Keegoisan Satria

1496 Kata
Satria merasa begitu lelah akan hidupnya sekarang separuh dari hatinya telah menghilang. Seminggu sudah Satria baru kembali dari urusannya bersama bosnya ke luar kota. membuat Satria merasa hampa. Ia ingin segera merebahkan tubuhnya ke ranjang dan tiduran . Yolanda: "Sat. Terima kasih buat waktunya ya. Menemaiku ke resto, selamat istirahat." Satria hanya tersenyum miring tanpa membalas. Malas Satria membalasnya jika bukan Bosnya mungkin akan Satria abaikan. Yolanda: "Nanti temani aku makan malam ya? Di acaranya, Yuni ulang tahun dia?" Satria menyusap rambutnya dengan kasar, entah apa yang ada dalam pikirannya Bosnya ini. Satria tak membalasnya dan segera ke kamar mandi. Ia nyalakan shower, tak pikir panjang ia langsung mengguyur seluruh tubuhnya yang begitu penat merasakan jika ia sangat merindukan Eliana memakai daster lusuh milik istrinya. Dan memberikan nya secangkir teh jahe hangat kesukaannya. Dalam resah yang sepertinya membunuh jiwa, tak sengaja Satria menangkap sabun wangi milik Eliana juga sabun baby milik Dafa. Sepertinya harum tubuh Eliana dan Dafa masih tertinggal di rumah itu. Bayangan-bayangan itu membuat d**a Satria terasa bergemuruh hebat. Sesal melanda hati Satria Satria terus mengguyur tubuhnya dengan shower hingga air itu bisa menghapus sudut matanya yang terasa basah. Runtuh sudah ketegaran Satria. Ia menangis, Satria mugkin saja murka atas kebodohannya yang telah salah menilai sosok istrinya sendiri. Cemburunya membuat Satria emosi dan mengucap talak pada wanita yang sedari dulu sangat ia cintai itu. Perut Satria terasa perih namun ia tak ingin makan, ia mengganti pakaian dan duduk kembali di sofa depan televisi dan meraih gawainya. semenjak Eliana pergi, entah berapa ratus kali Satria menghubungi nomor gawai perempuan itu. Jawabannya selalu sama, tidak aktip. Satria tersenyum kecut bukankah ponsel Eliana sudah ia hancurkan. Yolanda: "Satria aku tunggu ya harus bisa?" Satria tak mengerti dengan Bosnya, Satria merasakannya saat ini. Tatapannya kosong dalam diam. Menyadari kalau dia telah kehilangan mutiara yang paling berharga dalam hidupnya Eliana. Satria: "Baiklah." Toh ... di rumah hanya semakin membuat Satria menjadi gila karena mengingat Eliana. Senyum lembut dan kehangatan serta cinta perempuan yang selalu menatapnya dengan binar rindu yang sama. Satria rindu.... "Maaf ya, sayang. Jika aku selalu menyusahkan kamu, habis gimana lagi aku suka ditemani kamu." Yolanda berkata. Ia berusaha meredam mood lelaki yang sangat ia sukai Satria. Satria menggeleng pelan. "Bilang pada, Yuni untuk tak lama-lama acaranya," ujar Satria datar. "Iya ... tenang saja tak akan lama, aku janji," ucap Yolanda lagi. Sampai di tempat. Satria menatap penjuru ruangan, sekilas ia melihat Eliana istrinya sedang berdansa dengan seorang lelaki dan ia langsung menghampiri dan memukul pria itu. Berkali ia mendorong tubuh lelaki itu. Lelaki itu hampir terjatuh karena Satria. "Hey apa masalahmu?" tanya lelaki itu tak mengerti. "Kau apakan kekasihku!" Wanita itu menjerit dan memukul-mukul tubuh Satria yang sedikit pun tak bergerak, ia tetap erat mencekik leher lelaki itu. "Satria sudah ... sudah. Ya Allah, apa masalahmu dengan lelaki itu, Satria." Yolanda yang panik mulai terisak. Seketika Satria sadar ia hanya berhalusinasi saja. Ia dengan cepat menurunkan tangannya. Astaga bayangan Eliana selalu menghantuinya kemana pun Satria pergi. Dengan kasar ia meremas rambutnya. Yolanda menggeleng cepat. "Kenapa Satria? Ada apa denganmu, hah. " Yolanda mengusap lembut jemari Satria. Satria menarik napas lega, akhirnya bukan wajah Eliana yang diajaknya berdansa. "Astaghfirullah ada apa denganku," lirih Satria. "Ada apa? Kamu membuat kekacauan di sini, Satrua," ucap Yuni kasar pada Satria. "Apa Yolanda ...!" bentak Satria. "Ehhh ... itu, tidak apa-apa Satria," ucap Yuni terbata. Satria memerah menahan amarahnya. "Aku tak mau disini, aku akan pulang," ujar Satria. "Tunggulah sebentar Satria, acara juga belum mulai 'kan," rayu Yolanda pada Satria. Satria segera turun dari resto dan berlalu pergi tanpa menghiraukan Yolanda atasannya, Satria mengutuk diri, bagaimana mungkin ia bisa membayangkan Eliana dan melukai pria itu. Kenapa keindahan Eliana istrinya itu tergambar jelas setelah ia pergi? Mengapa kesempurnaan Eliana itu tampak nyata setelah Eliana berlalu pergi dari hidupnya? - Entah sudah jam berapa matanya belum bisa bisa terpejam. Baru seminggu Satria di tinggal oleh Eliana ia merasa tersiksa sekali. Pikiran dan hatinya yang kacau membuat dia lupa makan dan minum. Padahal, di kantor juga tidak makan hanya minum kopi beberapa teguk saat istirahat meeting. Satria menatap ponselnya dan menelusuri chat terakhir Eliana yang tak ia balas. "Dafa sudah tumbuh gigi, Mas." "Mas, sudah makan belum?" "Mas, awas jangan tidur malam. Enggak bagus buat kesehatan." "Mas, aku masak kesukaanmu. Pulang cepat ya." "Mas, aku dan Daffa rindu, kita jalan-jalan yuk." Satria hanya tersenyum getir. Chat dari Eliana yang selama ini dianggap biasa dan kadang di anggap cuma angin lalu, terasa begitu manis. Kata seseorang, jika wanita marah maka cukup diam dan dengarkan sampai ia lelah mengeluarkan semua umpatan dalam hatinya. Maka inilah yang salah dari Satria ia malah marah membuat Eliana begitu takut. Bukannya reda, kemarahan Eliana seperti bom waktu yang akhirnya bisa meledak. Satria masih di kantor dengan segudang pekerjaan. "Bro, ayo … sudah ditunggu, Bu Yolanda. Di ajak bareng dia tuh!” ucapnya sementara matanya mengerling ke arah bosnya Yolanda yang tampilannya begitu seksi. "Loe duluan aja, Bro … bentar lagi gue nyusul." "Ah pasti lu maunya berduaan doang sama bos," godanya membuat kedua bola mata Satria melotot ke arahnya. "Pergi duluan, sana! Bu Yolanda ajak aja sekalian. Biar aku sendiri." "Alasan doang loe Satria, sih." Goda temannya seraya menaikkan satu alisnya ke atas sambil menutup pintu. Satria segera menelpon Yolanda. Satria meminta agar dia berangkat duluan saja dengan yang lain. Karena masih ada file yang harus ia kerjakan. Awalnya Yolanda menolak namun akhirnya ia ikut dengan yang lain. Setengah jam berlalu, akhirnya pekerjaanku selesai. Satria melihat ponselnya tapi tidak juga ada balasan. Ia mengirim kembali pesan pada Eliana. Satria menunggu balasannya tapi tak kunjung datang. Khawatir sebetulnya tapi mau gimana pun ini sudah menjadi kerjaannya, ia harus bangkit tanpa Eliana lagi. Satria merebahkan tubuhnya di kursi, berusaha mengatur napas agar sedikit tenang. Tangannya, menggapai sesuatu di sampingnya. Dengan tangan bergetar, dia mengetik sesuatu di layar ponselnya. "Sayang, pulanglah." Centang itu masih sama dari kemarin tetap centang satu, tidak ada notifikasi, pesan masuk. Gawainya Satria sunyi. Sesunyi hatinya kini. Satria tertawa keras bahkan ponsel istrinya ada di rumah ini. Bukanlah waktu itu Satria membantingnya dengan keras hingga ponsel milik Eliana jatuh dan hancur. - "Non, bagaimana keadaannya apa masih pusing?" tanya Simbok yang merawat Eliana. "Alhamdulillah baik, Mbok. Maaf, Eliana merepotkan," ucap Eliana pada Simbok. Simbol tersenyum. "Tidak apa-apa, Non jadi Simbok punya teman, di rumah sebesar ini Mbok hanya sendiri, Den Reindra sibuk." "Mbok tahu bagaimana, Den Reindra menyelamatkanku?" tanya penasaran Eliana pasa Simbok. "Kata, Den Reindra, ia menemukan, Non Eliana di pinggir jalan, Non. Sedang tak sadarkan diri sedangkan anak, Non menangis." "Apa ada sesuatu yang, Mbok simpan, cerita saja, Insyaalloh aku bisa menjaganya. Lagian aku belum bertemu dengan, Den Reindra juga kan, Mbok." "Cerita apa, Non, Mbok mana tahu." "Den Rein memaksamu?" "Tidak, Non." Eliana tertawa ringan. "Seperti apa wajah, Den Rein. Mbok?" Simbok menggeser duduknya, kemudian menepuk tangan Eliana. "Yakin nanti kalau Non Eliana ketemu ga jatuh cinta?" Eliana menggeleng pelan. "Jangan, Mbok. Aku hanya seorang istri yang tak diharapkan! Mana mau, Den Rein sama, Eliana. " "Siapa tahu jodoh, Non." Mbok Siti terus menggodanya. Eliana tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan menatap malu wajah Simbok. "Non, sepertinya Dafa nyenyak tidurnya?" "Iya mumpung, Daffa tidur aku bantu masak, Mbok," ucap Eliana pada Simbok. Sejenak Eliana merasa jika perasaannya sedikit membaik, semoga saja hari-hatinya akan membuat lukanya sedikit terobati. Eliana membantu Mbok Siti memasak, karena kata beliau Reindra akan pulang hari ini, setelah lama sejak Dia menolong Eliana, kata Simbok ia ke luar kota untuk urusannya, Mbok Siti bilang jika Reindra bekerja sebagai Dosen di sebuah kampus di kota ini. Eliana melangkah ke arah dapur, duduk di kursi. Meneruskan memotong wortel, kentang juga kol, sosis serta baso. Untuk sayur sop yang di inginkan Den Rein kata Simbok. Sekuat hati Eliana tahan jangan sampai air matanya luruh kali ini. Sudah cukup Eliana menjadi perempuan cengeng karena meratapi nasib yang sempat ia anggap hancur beberapa waktu lalu. Nyatanya di dunia ini ia masih ada orang baik yang menolongnya. Dengan cekatan Eliana siapkan sayur dan lauk untuk di masak. Biar Simbok ga terlalu capek. Beberapa hari ini beliau yang mengurusnya saat Eliana deman tinggi. "El," panggil Simbok sambil meletakkan mangkok kosong untuk di isi sayur yang sudah matang. "Iya. Biarkan di situ saja, sebentar lagi matang Mbok," jawabnya tanpa menoleh lagi. Eliana menyibukkan diri mengaduk sayur di atas kompor. "Baiklah, karena sudah selesai, Mbok yang akan menyapu ruangan ya, Non El." "Iya, Mbok." Terdengar Simbok bersih-bersih, melangkah penjuru ruangan dan membersihkan semuanya. Sedangkan Eliana sibuk ke dapur membuat lauk ayam goreng juga tahu goreng kata Simbok, Den Rein suka tahu goreng. "Sudah selesai, El?" tanyanya kembali ke dapur. Saat itu Eliana tinggal membereskan perabot yang ia cuci di wastafel. "Sudah. Tinggal beres-beres, Mbok." Terdengar suara deru mesin mobil. Di depan rumah, Mbok Siti tersenyum kearah Eliana dan berlalu pergi ke depan rumah mewah ini. Menit berikutnya Simbok "Non, Den Rein sudah pulang." Deg ... ada rasa yang entah, namun Eliana berusaha untuk menyampaikan rasa terima kasih. Ya karena Rein sudah menolongnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN