Saling Menyakiti

1087 Kata
Pagi ini Rava hanya sarapan dengan roti tawar dan segelas kopi hangat. Dia duduk di meja makan sambil vidio call dengan Daisy, tunangannya. "Hi, Love," ucap Daisy dari seberang sana. Gadis yang berprofesi sebagai model itu kini sedang berada di Paris untuk sebuah fashion show besar. "Hallo, Daisy. Kamu masih di Paris?" "Masih. Minggu depan aku ke Jepang untuk mengunjungi kakek, lalu setelah itu baru kembali ke Indonesia untuk pemotretan majalah iklan. Akhh, sepertinya aku akan sangat sibuk. Aku kangen banget sama kamu. Aku jadi tidak sabar menunggu kontrak kerjaku berakhir agar kita berdua bisa menikah," ucap Daisy. Saat ini ia masih terikat kontrak dengan sebuah brand kosmetik terkenal, lima bulan lagi kontrak itu baru berakhir. Di kontrak kerja Daisy terdapat persyaratan yang menetapkan bahwa dia harus menjaga citra "single" atau "available" untuk mendukung strategi pemasaran dan promosi mereka. "Bagaimana pekerjaan kamu di Singapore?" "Semuanya lancar, tapi enam bulan lagi aku baru bisa pulang ke Indonesia, menunggu semua pekerjaan aku di sini selesai." Sebagai CEO MasterClass, Rava telah mengubah wajah industri bimbingan digital dengan platform inovatifnya. Alasan Rava memilih tinggal di Singapore selama enam bulan karena dirinya harus memimpin langsung sebuah proyek yang bisa mengubah wajah MasterClass untuk selamanya. Proyek ini melibatkan pengembangan teknologi baru yang menggabungkan kecerdasan buatan dan pembelajaran interaktif dalam cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Untuk Rava, ini bukan hanya tentang menangkap kesempatan bisnis yang langka, tetapi juga tentang melanjutkan inovasi dan keunggulan yang telah dibangun MasterClass. Rava tahu perjalanan ini tidak akan mudah, tetapi dengan keinginan untuk memimpin perubahan dan memajukan industri bimbingan digital, Singapore bukan hanya menjadi kantor cabang baru, tetapi juga tempat di mana visi besar bisa menjadi kenyataan. Di saat percakapannya dengan Daisy itu masih berlangsung, tiba-tiba saja bel apartemen Rava berbunyi. "Sepertinya itu Gerald, aku memintanya datang karena ingin membahas pekerjaan. Vidio call-nya aku tutup dulu." "Hm baiklah, Sayang. Kamu jaga kesehatan di sana. Jangan lupa istirahat," pesan Daisy. "Iya, kamu juga. Nanti kita bicara lagi, sampai jumpa." Rava lalu menutup panggilan tersebut. Dia bangkit dari kursinya lalu berjalan menuju pintu. Sembari melangkah Rava berdecak, padahal ia menyuruh Gerald untuk datang pukul sembilan, tapi saat ini masih pukul delapan. Rava membuka pintu. "Aku menyuruh ka–" Ucapan Rava terpotong saat melihat orang di hadapannya itu bukan Gerald. Ia terkejut, menatap wanita di hadapannya, pandangannya lalu merunduk ke bawah. "Uncle!" seru Noah terkejut, detik kemudian wajah anak laki-laki itu terlihat bahagia. Jadi tetangga baru Noah adalah uncle. Apartemen Noah ada di sebelah punya uncle," lanjut Noah lalu tersenyum lebar. Mulut Rava sedikit ternganga, tak menyangka jika Gerald mencarikan apartemen tepat berada di sebelah milik Bella. Napas Bella tercekat, matanya terpaku pada pria di depannya. Wanita itu terlihat sangat terkejut sampai-sampai kotak brownies yang ia buat sendiri itu tiba-tiba terjatuh ke lantai. Tadinya ia berencana menyapa tetangga barunya sambil memberikan brownies tersebut. Namun, wanita itu sungguh tak menyangka jika tetangganya adalah Rava. "Yahh, brownies untuk uncle jatuh," tukas Noah, sedikit kecewa. "Mengapa kamu di sini?" tekan Bella. Apakah tak ada tempat lain yang bisa Rava tinggali? Kenapa apartemen pria itu harus berada di sebelahnya? Sebenarnya Bella masih bertanya-tanya mengapa pria itu berada di Singapore, apa tujuannya datang ke negara ini? "Tentu saja untuk tinggal." "Noah, pulanglah. Mommy ingin bicara dulu dengan uncle ini," suruh Bella. "Kenapa Noah nggak boleh dengan Mommy?" "Karena ini pembicaraan orang dewasa. Tunggu mommy di kamar." "Baiklah." Dengan raut wajah kecewa Noah kembali ke apartemennya. "Aku ingin bicara." Bella menyelonong masuk ke dalam apartemen Rava. Rava menutup pintu karena ia dapat merasakan kobaran api kemarahan di dalam diri Bella. Rava tak ingin tetangga lain sampai mendengar pertengkarannya dengan wanita itu. "Apa tak ada tempat lain yang bisa kamu tinggali? Kenapa harus di sini?" ketus Bella. "Apa ada larangan aku tinggal di sini? Lalu aku harus tinggal di mana? Di apartemen kamu?" "Tutup mulut kamu, Berengsek! Lebih baik kamu pindah dari sini!" Bella tak dapat menahan diri untuk tidak berkata-kata kasar. "Kamu bukan siapa-siapa yang bisa ngatur hidup aku. Terserah aku ingin tinggal di mana. Lagian aku membayar sangat mahal dengan uangku sendiri untuk membeli satu unit di apartemen ini," balas Rava, menatap Bella sengit. Sorot mata kedua insan itu saling menyiratkan api kebencian. "Kamu lupa? Kamu dulu mengatakan tidak ingin melihat wajah aku lagi! Aku menuruti perkataan kamu dan pergi. Lalu kenapa malah kamu sendiri yang menampakkan diri kamu di hadapan aku!" teriak Bella, dadanya remuk-redam. "Sekarang kamu telah ingat aku siapa? Cepat sekali ingatan kamu kembali," sindir Rava. "Kamu jangan kegeeran. Aku di sini bukan untuk kamu, tapi demi Noah," tekan Rava sehingga membuat Bella tertegun. Wajah wanita itu langsung berubah pucat. "Aku tidak akan membiarkan kamu mendekati anakku." "Entah kamu mengakuinya atau tidak, tapi aku yakin dia juga anakku dan aku akan membuktikannya." "Dia bukan anakmu! Dia adalah anak Samuel!" teriak Bella diiringi dengan tangisnya yang pecah. Dia terpaksa merendahkan dirinya sendiri agar Rava berhenti mengusik hidupnya setelah ini. Bella hanya ingin merasakan hidup tenang di negara ini. Perkataan Bella sukses menghantam ulu hati Rava. Samuel ... sungguh Rava tak ingin mendengar nama lelaki tersebut karena itu mengingatkannya pada sakit hati yang ia rasakan lima tahun lalu. Haruskah Bella mengungkit hal tersebut di depannya? Tangan Rava seketika terkepal sangat kuat. Ia merasa ingin meninju sesuatu untuk meluapkan emosinya ini. Dia sudah berusaha melupakan kejadian di hotel itu, tapi Bella malah mengingatkannya. "Jangan pernah kamu sebut nama lelaki itu di hadapan aku. Mungkin kamu memang berselingkuh dengannya, tapi aku yakin Noah adalah anak aku karena wajah kami mirip," tekan Rava dengan suara bergetar karena menahan emosi. "Mana mungkin pria suci seperti kamu memiliki anak dengan wanita mvrahan!" sentak Bella, ucapannya itu adalah sindiran untuk Rava bahwa dia juga pernah meniduri Bella, pria itu harusnya sadar bahwa dia adalah b******n yang telah merenggut kesucian Bella. Perkataan Bella sukses membuat Rava terdiam membisu. "Tolong ... biarkan aku hidup tenang. Aku juga tak ingin menyakiti hati kamu. Kita berdua hanya akan saling menyakiti jika terus bertemu." Bella mengerti Rava saat ini terjebak dalam kesalahpahaman, dan Bella tak mampu untuk menyadarkan pria itu karena dirinya pun juga tak memiliki bukti, ia pun juga tak tahu siapa orang yang telah tega menjebaknya lima tahun lalu di hotel. Ia dan Rava sama-sama terluka dan jalan satu-satunya untuk sembuh adalah dengan tidak bertemu lagi agar mereka bisa saling melupakan. Mungkin mereka berdua memang tidak ditakdirkan untuk bersatu. Sejak dulu selalu saja ada rintangan yang membuat Bella tak bisa memiliki Rava. Bella keluar dari apartemen Rava dengan air mata berderai. Dia mengumpulkan brownies yang berserakan di depan pintu apartemen Rava lalu pergi..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN