"Assalamualaikum," terdengar suara salam dari luar. Mas Yudi baru saja pulang dari sawah habis membantu memetik cabai bersama tiga orang lainnya. Hasil panen kali ini cukup banyak.
"Waalaikumsalam," jawabku seraya membuka pintu. Mas Yudi tampak sangat lelah, wajahnya sampai terlihat merah karena panas terkena sengatan sinar matahari.
Aku tidak ikut membantu memetik cabai di sawah dan memilih tinggal di rumah. Bukan karena takut kulitku gosong terkena sinar matahari seperti Mbak Wiwid, tapi, karena aku punya anak kecil. Ya, usia Sasya sekarang baru dua tahun saja masih kurang sebulan lagi. Dua hari yang lalu, saat kuajak serta ke sawah, dia malah menginjak-injak tanaman yang baru saja tumbuh, tentu ini sangat merugikan.
Kami menikah sudah hampir sembilan tahun, tapi, kami termasuk pasangan yang harus sabar lama dalam mendapatkan momongan.
Masih teringat dengan jelas saat tahun pertama aku belum hamil juga, Mbak Wiwid serta Mbak Ranti mulai nyinyir karena aku belum punya anak.
"Sepertinya istri kamu ini bermasalah, Yud, sudah satu tahun menikah belum hamil juga," ujar Mbak Wiwid saat kami tengah makan bersama. Waktu itu aku dan Mas Yudi masih tinggal di rumah Ibu dan belum merantau.
"Sabar, lah, Mbak, anak itu adalah hak Allah," jawab Mas Yudi santai.
"Baguslah kalau Antika belum hamil juga, jangan hamil dulu sebelum sukses, mau dikasih makan apa kalau kamu sampai punya anak sekarang?" Timpal Mbak Ranti ikut menghinaku.
Aku diam, tapi, dalam hati mengaminkan ucapan Mbak Ranti. Aku harus sukses saat punya anak nanti.
Mas Yudi tidak tahan dengan cibiran kakak-kakak perempuannya serta Bapak dan Ibu yang selalu menyudutkanku yang belum hamil juga di usia pernikahan kami yang baru satu tahun.
Rezeki setiap orang berbeda. Ada yang begitu menikah langsung hamil, ini namanya orang yang beruntung. Ada juga yang baru dua atau tiga bulan langsung melahirkan, kalau yang ini karena do'a para tamu yang terlalu manjur. Ya, setiap datang ke acara pernikahan para tamu akan mendo'akan agar segera atau cepat mendapatkan momongan, dan do'a mereka pun terkabul. Ada juga yang harus menunggu bertahun-tahun, baru bisa punya anak, seperti aku contohnya, baru hamil saat pernikahan kami menginjak tahun ke enam.
Mas Yudi memilih untuk pergi merantau meninggalkan rumah orangtuanya yang lumayan besar ini karena tidak tahan wanitanya selalu disindir setiap hari. Ya, dia adalah lelaki yang paling tidak suka jika orang yang dia sayang selalu dihina meski itu dilakukan oleh keluarganya sendiri.
Betapa bahagianya kami, satu tahun setelah Bapak meninggal, akhirnya aku dinyatakan positive hamil. Kabar gembira ini segera kami sampaikan pada Ibu, Mbak Ranti serta Mbak Wiwid. Aku pikir mereka bahagia saat mengetahui kehamilanku, karena mereka memang sangat mengharapkan cucu dari Mas Yudi. Namun, semua tidak seperti yang kubayangkan.
"Bu, Antika hamil," ucap Mas Yudi saat kami datang berkunjung ke rumah Ibu untuk memberi kabar tentang kehamilanku.
"Oh," jawab Ibu dingin dengan mengendikkan bahu tanpa mau memandang ke arahku.
"Sudah berani hamil, kamu, Tik, kamu yakin bisa ngasih makan anak kamu itu nanti," kata Mbak Ranti.
"Benar juga, tuh, seharusnya kamu tidak hamil dulu, sampai kalian benar-benar yakin bisa memberinya penghidupan yang layak. Bukan apa-apa, takutnya kalian nggak ada uang saat melahirkan dan kami yang harus direpotkan," timpal Mbak Wiwid.
Kata-kata mereka sungguh sangat menyakitkan, niat hati ingin memberi kabar gembira malah ini yang kami dapatkan. Hati ini bagai tertusuk ribuan belati saat mendengar hinaan mereka.
Aku pikir kehamilanku ini akan disambut dengan suka cita oleh keluarga Mas Yudi, seperti saat Mbak Ranti hamil, mereka begitu bahagia mendengarnya, bahkan sampai diadakan acara besar-besaran untuk merayakannya. Namun, jangankan dirayakan, disambut dengan senyuman pun tidak. Sedih dan sakit hati ini. Hampir saja tangisku pecah menghadapi kenyataan ini.
Kami pun mengurungkan niat untuk menginap di rumah Ibu dan memilih pulang lagi dengan membawa sejuta luka yang entah bisa disembuhkan atau tidak. Luka terkena s*****a tajam, lambat laun akan mengering dan menghilang. Namun, luka karena lidah yang tajam, sulit untuk dihilangkan.
Mas Yudi tetap memberi kabar saat aku melahirkan. Berharap mereka mau datang untuk menyambut kehadiran anggota keluarga baru mereka. Tapi, mereka tidak mau datang juga.
"Malas, ah, datang, jangankan mendapatkan jamuan yang enak, tempat yang layak saja, pasti tidak akan kami dapatkan," kata Mbak Wiwid dari seberang telepon.
Bukan hanya Mbak Wiwid yang tidak datang, Mbak Ranti juga tidak mau datang dengan alasan yang sama. Begitu juga dengan Ibu.
Mereka tidak tahu, usaha kami sudah mulai berkembang, meski belum pesat seperti sekarang. Kami juga sudah punya rumah baru yang lebih layak meski masih nyicil saat aku melahirkan Sasya.
Ah, bayangan tentang masa lalu itu sangat menyakitkan. Aku sudah berusaha melupakan, tapi, kenapa dia selalu datang?
____________
Kuminta suamiku mandi, ganti baju dan makan.
"Ibu sudah makan, Dek?" tanya Mas Yudi usai mandi.
"Sudah, Mas, sekarang sedang istirahat," jawabku seraya mengambil nasi beserta lauk dan sayurnya ke dalam piring dan mengulurkan pada Mas Yudi.
"Terima kasih ya, Dek, kamu sudah mau merawat Ibu,"
"Iya, Mas, Ibu kamu tentu Ibuku juga. Jadi, sudah sewajarnya aku merawatnya dengan baik," ucapku tersenyum.
"Sasya mana?" Tanya Mas Yudi celingukan mencari anak semata wayangnya itu.
"Habis bermain dan mandi, ia langsung tidur, sepertinya mulai ia betah tinggal di sini, Mas, nggak rewel lagi," jawabku dengan senyum mengembang di bibirku.
Anak-anak memang begitu, dia tidak nyaman berada di lingkungan baru. Begitu juga dengan Sasya, awalnya dia rewel saat baru pertama kali menginap di sini. Sekarang tidak lagi, mungkin karena neneknya juga mulai menunjukkan kalau ia sayang pada cucunya, sehingga Sasya juga merasa nyaman.
"Mbak Ranti juga sedang panen sekarang meski tidak sebanyak punya Ibu, tapi, masih mending daripada sawah Mbak Wiwid yang menganggur tidak ditanami apa-apa," ucap Mas Yudi usai makan.
Mas Yudi, Mbak Ranti dan Mbak Wiwid memang lahir dari rahim dan Bapak yang sama, namun, bukan berarti mereka punya sifat yang sama. Mbak Wiwid dan Mbak Ranti hanya punya satu kesamaan, yaitu, sama-sama sombong dan suka merendahkan orang lain.
Mbak Wiwid orangnya pemalas dan lebih senang tinggal di rumah menunggu suami pulang kerja. Ia hobi rebahan sambil bermain ponsel sepanjang hari dan kalau sudah capek rebahan, ia akan menghibur diri dengan goyang tik-tok.
Mbak Ranti berbeda dengan Mbak Wiwid, ia adalah seorang pekerja keras. Meski suaminya sudah menjadi pegawai negeri, namun ia tetap tidak mau jika hanya berdiam diri di rumah. Ia lebih memilih untuk bekerja apa saja di sawah pemberian orang tuanya. Tak heran, jika sawahnya tidak pernah menganggur atau sering punya hasil panen. Itu semua hasil dari kerja keras Mbak Ranti.
Sekarang, di saat sawah Mbak Wiwid tidak ditanami apapun, di sawah Mbak Ranti sedang panen cabai, padahal belum lama ini katanya ia juga baru saja panen sayur kol.
Mungkin Mbak Ranti sekarang memang punya uang, sehingga dia bisa membantu Adiknya untuk membayar utang. Jika benar seperti itu, betapa mulia hatinya, mau membantu saudara yang sedang kesusahan. Tapi, kenapa tadi ada drama pingsan segala? Harusnya kalau ia memang punya uang, dia tidak perlu beradegan pingsan, kan?
Sepertinya aku harus menunggu seminggu lagi untuk mengetahui jawabannya.