Air mata akan bicara saat mulut tak mampu lagi menjelaskan rasa sakit, sangat menyakitkan dari apapun, Eliana menatap lekat wajah anaknya. Sungguh malang nasibnya dari kecil tak pernah mendapat kasih sayang dari Ayahnya. Rembulan mulai bersinar di waktu malam, hanya terdengar suara bising pabrik dan suara lalu lalang kendaraan, Eliana duduk di balkon atas, ia memandangi bintang.
Eliana berharap ingin selalu menjadi sinar untuk buah hatinya. Eliana beranjak memasuki kamar dan berbaring di atas ranjang rasa ngantuk menyerang hingga ia tertidur larut dalam mimpi. Pagi tiba suara riuh kicau burung terdengar begitu merdu, pemandangan sejuk. Matahari mulai bersinar menampakkan sinarnya setelah bersembunyi di balik awan, pagi hari aktivitas di mulai. Dengan semangat pagi, senyum pagi dan jiwa yang baru.
"Maafin, Mama. Nak, harusnya kamu bahagia seperti anak yang lain. Bisa berkumpul bersama, Ayahmu, tapi, Mama tidak bisa berbuat apa-apa, hanya keajaiban yang bisa membuat kita bersatu lagi dengan, Ayahmu." Lirih Eliana sambil menggendong putranya.
Empat tahun menjalani hidup bersama. Bisa dibilang hubungannya baik baik saja. Tidak pernah ada masalah serius. Tidak pernah bertengkar hebat dan semacamnya. Namum semua telah berubah setelah Eliana melahirkan.
"Apa sih, Mas...." Eliana sambil membalas kecupannya.
"Kurang El ... mau lagi," jawabnya sambil memeluknya dari belakang.
Eliana tersenyum geli. "Yang semalam masih kurang?"
"Sekarang, yuk."
Satria tersenyum lebar, mengacak rambut Eliana dan menggendongnya ke arah ranjang. Hujan deras belum juga berhenti, d**a Eliana bergemuruh kencang. Menit berikutnya jemari kanannya beralih mengelus pipi dan diakhiri mengecup pipi. Sebegitu romantisnya. Namun, sekarang hanya ada rasa sakit. Eliana meminta untuk kuat menjalaninya, saat bersujud kepada yang pemilik alam semesta, ia menumpahkan keluh kesah hidupnya dalam do'a.
Mungkin inilah ujiannya untuk bersabar menghadapi semua cobaan. Eliana keluar kamar dan berjalan mulai mencuci baju juga menyetrika, setumpuk bajunya juga baju Reindra. Eliana mencoba untuk membantu Simbok yang lelah karena banyak pekerjaan, selesai setengah enam pagi Eliana membawa keranjang gosokanya ke kamar Rendra.
"Permisi...!"
"Masuklah, El," ucap Reindra dan Eliana melangkah menuju kamarnya.
"Maaf, ini bajunya sudah rapi, Mas Rein."
"Taruh di atas ranjang El, ga usah terlalu bekerja keras di sini El." Rendra sibuk dengan laptopnya tanpa menoleh ke arah Eliana.
"Aku kalau enggak sibuk, badan Eliana terasa sakit semua, Mas," ujar Eliana sambil memisahkan antara celana, kemeja juga kaos.
"Hhmm."
"Mau di bikinin kopi atau teh hangat?" tanya Eliana berdiri di samping Rendra yang sedang sibuk di mejanya.
Reindra tersenyum menatap Eliana. "Enggak usah, Eliana."
"Baiklah."
Elliana melangkah keluar kamar, menuruni tangga dan bergabung dengan Simbok memasak sarapan.
"Bikin sarapan apa, Mbok?"
"Terserah, Non El saja, Mbok bantu kupas bawang putih juga merahnya ya."
"Masak apa ya, Mbok?" tanya Eliana bingung menu sarapannya.
Baiklah, Eliana memilih menu telur bacem sama sambal goreng kentang dulu Eliana suka dibuatkan oleh ibunya dan saat sekolah Reindra suka meminta makanannya.
Sambil mengupas kentang Eliana bertanya pada Simbok.
"Mbok ... emm, Mama dan Papanya Den Reindra enggak pernah kesini?" tanya Eliana ragu seingat Eliana Mamanya Reindra tak suka dengan Eliana.
"Suka sih, Non, sebelum, Non El kesini. Hampir sebulan sekali, Nyonya ke sini, tapi Papanya sudah meninggal beberapa tahun lalu, Non El."
"Oh ... terus kalau, Safana. Mbok?" tanya Eliana lagi penasaran.
"Non Safana sibuk jadi dokter, Non."
Eliana merindukan saat-saat mereka bersama dulu, Eliana ragu tak seharusnya ia berada di rumah ini, jika sampai Mama Rein tahu Eliana disini bisa-bisa wanita itu akan mengusirnya.
"Apa Safana sudah menikah, Mbok?"
"Ini kentangnya di iris kotak atau panjang, Non El." Seolah beliau enggan menjawabnya.
"El tersenyum. "Kotak saja, Mbok."
Sepertinya begitu banyak rahasia di keluarga Reindra. Eliana melanjutkan memasak tanpa bertanya lagi pada si Mbok.
-
"El ini ...? "
"Iya kesukaan kamu kan."
"Terima kasih, El, aku rindu masakan ini," ucap Reindra tak sabar itu ingin sarapan.
"Makan yang banyak, Den Rein."
Reindra tersenyum. "Iya."
Mbok Siti hanya tersenyum melihat tingkah Reindra yang seperti anak kecil.
Selesai sarapan Reindra pamit ke kampus
Dan Eliana mengekorinya dari belakang entah hatinya saat ini sedang gundah.
"El bersiaplah, jam sembilan aku pulang kita ke pengadilan hari ini sidang pertamamu."
Deg
"Hari ini?" tanya Eliana cemas.
Reindra menggangguk "Iya." Lelaki itu tersenyu menatap ke arahnya. "Tenanglah ada aku El, Bismillah ya," ucap Reindra menguatkan hati Eliana.
Eliana tersenyum. "Iya."
Apakah semuanya akan berjalan mulus? Eliana sedih membayangkan jika suaminya akan datang dipersidangan dan akan menjadikan percerainanya berkepanjangan, karena Eliana menginggat kata-kata Satria waktu itu.
"Dengarkan, Eliana aku tidak akan melepaskanmu? Kau akan selamanya menjadi istriku?" ucap Satria waktu di pesta pernikahan rekan dosen Reindra.
Dalam resah menanpar jiwa Eliana. Ia duduk di teras rumah besar milik Reindra, tak selamanya angin membawa sejuk. Begitupun rumah tangga Eliana, akhirnya akan kandas juga. Sakit hatinya begitu membekas tatkala suaminya menghianatinya.
Entah jika tak ada sahabatnya Reindra, mungkin hidupnya akan hancur. Rasa sesak seketika mendominasi seluruh rongga dalam tubuh Eliana. Rasa takut nya kembali hadir.
"Ingat El ... jika terjadi apa-apa denganmu kami tak mau tahu." Ucapan Ayah kala itu agar jangan menikah dengan Satria.
"Tenanglah Ayah, aku yang akan menaggungnya sendiri," ucap Eliana dengan nada angkuhnya.
"Aghh terserahlah, kau sudah di butakan oleh cintamu El."
Eliana merasakan. Sesak yang begitu mendalam, membayangkan ia begitu membangkang kata orang tuanya dulu. d**a Eliana bertalu-talu ria. Merindukan dekapan Ibu juga Ayahnya.
Eliana sadar jika pirasat orang tuanya benar adanya, jika Satria adalah seorang pria yang tak baik untuknya.
-
Satria merasakannya saat ini. Batinnya sakit saat ini ia menangis dalam diam. Menyadari kalau Satria telah kehilangan mutiara yang paling berharga dalam hidupnya. Satria berjalan melihat kearah luar jendelanya. Rumah yang biasanya berisik oleh omelan Eliana sekarang berubah menjadi sunyi.
Mata Satria berkaca-kaca melihat ke arah penjuru kamar dan memandang setiap sudut kamarnya dalam sunyi. Ada banyak kenangan di kamar ini. Satria menatap langit-langit kamarnya yang bercat abu-abu membayangkan setiap senyum istrinya mengembang saat membangunkannya dengan ciuman hangat di pipinya setiap pagi.
Sekarang senyum lembut dan kehangatan itu menghilang. Cinta Eliana yang selalu menatapnya dengan binar rindu sekarang berubah menjadi kebencian untuknya.
Tok ... tok.
Satria berjalan membuka pintu, perempuan dengan baju seksi datang di depannya. Dan langsung masuk saat Satria membukakan pintu.
"Belum mandi?" tanya Yolanda.
Satria menggeleng ."Belum."
"Mandilah aku bawakan nasi juga teh hangat."
"Iya"
Satria mandi, sementara Yolanda. Menyiapkan sarapan buat Satria, Yolanda duduk sambil memainkan gawainya.
Hari ini Satria akan di temani Yolanda ke persidangan perdana perceraiannya, terlihat Satria begitu gelisah namun tidak dengan Yolanda ia begitu membenci wanita itu. Yang dikira Yolanda bodoh dan kampungan nyatanya sekarang menjadi wanita yang begitu menakutkan.
Yolanda berusaha untuk tidak gugup menghadapi Eliana kali ini, wanita itu begitu bahaya bagi dirinya. Bisa gagal Yolanda mendapatkan cintanya pada Satria.
"Satria, yakin lo akan menghadiri persidangan ini?" tanyanya pada Satria.
Satria menarik nafas. "Iya."
"Ngomong-ngomong, sama saja ya istri lo, murahan lepas dari kamu? Bisa menggaet cowok kaya." Hasut Yolanda membuat d**a Satria berapi-api menahan amarahnya.
Satria terdiam
Yolanda tersenyum sinis, ia tahu jika hasutanya masuk pada diri Satria.
"Kenapa, maksud kamu apa?"
Senyum yang tadi sempat merekah di wajah Yolanda, seketika lenyap. Berganti ketakutan menunduk tak berani menatap ke arah Satria.
"Sudah kubilang, enggak perlu campuri urusanku. Apalagi menjelekkan Eliana."
Yolanda mendengus kesal, kalau saja ia tak mencintai laki-laki ini, ah Yolanda mengalihkan pandangan ke arah jendela.
"Aku dan Eliana berpisah semua gara-gara kamu. Berapa kali aku harus jelaskan padamu hah?"
"Iya ... iya maaf."
Satria mengembuskan napas kasar. Sesaat mengusap rambutnya.
"Lain kali jangan ulangi lagi." Tatapan Satria begitu mengerikan.
"Iya."
Satria begitu kasar, padahal Yolanda selalu memenuhi kebutuhannya, bahkan memberikan Satria mobil baru. Namun, tak ada pilihan lain selain menjadikan Satria sebagai lelakinya.
-
Eliana mengenakan baju dres bermotif bunga dengan menguncir rambutnya keatas, memakai flatshoes hitam senada dengan tas. Sederhana namun terlihat begitu cantik dan anggun. Kali ini ia mengajak Daffa karena Sonya meminta untuk mengajaknya hari ini.
"Lo, Non. Daffa diajak to? Apa nanti ga ngrepotin di sana?" tanya Simbok cemas.
"Tidak, Mbok. Sonya teman Eliana yang akan menjaganya kali ini," ucap Eliana pada Simbok.
"Oh, apa, Non Eliana marah sama, Mbok?"
"Marah kenapa , Mbok? Alasannya apa aku marah sama, Mbok."
"Baiklah, Non, sudah di tunggu, Den Rein di depan."
"Iya, Mbok, Eliana pergi ya Assalamu'alaikum." Pamit Eliana sambil mencium punggung tangan Mbok Siti.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati, Non."
Eliana tersenyum. "Iya, Mbok."
Eliana berjalan menggendong Daffa, dan langkahnya terhenti saat Reindra duduk di ruang tamu.
"Sudah siap?"
Eliana tersenyum. "Iya, Mas."
"Bagiamana perasaanmu?"
"Nervous sih, Mas," ucap Eliana yang terlihat begitu takut.
"Bismillah El, Allah akan membantu kita."
"Iya, Mas. Bismillahirrahmanirrahim."
Reindra membukakan pintu mobil dan mobil berjalan membelah jalan raya menuju perumahan Sonya, ia mengirimkan share lock alamatnya.
Menit berikutnya mobil sudah berada di alamat tersebut.
"Sonya maaf ya, jadinya, Mbak ngrepotin kamu."
"Daffa ... tenang saja Mbak, Daffa pasti aman."
"Baiklah, Mbak berangkat dulu ya."
Sonya tersenyum. "Iya hati-hati, Mbak."
"Iya."
Eliana dan Reindra sudah berada diparkiran pengadilan agama, dan berjalan beriringan di dampingi sang pengacara. Beliau memberikan arahan pada Eliana jika nanti ada kendala. Eliana mengerti dengan apa yang dikatakannya.
Eliana melihat Satria datang menggandeng Yolanda, dan mereka duduk di sebelah bangku Eliana juga Reindra. Eliana merasa jika dadanya begitu sesak. Bagaimanapun juga Satria pernah hinggap di hidupnya.
Dari kejauhan Satria menatap wajah Eliana yang makin hari makin anggun, dan ia menatap kesal, Lelaki di sampingnya terus membuat Eliana tersenyum.
"El tenanglah," ucapnya menenangkan Eliana.
"Iya, Mas Rein. Tapi hati El enggak enak ."
"Kenapa?"
"Entahlah, seperti ada sesuatu."
"El, manusia dikaruniai nafsu dalam dirinya, untuk bisa dikelola dengan baik. Jangan sampai manusia dikendalikan oleh nafsu hingga menjerumus ke dalam kemaksiatan hingga berbuat yang melampaui batas."
Eliana menggeleng tak mengerti. "Maksudnya, Mas Rein?"
"Jadi gini El takutlah kita pada kebesaran Allah, yang punya kuasa untuk mencabut beragam kenikmatan. jaga terus rasa takut itu di hati kita. Jadi jangan takut pada manusia takutlah hanya pada Allah."
Eliana menggangguk, sungguh sahabatnya ini yang membuat Eliana sadar akan arti dari kehidupan.
Panggilan nama Eliana dan Satria itu terdengar di pengeras suara dalam ruang tunggu persidangan, membuat Eliana terkejut.
"Semangat, El."
"Iya, Mas Rein," ucap Eliana memegang tangan Reindra dan berdiri.