Bab 9. Perampok

1135 Kata
Waktu seminggu terasa berjalan sangat lambat tidak seperti biasa. Aku masih penasaran dengan apa yang akan terjadi dengan Mbak Wiwid jika Mbak Ranti tidak menepati janjinya. Hari yang ditunggu itu masih kurang dua hari lagi. Pagi ini, aku melihat Mbak Wiwid tengah menyiram aneka bunga yang ia tanam di dalam pot yang berjejer rapi di depan rumahnya. Bukan hanya menyiram saja, ia bernyanyi kecil sambil menggoyangkan pinggulnya. Begitu lah, Mbak Wiwid, ia hanya mau mengurus tanaman bunga yang ada di halaman rumah, tapi kalau diminta ke sawah, langsung angkat tangan. Heran aku, kok ada ya, orang punya utang banyak masih bisa bersenandung dan berjoget seperti itu. Hari yang dinanti tiba, jantungku berdebar tidak karuan. Lho, padahal bukan aku yang punya utang, tapi, kenapa malah aku yang ketakutan. Aku takut kakau Mbak Ranti tidak dapat memenuhi janjinya. Sebentar sebentar aku melihat ke arah rumah Mbak Wiwid yang bisa terlihat dari sudut rumah Ibu. Semoga hal buruk tidak terjadi. Tidak berapa lama, penagih uang seminggu yang lalu itu datang. Mbak Wiwid masuk dan tidak lama kemudian, ia keluar lagi dengan membawa sebuah amplop berwarna coklat yang isinya tebal dan menyerahkan amplop itu pada si penagih. Si penangih pergi, setelah mendapatkan uang dari Mbak Wiwid. Ternyata Mbak Ranti benar-benar menepati janjinya untuk membantu Mbak Wiwid membayar utang. "Tik," panggil Ibu mengagetkanku yang tengah melihat Mbak Wiwid. "Ada apa, kok bengong?" Tanya Ibu. "Ah, nggak kok, Bu, mari masuk, Bu, biar aku pijitin kakinya," tawarku pada ibu suamiku itu. "Nggak usah, Tik, Ibu hanya kangen pingin ke sawah saja. Di rumah seperti ini malah membuat Ibu bosan. Untung sekarang ada Sasya, sehingga Ibu jadi terhibur," ucap Ibu dengan senyum mengembang di bibirnya. Akhirnya aku bisa melihat senyum Ibu untukku. Senyum yang sangat kurindukan dari dulu. "Ibu nggak usah ke sawah, biar diurus Mas Yudi dan pekerja lain, nanti hasilnya tetap buat Ibu, aku dan Mas Yudi nggak akan minta." Kuusap pundak Ibu. "Bukan masalah uangnya, Tik, nanti hasilnya buat kamu dan Yudi saja. Ibu sekarang sudah tidak butuh uang, yang Ibu butuhkan hanyalah kenyamanan dan bisa bersama kalian hingga tua nanti. Kalian mau, kan, tinggal di sini lebih lama lagi?" Tanya Ibu. "Pasti, mau lah, diminta tinggal di rumah sebesar ini, enak, nggak perlu mikirin uang kontrakkan lagi." Tiba-tiba Mbak Ranti datang dengan Mas Wahyu, suaminya, serta dua anaknya. Tumben, seingatku, semenjak aku di sini yang sudah setengah bulan, baru kali ini mereka datang ke sini bersama anak-anaknya meski rumah mereka tidak berjauhan. Biasanya ia datang seorang diri dan hanya minta uang pada Ibu. "Nenek, kami mau makan, di rumah Mama belum masak," ujar Nina, gadis kecil berusia sepuluh tahun. Dia anak pertama Mbak Ranti, sedang adiknya seumuran dengan Sasya, hanya selisih beberapa bulan yang kini berada dalam gendongannya. Menghela napas perlahan, jadi, mereka datang ke sini karena mau minta makan? "Ayo kita makan bareng-bareng," kata Mbak Ranti seraya mengambil sendok nasi dan mengambil piring kemudian mengisinya dengan lauk dan sayur kemudian memberikan pada Nina. Dengan semringah, Nina menerimanya dan makan dengan lahapnya, ia makan dengan cepat seperti tidak makan berbulan-bulan. Setelah mengambil makanan untuk Nina, Mbak Ranti mengambil piring lagi dan melakukan hal yang sama, kemudian memberikan pada suaminya, setelah itu mengambil lagi untuk ia makan sendiri sambil menyuapi si bungsu. Aku dan Ibu hanya berpandangan melihat kelakuan ajaib mereka. Sekali datang langsung merampok. "Kenapa kalian nggak makan?" Tanya Mbak Ranti dengan mulut belepotan dan kepedasan karena ia terlalu banyak memasukkan sambal ke dalam mulutnya. Ia pasti tidak tahu kalau sambal yang kubuat adalah sambal setan dengan pedas level tiga puluh. "Melihat kamu makan saja sudah kenyang aku," ucap Ibu, aku hanya mengangguk membenarkan ucapan Ibu. "Bagaimana kami mau makan, Mbak, sedang nasinya tinggal sedikit, dan lauknya juga sudah kalian habiskan semua," ucapku dengan bibir mengerucut. "Nggak usah cemberut gitu kenapa, nggak enak banget dilihatnya, buat nggak selera makan saja," ucap Mbak Ranti seraya meletakkan sendok ke dalam piring dengan kasar. Gimana mau selera makan, dia sudah memasukkan makanan terlalu banyak ke dalam perut, pasti sudah kenyang banget dia. Aku tidak salah duga, setelah itu dia bersendawa cukup keras. Aduh, aduh, orang nggak berakhlak. Janganlah kamu sendawa dengan keras saat makan di rumah orang, itu termasuk adab saat bertamu. Itulah pesan dari ustaz saat mengaji dulu. "Siapa yang cemberut sih, Mbak?" Ucapku kesal melihat makanan yang baru saja kumasak sudah habis tak bersisa. Kalau mereka bilang mau datang, aku bisa masak yang lebih banyak. "Lah itu, kamu nggak suka aku makan di sini bersama keluargaku? aku berani makan di sini karena ini rumah Ibu kandungku, paham," ucap Mbak Ranti dengan tatapan tajam. "Ran, boleh saja kamu datang ke sini dan makan bersama dengan keluargamu, tapi, sekarang yang punya makanan itu Antika, karena dia yang masak bukan Ibu, jadi, Ibu harap ini untuk terakhir kalinya kamu minta makan di sini rame-rame seperti ini. Kasihan Antika, masak tapi belum makan," ucap Ibu. "Alah, biarpun Antika yang masak, tapi, uang buat belanja milik Ibu, kan? Aku berhak juga dong untuk ikut menikmatinya? Aku, kan anak sulung. Di mana-mana anak sulung adalah anak kesayangan karena ia adalah cinta pertama dari Ibunya," jawab Mbak Ranti santai. Benar, kan, kataku, kalau Mbak Ranti dan Mbak Wiwid itu sebelas dua belas. Beda tipis atau malah nggak ada bedanya, yaitu sama-sama merasa sebagai anak kesayangan dan mau menang sendiri. "Tunggu, tunggu, kok tumben, Ibu membela menantu Ibu ini? Biasanya Ibu nggak suka sama dia, kan? Sejak kapan Ibu berubah?" Kata Mbak Ranti seraya menunjuk mukaku. "Sejak Ibu tahu kalau anak perempuan yang Ibu sayang-sayang, nggak peduli sama Ibu saat Ibu sakit. Kalian anak perempuan hanya mau datang saat Ibu punya uang. Tapi, saat Ibu butuh bantuan, kalian nggak mau datang. Untung sekarang ada Antika yang tulus merawat Ibu," jawab Ibu yang membuat mata Mbak Ranti melotot seperti mau lepas dari tempatnya. "Alah, modus itu, Bu, Antika ini sebenarnya juga mengincar uang Ibu. Kelihatannya saja sok tulus dan polos, tapi, kenyataannya... Ah sudahlah, ayo kita pulang, sepertinya ada yang sudah menggantikan posisiku sebagai anak kesayangan di hati Ibu," ucap Mbak Ranti gusar seraya menggandeng Nina dan menyeretnya keluar dan diikuti oleh Mas Wahyu. Kami melongo melihat keluarga unik yang datang hanya minta makan, dan usai makan langsung pulang. _____________ Hari berikutnya Mbak Ranti beserta keluaga datang lagi. Seperti kemarin, ia juga hanya minta makan dan langsung pulang. Menyebalkan sekali menghadapi orang yang tidak punya malu seperti mereka. Mas Wahyu seorang pegawai negeri. Mereka juga punya hasil panen yang lebih dari cukup, karena Mbak Ranti memang rajin. Mengapa setelah mereka membantu membayar utang Mbak Wiwid jadi aneh? Nina bilang, Mamanya sekarang jarang memasak dan memilih nebeng makan di rumah Ibu. Ada apa ini sebenarnya? Sebenarnya mereka mendapatkan uang untuk membantu Mbak Wiwid itu dari mana? Mbak Wiwid mungkin sudah tenang karena utangnya sudah dibayar, tetapi, kenapa sekarang aku yang kesal karena Mbak Ranti tiap hari datang minta makan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN