Talak

1266 Kata
"Aku talak kamu ... kita berpisah." Setelah lama terdiam akhirnya, keluar juga kata itu dari mulut Satria. Mendengar kalimat singkat dari suaminya, lutut Eliana menjadi lemas. Gelas yang dari tadi ia pegang merosot jatuh ke lantai, menjadi serpihan kaca kecil yang berserakan. Sama seperti hatinya kini, hancur berkeping-keping, berserak. Eliana berusaha untuk duduk dan menenangkan getaran dalam tubuhnya. Eliana hanya terdiam seribu bahasa. tanpa menjawab. "Aku telah salah menduga, Eliana, kukira dirimu tulus mencintaiku. Ternyata, kau tidak mencintaiku. Buktinya kau menyerah hanya karena melihat vidio itu." Emosi Eliana sedang naik satu tingkat. Ucapan itu lolos begitu saja. Namun, seperti biasa Eliana berusaha diam dan tegar. "Apakah ini akhir dari pernikahan kita?" tanya Eliana serak. Eliana terisak tak mengerti kenapa bisa seperti ini. "Aku sudah malas menjelaskannya. Aku memberi pernyataan pun kau tak kan percaya kan." Satria meremas rambutnya yang tidak gatal. "Aku tidak bisa lagi hidup bersamamu. Besok aku pergi, aku ada meeting lagi dengan, Bosku menyelesaikan urusan bisnisnya di luar kota, aku harap jika aku kembali kau sudah pergi." Eliana tak menjawab seolah dunia Eliana telah runtuh. Satria mengakhiri kalimatnya matanya memerah. Menahan amarah, Satria sudah siap jika Eliana mencaci bahkan memakinya, apapun ucapan Eliana itu Satria telah memutuskan tak kan menjawabnya lagi. Satria sudah menjelaskan semuanya namun Eliana tidak percaya, jalan satu-satunya perpisahan ini akan tetap terjadi. Yolanda atasan Satria juga sang bosnya yang selalu memintanya menceraikan istrinya membuat hati Satria bulat dengan perkataannya. Eliana hanya bisa pasrah akan akir dari pernikahannya, bahkan kalimat itu sudah terucap dari bibir Satria. Andai Eliana menolak dan berontakpun akan sia-sia saja, Seperti perempuan lainnya, Eliana juga ingin berteriak dan bertanya, tapi mulutnya rapat. Hanya terlihat lelehan air mata yang tidak sanggup dia tahan. "Maaf." Hening. Hanya terdengar nafas yang memburu dari keduanya. Tak sepatahpun kalimat keluar dari bibir Eliana. kata talak bagi perempuan di manapun adalah seperti tamparan bagi seorang wanita dalam sebuah perkawinan. Begitu juga bagi Eliana, sedetik setelah ia mendengar kata itu, lututnya serasa goyah. Ia merasa jika separuh hatinya telah hilang. Entah bagaimana hidupnya nanti bersama Daffa pikiran Eliana buntu, ia tak bisa berpikir apapun lagi. Eliana cukup paham, dari awal dirinya membangkang Ayah dan Ibunya hingga ia mendapatkan kata takak dari suaminya tak lepas dari berontak nya pada orang tua. Tidak pernah mendapat tempat di hati orang tuanya. Mungkinkah ini karna jika membangkang perkataan orang tuanya? Air mata Eliana tak berhenti mengalir. Satria mengusap kasar wajahnya. Cukup tahu jika Eliana menangis saat ini. Cukup lama Satria ingin mengetahui Eliana yang menutupi wajahnya dengan tangan. Entah mengapa tangannya kaku, padahal di hatinya yang terdalam dia ingin sekali meraih kepala perempuan yang telah tiga tahun menjadi istrinya dan memberinya putra yang sangat tampan. "El, Apa kau tak ingin membela dirimu? Kau menginginkan perceraian ini kah?" Eliana tak menjawab. Hening Satria merasa jika ia sangat bersalah, bagaimana bisa perkataannya lolos begitu saja pada istrinya. Entah perasaan gila apa yang dirasakan Satria yang terus menerus diracuni pikirannya oleh Yolanda Bosnya. Sesal seketika merelungi jiwa Eliana. "El." Eliana yang menunduk sekarang mendongak meliahat kearah laki-laki yang baru saja menalaknya. Dan membuka tangannya yang basah dengan air mata. "Maaf, El." Satria menelan ludah, ia harus kuat melihat ini semua, jauh dilupuk hatinya ia ingin memeluk erat wanita yang dinikahinya tiga tahun lalu. Namun egonya lebih tinggi dari pada logikanya. "Aku menerima perceraian ini, Mas. Jika itu bisa membuatmu bahagia." Eliana bicara pelan. Satria terkejut, ia menyangka jika Eliana akan marah dan memakinya nyatanya Eliana hanya pasrah dan menyetujuinya. "Baiklah, itu sudah keputusanmu kan, dan bawalah Dafa pergi. Dia masih sangat membutuhkanmu." Satria bergetar hebat. Eliana hanya mengangguk pasrah, tidak ada sepatah katapun yang meluruskan perkataan suaminya. d**a Satria begitu sesak, dia mungkin lupa begitu dalam dan besar cintanya pada perempuan di hadapannya selama ini. Eliana berjalan menuju kamar mengemasi bajunya dalam tas, hanya tas kecil yang ia kemasi. Itupun hanya pakaian Dafa dan sedikit bajunya. Ia mengendong Dafa dan melangkah keluar, Satria hanya duduk mendongak melihat istrinya. Satria melihatnya mengemasi beberapa helai pakaian dalam tas kecil. Tanpa menoleh, ia bergegas berjalan di depan Satria dengan hujan yang sejak tadi tak berhenti tumpah dari wajah Eliana. Namun, seolah Satria masih mempertahankan egonya. Ia berjalan di depan Satria, Eliana mencoba untuk mengeluarkan suara. Begitu sulit suara keluar dari mulutnya, serasa mulutnya terkunci namun Eliana tetap mencoba untuk berkata, mengeluarkan segala tanya yang tersimpan dalam d**a. "Aku pamit, Mas." Satria tak bergeming. Eliana menggendong anaknya. "Jaga diri baik-baik. Jika lambungmu kambuh, obatnya ada di kulkas, jangan, lupa makan ...." Hati Satria bagai tertusuk benda tajam tepat mengenai jantungnya. Satria diam hanya menunduduk tak berani menatap wajah istrinya yang berlalu pergi Eliana meneruskan langkah pergi meninggalkan rumah itu dengan segudang luka di hatinya. Eliana berjalan melangkah melewati trotoar di sebelah kiri jalan menuju pertigaan. Jalanan sangat sepi. Angin malam ini, membuai Eliana seakan dunianya telah hancur. Ia terus saja melangkah saat ada yang mengikutinya di belakang, dalam benak Eliana jika suaminya yang mengejar namun sepertinta bukan. Langkah kaki semakin Eliana percepat, agar lekas sampai di pertigaan dan saat ia menoleh ternyata Sonya yang menegurnya. "Lo, Mbak El, mau kemana bawa tas segala?" tanya penasaran Sonya pada Eliana. "Emm, Mbak mau ke rumah sakit nih, jadi Dafa agak demam lagi," bohong Eliana pada Sonya. "Oh. Baiklah, Sonya antar, sekalian Sonya mau ke kampus, ada acara." "Ngak ngrepotin nih, Sonya?" Sonya tersenyum. "Ngak lah, ayo naik, Mbak, sini biar tasnya, Sonya taruh di depan." "Baiklah, terima kasih ya, Sonya." Sonya tersenyum. "Sama-sama, Mbak." Sonya melajukan motornya menuju rumah sakit terdekat, di belakang Eliana tak bisa menyembunyikan kesedihannya air matanya jatuh membasahi pipi. - "Astaghfirullah ... bukankah Eliana tidak punya saudara di kota besar ini ya Allah betapa bodohnya aku...." Lirih Satria kesal pada dirinya sendiri. Ia berlari mencari istrinya namun tak juga ia dapati, ia berjalan ke pertigaan juga sepi. Bagaimana jika Eliana tersesat astaga bagaimana jika orang tuanya menyalahkan Satria nanti. Sudahlah bukankah dia punya banyak uang di kartu atm. Satria berjalan menuju rumahnya begitu sepi biasanya Dafa menangis keras meminta digendong oleh Ibunya. Satria berusaha menepis bayangan itu. Satria tidak ingin rindu. Dengan langkah cepat Satria meninggalkan jalanan dan masuk ke rumahnya yang begitu sederhana. Hingga dadanya begitu sesak sapaan lembut Eliana tak lagi ia dengar. Bahkan baru lima menit ia meninggalkan rumah ini namun Satria begitu rindu. "Mas, makan dulu." "Ini kopinya, Mas." "Mas, tolong ajak Dafa sebentar, saja." Sunyi, rumah ini tidak ada penghuninya kini. Ada yang hilang dari dalam tubuhnya, separuh hati Satria telah hilang. Bagaimana nasibnya kini, kemana ia akan pergi? Satria berjalan ke arah ranjang dan menjatuhkan tubuhnya. Sepertinya ada barang dibalik tubuhnya dan benar saja, keningnya berkerut. Seluruh perhiasan utuh, buku tabungan dan atm yang biasa dia pegang juga masih rapih tersimpan dalam tas ini, bagaimana nasib Dafa jika atmnya saja tidak Eliana bawa. Aghhh .... Satria membuang semua barang jatuh ke lantai. "Eliana sudah tak waras, tak ada satupun barang yang di ambil dari rumah ini, hanya beberapa potong pakaian dia dan Dafa? Astaga." Mata Satria menatap nanar menatap ke atas langit kamarnya. Seribu tanya berkecamuk dalam dadanya. Kemana perginya? Ponsel Eliana berdering di samping Satria. Satria membanting ponselnya. Tak percaya jika perbuatannya sebodoh ini. gundah yang membersit di hati Satria, mereka hidup dengan cara apa? Tanpa uang kemana mereka pergi? Eliana tidak memiliki siapapun di kota ini. Eliana tidak pernah lagi membantah ketika Satria perintah. Tidak pernah komplen ketika ia pulang malam bahkan tidak pulang karena pekerjaannya. Tidak pernah melarang ketika Satria menghabiskan hari sabtu minggunya bersama teman sekerjanya. Namun tidak pernah Satria sangka jika Eliana begitu cemburu soal kedekatannya dengan Yolanda, dan pada akirnya Eliana akan menghilang seperti sekarang ini. "Di mana kamu, El?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN