Selesai masak Eliana berjalan untuk sesaat terpana dengan pemandangan di sekitar. Sebuah rumah yang cukup besar, di kelilingi bermacam-macam bunga ada melati bunga lili, mawar dan bugenfil. Eliana langsung bergerak mendekat. Menelisik bagian rumah indah yang sebagian besar terbuat dari kayu.
Langkah Eliana mengarah ke bagian samping. Ada sebuah kolam renang yang tidak terlalu luas, hanya sekitar lima atau tujuh meter memanjang. Di belakang rumah terdapat gubuk kecil sebuah gazebo dengan tempat duduk lesehannya. Sekilas terlihat tampak sempurna.
Eliana mendekati gazebo bersama Dafa dengan kereta dorongnya. Eliana duduk menatap takjub rumah yang begitu indah dan mewah. Hati Eliana benar-benar sakit. Semakin terasa sakit ketika mengingat bahwa ternyata sudah ada wanita lain yang berstatus sebagai penggantinya di hati suaminya Satria.
Tega sekali Satria melakukan hal itu pada Eliana, Bahkan ia baru mengetahuinya beberapa hari yang yang lalu. Setelah Eliana puas menumpahkan segala kekecewaan yang menggumpal di hati melalui air mata, Eliana edarkan pandangan ke seluruh ruangan. Sesaat ia sadar jika dirinya sedang di rumah Den Reindra.
"Non, cepat mandikan, Dafa? Den Rein menyuruh kita makan bersama, Mbok tunggu di meja makan ya sepuluh menit lagi?"
"Oh, begitu baiklah, Mbok," terlihat wajah panik dari Eliana.
"Oh ya, Non. Ini banyak baju baru yang dibeli oleh, Den Rein untuk, Non El juga Dafa."
Eliana merasa jika dirinya tak perlu di perlakukan seperti ini, ini berlebihan. Eliana menelan salvianya yang terasa begitu pahit. Selama menikah dengan Satria jangankan di belikan baju. Ia hanya memberikan uang tanpa pernah memberikan perhatian yang lebih seperti ini.
Eliana masuk dan menjadikan Dafa, senyum mengembangkan dari wajah mungil Dafa, selama di sini Daffa jarang rewel mungkin suasana rumahnya begitu nyaman juga tenang.
"Duh sudah ganteng aja, Dafa, sini biar Mbok yang ajak. Sekarang giliran kamu mandi dan dandan ya? Ingat! Den Rein suka gadis yang wangi."
Deg
"Oh ... begitu, Mbok!"
"Sudah sana ingat pesan, Mbok."
Eliana menggangguk dan melangkah pergi ke kamar mandi, Sejenak Eliana duduk di depan cermin meja rias besar penuh dengan minyak wangi juga alat Make up. Entah kapan banyak sekali alat kecantikan di sini terlihat jelas wajah pucat Eliana di depan Cermin panjang yang menempel di meja rias.
Eliana mencoba mengambil alat kecantikan di depannya, dengan tangan sedikit bergetar sudah lama sekali ia tak menggunakannya. Dengan sedikit polesan natural membuat Eliana. Sedikit berbeda diusianya yang masih dua puluh emam tahun membuatnya terlihat masih muda. Eliana tersenyum meluhat dirinya di cermin.
Bismillah ia harus berubah demi masa depannya yang masih panjang. Berharap jika semua akan baik-baik saja.
"Astaga, cantik sekali, Non, ayo sudah di tunggu sama, Den Rein."
Eliana menatap ke arah Simbok. "Biasa saja, Mbok Siti."
"Sampai pangkling, Mbok, loh kenapa murung?" tanya Simbok ketika melihat wajah pias Eliana.
"Enggak ... aku minder sih, Mbok," jawab Eliana pelan.
"Eh ... kenapa? Cantik lo, Non. "
"Takut, Mbok, aku deg-degan," ujar Eliana pelan.
Mbok Siti tersenyum. "Kau tahu, jika, Den Rein tak mudah membawa wanita kerumah ini." Jelasnya.
Eliana menggeleng, apa mungkin ini hanya halusinasi Eliana saja. Terlalu pede dengan Den Rein. Kepercayaan diri Eliana langsung menurun drastis.
Eliana berjalan mengekor Simbok dari belakang dan hanya menunduk, mereka tiba di kursi meja makan namun Eliana hanya menunduk tak berani mendongakkan wajahnya.
"Eliana ...," panggil seseorang yang berada di depannya.
Seketika pandangan Eliana menunduk tanpa berani menatap wajah seseorang yang telah menyelamatkannya beberapa hari yang lalu.
Eliana tersenyum dan menggangguk. "Iya, Den."
Seorang cowok terlihat dengan postur tinggi dan rambut rapi ke atas, duduk tepat di depannya. Tiba-tiba debar d**a Eliana berpacu lebih cepat, ketika cowok itu menatap tajam dirinya.
"Apa kabar?"
"Baik," jawab Eliana sambil menyambut uluran tangan pria yang tersenyum ramah.
"Saya, Reindra biasa dipanggil. Rain," ucapnya saat menjabat tangan Eliana.
"Rein ... astaga kau Reindra Fataya," jawab Eliana singkat.
"Enggak nyangka bisa bertemu kamu di sini. Beberapa tahun lalu aku mencarimu, aku ke rumah Ibumu. Kata beliau kamu sudah pergi menikah. Kemana kamu selama ini, El?"
Binar mata cowok itu ada sesuatu yang sulit di ungkapkan, karena terlalu bahagia. Menemukan sahabatnya dari masa lalu Eliana.
"Rein kau...!"
Eliana memandang Reindra yang saat itu juga sedang menatapnya.
"Makanlah ... lihatlah badanmu terlalu kurus."
Eliana mengusap sudut matanya yang basah. Eliana menarik kursi mendekati meja, ia berusaha setenang mungkin berhadapan dengan Reindra yang tak lain adalah kakak dari sahabatnya Safana. Dulu mereka suka bermain bersama saat kecil.
"Masakanmu masih sama, lezat."
"Bagaimana kabar Safana, Mas, eh Den?" tanya Eliana tak berani menatap wajah Reindra.
"Dia sekarang jadi dokter Eliana dan masih tugas di Surabaya, bukankah kamu dulu juga mengambil jurusan yang sama Eliana."
"Iya, Den. Terima kasih sudah menyelamatkan aku Den. Entah jika tak ada Den Rein apa yang terjadi padaku."
Eliana merasakan sakit tapi tidak bisa berkata-kata? Lidahnya kelu ketika mengingat semuanya.
"Sudahlah, El. Aku pun sama sepertimu, Istri dan anakku meninggal di waktu yang bersamaan."
Sinar mata Reindra pun sama tidak bisa menyembunyikan rasa dalam dadanya.
"Maaf, aku tidak tahu, Den."
Eliana langsung mengalihkan wajahnya. Ia tak berani menatap Reindra dengan wajah sedihnya.
"Untuk apa? Sudahlah semua sudah berlalu kan."
Deg! Apa ini, rasa yang sama Reindra mengucapkan kesedihan yang begitu mendalam padanya. pasti ia pun begitu terluka.
"Kapan kita akan bahagia, Den Rein?"
Reindra masih memandang. Entah pandangan mata yang bermakna apa, yang Rein ditunjukkan pada Eliana. "Badai pasti akan berlalu Eliana, tenanglah aku akan membantumu membalas sakitmu pada lelaki yang telah membuatmu menangis."
Eliana menangis dan menggangguk, "Aku butuh semangatmu, Den Rein."
Reindra menggangguk. "Aku, ini akan selalu ada untukmu, El. Jadi panggil apa saja, dan aku pastikan suamimu akan menyesal telah menghianatimu"
Eliana menggangguk. "Baiklah."
Malam semakin larut, meski di luar hujan Eliana merasa tububnya begitu panas, ia lalu berdiri dan menuju kamar mandi. Di bawah guyuran air shower, air mata Eliana luruh. Sesak yang Eliana rasakan sejak tadi bertemu Reindra, sedikit demi sedikit terurai. Tuhan masih menyayanginya hingga masih mempertemukan dirinya dengan sahabat masa kecilnya.
-
Dengan kelelahan pikiran juga tubuh yang sangat, kemarahan Satria memuncak hingga tak sadar Satria terpancing.
Dan mengucapkan kata talak begitu saja.
Satria pikir, setelah perpisahan hari itu ia akan baik-baik saja. Nyatanya, separuh jiwanya ikut mati bersama hubungan perkawinan mereka yang tak terselamatkan.
Mula-mula, Satrialah pemenangnya, menyaksikan Eliana melangkah lebar dengan tas di tangan, tanpa berniat menahannya untuk tetap tinggal. Rasa percaya diri hinggap di dalam d**a Satria, bahwa Eliana akan kembali, tidak mungkin ia bisa bertahan tanpanya.
Satria keluar kantor dan membuka pintu mobilnya, dan masuk saat mobil hendak berjalan, tampak dari spion seorang gadis berlari sambil melambaikan tangan, Satria menghentikan mobilnya.
"Yolanda ... ada apa lagi dia?"
Satria menginjak rem dan menunggunya. Segera ia turun dari mobilnya.
"Kamu kenapa, Yolanda lari-lari ga jelas?" tanyanya.
"Mobilku mogok, Satria," ucapnya dengan napas terengah-engah.
Satria menghela napas, dan menyuruh Yolanda masuk. Mobil melaju membelah jalan raya menuju ke perusahaan untuk mengadakan presentasi. Mereka tiba di perusahaan. Mereka langsung mengarahkan ruangan yang sudah siapkan.
Meeting selesai Satria dan tim memenagkan tander yang besar, Yolanda tersenyum bahagia, ia tak salah pilih jika cowok incarannya begitu cerdas dan pintar. Tak sia-sia ia membuat vidio dan foto mesra mereka ke nomor gawai milik istrinya Eliana yang culun itu.
"Kamu memang hebat Satria, aku bangga padamu."
"Biasa saja, Yolanda," ucap Satria pelan.
"Kita rayakan ini, aku yang traktir?"
"Ok."
Mereka menasuki area kafe, dan lima orang satu tim masuk bersamaan memesan nasi juga lauk ikan bakar gurami. Namun saat mamasuk sudut mata Satria menangkap bayangan seseorang wanita.
"Eliana ...!" Satria menggosok matanya dan kembali melihat ke arah tadi, namun sosok itu sudah hilang.
Satria tak mau ambil pusing, nanti salah lagi, mungkin karena rindunya ia dengan istrinya. Acara selesai hingga malam, mereka kembali pulang dan namanya Satria harus mengantarkan Yolanda pulang. Akhirnya Satria tiba di rumah. Sudah sepi, pastilah soalnya sudah tengah malam. Satria membuka kuncinya dan masuk. Ia mencari Eliana juga Daffa
"Eliana di mana kamu?" Satria mengacak rambut dengan kesal.
"Aku membutuhkanmu."
Satria sadar ia lalu duduk. Di pojok kamarnya, rasa bersalah hinggap lagi dalam pikirannya. Terus saja ia meyakinkan diri bahwa Eliana pasti kembali, meski di dalam d**a sungguh terasa hampa dengan keheningan yang kapan saja bisa membunuh Satria secara perlahan-lahan. Pandangan Satria kini berhenti pada foto pernikahan mereka yang dicetak dengan ukuran jumbo. Foto yang sudah terpasang hampir tiga tahun disana. Hanya itu satu-satunya kenangan dari Eliana.
Satria terbangun dengan kepala pusing dan badan yang terasa sakit. Satria mendapati dirinya tertidur di atas sofa, menyadari tertidur sambil memeluk foto Eliana dan Daffa yang baru ia ambil dalam galeri gawainya dan Satria cetak kemarin. Tidur tanpa bisa memeluk dan merasakan kehangatan tubuh Eliana membuat Satria tersiksa sekali....
Apakah masih ada sedikit harapan untuknya ... membuat Eliana kembali padanya?