Di lembaran baru ini, biarkan aku bercerita tentang Eba Fadel, satu-satunya teman dekat laki-laki yang ku miliki sejak kelas sebelas di SMA. Aku lupa bagaimana awalnya kami mulai berteman dekat hingga semua aibnya sudah di tanganku. Tapi berteman dengannya membuatku lebih melek pengetahuan tentang kebanyakan laki-laki.
Eba adalah tipe idaman banyak perempuan. Karena selain tinggi, keren, dan wangi, lelaki yang sering melanggar tata tertib di sekolah itu sebenarnya pinter dan romantis. Aku ingat ketika suatu siang di sekolah, ia menceritakan bahwa ia menyukai Asalia—murid di SMP yang sama dengannya dulu—sejak kelas tujuh hungga sekarang ia berada di kelas sebelas. Bayangkan saja, bukankah kisah Eba dan Asalia ini seperti cerita di novel-novel dengan isi seperti ini’ di antara seribu perempuan yang memohon untuk menjadi kekasih Eba, dia—Asalia, malah menolak mentah-mentah tawaran cintanya dari lima tahun yang lalu sampai sekarang.
Tapi, ketika ia sudah di tengah semester, kabar baik datang dari Eba. Ia bilang bahwa ia sudah resmi berpacaran dengan Asalia dan tentu aku sebagai teman baiknya turut senang mendengar itu. Aku bisa melihat dari tatapan berbinar saat Eba menceritakan tentang Asalia, lelaki itu terlihat sangat menyayangi Asalia.
Tapi semuanya berubah ketika suatu hari, aku mendengar bahwa ada satu perempuan yang berusaha mendekati Eba. Namanya Ais, dia sangat cantik—harus ku akui Ais lebih cantik dari pada Asalia. Apa lagi Ais terlihat lebih kalem dan seperti permepuan baik-baik. Tapi tentu, image-nya yang selama ini ku kenal sebagai cewk baik-baik, langsung hancur saat aku tahu abhwa Eba dan Ais menjalin hubungan di belakang Asalia.
Aku benar-benar tak menyangka bahwa Eba sebegitu murahannya sampai tergoda rayuan orang ketiga semacam itu. Padahal disini, aku sebagai orang luar, memang seharusnya tak ikut campur lebih jauh. Tapi posisinya, aku adalah teman dekat Eba dan mantan sahabat Ais saat SMP dulu. Bayangkan, aku ada di tengah-tengah orang yang melakukan kesalahan tapi aku juga tak punya kuasa untuk melakukan pembenaran. Bisaku hanya sekedar menyadarkan Eba dan Ais bahwa mereka tak seharusnya meneruskan hubungan terlarang seperti itu. Aku berkali-kali meminta Eba untuk berhenti karena ia harus ingat dengan perjuangannya mendapatkan Asalia selama bertahun-tahun. Tapi sepertinya usahaku menyadarkan mereka berdua gagal total bahkan sampai satu tahun ke depan. Padahal Eba juga sempat ketahuan oleh Asalia saat perempuan itu membuka ponsel sang kekasih dan menemukan bukti chat. Eba meminta maaf dan ia bilang padaku juga bahwa ia kapok, tak ingin mengulangi kesalahan, apa lagi ia bilang ia sangat merasa bersalah saat melihat Asalia menangis tersedu-sedu di depannya karena tahu ia selingkuh.
Kukira setelah kejadian itu, Eba benar-benar akan taubat dan bis ajadi pasangan ayng baik untuk Asalia. Namun nyatanya aku salah. Tahu-tahu aku mendapat kabar dari Eba bahwa ia kembali berhubungan dengan Ais lewat alibi emnjalin pertemananan saja, tapi... tentu, lama-kelamaan juga semua cerita kembali terbongkar dan Eba masih sama brengseknya seperti dulu.
Walaupun aku teman dekat Eba, tetap saja kadang aku sampai benar-benar marah dan measa kesal pada kelakuan b***t lelaki itu yang suka mempermainkan hati perempuan. Sekalipun Ais juga menjadi pihak yang salah, aku hanya mengingat dengan quotes yang pernah tak sengaja ku temukan di aplikasi Pinterest bahwa. “tamu tidak akan masuk jika pemilik rumah tak akan membukakan pintu.”
**
Setelah resmi menjadi mahasiswa baru, aku benar-benar tak lagi mempunyai teman dekat dari SMA. Berawal dari aku dan Caca yang sudah tidak bisa lagi menjadi sahabat seperti dulu, rasanya aku juga tidak tertarik berteman dengan siapapun lagi. Aku sengaja menjauhi teman-temanku di SMA untuk menenangkan diri, setidaknya setengah tahun, minimal. Bahkan aku sudah beranji pada dririku sendiri bahwa akan berubah menjadi Anna Jovanka yang lebih dewasa pemikirannya, tidak baperan, banyak ebrbuat baik, dan selalu berpikir positif.
Sebagai Anna yang baru, hari pertama aku masuk kelas Pengantar Pendidikan, tentu aku berangkat pagi walaupun sebenarnya jarak dari kos ke kampus hanya sekitar lima menit. Anna Jovanka yang sekarang lebih percaya diri karena sudah berhasil melakukan banyak perubahan tentu bisa mendapat teman dengan mudah di hari pertama.
Aku tak ingat apa saja yang ku lakukan hari tiu selain Bu Yulia sebagai dosen pagi itu ternyata adalah dosen muda—bahkan awalnya ku kira beliau salah satu mahasiswa karena tubuhnya yang kecil dan imut. Selain itu, akmi hanya melakukan perkenalan satu sama lain dengan berdiri di tempat dan mulai mengenalkan diri.
Aku ingat aku belum mendapat teman dekat, bahkan aku saja lupa siapa teman di samping kanan kiriku kala itu.
“Halo, saya Anna Jovanka. Biasa dipanggila Anna atau Ann. Dan saya dari Kota Batu.”
Adalah kalimat yang ku ucapkan ketika giliranku tiba. Yang membuatku terkejut adalah lelaki di belakang kursiku yang langsung bertepuk tangan riuh saat aku selesai emngenalkan diri dan itu membuatku terkejut. Aku langsung menoleh ke eblakang setelah duduk di kursi seperti semula, lalu aku pura-pura memandangi satu-persatu teman baruku, sebenarnya apa yang ada di pikiranku kala itu adalah... aku hanya penasaran siapa laki-laki tertampan di kelasku.
Dan ternyata jawabannya adalah lelaki yang sama yang ku ketahui bertepuk tangan untukku tadi. Tapi setelah emngetahui itu, aku langsung membalikkan badan dan foksu pada dosen. Tak memiliki niat apa-apa lagi.
Hal yang tak pernah ku duga di hari pertamaku menjadi mahasiswa baru adalah saat aku akan baru keluar dari kantin dan berniat untuk pulang ke kos pada pukul sepuluh siang—karena, ya, mata kulaihku sudah selesai—Renata, teman satu kelompokku pada mata kuliah Pengantar Pendidikan itu tiba-tiba bilang begini.
“Eh, Ann, tadi kata Riko, si Alfi Dierga nanyain soal elo, gitu.”
Sambil berjalan menuju tempat parkir untuk mengantar Renata mengambil sepeda motornya, alsiku terangkat satu, raut wajahku menunjukkan ekspresi bingung. Aku tahu yang mana itu Riko, karena Renata dan Riko adalah teman dekat dari satu SMA yang sama dan kini mereka di berada di kelas yang sama lagi selama satu semester ke depan, jadi tadi Renata banyak bercerita tentang Riko dan aku diberi tahu yang mana pemilik nama tersebut. Tapi, Alfi Dierga? Aku tak tahu dan tak hafal yang mana.
“Alfi Dierga siapa?”
“Itu, yang tadi duduk persis di belakang lo.”
Tak ayal satu wajah laki-laki yang sempat kuamati tadi terngiang kembali di kepalaku. “Oh. Dia nanyain apa?”
“Katanya namain nama lo, alamat rumah lo, status lo.”
Aku menahan tawa. “Ngapain banget?”
Renata mengedikkan bahu. “Naksir, kali. Soalnya kata Riko tadi, si Alfi bilang lo cantik banget.”
Tahu apa yang ku rasakan saat emndengar Renata bilang bergitu?
Aku merasa sangat terharu dan tersanjung. Delapan belas tahun aku hidup di dunia tak pernah aku mendengar orang memujiku begitu apa lagi lawan jenis. Yang selama ini ku dapatkan tak lain dan tak bukan adalah hinaan karena aku jelek.
Apa lagi tak ebrhenti disitu, kata Renata, Riko sampai bosan mendengar Alfi terus membiacarakanku di hari eprtama masuk kuliah. I mean, hei, ini baru hari pertama tapi sudah ada laki-laki yang mengagumiku? Bagaimana aku bsia tak tersenyum sepanjang hari dan semangat kuliah kalau begini ceritanya?
Setelah aku sampai di kos dan sudah mengganti baju, aku yang belum tahu harus mengerjakan tugas Pengantar Pendidikan dari mana, memutuskan untuk melempar badan ke kasur kos-ku yang tak ada empuk-empuknya sama sekali. Kosku memang sempit dengan kasur di bawah dan ruangannya pengap, tapi itu memang layak karena harganya juga murah.
Aku meraih ponsel yang ku geletakkan di karpet, iseng membuka i********:, lalu iseng lagi dengan mencari nama Alfi Dierga di kolom pencarian. Setelah mendapatkan akun yang tepat, kali pertama yang ku lihat di laman sana adalah salah satu sorotan miliknya yang paling awal diberi judul lambang cinta berwarna hitam. Aku langsung memencetnya dan ternyata, ya, benar, dia sudah memiliki kekasih yang ku lihat dari beberapa kumpulan foto disana, pacarnya sangat-sangat cantik dnegan tubuh bahenol.
Harusnya aku tak terkejut karena... eh, cowok tampan mana, sih, di dunia ini yang jomblo? Sudah pasti lelaki setampan Alfi Dierga juga sudah memiliki gandengan. Tak mau lebih banyak mengeskplo tentang pacar orang, aku memutuskan untuk keluar dan menutup ponsel, sembari mengingatkan diriku sendiri agar tak berharap apa-apa mumpung masih di awal. Sekalipun jauh di lubuk hatiku, aku harus mengakui bahwa aku senang, untuk pertama kalinya, ada lelaki yang menyukaiku—walau masih bentuk pujian—dan dia sangat tampan dan keren.
**
Semua rencanaku untuk bersikap biasa-biasa saja sudah gagal sejak awal. Entah ini anugerah atau musibah, di mata kuliah Matematika, aku malah dipasangkan dengan Alfi Dierga dan dua temanku yang lainnya.
Aku masih bisa menahan diri untuk tidak berdekatan terlalu jauh dengan Alfi mengingat elkai yang sadar diri bahwa ia ganteng itu punya daya pikat yang tinggi. Dari jarak lima langkah saja, wangi parfumnya bisa bercium. Dan aku adalah tipe perempuan yang paling suka dnegan lelaki wangi. Apa lagi jika bau parfum Ardam Sein adalah tipe wangi lembut, Alfi ini lebih ke bau manly yang sangat... ugh, gentle?
Sebelum ku ceritakan lebih jauh, satu minggu sebelum pembentukan kelompok, aku iseng mengajak teman-temanku ke Mall. Niat awalku, sih, hanya sebatas mempererat pertemanan saja. Siapa sangka dari jalan-jalan ke Mall, makan malam, dan berfoto di photo box itu malah membuat kami bersembilan—aku dan delapan teman perempuanku yang lain—jadi memutuskan untuk membentuk geng. Aku sedikit trauma, awalnya, masuk ke lingkaran pertemanan seperti ini setelah Kejadian hancurnya persahabatanku dengan teman-teman SMA dulu. Tapi setelah ku pikir-pikir lagi, ya kali, aku tidak mau punya teman dan akan kemana-mana sendirian? Jadi, perkenalkan.
Pertama, Nabila, atau biasa dipanggil Bil, dan kami ebrdelapan sepakat mengangkatnya sebagai ketua. Bukan ketua yang bisa memperbudak yang lain, sih, lebih seperti kalau ada apa-apa, bilangnya ke dia. Dia kurus, kuning langsat, tomboy, dan suka teriak-teriak. Tapi kepribadiannya sangat ceria dan mudah mendapat teman.
Kedua, Niken. Badannya seidkit gemuk, ia yang paling dekat dengan Bil karena sifat mereka berdua hampir sama semua. Niken dan Bil adlah kembar tak seiras yang kalau disuruh joget dan gila-gilaan, mereka berdua kan maju paling depan.
Ketiga, Riche. Lucu, kan, namanya? Mungkin ketika ia lahir, mereka ingin anaknya menjadi orang kaya. Riche ini pemain basket, badannya proporsional, mata sipit, kulit putih, dan berbehel. Ia alumni SMK dan karena sifat tomboy dan sinisnya, ia lebih dikenal sebagai perempuan menakutkan dan bar-bar.
Aku saja yang dulu di SMP pernah terlibat labrak-melabrak dua kali dengan adik kelas—dengan mantan Satria dan pacar Satria setelah putus denganku—aku maish takut jika harus berhadapan dengan Riche. Aura mengintimidasi di mata perempuan itu sangat jelas.
Keempat, Ais. Ais yang ini beda dengan Ais di SMA. Walaupun sama-sama ais dan sama-sama kalem, bedanya Ais yang ini lebih kalem lagi dan tak suka berhubungan dengan lelaki sebelum menikah. Bukannya tidak suka, sih, ia pernah cerita bahwa ibunya terlalu banyak mengekang dan salah satunya adalah menyuruh Ais untuk tidak berpacaran dulu sebelum sebelum memasuki dunia kuliah. Dan jika Niken lebih dekat dengan Bil, Ais lebih dekat dengan Riche.
Kelima adalah Sofia. Perempuan ini lebih banyak lucunya dan sportif. Aku tak banayak emnegnalnya tapi di adalah teman yang baik dan suka menolong. Keenam ada Azzahra yang kerap dipanggil Sasa. Sama seperti Sofi, Sasa juga bertubuh kecil. Bedanya Sasa ini lebih ekspresif sedangkan Sofi cenderung pendiam.
Ketujuh adalah Nadya atau yang biasanya ku panggil Nanad, atau, Iknad, atau nened, atau apapun. Dia ini perempuan yang lulus dari pesantren, jadi caranya bertutur kata sangat enak didengar. Ilmu agamanya juga bagus dan memiliki jiwa kepemimpinan yang baik. Selain itu, di antara kami bersembilan, Nanad-lah yang paling keibuan dan penyayang.
Kedelapan adalah Renata alias teman terdekatku. Kami bisa dekat—sedekat teman yang seperti sudah kenal dari jaman sekolah di taman kanak-kanak hanya dalam waktu satu hari. Bayangkan! Kami berdua memiliki sifat yang benar-benar sama dalam segala hal. Cuek, suka bicara kasar, blak-blakan, seenaknya sendiri, merasa paling benar, menjauhi drama-drama kehidupan, dan sama dalam segala selera lainnya. Mungkin banyaknya kesamaan ini yang membuatku mudah membaur dan tiba-tiba jadi sahabat dengan Renata.
Aku menyayanginya, sungguh. Aku senang dengan cara berpikir Renata yang selalu realistis dan tidak dibuat-buat. Saking dekatnya kami, di hari kedua kami kuliah, kami sudah bisa saling emlempari kata-kata kotor satu sama lain sampai-sampai banyak murid di kelas yang mengira bahwa aku dan Renata sudah kenal sebelum masuk kuliah. Padahal, hei, aku baru kenal kemarin!
Secocok itu aku dengan Renata. Maka dari itu, tidak heran jika mulai awal kuliah, aku dan Renata sudah benar-benar tak bisa dipisahkan. Kami selalu berdua bersama kemana-mana. Aku tak akan pergi bermain dengan teman yang lain jika Renata tak pergi juga. Selengket itu. Iya, mungkin kalian yang membaca ini sedikit teringat dengan persahabatanku dengan Caca dulu. Memang ebnar kami sedekat itu, bedanya aku lebih nyaman berteman degan Renata dari pada saat bersama Caca. Karena ketika bersama Renata, aku bisa mengekspresikan yang ku rasa dan bisa menjadi diri sendiri.
Ada satu hal yang sebenarnya membuatku berbeda dari aku dan Renata. Renata adalah tipe anak manja dan cengeng. Sedangkan menurutku, karena aku tumbuh di kelurga yang egois dan tidak harmonis, membuatku tumbuh jadi pribadi yang mandiri dan dewasa. Tapi jangan salah sangkah, sifat Renata yang itu sama sekali tak membebaniku. Aku justru senang karena akulah yang jadi orang pertama yang dia beri tahu jika sesuatu terjadi padanya. Aku senang berteman dengan orang yang mau mengandalkanku di setiap langkahnya. Aku merasa dihargai dan dipercaya.
Lalu yang kesembilan adalah aku sendiri. Mungkin seiring kalian membaca buku ini, kalian bisa menyimpulkan seperti apa sosok Anna Jovanka sebenarnya. Tapi yang pasti, di mata teman-teman kampusku—selain renata yang sudah tahu seperti apa aku sebenarnya—Anna Jovanka adalah perempuan yang akan bicara pada hal-hal penting saja, cuek maksimal, pencitraan maksimal, anggun, mudah bertmean, rajin, dan hal-hal baik lainnya. Tapi sekali lagi ku tekankan, orang-orang hanya tahu dari luar. Jika Renata membaca ini, ia pasti tak akan setuju dnegan statement yang ku berikan.
**
Siang hari di kediaman Ais, setelah kemarin malam aku dna teman-teman emmutuskan untuk mengerjakan tugas mata kuliah Matematika bersama, akhirnya kami berkumpul disana pukul setengah sepuluh. Sebenarnya, anggota kelompokku hanya berisi aku, Alfi, Ais, dan Nanad. Tapi karena Sasa, Renata, dan Sofi berada di satu kelompok sendiri, mereka meminta izin agar bisa mengerjakan di rumah Ais juga yang tentu diizinkan oleh pemilik rumah.
Seperti orang-orang lainnya, ekgiatan yang seharusnya berisi mengerjakan tugas nyatanya terbuang sia-sia karena kami asik mengobrol. Aku tak banyak mengobrol dengan Alfi karena aku sadar aku tipe perempuan yang mudah lemah iman terhadap cogan alias cowok ganteng. Tapi kemudian, obrolan tidak berfaedah dari kami berlanjut hingga pukul lima sore dan kami tak mendapatkan hasil apapun dari ‘kerja kelompok’ itu.
Yang ada, kami semua yang ada disana berrencana untuk pergi ke Bromo yang ku sambut dengan antusias karena aku suka jalan-jalan. Ternyata semuanya setuju—ralat, tidak semua setuju karena masih banyak yang tidak pasti seperti ; Riko yang malas pergi ke Bromo karena ia sudah pernah, Alfi yang tidak punya alasan tepat untuk meminta ziin pada orang tuanya karena ke Bromo artinya kami harus menginap agar bisa mengejar matahari terbit, Ais, Renata, dan Nanad yang pasti tidak diizinkan oleh ibunya, dan Sofi yang sudah pasti tidak ikut karena ia harus pulang kampung.
Jadi sebenarnya, di antara kami yang berada disana, yang sudah pasti bisa hanyalah aku dan Sasa. Tapi beruntungnya, teman-temanku itu mau mengusahakan agar rencana kami benar-benar bisa terrealisasi.
Saat kami berada di halaman rumah Ais karena semuanya sudah bersiap-siap untuk pulang, tiba-tiba Renata menoleh padaku dengn attapan tak biasa.
Aku mengernyit. “Apa?”
“Ann, gue lupa! Lo, kan, tadi berangkat bareng gue, yak?! Baliknya gue gak bisa lewat kos lo lagi, jadi makin jauh kalau lewat arah sana.”
“Lah?” Sejujurnya kau langsung bingung dan panik karena ini sudah akan petang dan Renata baru bilang sekarang. Tapi aku bersikap santai lalu menjawab Renata. “Ya udahlah, santai. Gue bisa pakai ojek.”
Sepertinya Renata merasa bersalah dengan keputusanku sehingga ia langsung berucap asal yang membuatku malah panik. “Eh, Ann, lo nebeng Alfi, aja! Dia, kan, searah sama lo!”
Aku melotot padanya karena tahu Renata pasti sengaja. “Enggak, enggak, gue udah pesen ojek.” Alibiku dnegan pura-pura mengeluarkan ponsel dari skau celana jeans yang ku pakai.
Tak ku sangka, Alfi yang sedang berjongkok mengambil helm itu malah berdiri dan menghampiriku.
“Sama gue aja.”
Asem!
Dari jaark dua langkah, Alfi mampu menghipnotisku dengan wangi dari tubuhnya yang semerbak membuatku nyaman dan tatapan lembut lelaki itu. Aku segera menggeleng tanpa berpikir. Yang pertama, aku emnggeleng karena sedang mengingatkan diriku snediri bahwa aku tak boleh terperangkap pesona laki-laki yang sudah punya ekkaish. Yang kedua, aku tak bisa membayangkan berada di boncengannya yang mana pasti harusmnya akan semakin memanjakan indra penciumanku.
“Enggak, enggak. Beneran, deh, gue udah pesen ojek, kok.”
Dia mengangkat satu alisnya tinggi yang mana itu membuat Alfi dua kali lipat terlihat lebih tampan. “Beneran?”
Aku mengangguk dua kali guna meyakinkannya bahwa aku tak butuh bantuan lelaki itu.
Hari itu berakhir lancar wlaaupun sedikit mendebarkan.
**
Malamnya, tiba-tiba ponselku menerima deretan notifikasi yang ternyata dari grup yang abru dibaut beberapa menit yang lalu. Riko menamainya ‘Indie Party’ dan isinya adalah manusia-manusia yang akan berangkat ke Bromo tersebut; aku, Alfi, Renata, Riko, Ais, Sasa, dan Nanad. Diskusi demi diskusi kami lakukan. Mulai dari tanggal berangkat, jam, menginap dimana, biaya, transport, dan siapa saja yang sembilan puluh persen benar-benar mau dan akan berangkat.
Lalu Renata mengusulkan untuk memakai travel mobil jeep di teman ayahnya dan menginap di rumah gadis itu sehari sebelum berangkat ke Bromo. Butuh waktu dua jam hingga semuanya sudah direncanakan dengan matang.
Tapi tiba-tiba, aku membaca sesuatu yang mengejutkan disana setelah Alfi mengriimi stiker emotikon wajah datar di grup kami.
Riko : ya gitu, deh, kalau abis putus. sensi banget kayak cewek PMS
Aku melotot membaca itu. Pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan di kepalaku. Alfi habis putus? Putus dengan Puspita yang kemarin baru ku stalking di akun instagramnya itu? Seriusan?
Tapi tentu semua pertanyaan ku simpan baik-baik di kepala, tak ku suarakan. Lagi pula aku dan Alfi tak memiliki hubungan apapun dan aku tak punya hak untuk bertanya-tanya. Namun sepertinya dewi fortuna sedang berpihak kepadanya karena esoknya, ketika hari libur, pagi-pagi sekali Alfi mengirimi pesan. Aku tebak ia hanya sedang berbasa-basi saja dengan menanyakan apakah ada tugas rumah yang harus dikumpulkan besok karena ia bukan termasuk mahasiswa rajin yang repot-repot menanyakan hal seperti ini.
Alfi Dierga : Ann, besok ada tugas atau jadwal presentasi, gak?
Anna J : Enggak ada.
Lalu tak butuh waktu lama hingga ia membalas pesanku lagi.
Alfi Dierga : Lo abis ganti nomer?
Anna J: Iya
Iya, aku sengaja menjawab pesan dari Alfi singkat-singkat saja karena tak ingin terlihat cari perhatian apalagi ia pasti tahu kalau aku sudah tahu tentang status Alfi sekarang yang sudah tak punya pacar. Lagi pula, bagaimanapun aku tak boleh ke-geeran hanya karena ia mengirimi pesan prinadi padaku untuk yang pertama kali.
Alfi Dierga : Ann
Anna J : Oi
Nah, kali ini, ia membalas sangat-sangat lama sekitar tiga puluh menit kemudian padahal lelaki itu sedang online. Aku mengamati? Iya. Hingga kemdudian ponselku bergetar dan notifikasi dari nama lelaki itu muncul di layar. Dalam sekilas membaca isi pesannya, aku langsung tersneyum. Sudah ku tebak sejak awal bahwa menanyakan tugas rumah tadi hanya bas-basi sebelum masuk ke menu utama.
Alfi Dierga : Lagi apa?
Aku membalik tubuhku agar tengkurap, menyamankan posisiku sebelum mulai mengetik jawaban. Lalu dari pesan sederhana itulah, akhirnya aku dan Alfi lebih sering mengirimi pesan satu sama lain. Hingga perhatian demi perhatian saling kami berikan. Tidak hanya berupa pesan, ketika berada di kelas, Alfi tak sungkan menunjukkan kedekatannya denganku membuatku diberondongi banyak pertanyaan dari teman-temanku. Tentu saja yang tahu hanya Renata. Tapi dari sikap Alfin yang manis padaku walaupun di depan umum, kami yang beberapa kali memposting foto bersama, Alfi yang sering antar-jemput padahal kosku dekat, orang-orang disekitar kami tahu-tahu sudah berasumsi bahwa kami sudah resmi pacaran. Tapi aku dan Alfi tak pernah berusaha membenarkan. Biar orang mau berkomentar apa.
Hingga hari yang ku tunggu-tunggu tiba. Malam sekitar pukul tujuh malam, Alfi mengirimiku pesan bahwa ia sudah di depan pagar kosku. Dengan semangat dan membawa tas yang ku sampirkan di bahu, aku emnuruni tangga mengingat kamarku di lantai dua lalu berpamitan pada Bu Kos bahwa aku akan menginap di rumah teman.
“Udah bawa sarung tangan?” Tanya Alfi saat aku sudah berada di depan motor besarnya. Aku mengangguk.
“Jaket tebel?”
Aku menunduk memperlihatkan padanya jaket yang sedang ku pakai. “Ini juga lagi dipake.”
“Kaus kaki?” Tanyanya lagi dan kini membuatku mendengus karena ia tak selesai-selesai bertanya. “Udaaaaaaah.”
Alfi tertawa. “Pokoknnya aku udah ngingetin, ya. Awas sampai ada yang kelupaan terus di Bromo kamu kedinginan.”
“Iya, iya. Udah, ah, ayo berangkat.”
Aku tentu masih belum berani melingkarkan tanganku ke pinggangnya wlaaupun aku sangat ingin meskipun malam itu snagat-sangat dingin. Sebenarnya tidak terlalu dingin jika kami tidak mengendarai motor ke arah Poncokusumo alias kaki gunung Bromo.
Perjalanan ke rumah Renata sangat-sangat jauh membuat aku hampir mengantuk. Tapi ketika memasuki jalanan yang sangat sepi dan gelap tanpa satupun penerangan di pinggir jalan, aku langsung menciut. Tiba-tiba hawa menyeramkan ada di sekelilingku. Bukan, bukan aku takut hantu. Apa yang aku pikirkan kala itu adalah aku takut ada begal mengingat ini sudah pukul delapan malam dan rumah Renata masih jauh.
Alfi mungkin merasa bahwa badanku merapat padanya karena beberapa detik kemudian, ia sedikit menolehkan wajahnya ke samping. “Kenapa?”
Aku ikut memajukan wajah agar terdengar jelas. “Apanya?”
“Takut?” Tebak Alfi yang langsung ku balas cengengesan membenarkan. Lelaki yang malam itu memakai jaket biru tua lansgung tertawa ringan. “Ngapain, sih, takut segala. Orang ada aku.”
Jelas aku langsung tersipu mendengarnya. Kalau saja malam itu aku sudah diberi kepastian oleh Alfi, pasti aku tak sungkan untuk memeluknya dari belakang dan menyandarkan dagu di bahunya. Atau bahkan mmngatakan bahwa aku sangat menyayangi lelaki itu. Tapi tentu itu semua tak terrealisasi. Kami hanya sesekali bercanda di atas motor karena Alfi takut aku ketiduran dan membahayakan diriku sendiri.
Hampir satu jam lebih hingga akhirnya aku, Alfi, Iqbal, dan Agil sampai di depan rumah Renata. Iya, sedari tadi, Agil dan Iqbal memang berboncengan di belakangku dan Alfin. Renata berdecak melihatku turun dari motor. “Disuruh berangkat dari siang malah malem-malem. Mampus, hak, lo lewat jalan-jalan sepi?!” Semprotnya ketika aku baru saja meletakkan bawaanku di atas sofa empuknya.
Aku hanya mengedikkan bahu dan menyengir tak merasa bersalah. Ini salah Alfin yang memilih berangkat malam karena menyelesaikan tanding game online-nya dengan Iqbal dan Agil. Aku sebagai penumpang hanya menuruti si supir, hehe.
Aku melihat Riko dengan snatainay tidru dengan kaki selonjor di sofa panjang membuatku menggeleng-gelengkan kepala. Aku tak tahu sedekat apa Riko dan Renata sebenarnya sampai-sampai Riko bisa sesantai ini tidur di ruang tamu rumah Renata padahal ada nenek dan kakeknya ruang tengah. Dulu aku sempat curiga siapa tahu Riko dan Renata pernah emnjalin hubunga atau malah sedang menjalani hubungan, atpi Renata selalu memandangku jijik seakan-akan ia tak akan pernah berhubungan dengan laki-laki slengean macam Riko, katanya.
Ais dan Sasa sedang mencoba kamera yang kami sewa bersama untuk mengabadikan momen di Bromo nanti pagi. Kami asik bercerita sampai pukul sepuluh dan kebanyakan yang kami bahas adalah betapa dingin cuaca di Poncokusumo yang diamini oelh Renata karena begitulah adanya.
Pukul sebelas malam, aku yang sebenarnya tak mengantuk, memutuskan untuk emngajak Ais, Renata, dan Sasa untuk ke kamar karena kami harus segera tidur. Apa lagi pukul dua dini hari nanti kami akan dijemput oleh jeep sewaan Renata untuk berangkat ke Bromo. Sebelum benar-benar terejam, kami sempat bercerita tentang betapa tidak sabarnya kami pergi ke Bromo. Yang paling semangat adalah aku dan Ais. Sedangkan Renata snagat-sangat tidak antusias karena ia sudah sering kesana.
Hanya dua jam kami tidur karena alarm ponsel milik Ais berdering nyaring pukul satu malam membuat kami berempat terbangun. Niatku untuk mandi sebelum berangkat ke Bromo pupus saat aku meyentuh air di kamar amndi. Benar-benar terasa seperti air di kulkas! Jadi aku hanya berwudhu kemudian melaksanakan sholat malam bergantian dengan Ais. Aku berdoa pada Tuhan agar dilancarkan perjalananku dengan teman-teman kali ini dan semoga bisa pulang dengan selamat.
Selesai ganti baju, memakai bedak, dan menyiapkan tas, aku menyusul teman-temanku yang sudah siap di ruang tamu. Aku melirik Alfi yang matanya merah terlihat sangat mengantuk. Bagaimana tidak mengantuk jika ia baru tidur pukul dua belas dan harus bangun pukul satu?
Aku sempat mengingatkan Alfin agar tak lupa membawa vape miliknya sebelum naik ke jeep biru di halaman rumah. Setelah berpamitan pada nenek dan kakek Renata, aku sempat pusing kepala karena Ais, Sasa, dan Renata berrebut duduk di depan alias di samping sopir. Bermenit-menit terbuang hanya untuk ebrdebat, akhirnya aku menyuruh Ais mengalah karena Renata dan Sasa yang keras kepala. Apa lagi Sasa sempat mengancam akan muntah di tengah jalan jika duduk di belakang.
Jeep sempit itu diisi delapan orang dengan dua di depan dan enam orang di belakang. Aku berada di pojok krii sedangkan di samping kananku adalah Alfin, lalu di sampingnya lagi ada Agil. Sedangkan di depanku ada Ais yang duduk tercepit di pojokan, Riko di tengah, lalu Iqbal di pojokan satunya.
Aku sempat melriik sinis pada Riko yang sengaja mengejek Alfi dengan menyanyikan lagu milik Sheila On 7 yang berjudul Hari Bersamanya itu. Belum lagi Iqbal yang mengompori. “Jangan digodain, Ko. Lagi berbunga-bunga, tuh, si Alfi.”
Aku mendengus dan menoleh ke arah jalanan di depan saja untuk menutupi rasa maluku.
Ketika jeep baru berjalan, tiba-tiba Alfi mendekat ke arahku dan berbisik pelan. “Nanti kalau dingin bilang.”
Aku hanya mengangguk seadanya. Lagi pula kalau aku emang dingin, dia bisa apa? Akan emlepas jaketnya untukku? Tak mungkin, kan? Dia saja hanya membawa satu jaket. Hhh, aneh-aneh saja.
Jalanan ke Bromo snagat-sangat tidak mudah. Banyak kerikil, debu, dan jalan rusak yang kami lewati. Belum lagi jalanan petang dan angin yang semakin dingin. Sampai-sampai beberapa kali aku melihat di belakang kami ada jeep yang mogok atau menabrak.
Sesekali aku dan teman-teman harap-harap cemas takut ketinggalan sun rise. Karena jujur, aku dan Ais adlaah yang paling ingin melihat matahari muncul ketika kami di Bromo. Dan untungnya, pukul empat yang artinya langit masih gelap, jeep sudah ebrhenti di jalanan yang penuh dnegan jeep-jeep yang terparkir lainnya. Aku langsung truun dibantu dengan Alfin yang memintaku berpegangan pada tangannya.
Aku yang memang tak pernah ke Bromo hanya bisa bengong menunggu ada yang memimpin jalan. Lalu Riko-lah yang berjalan lebih dahulu dan menyuruh kami menaiki tangga yang tak sedikit dan sangat tinggi. Awalnya aku tak yakin aku sanggup mengingat aku mudah lelah, tapi Renata dan yang lain meyakinkanku sehingga aku pun akhirnya semangat melanjutkan perjalanan.
Aku, Renata, Ais, dan Sasa sama-sama sering mengeluh capek dan dingin. Hm, dasar perempuan. Belum lagi aku yang dengan gabutnya menghembuskan nafas dari mulut ke udara yang karena hawa dingin membuat seolah aku bisa mengeluarkan asap.
Disana benar-benar ramai. Bahkan untuk melihat pemandangan gunung di Bromo yang estetik seperti di i********:-i********:, aku harus menyelip antrian orang-orang. Alfi yang mungkin takut aku hilang akhirnya menggandeng tanganku dan melanjutkan perjalanan. Dan sialnya, Renata yang tahu itu langsung meledekku habis-habisan.
Kala itu aku merasa sangat-sangat bahagia dan terharu ketika aku berhasil melihat matahari terbit disana karena pemandangannya sangat indah. Aku langsung mengucap syukur pada Tuhan. Hampir saja aku menitikkan air mata karena melamunkan kehidupan yang selama ini ku jalani dengan tidak mudah dan sekarang aku punya waktu untuk melihat ciptaan Tuhan dengan orang-orang yang ku sayangi.
**
Kami sampai di rumah Renata sekitar pukul sebelas siang. Aku merasa badanku sangat remuk dan pegal walaupun aku paus dengan liburan ini. Aku bahkan menangkap aib-aib teman-temanku yang tadi ketiduran di jeep saat perjalanan pulang. Tak terkecuali Alfi.
Setelah lompat dari mobil, kami bergegas masuk. Para laki-laki langsung merebahkan punggung di sofa, sedangkan aku bergegas mandi karena badanku lengekt semua. Setelah membersihkan diri, aku dan para teman perempuan sibuk emmindahkan foto dari kamera ke laptop lalu mengriimkannya kepada grup kami. Omong-omong soal Nanad yangs eharusnya ikut, dia ternyata tidak bisa kerna tidak mendapat ziin dari ibunya.
Aku mengamati foto-fotoku dengan Alfi yang terlihat bagus. Iya, kami beberapa kali foto berdua di Bromo tadi dan aku puas melihat hasil-hasilnya. Lalu setelah Alfi bangun dan membersihkan diri, kami berpamitan pada Renata untuk pulang.
Tak ada banyak perbincangan yang aku dan Alfi lakukan saat perjalanan pulang selain tiba-tiba ketika di lampu merah dan motornya berhenti. Ia sedikit menoleh padaku. “Ann.”
“Hm?”
“Puspita ngekos di deket rumahku.”
Aku langsung diam tak tahu harus merespon apa. Yang aku tahu, Puspita si mantan Alfi ini sebenarnya memiliki rumah jauh dari rumah Alfi. Jadi apa fungsinya perempuan itu pindah?
Seakan bisa membaca pikiranku, Alfin kembali bersuara. “Soalnya biar deket sama kerjaan dia.”
Aku masih diam tak bergeming sama sekali. Menunggu Alfi bercerita lengkap dan utuh saja. “Ann.” Panggilnya lagi.
“Apa?”
“Ke rumah, yuk?”
Apa? Apa katanya?
Jelas aku mendengar dengan jelas kalimat yang keluar dari bibir Alfi barusan meskipun ini sedang macet dan jalanan berisik sekali. Tapi aku tak siap bertemu orang tuanya secepat ini. Sekalipun niat Alfi hanya sekedar ingin mengenalkanku sebagai calon-kekasihnya, tetap saja, ini yang pertama kali di hidupku bertemu dengan orang tua gebetanku apa lagi sampai dibawa ke rumahnya.
“Kamu suka kucing, kan? Ibu seneng banget sama kucing. Jadi kalian bakalan cocok.”
“Sekarang banget, Fi?” Tanyaku ragu-ragu dan mencicit.
“Kalau mau sekarang, ya, gak apa-apa. Kalau gak siap... ya udah, kapan-kapan aja.”
Hffft. Aku menghembuskan nafas lega. Seketika bahuku merosot lemas bisa mengusir ketegangan yang tadi ku rasa. “Kapan-kapan aja, ya? Gak apa-apa, kan? Aku belum siap kalau sekarang.”
Alfi diam tak menjawab untuk beberapa detik sebelum ia mengatakan sesuatu yang membuatku makin berpikir ulang untuk ke rumahnya dan bertemu orang tua laki-laki itu. “Puspita juga suka kucing. Makanya ibu dulu sayang banget sama Puspita.”
Jujur ketika aku emndnegar itu, aku ingin sekali mendengus di hadapan wajah dan bertanya apa maksud ia bicara seperti itu. Ia ingin membawa aku ke rumahnya tapi ia yang menjatuhkan kesiapanku sendiri.
**
Kemudian pada suatu siang, ketika kampusku mengumumkan bahwa akan di adakan acara penyambutan mahasiswa baru angkatanku, namanya SAMBA, yang SAMBA sendiri memiliki arti seperti malam keakraban dimana acaranya sehari penuh dan harus menginap, belum lagi akan ada banyak perlombaan dimana setiap kelas harus menyumbang partisipasi.
Begitu pula dengan kelasku.
Ketika semua lomba sudah terisi oleh anggota-anggota kelas yang lainnya, tinggal satu lomba yang harus diambil kelasku. Yakni drama, dan tentu tanpa mendengarkan penjelasan kakak panitia, aku tentu sudah tak berminat bergabung. Dari aku lahir hingga detik itu, atk pernah sekalipun aku bergabung di drama-drama ekstrakuller maupun acara. Jangankan begitu, ikut ekstrakulikuler wajib saja aku tak pernah.
Tapi sialnya, penanggung jawab kelasku malah menunjukku sebagai pemeran utama di drama yang rencananya akan ditulis oleh salah satu teman kami dengan tema percintaan remaja. Dan fiarsatku semakin tak enak saat penanggung jawab sedang mencari pasangan untukku di drama.
“Tokoh utamanya...” Agil, si penanggung jawab yang kus ebutkan tadi, sengaja menggantung kalimatnya dengan melirikku jahil. Ah, aku tahu apa rencananya. “Si Alfi ajalah. Dia yang paling ganteng di kelas.” Lanjut si tengil Agil membuatku melengos.
Demi Tuhan, sekalipun diberi pasangan lebih tampan dan lebih segala-galanya dari Alfi, aku juga tetap akan menolak karena aku tak suka bermain drama. Aku menolak mentah-mentah permintaan temanku yang langsung dibalas dengan seruan kecewa oleh makhluk-makhluk di kelas. Aku tak peduli. Aku tidak mau bermain drama. Membayangkan aku akan ebrada di atas panggung, bertatapan dengan Alfi dan beradegan menye-menye sekalipun aku menyukai lelaki tampan itu, lalu diikuti berratus pasang mata penonton, ah... tidak. Big no.
Aku langsung mengeluarkan seribu alasan yang dibalas mereka dengan seribu rayuan untuk membujukku. Tapi tetap, akulah pemenangnya. Mereka akhirnya mengalah dan mencarikan pengganti.
Lalu setelah melakukan diskusi dan voting berpuluh-puluh menit, akhirnya Alfi tetap menjadi tokoh utama laki-laki sedangkan yang jadi tokoh utama perempuan adalah Anoviga. Selebgram Malang yang sangat-sangat cantik dan bergelimang harta.
Aku tak tahu, karena penolakanku menjadi tokoh utama pendamping Alfi hari itu adalah awal dari segalanya.