Eliana melangkah masuk bersama seorang pengacaranya, rasa was-was menghantuinya. Degup jantungnya berpacu lebih cepat, dia duduk di bangku bersebelahan dengan Satria di depan Hakim. Entah perasaannya saat ini begitu terpukul akhirnya kisahnya akan segera berakhir.
Hakim menanyakan tentang identitas juga pekerjaan masing-masing, semua pertanyaan Hakim dijawab oleh Eliana juga Satria. satu persatu pertanyaan selesai hingga Hakim merasa sangat disayangkan pasangan muda harus berpisah apalagi sudah memiliki seorang anak. Dan Hakim memutuskan untuk jalanni agenda mediasi.
Eliana dan pengacaranya Pak Surya berjalan menuju ruang kecil, juga Satria mengikuti berjalan dengan pengacaranya Ibu Wati. Mereka bersama berjalan keruangan yang sudah disediakan. Eliana merasa begitu takut bagaiman jika Satria menghambat sidangnya.
"Pak, bagaimana jika Satria menolak ingin bercerai?" tanya Eliana dengan nada gugup.
"Tenang saja, Bu, bukankah kita punya bukti foto juga vidionya."
Eliana berusaha setenang mungkin, bagaimana bisa ia mengendalikan perasaannya yang campur aduk antara takut juga gelisah.
"Apa itu perlu, Pak?"
"Sangat perlu, Bu, jika nanti Satria menolak dipersidangan berikutnya kita pakai Bukti itu."
"Oh, baiklah."
Eliana diantar pengacara melangkah hampir mendekati ruangan kecil. Eliana dan Satria masuk, ada seorang pria paruh baya yang sudah menuggu dan tersenyum melihat kedatangan mereka. Eliana Dan Satria duduk bersampingan sambil menjabat tangan lelaki di depannya. Agenda kali ini ini adalah mediasi.
Pria paruh baya itu tersenyum sambil memperkenalkan diri pada penggugat dan tergugat, pria itu masih berusaha mencairkan suasana sebelum bicara pada inti masalahnya.
"Dengan, Ibu siapa?"
"Eliana, Pak."
Eliana mengeraskan rahang, berusaha meredakan gemuruh hebat di dadanya. Kembali Eliana mengalihkan pandangan ke luar jendela.
"Ya, dan anda?"
"Saya, Satria. Pak."
Satria juga merasakan panik, bagaimana ia akan benar-benar kehilangan istrinya.
Hakim mulai mediasinya dengan tegas beliau berkata jika menginginkan mereka untuk rujuk, namun Satria menolak bercerai beralasan jika karena ia masih mencintai Eliana. Satria bersikukuh jika kesalahannya membuatnya sadar dan akan berusaha memperbaiki semuanya.
Eliana berkata jika sebuah hubungan pernikahan jika telah dinodai apakah masih bisa di pertahankan, sedangkan sebuah pernikahan harus saling melengkapi juga harus saling melindungi satu sama lain. Pernikahan sehat itu yang diharapkan Eliana.
Berbagai cara telah ditempuh untuk membuat mereka rujuk namun tidak menemukan titik temu. Membuat sang Hakim memutuskan untuk melanjutkan persidangan satu bukan ke depan.
Mereka saling diam. Eliana dengan rasa sakitnya, dan Satria dengan rasa sesal yang ingin mempertahankan hubungannya.
Eliana merasa kecewa dengan sikap Satria, ia melangkah dengan hati yang begitu terluka. Sidang akan diadakan lagi satu bulan ke depan.
"Pak, benar kan? Satria kekeh?"
"Sabar lah ikutilah sesuai prosedur Bu. Semua pasti akan kita menangkan." Nasehat Pak Surya pada Eliana.
-
Eliana berjalan mendekati Reindra yang masih duduk di ruang tunggu.
Reindra tersenyum. "Bagaimana El?" tanya Reindra cemas pada Eliana.
"Emm, ditunda bulan depan, Mas," ucap Eliana sedih.
Reindra tahu jika Eliana begitu terluka, suaminya memang benar-benar tak tahu malu. Namun Reindra punya cara agar mengalahkannya. Apapun akan dilakukan agar sahabatnya akan kembali tersenyum.
"Ikuti prosedurnya, Eliana, sabarlah ya."
"Tapi...."
"Sudah biar diurus sama, Pak Surya, kita makan dulu lihatlah kamu pucat begitu dan pakailah jasku ya, biar badan kamu hangat.
Sesaat Eliana menatap mata teduh sahabatnya, begitu baik. Dalam keadaan apapun Reindra tak pernah mengedepankan egonya ia berfikir begitu tenang dan juga santai.
"Emm...!"
Reindra menjulurkan tangannya dan Eliana pun meraih tangan hangat itu, mereka berjalan keluar. Saat berjalan Eliana dan Reindra berpapasan dengan Yolanda, senyum sinis mengembang dari wajah Yolanda.
"Apa ya bedanya aku sama kamu? Kamu bilang aku pelakor nah kamu belum cerai sudah gandengan tangan?" Perkataan Eliana membuat Eliana terpancing emosi.
Namun, Reindra menggenggam tangan Eliana lebih erat dan menggeleng, Reindra tak menginginkan Eliana bicara.
Reindra tersenyum berusaha melindungi sahabatnya. "Apa masalahmu? Ya beda lah, kau lihat wajah Eliana, dia punya hati yang lembut. Sedangkan kamu ... apa perlu ku katakan?"
"Apa...?"
"Yakin mau dengar, atau mungkin biar Satria tahu sifat busukmu?"
"Maksud kamu."
"Aku tahu tentangmu dari ujung rambut hingga kaki, jika aku buka suara kau akan menjadi gembel dalam sekejap, Tuan Brio Sanjaya kenal." Ancam Reindra padanya.
Deg.
Seolah dunia Yolanda runtuh.
Tubuh Yolanda bergetar dan diam seribu bahasa tak bergeming, Eliana dan Reindra meninggalkannya dengan tersenyum menang, namun tidak dengan Yolanda hatinya hancur, ia tak tahu wanita dan pria itu bagaikan racun di hidupnya.
-
"Ayo kita pulang?" Ajak Satria pada Yolanda.
Diam.
"Yolanda...." Panggil Satria.
"Eh iya," ucap Yolanda terkejut.
"Ayo pulang."
"Baiklah."
Yolanda bertanya-tanya, gimana hasil di balik sidang perceraian Satria.
"Satria, gimana? Aku sengaja lho cari pengacara terbaik untukmu," ujar Yolanda semringah.
"Berhasil kan?"
"Masih ditunda bulan depan." Satria berkata kesal.
"Apa! Padahal sudah berharap tadi kamu langsung putus."
Satria mendengus kesal, apakah rencananya akan berhasil mempertahankan Eliana entahlah, Eliana terlihat begitu kecewa dan membencinya.
Satria menertawakan dirinya sendiri atas segala kenaifannya. Cintanya pada Eliana membuat logikanya tak dapat mencerna, hingga ia hanya mengedepankan rasa yang kadang justru menjebaknya dalam kubangan nestapa dan lembah dosa memilih nafsunya untuk berhubungan dengan Bos tempat ia bekerja.
Satria menelan ludah yang terasa begitu pahit. Dan menghela napas dengan kasar, sambil mengemudikan mobil dengan kecepatan cepat. Ia tak peduli dengan dirinya lagi. sekalipun ia akan jatuh dan terluka. Karena hanya itu yang bisa ia lakukan untuk mengurai sesak yang menyiksa dadanya.
Mobil terparkir di halaman rumah baru milik Satria hadiah dari Yolanda. Mereka turun dan masuk ke dalam rumah.
"Aku akan menginap di sini Satria, aku merindukanmu."
"Terserah," ujar Satria dan melangkah masuk kedalam kamar mandi.
Yolanda tersenyum sinis setidaknya ia bisa menyakiti Eliana. Ia bahagia jika melihat wanita itu menderita karena kehilangan suaminya.
Setelah menutup pintu depan, Yolanda menuju kamar Satria. Perlahan sekali ia mengetuk pintu dari kayu jati yang terlihat clasic.
"Masuk."
"Aku masih enggak percaya kau menolak perceraian itu."
Satria menggeleng. "Aku punya anak, punya Ibu juga keluarga yang menginginkan aku kembali pada Eliana."
"Apa ada sesuatu yang kamu simpan? Yang tak aku ketahui."
"Aku enggak bisa, ini sulit untuk dibicarakan Yolanda."
"Keluargamu inginkan kau dengan Eliana lagi?"
"Iya...."
"Tidak adalah cara lain, aku juga inginkan hubungan kita Satria."
"Lah, bukannya kamu sudah buat komitmen dari awal kita hanya akan bersenang-senang lalu apa ini kenapa jadi begini," ucap Satria tak percaya.
"Entahlah, yang jelas aku menyukaimu dan tak mau kehilanganmu."
Kadang, Satria lelah menanggapi rumitnya pikiran Yolanda, yang kadang berakhir dengan perang dingin berhari-hari. Masalahnya hanya satu, Yolanda menginginkannya. Itu hal sulit yang bisa Satria penuhi.
-
Eliana menatap pantai jauh terbentang luas, suara angin berembus menyibak rambutnya yang masih tertinggal saat Eliana menguncirnya. Eliana memandang ombak-ombak kecil yang berlarian ke pinggiran pantai. Buih-buih kecil itu menyebar searah mata angin. Berserakan bebas lepas kemana pun mereka akan pergi.
Mata Eliana dan Reindra nanar menatap gulungan-gulungan ombak yang saling berkejaran kencang, namun pecah menghantam pantai.
"Perasaanmu lebih baik sekarang?"
Eliana mengganguk. "Iya"
"Hidup manusia telah tertulis, Eliana."
"El tahu, Mas Rein, namun sakit ini masih membekas."
"Beratnya masalah yang kau hadapi kadang bukan karena besarnya masalah tapi sangat mungkin kau terlalu lama larut dalam masalah itu, El."
"Iya kau mungkin benar, Mas Rein."
"Belajar untuk bangkit dan menyadari bahwa waktu terus berjalan dan ada masa depan yang lebih baik telah menanti. Ada Daffa yang membutuhkanmu."
"Aku hanya malu pada diriku sendiri, bahkan aku membangkang Ayah dan Ibu saat meminta restunya. Aku yang salah, Mas Rein."
"Sabarlah Eliana. Iklaskan semuanya."
Angin laut masih berembus kencang. Reindra mengulurkan tangan dan Eliana menyambutnya, Reindra mengajak Eliana berlari ke arah pinggir pantai. Eliana pun tak mengerti Dosen yang biasanya sibuk dengan buku-bukunya, makalah-makalahnya dan laptopnya bisa menemani Eliana sepanjang hari ini, dari dulu Reindra selalu menjaganya.
"Mas ...."
"Hmm."
"Aku dengar, Mas sudah punya istri ya?" tanya Eliana penasaran sambil duduk menatap lautan di depannya.
"Iya, istriku meninggal saat melahirkan putri kami El."
"Oh, maaf."
Sesaat hening, mereka berdua diam sambil menikmati udara yang begitu sejuk.
"Istrinya orang mana?"
"Aku di jodohkan oleh teman anak Mama El," ucap Reindra tanpa menoleh ke arah Eliana.
"Orang Jogja juga, Mas?"
Rein menarik nafas panjangnya. "Iya."
Ternyata luka itu Reindra juga rasakan, harusnya Eliana bersyukur masih ada Daffa dalam hidupnya.