Jebakan
Wajah Bella terlihat cemas ketika tespack ditangannya menunjukkan garis dua, ia hamil. Walau Rava---pria yang menghamilinya---telah berjanji akan menikahinya, tetapi yang Bella takuti adalah kemarahan Aril Cristhian dan Naura Khansa Nadhira. Aril dan Naura sangat menjaga kehormatan dan nama baik keluarga. Mereka pasti sangat marah jika tahu ia dan Rava telah tidur bersama. Aril dan Naura adalah orang tua Rava yang telah banyak membantu Bella selama ini. Mereka juga sahabat orang tua Bella. Semenjak kedua orang tua dan kakak ipar Bella meninggal, serta abang Bella menghilang secara misterius, Aril dan Naura mengajak Bella tinggal di rumah mereka dan menganggap gadis itu seperti anak sendiri.
“Nggak usah cemas, Bella. Tenang ....” Bella menarik napas berkali-kali, menenangkan dirinya. Lagipun seminggu lagi ia dan Rava akan menikah, tidak akan ada yang tahu tentang kehamilannya. Bella bisa menutupinya sampai ia sah menjadi istri Rava.
Bella menelepon Rava. Ia harus memberi tahu pria itu tentang kehamilannya.“Hallo, Mas. Mas Rava masih ngajar?” tanya Bella ketika panggilan tersebut terhubung.
“Masih, Bel. Ini aku lagi di kelas. Tapi satu jam lagi kelas aku selesai. Ada apa?”
“Bella pengen bicara, Mas, tapi nanti aja setelah Mas Rava selesai ngajar. Bella tunggu Mas Rava di kafe Amora.”
“Oke, Sayang. Teleponnya aku tutup dulu. See you.”
“See you too, Mas Rava.”
Gadis itu bernama Arabella Felicia Atmaja, saat ini berusia 23 tahun dan merupakan sarjana manajemen. Dia adalah pecinta semua jenis kue dan suka sekali berbisnis. Saat kelas dua SMA ia membuka usaha toko kue yang dimodali oleh almarhum papa dan mamanya. Usaha itu masih berlanjut sampai sekarang sehingga membuat Bella mampu menghasilkan omset ratusan juta perbulan.
***
Bella memandangi dirinya di depan cermin seraya tersenyum. Gadis itu terlihat sangat cantik dan anggun dengan mengenakan dres berwarna peach. Ia sudah selesai bersiap-siap dan akan pergi ke kafe Amora. Saat mengambil ponselnya di nakas Bella melihat ada notifikasi pesan dari nomor tak dikenal.
+628xxxxxxxxxx : Bella, ini Mas Juna. Maaf karena Mas baru sempat menghubungi kamu. Mas dengar sekarang kamu tinggal di rumah Keluarga Cristhian
Tubuh Bella membeku, seakan tidak menyangka jika kakaknya yang sudah dua tahun menghilang tiba-tiba menghubunginya. Bella lalu menelepon nomor tersebut.
“Hallo, Bella.”
Deg!
Itu benar suara Juna, orang yang Bella rindukan. “Mas Juna ke mana aja? Kenapa baru menghubungi Bella sekarang? Sekarang Bella memang tinggal di rumahnya Mas Rava. Bella kangen Mas Juna, Bella pengen ketemu.”
“Ceritanya panjang, Bel. Mas juga kangen kamu. Jika kamu ingin kita bertemu, datang ke Hotel Delichia. Tapi jangan beri tahu siapa pun. Kamu tahu kan berita tentang Mas Viral, Mas belum siap ketemu orang-orang termasuk Rava dan keluarganya.”
“Iya, Mas. Bella ke sana sekarang.”
Bella mematikan telepon dan bergegas pergi ke hotel yang dimaksud. Sesampainya di sana Bella menanyakan pada resepsionis apakah ada kamar atas nama kakaknya.
“Dengan Arabella Felicia?” tanya resepsionis, Bella mengangguk.
“Pak Arjuna Atmaja sudah memberi tahu bahwa adiknya akan datang. Beliau meminta anda untuk menemuinya langsung ke kamar nomor 518.”
Bella mengucapkan terima kasih lalu menuju ke kamar tersebut. Dadanya berdebar karena tidak sabar bertemu kakaknya.
+628xxxxxxxxxx : Jika kamu telah sampai, langsung masuk aja ke kamar, pintunya tidak dikunci.
Sebuah pesan kembali masuk dari nomor Juna. Bella menuruti perkataan kakaknya dan masuk ke kamar. “Samuel.” Mata Bella terbelalak ketika melihat mantan pacarnya tertidur di ranjang. Berbagai pertanyaan muncul di benak Bella. Kenapa malah Samuel yang ada di sana? Di mana Juna?
“Mpph.” Tiba-tiba saja mulut Bella dibekap oleh seseorang dengan sapu tangan sehingga membuat gadis itu pingsan.
“Dasar gadis bodoh!” ucap Claudia, pelaku yang membekap mulut Bella. Dia merupakan istri dari om-nya Bella dan sangat jahat.
“Aplikasi ini sangat berguna. Pintar juga gadis itu, pantas saja dia sangat kaya, toh satu keluarga isinya orang hebat semua.” Jesika—sepupu Bella—tersenyum menatap ponsel pemberian seseorang. Di ponsel tersebut terdapat sebuah teknologi kecerdasan buatan (AI) bernama FakeTalk. Aplikasi tersebut bekerja dengan menggunakan teknologi deep learning untuk mempelajari pola dan karakteristik suara seseorang dari rekaman. Hanya memasukan data rekaman suara Juna yang ia dapat dari media sosial, dengan AI tersebut Jesika dapat meniru suara pria itu.
Claudia dan Jesika lalu membaringkan Bella disebelah Samuel. “Setelah ini Rava akan berpikir kalau kamu w************n,” lirih Jesika.
“Hallo! Bella dan Samuel sudah masuk perangkap. Selanjutnya tugas kamu,” ucap Claudia yang kini tengah berbicara lewat telepon dengan seseorang.
***
Rava Cristhian, pria berusia 28 tahun yang memiliki paras tampan dan otak genius. Ia meraih gelar magister Computer Science and Engineering dari Massachusetts Institute of Technologi (MIT), salah satu universitas terbaik di dunia yang terletak di kota Cambridge, Amerika serikat. Saat ini Rava berprofesi sebagai dosen Teknik Informatika di Universitas Tanujaya, perguruaan tinggi swasta yang didirikan papanya.
Saat ini Rava telah berada di cafe Amora sejak tiga puluh menit yang lalu. Ia menunggu Bella di sana tapi gadis itu tak kunjung datang. Rava mencoba menghubungi nomor Bella berkali-kali, tetapi tidak diangkat. “Bella ke mana, sih, di chat juga nggak di balas?”
Ting!
Sebuah notifikasi pesan masuk dari Daisy---mantan Rava.
Daisy: Aku baru selesai rapat di Hotel Delichia dan lihat Bella juga ada di sini. Maaf, aku nggak bermaksud jelekin Bella, tapi aku lihat dia pesan kamar, tidak lama kemudian Samuel datang. Aku lihat mereka masuk ke kamar yang sama.
Daisy juga mengirimkan foto Bella yang tengah berbicara dengan resepsionis hotel. Rava terlihat terkejut. Namun, ia mencoba untuk tidak berburuk sangka dulu pada calon istrinya. Ia bangkit dari duduknya dan langsung pergi ke Hotel Delichia untuk memastikan bahwa ucapan Daisy tidak benar.
“Permisi, apa ada yang memesan kamar atas nama Arabella Felicia?” tanya Rava pada resepsionis.
“Maaf, kami tidak bisa---“
“Saya bayar 10 juta jika kamu memberitahu saya,” potong Rava.
“Sebentar, saya periksa dulu.” Resepsionis tersebut menatap layar komputer di depannya. “Arabella Felicia memang memesan kamar dengan pasangannya Samuel Edward. Mereka di kamar nomor 518.”
Rava bergegas menuju kamar yang dimaksud dan anehnya resepsionis tersebut sama sekali tidak mencegah Rava.
“Sepertinya kali ini rencana aku untuk membuat mereka pisah akan berhasil.” Daisy yang sejak tadi memperhatikan Rava dari jauh tersnyum smirk. Tidak sia-sia ia mengeluarkan uang milyaran untuk membayar pihak hotel agar membantunya menjalankan rencana.