"Non ditunggu, Den Reindra di depan." Simbok datang seraya menggendong Daffa.
"Hah, serius, Mbok." Eliana tak percaya apa kata Simbok.
"Iya, dia bilang mau ajak, Non ke salon apa," ucap Simbok membuat mata Eliana terbelalak kaget.
"A ... apa salon Mbok?" tanya Eliana terbata.
"Iya, Non. Biar, Daffa di rumah sama, Mbok ya. Kan semenjak ada, Non El pekerjaan Mbok jadi berkurang, dari pada Mbok ngantuk di rumah sendirian."
Eliana menggangguk pelan. "Iya boleh, Mbok."
Bibir itu merekah, tersenyum lega. Kemudian wanita sederhana itu mengangguk patuh oleh perintah Reindra. Dan melangkah menuju kamar mandi.
"Cepat sedikit, Non," ucap Simbok sambil menggendong Daffa keluar.
"Iya, Mbok."
Mobil meluncur keluar halaman, akhirnya Eliana duduk di samping Reindra membelah jalan raya di atas aspal yang begitu panas membara. Eliana terlihat gugup ia mengalihkan pandangan keluar kaca mobil milik Reindra.
Reindra berusaha memulai pembicaraan dengan Eliana.
"Aku sudah ajukan gugatanmu. Masih sekitar satu bulan lagi sidang ceraimu, El. "
Deg
"Sudah di ajukan? Apa ini bisa di urus di kota ini, Mas?"
Reindra menagangguk. "Bisa tenang saja, El."
Eliana minum air mineral yang ia bawa dari rumah, lalu menegukknya beberapa kali, saat ini gugup menyerang hati Eliana.
"Nggak usah goyah El. Kamu harus berjuang demi masa depanmu juga, Daffa."
Reindra begitu semangat dan Eliana hanya tersenyum getir pernikahanya harus kandas akan segera berakhir.
"Iya, Bismillah, Mas Rein." Senyum mengembang dari bibir Eliana. Kadang dengan senyuman sudah mewakili perasaan.
Sesaat mereka hening. Ada rasa bersalah dari diri Reindra melihat ekspresi ketakutannya Eliana saat ini. Eliana adalah sosok wanita terlalu baik, dia mampu membuat Reindra terus memikirkannya.
Mobil terparkir di depan salon Ayila mereka turun dari mobil dan berjalan menuju perawatan wanita itu. Mereka berjalan beriringan melewati paving yang tertata rapi di depan salon, mata Eliana tak berkedip melihat bangunan-bangunan yang begitu indah. Salah satunya adalah Salon Ayla.
"Ayo masuk." Ajaknya.
"El gugup, Mas."
Reindra tersenyum sambil menggandeng tangan mesra Eliana masuk ke dalam. Sesaat kemudian, sapaan dari wanita cantik itu datang menghampiri Reindra. Eliana baru menyadari kedatangannya disambut dengan begitu ramah. Mempersilahkan mereka untuk duduk, salah satu karyawan memberikan dia dua cangkir teh hangat untuk Eliana juga Reindra.
"Ada yang bisa kami bantu, Pak Rein?"
"Tolong make over, semua yang ada dalam diri wanita ini, Ayla! Saya mau ia terlihat cantik dan modis."
Ayla tersenyum menatap Eliana. "Baiklah, Pak Rein akan aku buat dia jauh lebih cantik lagi."
"Berapa lama kira-kira, Ayla? akan saya tinggal sebentar ke kampus."
"Dua jam cukup kali ya," ucap Alyla.
Reindra menggangguk. "El aku tinggal dulu ya? kamu belanja sepuasnya biar Ayla yang bantu."
Eliana menggangguk. "Trima kasih banyak Mas Rein."
Ada semburat malu di pipinya Eliana, saat menyadari tatapan Eliana terarah ke baju-baju yang begitu indah dan cantik.
Reindra melirik jam yang melingkar di tangan menunjukkan sepuluh pagi.
"Aku pergi dulu," ucap Rein.
Lagi, Eliana mengangguk. Dan Reindra segera melangkah keluar.
Eliana hanya mengangguk saja mengiyakan. Entah bagaimana nanti untuk membalas ini semua nanti pada sahabatnya Rein. Yang jelas Eliana hanya ingin membalas semua perbuatan suaminya. Bayangkan saja ia harus pergi dari keluarganya, bagitu banyak pengorbanan yang ia berikan pada Satria namun seenaknya saja ia menghianatinya.
"Mari ikut saya, Mbak El, kita mulai dari facial wajah dulu ya?"
Eliana hanya menggangguk dan mengikuti arahan karyawan salon.
Usia yang masih muda. Tidak heran kalau nanti suaminya akan mulai terpesona lagi. Sejenak Eliana menikmati manjanya di salon.
-
Reindra menatap jauh menerawang di sudut kampus, setelah sekian lama ia menemukannya tanpa sengaja, kala itu ia lagi mengemudikan mobilnya hujan terlihat deras dari luar mobilnya. Sesaat wajahnya melihat di halte ada anak yang menagis dengan cepat ia melangkah dan menggedong anak kecil itu saat melihat seorang wanita tergeletak dan ternyata wanita yang sangat ia kenal Eliana.
Halte sepi tak ada seorang pun disana, Rein menaruh sikecil ke dalam mobil, kemudian mengangkat tubuh Eliana masuk ke dalam mobilnya. Mobil meluncur di rumah mewah miliknya.
"Mbok tolong, ajak anak kecil itu di dalam."
"Baik, Den."
Dengan cepat ia masuk membawa tubuh Eliana.
"Astaga Eliana kenapa kamu bisa seperti ini. " Lirih Reindra menatap melas pada perempuan sahabatnya dulu.
"Mbok tolong dijaga ya? Aku akan ke Jogjakarta malam ini juga biarkan dia istirahat, berikan badannya minyak kayu putih, jika ia siuman berikanlah makan. Aku harus berangkat sekarang, Mbok."
Simbok menagangguk. "Baik, Den."
"Belikan s**u untuk anaknya." Reindra memberi beberapa lembar uang merah.
"Njih, Den."
Wajah yang dulu ceria kenapa bisa seperti ini, karena keluarga Reindra pindah ke Jogjakarta membuat Reindra dan Safana kehilangan jejak tentang Eliana. Reindra menatap lekat foto bertiga dirinya Eliana juga Safana yang telah usang hampir gambarnya sedikit menghilang namun, ia terus saja menyimpannya dalam dompet.
Pekerjaan selesai ia kembali menjemput Eliana di salon, perasaan entah namun sepertinya itu tak wajar. Rasa sayangnya buat sahabatnya mungkin sekarang sudah berubah namun Reindra menolaknya, ia tak mau menodai persahabatannya.
Mobil terparkir di depan salon. Ia berjalan menuju ruangan salon tempat tadi ia meninggalkan Eliana. Dengan pelan Reiyn duduk di sofa suguhan kedua, satu teh hangat tersaji di depannya.
"Hey, Pak Reindra, Eliana sudah siap tinggal mengganti baju."
"Baiklah Ayla, Terima kasih ya."
"Sama-sama, Pak."
Seketika Reindra dibuat terkejut dengan penampilan baru Eliana, begitu cantik dan elegan. Rambut dipotong sebahu dengan riasan natural, memakai higl heels baju mahal. Terlihat tampak sempurna di mata Reindra.
"El ini senirus ... wao kau terlihat perfect." Sejenak Reindra dibuat kagum oleh make over Ayla.
"Bagaimana, Pak. Puas."
"Ya saya suka Ayla, masukkan yang Eliana butuhkan di tagihanku ya," ucap Reindra sambil menyerahkan kartu kredit miliknya.
"Bagaimana, Mas ... apa ini bagus?"
Eliana membawa beberapa peper bag berisi baju baru yang dipilih oleh Ayla.
"Iya, kau terlihat cantik sekali."
"Terima kasih."
Reindra menggangguk, kali ini dadanya berpacu hebat.
"Pak ini kartunya dan terima kasih sudah mampir. Lain kali jangan sungkan langsung datang ke sini jika perlu."
"Baik kami permisi Ayla, kerja yang bagus."
Eliana hanya menggangguk dan melangkah pergi meninggalkan salon, menggandeng pria yang bertubuh tinggi kekar menuju mobil. Eliana tak menyangka jika janji yang Reindra ucapkan dulu ditepati saat ini. Reindra menginggat kenangan waktu dulu bersama Eliana.
"Hey ... lepaskan El, " dengan beringas ia memukul seorang lelaki yang menyeret tangan Eliana.
Bukk.
"Dengar ya, baik itu laki-laki atau wanita, aku tak akan segan untuk membalas berpuluh kali lipat. Dengarkan itu, jika kau menyentuh Eliana maka kau berurusan denganku," ucap Reindra kala itu.
"Iya ... iya, maaf." Laki-laki itu kabur entah. Kemana.
"Sakit El...?"
"Maaf ya bila selalu menyusahkan," ucap Eliana.
Reindra menggeleng. "Bilang pada lelaki itu untuk tak menyentuhmu lagi, aku tak sesabar yang mereka kira, Eliana jika kau terluka." ujar Reindra datar saat itu.
"Iya ... mereka meminta uang jajanku," ucap Eliana sedih.
Reindra menatap sahabatnya lekat. "Apa tadi sakit? Berkali ia mendorongmu dan menarik tanganmu tadi."
Eliana menggangguk cepat.
"Aku berjanji akan menjagamu dari laki-laki yang menyakitimu Eliana."
"Iya, terima kasih."
Eliana menarik napas lega, ada manusia berhati malaikat yang menjaganya kini.
"Mas, kenapa diam?" tanya Eliana menyadarkan Reindra.
"Ehh ... iya ayo masuk?" Reindra membukakan pintu mobil, dan membuyarkan lamunan Eliana.
-
Sebulan sudah hidup tanpa Eliana, meskipun hidupnya hambar namun hubunganya dan Yolanda makin mendekat. Sekarang, gadis itu bahkan menunjukan wajah riang tiap tatap mereka bertemu. Masih sering mendapatinya mencuri pandang, tapi sebenarnya entah kenapa hatinya Satria seperti enggan untuk menyapa.
Ting ... ting.
Bel pintu Satria berbunyi, dengan langkah gontai Satria membukan pintu. Matanya terbelalak melihat Yolanda tiba-tiba menerobos masuk rumahnya dengan pakaian yang begitu minim dan seksi.
"Ini sudah malam ada apa?" tanya Satria pada Yolanda.
"Aku merindukanmu Sat...!"
"Kau gila, Yolanda."
"Ya, aku memang tergila-gila padamu."
Malam semakin larut, hawa dingin menyeruap di celah-celah ventilasi jendela. Suara embusan angin membuat Satria terbuai dalam indahnya hubungan terlarang dan hubungan dosa dengan atasannya.
Yolanda tertidur pulas, Satria tak bisa memejamkan matanya. Ia teringat dari hubungannya yang baru saja ia lakukan. Kopi panas menemaninya dalam malam. Jam sudah menunjukkan pukul 02:15 namun mata Satria tak dapat terpejam.
Semenjak Eliana pergi dari hidupnya, hidupnya kini semakin hari semakin meenggila merindukan sosok istrinya. Rokok ditangan ia mengembuskan asap keatas pikirannya kalut, entah apa yang berkecamuk dalam batinnya. Ada sesuatu yang sangat sakit di dalam sana.
Pagi menyapa Yolanda bersiap untuk pulang, ia melihat Satria tertidur meringkuk di sofa dengan batang rokok bertebaran di lantai. Namun Yolanda tak menghiraukan dan melangkah pergi.
"Kau pemuasku Satria, apapun akan aku lakukan untuk mendapatkan hatimu," Lirih Yolanda mencium kening Satria yang masih tertidur dan melangkah pergi.
Terasa ada yang hilang sebenarnya. Mendapati orang yang selalu ada sekarang menjauh begitu saja. Lucunya, Satria sering rindu suaranya yang dulu di anggap mengganggu bagi Satria.
"Sat, aku bawakan nasi kotak untukmu, ada ayam geprek kesukaan kamu kan?" Yolanda salah satu gadis yang bikin rusak hubungannya dengan Eliana, terdengar bertanya saat jam istirahat.
"Oh, ya!" Satria jawab lemas.
"Kok, gitu? Ayolah mumpung masih hangat."
Satria sempat meliriknya sekilas. Penasaran dengan reaksi Yolanda saat merengek mengajak makan siang.
"Iya!" jawabannya masih sedikit malas.
Mereka makan siang bersama ditemani nasi kotak juga es jeruk, sesaat Satria merasa jika dia merasa perhatian Yolanda membuatnya sedikit nyaman.
Hening.
Satria tiba-tiba diam. Tatapannya sedikit menengadah ke depan. Pelan, ia menoleh untuk tau kemana arahnya. Eliana berjalan menyapu di depannya, Satria menggeleng ini yang kesekian kalinya ia masih berhalusinasi.
Mereka akan mengadakan meeting, disebuah kafe. Satria melajukan mobilnya dan selang beberapa menit mereka sudah berada di kafe dengan ke empat temannya.
Lagi sibuk memainkan laotop, sebuah suara memanggil dari arah belakang. Dari pintu.
"Satria, aku mau minta tolong, nih. Bisa, ya?" tanyanya saat Yolanda menghampiri.
"Apa?
"File nya kamu yang bawa ya? Buat presentasi sebaik mungkin, aku masih ada sedikit urusan dengan, Pak Wira."
"Iya"
"Kalo gitu, Semoga berhasil ya kalian."
"Siap, Bu Boss."
Meeting dimulai, semua konsen soal presentasi memang Satria jagonya, namun kali ini tatapan Satria mulai kosong dan Anton yang satu tim mengingatkan Satria.
"Sat ... ayo fokus!"
Satria menatap ke atah Anton. "Iya."
Meeting selesai kali ini mereka pun berhasil. Mereka menikmati teh hangat juga cemilan di atas meja mereka.
"Satria...." Sebuah suara memanggil dari Anton tim nya.
Satria menoleh, lalu mengangkat satu alisnya ke arah Anton.
"Lihatlah, siapa itu cantik sekali, Satria, gila?" Anton berdiri memastikan cewek dengan pemuda tampan bertubuh kekar.
"Mana?"
"Itu cewek baju pink yang bersama pria itu, wih coba ya bisa bersama dia pasti akan bahagia hidupku, tapi tunggu ... apa aku tak salah lihat sekilas mirip istri lo dulu, Satria."
Deg
Jantung Satria naik turun.
Dengan cepat Satria menatap lekat gadis di ujung kafe yang terlihat sangat cantik dan begitu elegan. Memang mirip namun Satria tak percaya.
"Sumpah ya cantik banget tuh cewek!" Lirih Anton.
Satria terlihat bingung, antara benar dan tidak itu Eliana. Satria berbalik ke arah wanita yang terlihat begitu mirip apa ini hanya halusinasi nya saja.
"Eliana...." Namun segera ditepis olehnya, kenapa bisa Eliana secantik itu?