"Maksudnya bagaimana, Zian...?" tanya Satria pada adiknya. "Ya, Mas Satria harus berani ngomong sama, Mbak Eliana, " jawab Zian sambil tersenyum, berharap kakanya bisa mengerti. Satria mengatur napasnya yang sedikit naik turun, dadanya seolah sulit untuk bernapas kini. "A---apa itu akan berhasil?" tanya Satria lagi tak percaya akan apa yang di ucapkan oleh adiknya. "Tidak ada yang salah, Mas, bahkan Ibu begitu merindukan Daffa." Satria menggangguk. "Entahlah apa aku berani melakukannya, Zian." Zian tersenyum. "Demi Ibu, Mas." Wajah Satria membulat menahan gejolak rindu yang lama ia abaikan. Seorang anak, bahkan apakah Daffa mengenalinya atau tidak. Rasanya Satria mengingat ke beberapa tahun yang lalu, saat ia memutuskan meninggalkan Eliana sendirian menanggung beban hingga ia me

