidak suka jika da yang menanyainya tentang job yang sedang ia lakukan. Ia tak suka ada yang tanya-tanya tentang kepenulisannya. Bukan apa, tapi Anna malu. Ia sangat sering memberi adegan berciuman panas di karya-karyanya padahal ia belum pernah berciuman. Apa jadinya kalau Jeff juga tahu dan membaca karyanya? Mungkin Anna bisa mati berdiri saking malunya. Ini alasan kenapa tak ada satupun orang yang tahu bahwa Anna sudah berhasil menerbitkan beberapa naskah dari teen fiction sampai adult. Karena ia tak siap ditertawakan atau malah bisa-bisa ia digunjing! “Terus di plat form mana?” “Ada, deh.” Anna benar-benar tak mau membagikan ini kpada siapapun sekalipun pacarnya sendiri. “Nulis apaan, sih, kayaknya gak mau aku tahu gitu? Iqbal tadi juga bilang kamu sampai marahin dia kalau dia liat tulisan kamu di laptop.” “Ih, Iqbal ngomong apa aja, sih, sama kamu?” “Ya ngomong itu doang.” Jeff memperbaiki posisi duduknya. Lalu menompang dagu di tangan. “Coba kasih tahu aku, kamu nulis apa?” “Gak mau.” “Dih, gitu, rahasia-rahasiaan? Aku juga pingin baca karya tulisan pacar aku.” “Bodo amat. Pokoknya gak mau.” “Janji, deh, gak bakal aku ketawain.” Anna mendengus. “Ya, jelas, gak bakal ketawa. Orang aku gak nulis genre humor.” “Iya, terus apa? Adult, nih, jangan-jangan?” tebak Jeff yang membuat Anna langsung mengalihkan pandangan ke salah satu stan di samping meja mereka. Tak mau menatap Jeff sama sekali. “Yang, pelit banget gak mau bagi-bagi.” “Malu, tahu, Jeff.” Jeff langsung melirihkan suaranya. “Jadi bener kamu nulis adult story?!” “Enggak! Bukan adult story, sih. Eh, tapi ya, aku emang pernah nulis beberapa bab adegan mature, tapi genrenya , ya, biasa romance, doang?” Jeff manggut-manggut. “Terus kenapa gak mau cerita ke aku?” “Soalnya banyak adegan ciumannya.” jawab Anna akhirnya jujur. Jeff menahan diri untuk tak menyunggingkan senyum miring di wajahnya. “Kamu udah janji gak bakal ketawa!” “Iyaaaaa. Mana ada aku ketawa? Kan, kamu gak nulis genre humor.” jawabnya membalik omongan Anna. “By the way, itu alasannya eknapa kamu pinter ciuman padahal kamu bilang kamu baru pertama kali ciuman sama aku?” “Jeff, suaranya pelanin.” rengek Anna karena merasa dua orang di meja sebelah sepertinya bisa mendengar percakapan mereka. “Jadi, iya?” desak Jeff. Anna menggeleng, “enggak. Emangnya aku pinter begituan, ya?” tanya Anna karena ia benar-benar tak tahu seberapa standard Anna dalam berciuman. Jeff mengangguk tanpa ragu. “Jadi kamu pinter dari mana kalau bukan dari tulisan kamu?” “Dari baca novel.” Lalu dua pelayan laki-laki menghampiri meja mereka untuk mengantarkan makanan membuat Anna tak jadi melanjutkan penjelasannya. Anna tersenyum manis sambil mengucap terimakasih. Jeff langsung meegangi pipi Anna agar menghadapnya lagi. Ditatapnya perempuan cantik itu dengan sorot serus. “Jangan senyum manis-manis kalau ke cowok lain.” Anna menepis tangan Jeff di pipinya. “Orang aku senyum biasa aja. Jadi mau diceritain, gak?” Jeff mengangguk sambil menyeruput minumannya dari sedotan. “Aku hobi banget baca novel genre romance, gak suka selain itu. Kita gomongin novel, ya, bukan film. Kalau film semua genre aku suka pokoknya bukan thriller.” jelasnya sebagai pembuka. “Awal baca novel dari SMP kelas 7 udah sering bolak-balik ke perpustakaan buat pinjem novel, dibaca di rumah. Terus kelas 9 pas mau Ujian Nasional, aku nemu w*****d. Jadi akuudah gak pernah pinjem novel ke perpus lagi. Aku kecanduan main hape buat baca novel genre teen fiction. Saking seringnya aku baca novel, aku sampai lupa belajar buat Ujian Nasional, terus aku smapai dimarahin bude—“ “Ye, gitu kamu marahin Iqbal gara-gara lupa belajar. Padahal kamu juga.” Anna memberikan cengiran saja sebelum melanjutkan cerita. “Terus aku tekun banget baca novel sampai-sampai SMA aja aku duduk di belakang cuman biar bisa baca wattpad.” “Secandu itu?” “Iya. Kamu tahu film Dear Nathan yang kemarin sempet booming?” Jeff menggeleng. “Aku gak update film Indo.” “Ya, pokoknya film itu, tuh, diangkat dari w*****d. Dan sebelum jadi film, aku emang tergila-gila sama novelnya. Bener-bener kerasa SMA vibes-nya. Itu juga novel pertama yang aku bela-belain hutang temen buat beli bukunya. Gila, gak?” Jeff sambil menyuapkan satu sendok ke mulutnya sendiri juga mengangguk sependapat dengan Anna. Sampai hutang segala. “Terus gak tahu gara-gara apa, aku jadi suka genre dewasa pas kelas 11, Jeff. Ketagihan baca uang adegan ciuman, gitu, sih. Jadi aku selalu cari novel yang hash tag nya young adult. Kalau adult, kan, ada adegan lebihnya, jadi aku cari yang young adult—“ “Adegan lebih, tuh, yang kayak apa?” tanya Jeff dengan sorot mata geli, sengaja menggoda Anna. Anna hanya menatap Jeff malas sebelum kembali menceritakan kisahnya. “Terus pas kuliah semester satu, gak tahu kenapa aku tiba-tiba bikin cerita. Dengan skill ngedit cover yang seadanya, aku tiba-tiba nekat bikin cerita judulnya Love Scenario. Itu aja aku ambil kalimatnya dari judul lagu soalnya aku lagi seneng sama boy band-nya.” “One Direction?” Anna menggeleng. “Ikon.” “Gak pernah denger.” ujar Jeff sambil mengernyitkan alis. “Dan kalau kamu mau tahu, isinya tulisanku cuman adegan cowok sama cewek yang mesra-mesaraan, doang. Gak ada alur yang jelas. Aku nulis banyak banget adegan ciuman—“ “Saking kecanduan baca adegan kissing?” tebak Jeff membuat Anna langsung menjentikkan jari membenarkan. “Iya! tapi yang bikin aku syok, Jeff, tiba-tiba banget Love Scenario jadi peringkat satu di beberapa hash tag selama sebulan penuh!” “Serius?!” “He-em. Makanya aku juga kaget. Kok bisa, sih, cerita macem gini banyak yang suka sampai jadi peringkat satu. Terus dari sana banyak yang anwarin aku buat ngebeli naskahku gitu. Nawarin kontrak dan lain-lain. Terus dari sana, aku jadi mikir, apa orang-orang, nih, emang demennya baca cerita yang banyak adegan kissingnya, ya? Aku mikir gitu.” Jeff maggut-manggut. “Terus karena aku ngerasa berhasil di karya pertama, aku jadi ketagihan nulis dan ketagihan dapet readers sampai jutaan begitu. Jadi aku mulai menggiati nulis dan beberapa kali aku isi sama adegan ciuman karena aku pikir, ya emang gitu cara buat narik readers. Harus ada pemanisnya.” “Berarti kamu masih baru, dong, ya, nulis-nulis gini? Masih setahunan?” “He-em.” jawab Anna sambil menggigit burgernya yang sudah dingin karena ditinggal berbicara lama dengan Jeff. “Tapi kamu sampai sekarang masih suka baca novel atau fokus nulis doang?” “Masih suka dua-duanya. I mean, masih suka baca karena itu emang hobi dari jaman SMP dan susah ditinggalin dan masih suka nulis walaupun kadang ogah-ogahan dan gak bsia mikir tapi bisa ngehasilin uang.” Jeff manggut-manggut mengerti. Laki-laki itu lalu menggeser dua piringnya yang sudah ia tumpuk jadi satu karena sudah ahbis dan emnggantikan dengan rice bowl milik Anna yang amsih utuh. “Sini aku suapin. Kamu dari tadi asik ngobrol sampai lupa makan.” Anna langsung menggeleng cepat. “Gak mau.” “Dih, kenapa?” “Ini di Mall astaga, Jericho.” “Gak papa.” “Gak mau.” kekeuh Anna tak mau kalah. Jeff menghela nafas lelah. “Ya udah sekali doang.” Akhirnya Anna mengalah, ia emmbuka mulut dan membiarkan Jeff menyuapinya satus endok lalu mendorong rice bowl kembali ke depan Anna. “Jeff.” “Hm?” “Aku seneng, deh.” Jeff menopang dagu lagi, matanya lurus menatap Anna usai mengambil satu butir nasi yang menempel di sudut bibir kekasihnya tersebut. “Kenapa?” “Soalnya aku udah ada temen sharing soal ini. Dari dulu, tuh, aku pingin cerita ek temen, kek, atau ke siapa, kalau aku udah nemuin bakatku. Aku bisa nulis sampai ngehasilin uang. Tapi takut aja kalau mereka malah mau minta baca juga.” “Aku juga mau minta ke kamu buat izinin baca, tahu.” “Iya, tapi, kan, respon kamu waktu aku ceritain soal ceritaku yang genrenya dewasa gak nyudutin aku, gitu. Orang lain— bahkan Putri sekalipun mungkin gak kayak kamu responnya kalau aku berani cerita.” Jeff tersenyum lembut. “Bukannya ittu tugas seorang pacar buat support pasangannya? Masa aku mau ngetawain padahal pacar aku udah bisa cari uang sendiri sambil kuliah.” Anna jadi ikut tersenyum. “Makasih, ya, Jeff.” “My pleasure, cantik.”   **   “Jeff, mau anterin aku cream bath dulu, gak?” Sembari menginjak remnya karena rambu-rambu lalu lintas sudah berwarna merah, jeff menoleh. “Emang ada salon buka udah mau malem gini?” “Ada, kok, di Batu.” Jeff akhirnya mengangguk dan emminta Anna menunjukkan jalannya yang dituruti Anna dengan senang hati. “Tapi bisanya kalau cream bath lama. Emangnya gak papa?” “Gak papa.” Dibanding bertanya, “emangnya berapa jam?” walaupun berujung mau nungguin, Anna lebih suka cowok yang kayak Jeff. Akhirnya, usai sampai di tempat, Anan langsung menyuruh Jeff duduk di kursi tunggu sedangkan ia menghampiri mbak-mbak salon. Usai diiyakan oelh karyawan cantik tersebut, Anna kembali menghampiri Jeff hanya untuk berpamitan. “Gak sampai satu jam, kok. Kalau ngantuk tidur di mobil aja gak papa.” “Iya, sayaaaaang. Bawel, deh. Udah sana.” ujar jeff sambil mendoorng bahu Anna agar segera duduk di kursi perawatan padahal Anna hanya merasa tak enak saja jika Jeff harus menungguinya begini. Anna, sih, pakai minta anter ke salon. Namun Jeff memang tak terlalu merasa boring-boring amat, kok. Usai ia mengamati wajah Anna dari balik kaca dan mereka berdua beberapa kali saling menjulurkan lidar mengejek entah untuk apa, Jeff juga memutuskan membuka ponsel, mengecek pesan masuk dan scrolling i********:. Jadi tahu-tahu Anna sudah memanggilnya dan berdiri di hadapan Jeff menjulang karena laki-laki itu sedang duduk di sofa. Anna masihlah Anna yang sellau tak mau dibayari oleh Jeff padahal Jeff sudah bilang tak apa-apa. Tapi akhirnya Anna mengalah lagi karena Jeff juga keras kepala dan tak mau mengalah. “Aku aja yang bayar.” putus Jeff tak mau ditolak dan Anna akhirnya kalah. Mereka berdua langsung masuk mobil dan duduk di jok masing-masing. Anna masih meneguk minuman botol kemasannya seiring Jeff yang mencari kunci mobil di saku celananya. “Wangi banget,” komentar Jeff tiba-tiba. itu memang benar karena Jeff bisa menangkap aroma strawberry dari Anna padahal keduanya sedang tak berdekatan. Anna menoelh pada Jeff lalu membaui rambutnya. “Masa, sih?” “Iya. Anna langsung berbinar usai menciumi rambutnya sendiri. “Ih, Iya. Hehehe. Selalu seneng, deh, kalau cream bath di salon sini. Murah tapi hasilnya bikin puas.” Jeff terkekeh. “Kamu lagi promosi, ya?” Anna tertawa sabil mengambil rambutnya lagi, menghirup aroma manis disana. “Enggak. Hahaha. Emang bener gitu, kok.” “Sini coba, aku mau peluk.” ujar Jeff dan Anna menurutinya. Perempuan cantik itu mendekat ke arah Jeff dan membiarkan Jeff menarik bahunya untuk dirangkul dari samping. Anna bisa merasakan bahwa Jeff mengecupi puncak kepalanya sebelum menghirup dalam-dalam harum strawberry disana. “Hmm. Wangi banget.” gumam Jeff masih menempelkan hidung di rambut Anna. "Jeff, masa tadi Iqbal bilang ke aku kalau dia udah punya pacar?" Jeff tertawa. "Masa sih?" Anna mengangguk di d**a laki-laki itu. "Iya. Aneh banget baru lulus udah pacar-pacaran. Aku mau marahin tapi inget dulu pas SD juga pernah pacan. Hfffft geli banget kalau inget." "Hahaha. Tapi kayaknya jaman sekarang anak SD emang udah kenal begituan, deh, Ann. Miris." "He-em. Mau ngelarang Iqbal tapi adik kandungku aja kayaknya juga udah pacar-pacaran. Padahal juga sama-sama baru lulus SD." "Yang siapa, tuh, namanya? Reno, ya? Iya bukan, sih? Reno?" "Iya." "Eh, yang." Anna menggumam. "Kamu gak pingin mampir ke rumah ayah kamu? Kata kamu deket sini, kan, jalannya." "Eung-- boleh, sih. Tapi emangnya gak papa kamu balik ke apartnya Kak Abram jadi malem banget kalau kita mampir ke ayah?" "Gak papa, lah. Sekalian mau kenalan sama calon mertua." "Idiiiiiiih." ujar Anna sambil mencoba emnjauh tapi Jeff tentu menahan kepala gadis itu. Sepuluh detik berdiam diri dalam posisi seperti itu , kemudian terdengar kumandang adzan Isya' yang masuk ke dalam gendang telinga keduanya.  Allaahu Akbar, Allaahu AkbarAllaahu Akbar, Allaahu Akbar   Asyhadu allaa illaaha illallaahAsyhadu allaa illaaha illallaah   Anna kemudian menjauh dari rengkuhan Jeff.  "Ke masjid dulu, yuk?" Memangnya, apa yang lebih membahagiakan dari pada memiliki seorang kekasih yang tak hanya mencintaimu tapi juga bisa membimbingmu untuk emlakukan kewajibanmu sebagai umat muslim? Anna adalah perempempuan yang beruntung. Atau, Jeff-lah yang lebih beruntung. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN