Mbak Ranti masih saja menggedor pintu dan berteriak dari luar. Hari memang masih terlalu pagi, pintu masih dikunci dari dalam. Ibu masih berada di kamarnya usai salat Subuh tadi. Awalnya aku malas untuk membuka pintu karena Mbak Ranti suka membuat keributan dan datang hanya ingin merendahkan. Apalagi sambil gedor-gedor pintu ia juga berteriak menanyakan mobil siapa yang ada di depan. Haruskah kujawab? Terpaksa aku membuka pintu karena tidak mau terlalu lama mendengar teriakannya yang dapat memecahkan gendang telinga itu. "Lama amat buka pintunya, enak banget ya, hidup kamu, jam segini baru bangun," kata Mbak Ranti dengan muka ditekuk dan bibir mengerucut. Enak saja bilang aku baru bangun, padahal aku sudah selesai mencuci dan hendak memasak mumpung Sasya masih tidur. Jika Sasya sudah b

