Menghadiri Resepsi

1597 Kata
Pesta pernikahan mulai ramai, dengan piring beradu dengan sendok dan garpu dan obrolan para undangan yang hadir di pernikahan putri Pak Setiyawan. Begitu meriah, terlihat dari kalangan menengah keatas yang datang, terdengar riuh orang bicara yang kadang diselingi gelak tawa. Meski nyanyian mencintaimu mengalun dengan diiringi musik band. Reindra melirik arloji yang melingkar di pergelangan. Pukul 19:30 WIB. Pantas saja, masih begitu ramai para tamu undangan. "Selamat malam, Pak Reindra," ujar beberapa mahasiswa dan mahasiswinya, membuat Eliana tersenyum. "Malam juga." Renindra sambil mengulurkan tangan dan berjabat tangan, begitupun dengan Eliana. "Istrinya ya. Pak, cantik sekali?" Reindra tersenyum dan menatap wajah Eliana yang semua memerah. "Kenapa ... cantik kan?" "Cantik sekali Pak Reindra. Kami permisi Pak." "Ya silahkan." Reindra menyempitkan jarak, meraih kedua tangan Eliana dan menarik tubuhnya. Perlahan, ia mendekatkan kepalanya hingga kening keduanya bersentuhan. "Aku minta maaf untuk semua El, maaf jika kau tak nyaman aku berpura-pura menjadikanmu istriku." Suara Reindra pelan disertai gemuruh d**a yang bertalu-talu ria. Keduanya saling terdiam. Hanya terdengar suara ramai para tamu undangan. Eliana tersenyum. "Sudahlah kayak aku ini siapa saja, Sahabat kan harus ada saat sahabatnya butuh Bang Rein." Rasa sesak seketika mendominasi seluruh rongga dalam tubuh Reindra. Saat mendengar bahwa dirinya hanyalah seorang sahabat saja. Suasana mendadak hening. Sesaat seperti sunyi meski di tengah keramain. "Kenapa senyum-senyum El?" Reindra mengontrol detak jantungnya yang di tatap manis oleh Reindra sahabatnya. Eliana cinta pertamanya. "Kau tampan sekali, Mas, seperti artis saja, ga lucu kan jika salah satu mahasiswa Bang Rein gak tertarik," goda Eliana pada Reindra. "Ada-ada saja kamu itu Eliana, baru sadar selama ini aku tampan?" tanya Reindra ketika melihat wajah ceria Eliana. "Enggak ... Mas itu membuat aku minder saja," jawab Eliana pelan. "Lo ... kenapa?" "Mas, terlalu tampan ... Aku merasa ga cocok buat, Mas Rein," ujar Eliana pelan. Deg .... Lama Reindra menatap wajah Eliana yang kini akrab dengan kesunyian dan kesendirian. Wajah yang akrab dengan kesepian dan rasa hampa. Rasa yang perlahan menghantui jiwanya. Reindra merasa iba jika kecantikan wajah Eliana tak sebaik nasibnya. Reindra tersenyum. "Kau juga sangat Cantik," "Pak Rein ... diminta untuk foto oleh Pak Setiyawan." Panggil salah satu mahasiswanya. Baiklah, Reindra menggandeng Eliana dan berfoto bersama dengan pasangan pengantin, Eliana merasa kaku saat tangan Reindra berada di pundaknya, ada yang aneh dalam diri Eliana, entah apa itu. Eliana merasa jika Reindra selalu menjaganya dan menjadikannya wanita yang begitu berharga dan istimewa, saat bulir bening mau jatuh ke pipi Eliana segera mengelapnya. Eliana merasakan di manja oleh seorang laki-laki. "Ayo gaya bebas ya?" Kata Sang fotografernya. Reindra bicara di dekat kuping Eliana. "El tersenyum yang lepas ya? Ayo kamu bisa." Eliana menggangguk ke arah Reindra. Eliana melihat sekilas wajah yang begitu bahagia dengan senyum mengembang di dalam wajahnya. Saat sang fotografer mengambil gambarnya. Mungkin Eliana sedang tersenyum ke arah Rendra. Selesai pemotretan ia bercanda gurau bersama Reindra, entah Eliana harus membayar kebaikan sahabatnya dengan apa? "Pak, dipanggil Pak Setiyawan katanya ada yang mau di sampaikan." "Oh baiklah...!" "Aku tinggal sebentar gapapa ya El?" Eliana tersenyum "Iya, Mas." - "Eliana ...." Eliana bergeming, Astaga kenapa ada Satria segala. Kekecewaan yang teramat dalam membuat bibir Eliana seakan beku. "Demi Tuhan, aku minta maaf El." "Katakan sesuatu, El, plis." "El ...." "Aku lelah, Mas," ucap Eliana diriingi getaran pada suaranya. Eliana sadar, sejak awal ia sendirilah yang terlalu berani untuk membangkang hingga tak mendapat restu sang Ibu. Dan menikah melibatkan diri dalam kehidupan Satria, pria yang sudah jelas-jelas di tolak oleh keluarganya. "Aku bisa jelasin semuanya. Plis dengerin aku aku dijebak oleh, Yolanda. El." Eliana menarik napas pelan, mengurai sakit yang membelit di dalam dadanya. "Jadi ... apa Mas pikir aku peduli!" Eliana kembali memalingkan wajahnya, bersama rasa sakit yang kian menembus dadanya. Ia berusaha bersuara pelan, ia tak ingin membuat Reindra malu. Karena Reindra mengenalkannya sebagai istrinya. "Bukan begitu, Eliana ... kamu salah sangka." Eliana menggeleng pelan dengan senyum di bibirnya, Eliana tidak akan terpancing emosi. "Kamu gak salah, karena sejak awal ini salahku, Aku yang membangkang pada Ayah juga Ibu karena aku memaksa agar berada di sisi kamu?" "Eliana ...." "Aku butuh waktu sendiri. pergilah sebelum kekasihku marah" "Eliana ... please ...." Eliana menertawakan dirinya sendiri, Ia muak dengan lelaki ini. Dan melangkah pergi tanpa menghiraukannya, Eliana berusaha untuk mengurai sesak yang menyiksa di dadanya. Eliana tak pernah menyangka, jika rasanya akan sesakit ini. - Eliana melangkah berjalan ingin mengambil air minum, tenggorokananya terasa kering. saat yang bersamaan ada tangan mulus juga ingin mengambil minum yang tinggal satu gelas lagi. "Maaf ini, Mbak Eliana kan ... subhanallah cantik sekali, aMbak El." Eliana menggangguk. "Ya Allah... Sonya?" "Mbak kemana saja? Sonya rindu sama Daffa juga Mbak El, jadi sepi kontrakan aku jadi ga betah aku di sana Mbak." "Mbak pergi Sonya, Mas Satria menalakku." "Jadi waktu itu, Mbak Eliana bohong dong yang mau ke rumah sakit?" Eliana menggangguk. "Iya, Sonya. Maaf ya" "Aduh kejam banget sih itu suaminya Mbak El, bahkan Sonya saja ga kenal," ucap Sonya geram saat melihat penderitaan sahabat curhatnya sedih. "Ya begitulah Sonya, ngomong-ngomong kok bisa ke sini yang menikah teman Sonya atau gimana?" tanya Eliana penasaran. "Pak Dekan yang undang, Mbak. Soalnya Sonya dekat sama Pak Dekan." Eliana tersenyum dan bergeming, berarti mungkin Sonya juga kenal Reindra. Eliana mulai percakapan dengan Sonya, Eliana tak menyangka bisa bertemu lagi dengan gadis yang sering membantunya. Reindra menyapu ke seluruh ruangan, Eliana tak ada lagi di tempatnya. Mungkin karena Reindra terlalu lama meninggalkannya tadi. Mata Reindra terus mencari begitu banyak undangan pesta pernikahan sehingga sulit untuk mencari keberadaan Eliana. Namun Reindra terlihat lega saat menatap di ujung sudut hotel Eliana sedang berbincang dengan seorang wanita. Reindra bergegas melangkah menuju di mana Eliana berada. "El ... kenapa pindah aku cariin dari tadi?" "Maaf, Mas. El haus jadi cari minum," bohong Eliana pada Reindra "Pak Reindra...!" Panggil Sonya. "Eh, iya Sonya kan?" "Iya Pak." Sonya menatap curiga pada Eliana juga Reindra. Sonya tahu jika dosennya ini paling anti dengan seorang wanita sekarang terlihat begitu mesra dengan Eliana. "Jika kangen sama Daffa mampirlah Sonya ke rumah Pak Reindra? Boleh kan Bang Rein?" Reindra dan Sonya menggangguk. Malam. Semakin larut Reindra mengajak Eliana pulang, dan berpamitan sama Pak Setiyawan. "Pak Kami berdua izin pulang, selamat ya semoga pernikahan putri Bapak langgeng dan samawa." "Terima kasih banyak Pak Reindra sudah berkenan menghadiri pernikahan putri saya, dan Nyonya Rendra yang cantik Terima kasih juga sudah hadir." Eliana dan Reindra tersenyum, berjabat tangga dan melangkah menuju Parkir hotel yang begitu padat. "El tunggu disini ya biar aku ambil mobilnya, kasihan kamu jika harus mengantre." Eliana tersenyum. "Iya." Eliana duduk di bangku tempat parkir yang memang benar masih terlihat mengantre. Tiba-tiba terdengar suara dari belakangnya - "Oh ini wanita lusuh yang bertansformasi menjadi wanita berkelas." Eliana menoleh ke arah suara yang bicara begitu tak mengenakkan hati. "Siapa ya ...?" Eliana sebenarnya tahu itu selingkuhan suaminya. Dan pasti wanita itu ini yang sudah mengirimkan foto juga vidio mesra suaminya. "Tidak tahu siapa aku, aku adalah kekasih suamimu." Hinanya. "Oh, pelakor maksudnya, gila ya seorang gadis masih perawan lagi, entah masih perawan atau tidak, mau gitu jadi pelakor, atau. Mungkin ga laku kali ya." Eliana berusaha bicara tegar. "Jaga ucapanmu ya? gembel saja bangga," ucap Yolanda memanas. "Ya harus dong bangga, karena aku bukan pelakor." Emosi Eliana sedang naik satu tingkat. Ucapan itu lolos begitu saja. Namun, sepertinya membuat Yolanda naik Pitam. "Dasar wanita rendah...." Yolanda ingin menampar Eliana namun tangannya dicekal oleh Sonya. "Aghh sakit ... lepaskan!" "Hey wanita gila jangan pernah ya sakiti Mbak El dia kakakku," ucap kasar Sonya pada Yolanda sambil melepaskan tangannya. "Awas ya kalian lupa berhadapan dengan siapa?" "Aku tahu siapa kamu? dan skandalmu dengan pemilik perusahaan tempatmu bekerja. Aku pikir selama ini kamu yang punya perusahaan nyatanya kamu hanya seorang simpanannya. Yang membuatku heran Satria begitu bodoh memilihmu." Diam.... Yolanda bergeming, gila wanita ini tahu semua tentangnya, bahaya jika Satria sampai tahu. Terasa menusuk sekali ucap Eliana. "Kau...!" Kemarahan Yolanda yang masih tersimpan, kini meleleh. Berganti dengan rasa nelangsa, Yolanda takut jika rahasianya terbongkar. Wajahnya memerah menahan amarah yang hendak meledak namun ia tahan. "Kenapa, kau salah telah berurusan dengan wanita gembel sepertiku." Sesaat tubuh Yolanda mendadak menjadi beku. Ia tak tahu jika wanita di hadapannya ini begitu cerdik, Yolanda melangkah pergi dengan amarah yang begitu berapi-api. "Jadi dia, selingkuhan suaminya, Mbak El?" "Hmm. Iya." "Sabar ya, Mbak," ucap Sonya sambil memeluk tubuh dan wajah sedih Eliana. "Terima kasih Sonya, kau selalu ada disaat Mbak butuh." "Sama-sama, Mbak." Sonya masih menemani Eliana, dan sesaat mobil Reindra sudah berada di depan Eliana. Reindra turun dan membukakan mobilnya untuk Eliana. "Sonya terima kasih ya, Mbak pulang dulu hati-hati di jalan ya?" "Iya, Mbak." Eliana masuk ke dalam mobil, dan mobil berjalan meninggalkan hotel bintang lima tersebut. Reindra tersenyum dan menatap wanita di sampingnya. "Gimana rencananya berhasil kan?" "Alhamdulillah berhasil, Terima kasih Bang. Sudah membuatku kuat juga mengajariku." Eliana tersenyum sembari menepuk pundak sahabatnya Reindra. "Kau tahu wanita itu pergi dengan amarah yang membara, Mas." "Ya aku tadi mengamatinya, El." "Apa ga terlalu Mas Rein, kita perlakukan mereka seperti itu? Bukankah dendam ga baik," Eliana melihat ke arah Reindra yang masih fokus menyetir. "Kita tidak balas dendam El, lebih tepatnya membuat agar mereka jera dan tidak mengulangi kesalahan yang sama." "Dari dulu kau selalu bijaksana, Mas. Terima kasih buat semuanya." "Biarkan suamimu dan Yolanda sadar El. Namun, apakah hal itu menjadi pembenaran bagi suamimu untuk mendua dan berbagi kasih dengan wanita lain?" "Hhmm." Eliana terdiam, merasakan hangat dari ucapan Saahabatnya. Terkadang, Eliana tak habis pikir, kenapa Reindra bisa bersikap seolah menunjukkan perhatian begitu besar. Sementara dulu Reindra melakukan suatu hal yang teramat menyakitkan. Meninggalkannya tanpa jejak menghilang bersama Safana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN