"El besok temani aku di acara pertunangan rekan dosenku ya?"
"Aku malu, Mas!"
"Ada aku kan, yang menjagamu," ucap Reindra meyakinkan Eliana.
Eliana menggangguk.
"Baiklah sekalian kita cari bajumu buat besok ya?"
Eliana tersenyum. "Iya."
Reindra yang memilih model gaun yang walau didesain sederhana namun sangat mewah sepadan dengan harganya. Perpaduan gaun berwarna dusty pink serta aksesoris tas dan sepatu high heel yang sama.
Reindra menyuruh Eliana mencoba gaun yang telah ia pilih, dengan langkah berat Eliana masuk ke kamar ganti. Awalnya Eliana menolak karena harganya bisa buat ia makan sekitar tiga bulan, namun ia tak ingin menolak, hingga membuat Eliana malu saat acaranya besok.
Sesaat Reindra cukup memukau ketika melihat penampilan Eliana. Dengan gaun yang begitu pas. Melekat di tubuh Eliana yang tampak sangat elegan di tubuhnya. Reindra mengangguk bertanda ia cocok dengan pilihannya yang terlihat begitu indah dipandang mata.
"Kenapa, jelek ya, Mas. Gaunnya tadi?" tanya Eliana ketika melihat wajah cemas Reindra.
"Enggak ... kamu cocok pakai baju itu," jawab Reindra pelan.
"Eh ... serius, Mas?"
"Serius kamu terlalu manis," ujar Reindra pelan.
Eliana tersenyum. "Gula kali manis, Mas."
"Bagaimana, Pak? jadi mau ambil yang mana? tanya pelayan pada Reindra.
"Ya, yang itu saja," tunjuk Reindra pada gaun berwarna dusty pink.
Mereka keluar mall dan menuju parkiran mobil, mereka berjalan berdampingan sambil melihat ramai pengunjung yang berburu makan juga belanja.
-
Semilir angin malam membelai rambut sebahu Eliana yang hitam dan lurus ketika ia membuka ikatan rambutnya. Embusan angin membuat rambut indah itu membelai wajah tampan laki-laki yang duduk di sampingnya.
Bulan purnama telah menampakkan dirinya dilangit yang gelap, cahaya bulan purnama menerangi bumi. Eliana menatap langit nan jauh di sana bintang-bintang memenuhi langit, mobil membawa Eliana dan Reindra kembali ke rumah. Namun mobil terhenti saat ada pengunjung yang ramai memenuhi taman kota tadi pagi mereka jalan-jalan.
"Ada apa ya, kok rame sekali?"
"Entahlah aku tepikan mobilnya ya?"
Eliana mengangguk tanda setuju. "Iya, Mas."
"Telepon, Mbok Siti tanya Daffa sudah tidur belum? Jika belum kita pulang saja." Suruhnya pada Eliana.
"Iya."
Eliana mengambil gawainya dan menelepon Simbok.
[Iya, Non ada apa?]
[Mbok, Dafa sudah tidur belum?]
[Alhamdulillah, baru saja Non.]
[Baiklah nitip sebentar ya, Mbok? Maaf Mbok, merepotkan]
Eliana merasa tak enak pada Simbok.
[Sudahlah Non, jangan mikir yang macam-macam Mbok suka lagian Daffa ga rewel kok]
[Baiklah terima kasih, Mbok.]
Mereka duduk berdampingan sambil melihat berbagai permainan di pasar itu. Rein menghirup aroma yang menenangkan dari rambut Eliana. Lalu ia menoleh ke samping menatap wajah cantik Eliana di bawah sinar rembulan.
"Ternyata masih sama, Eliana sangat cantik," gumamnya dalam hati sembari tersenyum dan kembali melihat lalu, lalang pengunjung.
Kini mereka ada di salah satu taman kota dekat rumah Reindra yang sedang ada pasar malam. Mereka Menikmati indahnya malam ditemani bintang-bintang dan rembulan yang memancarkan cahayanya menerangi malam.
Eliana menoleh pada laki-laki yang telah begitu baik. Dengannya. "Boleh pinjam bahunya, Mas Rein?" tanya Eliana ragu.
Reindra mengarahkan pandanganya pada arah wajah Eliana. "Boleh," jawabnya sembari menyunggingkan senyuman manis yang memperlihatkan lesung pipit di wajah tampan Reindra.
Eliana tersenyum manis pada Reindra, kemudian ia meyandarkan kepalanya pada bahu sahabatnya.
"Bukankah dulu kita sering melihat seperti ini, MasRein? Ini seperti kenangan manis yang terulang kembali, aku merasa jika saat ini kita bertiga sedang berasa di sini?"
"Kau benar El. Aku pun merindukan masa-masa seperti ini."
"Andaikan waktu bisa berputar kembali, aku ingin kembali kemasa itu tanpa ada luka."
"Hhmm, kau benar El."
"Mas, apa gak ada cara lain untuk menyembuhkan luka?" Eliana menatap Reindra yang masih menatap kosong ke depan.
"Ada...!"
"Apa itu?"
"Iklaskan semuanya El," ucap Reindra singkat.
Eliana memejamkan kedua mata yang sedari tadi terasa memanas. Lagi, tangis Eliana pecah membayangkan sikap kasar suaminya dadanya terasa sesak. Begitu perih hingga Eliana tergugu, usia pernikahan yang baru seumur jagung. Namun, badai itu datang menghantam biduk rumah tangganya. Sumainya mempunyai wanita idaman lain.
"Mas, jangan keterlaluan!" desis Eliana kala itu saat mendengar perkataan Satria yang membentak Dafa yang menangis karena demam.
"Berisik El, ajak sana keluar. Jangan masuk jika belum berhenti menangis."
"Ya Allah, Mas, ini Daffa sakit lo!" Protes Eliana pada suaminya.
"Terserah...!"
Tubuh Eliana bergetar hebat, kedua tangannya terkepal, mata terpejam kuat menahan rasa panas yang menjalar di dalam d**a. Ucapan suaminya kali ini, sungguh membuat Eliana seperti tersambar petir. Bagaimana bisa seorang Ayah tega bicara seperti itu saat anaknya sakit.
"El, sudah malam ayo pulang." Panggil Reindra menyadarkan lamuna Eliana.
"Iya, Mas Rein, ayo."
"Mau jagung bakar?"
"Boleh, sama kacang rebus buat Simbok, Mas."
"Iya, boleh."
-
"Satria, kita jadi ke hotel nggak?"
Satria menoleh ke arah suara wanita itu. Tampak ia sedang duduk di depannya dengan rok mini, sehingga paha mulusnya menantang untuk dipandang. Dengan pakaian yang serba mini, tentu membuat pemandangan yang sayang jika dilewatkan bagi Satria.
"Jadilah. Aku udah booking hotel," ucapnya dengan nada sinis.
"Seriusan, Satria?"
Satria merasa prustasi, saat Eliana menolaknya dimall tadi, ia berusaha bersenang-senang saat ini dengan wanita ini.
"Serius lah, apa tampangku lagi bercanda?"
Yolanda tersenyum manis, sambil, memeluk Satria dari belakang.
"Terima kasih sayang.... "
"Hhmm."
Dada Satria begitu sesak, bayang-bayang Eliana selalu menghantuinya.
"Oh, ya kau sudah menggugat istrimu itu?"
Satria malas membicarakan ini. "Iya."
Luka Satria yang semakin mendalam dan kecewa tampak nyata. Rindu yang semakin melanda dan perih yang terus bersemayam di dadanya. Semua tidak bisa dihindari. Ia harus bisa move on dari Eliana.
"Satria, " rengeknya Yolanda.
"Hmm."
Yolanda dengar Satria menghela napas panjang.
"Jangan terlalu mikir mantan istrimu itu, Aku juga ingin kamu perhatikan."
Sesulit itulah melupakan Eliana.
Tanpa menggubris ucapannya, suasana mendadak hening. Entah apa yang mereka lakukan. Seakan saling berkejaran dengan deru napas yang ikut memburu diantara mereka berdua dalam lembah dosa.
-
Pagi yang cerah, Eliana membuka jendela terlihat gelap fajar yang masih diselimuti embun pagi, Eliana mengganti pempers Daffa dan melangkah ke kamar mandi, untuk pertama kali ia membasuh mukaanya dengan berwudu, setelah sekian lama ia tak pernah menyentuh sajadah juga mukenanya.
Reindra membelikanya semalam, ia memakainya dan menunaikan kewajibannya sebagian seorang hamba. Teduh rasanya hati, bisa menjalankannya.
Eliana harus menerima takdir yang akan ia terima. Kini semua Eliana gantungkan sepenuhnya pada Sang Pemilik Kehidupan. Percaya sepenuhnya hanya pada-Nya, dan mengembalikan segala persoalan yang Eliana hadapi, pun hanya kepada Ilahi.
Reindra pernah mengingatkan tentang betapa dahsyatnya kekuatan doa. Hanya jika betul-betul yakin dan senantiasa menjaga prasangka baik terhadap Allah, maka kita akan melihat balasan yang akan Allah berikan. Semoga saja qobul doanya.
Air mata Eliana tak terasa menggenang di pelupuk mata dan membasahi pipi, selama ini ia telah jauh dari Sang Illahi.
Eliana duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan tiap jengkal gerakannya Daffa. Bergegas Eliana masuk kamar mandi. Membersihkan diri sekaligus menyegarkan pikiran. Selesai berpakaian, Eliana turun ke bawah menuju dapur mempersiapkan sarapan.
"Pagi, Mbok, mau bikin sarapan apa?" tanyanya lirih.
"Terserah, Non saja, Den Rein ga terlalu pilih-pilih makanan paling ia suka gudeg Non!"
"Gudeg, gimana?"
"Heem, dapat dari mana nangka mentahnya"
"Suka ada di tukang sayur keliling, Non, ucap Simbok memberitahu Eliana.
"Baik belikan Mbok, nanti biar El yang masak."
"Siap Non."
Untuk sarapan Eliana membuat mie bihun dengan ayam goreng serta lalapan,
Tiba tiba muncul Reindra dengan baju kokonya terlihat begitu tampan dari dalam. Eliana menangkap dengan rona terkejut membuat Eliana salah tingkah.
"Masak apa El?"
"Ayo sarapan, mumpung masih hangat nih," ajak Eliana menunjukkan menu pada Reindra.
"Lah Mbok sama Daffa kemana?" tanyanya.
"Beli sayuran di depan."
"Bukannya kulkas penuh sayuran El."
"Rindu masakan Jogja ga gudeg? Nanti aku buatkan." Eliana sambil memberikan piring pada Reindra.
"Serius...?"
"Iya."
"Wah enak nih...!"
Selesai sarapan Reindra berangkat ke kampus sedangkan Eliana menyiapkan membuat gudeg Jogja. Dibantu Mbok Siti masakan cepat selesai, Eliana pun membantu membersihkan rumah. Rasa capek hinggap ditubunya membuat Eliana terlelap sambil mendekap tubuh putranya Daffa.
Hari sudah senja, Eliana bangun dan siap-siap sehabis sholat magrib, ia membuka alat make up nya tak perlu ke salon lagi karena Eliana masih hafal dengan cara berdandan juga merapikan rambutnya. Dengan hati-hati Eliana memoles tipis wajahnya dengan bedak dengan eyeshadow tipis, terlihat perfect riasan Eliana sama seperti kemarin.
"Non dipanggil Den Rein." Panggil Simbok pada Eliana.
"Oh, sebentar lagi, Mbok. Maaf ya Mbok El selalu merepotkan titip Daffa terus," ucap Eliana tak enak.
"Sudahkah Non, lagian Mbok suka kok, Karena Mbok ada temannya, lagian juga Daffa gemesin suka Mbok ajak bercanda."
"Terima kasih, Mbok." Eliana memeluk tubuh wanita setengah baya itu.
"Sama-sama, Non."
Eliana tersenyum. Dan melangkah mengganti bajunya dengan gaun Dusty pink pemberian Reindra. Ia sudah siap dan melangkah keluar kamar menuju ruang tamu. Dimana Reindra sudah siap menunggu.
"Cantik sekali El, sudah siap?"
"Iya sudah."
Mobil membawa mereka ke kediaman pesta pernikahan putri rekan dosen Rein, mereka berdua masuk dan bergabung dengan tangan, Reindra memperkenalkan Eliana pada para rekan dosennya. Meski Eliana terlihat gugup namun semua bisa teratasi. Terlihat Eliana bak putri dalam dongeng begitu anggun. Banyak pasang mata yang memandang kearahnya.
Namun dibalik senyum menggembang dari Eliana dan Reindra, ada tatapan tak suka juga begitu geram, menahan amarah yang begitu mendalam. Satria bersama Yolanda memandang tak suka. Mendapati Eliana juga Reindra tersenyum ceria membuat Yolanda begitu terganggu dengan pandangan mata Satria yang begitu lekat tanpa kedip menatap Eliana.
"Mas, sudahlah berhenti menatapnya, kayak El paling cantik saja," pekik Yolanda kesal.
"Iya." Rasa sakit yang kini di rasakan Satria.
Astaga apa sesakit ini juga saat Eliana tahu vidio dirinya dengan Yolanda. "Apa sesakit ini juga yang dirasakan Eliana?" Lirih Satria dalam hati.