Bab 7. Tidak Percaya

1000 Kata
Aku dan Ibu saling berpandangan melihat Mbak Wiwid yang masih saja tertawa. "Tolong, hentikan khayalan tingkat tinggi kamu itu, Tik. Aku bisa mati tertawa mendengarnya," pinta Mbak Wiwid masih dengan tertawa lebar. Ia mengusap air matanya yang berderai-derai karena tertawa setelah itu memegang perutnya. "Terserah, Mbak, mau bilang apa, yang penting memang benar apa yang dikatakan ibu, Mas Yudi juga selalu mengirimi ibu uang. Bahkan untuk menanam cabai di sawah itu juga pakai modal dari Mas Yudi. Kebetulan kami baru saja ada rezeki lebih." Jelasku, berharap Mbak Wiwid berhenti menertawakan kami. Namun, bukannya berhenti tertawa. Wanita yang selalu tampil cantik dan dandan menor di setiap kesempatan itu malah semakin tertawa terbahak-bahak. Apa perlu aku memanggil seseorang agar ia mau berhenti tertawa? Tetapi siapa? Aku takut ia kebablasan soalnya. "Alah, sok bilang ada rezeki lebih, lebihnya berapa, sih? Paling-paling cuma lima puluh ribu," ucap Mbak Wiwid masih sinis. "Berapapun tetap kami syukuri, Mbak, besar atau sedikit kami tetap bersyukur. Orang kaya dan punya uang banyak belum tentu cukup, pun sebaliknya, seperti kami yang meski punya penghasilan sedikit sudah cukup sehingga bisa kami sisakan untuk ibu. Meski tidak seberapa. Ya, seperti kata Mbak tadi, memberi ibu uang seperti menabur garam di atas lautan. Bagiku, bisa berbagi dengan ibu adalah hal yang paling membuatku bahagia karena berbagi dengan ibu juga bisa kita niatkan sedekah. Bukankah lebih utama bersedekah kepada keluarga sendiri, termasuk ibu sebelum bersedekah kepada orang lain. Bukannya aku mau minta yang lebih banyak, Mbak, aku hanya ingin ibu mendo'akan agar kami selalu mendapatkan rezeki yang berkah, halal, dan manfaat," ucapku panjang lebar seperti ceramah. Usai mengucapkan kata-kata itu, aku geli sendiri. Kenapa aku bisa berbicara layaknya ustazah yang sedang ceramah di atas panggung. Namun, apa yang kukatakan barusan itu benar, kan? Kalau sedekah itu sebaiknya mengutamakan orang terdekat. Percuma sedekah jauh-jauh ke sana ke mari, tetapi keluarga sendiri tidak diperhatikan. "Oh, jadi maksud kamu, hidup kami ini tidak berkah karena tidak pernah berbagi dengan ibu, begitu? Uangku itu banyak dan akan semakin banyak meski tidak pernah memberi ibu uang. Ibu juga akan tetap mendo'akan yang terbaik untukku, karena sebagai anak yang berada di tengah, aku adalah anak kesayangan Ibu. Terbukti, kan, berkat do'a ibu aku bisa mendapatkan seorang suami yaang punya pekerjaan mapan, tidak harus berpanas-panasan, setiap bulan gajian. Tidak seperti Yudi, sungguh malang nasip adikku itu, sudah tidak punya pekerjaan tetap, eh, dapat istri juga model kaya kamu, seandainya ia pintar mencari istri, pasti hidupnya tidak akan seperti ini sekarang," ucap Mbak Wiwid juga panjang lebar, bahkan lebih panjang dari yang kukatakan tadi. Aku jadi gemas mendengar perkataan yang keluar dari mulutnya itu. Mencoba bersabar menghadapi mulut pedas Kakak suamiku itu. Mbak Wiwid, Mbak Wiwid, sombongnya itu lho kebangetan, nggak ingat apa, kalau baru saja nangis-nangis mau pinjam uang sama aku? Kalau sudah begini, aku yakin orang seperti Mbak Wiwid ini meskipun sudah dikasih pinjam, sombongnya tidak akan hilang. Tak jamin itu. "Terserah kamu, Mbak, mau bilang suami kamu pegawai dengan gaji besar, tapi, pada kenyataannya tetap punya ut_." Kututup mulutku sendiri karena Mbak Wiwid melotot ke arahku saat aku mau bilang kalau dia punya utang. "Punya ut, utang, maksudnya? Kamu punya utang Wid?" tanya Ibu dengan tatapan tajam ke arah Mbak Wiwid, sehingga membuat ia salah tingkah. Mbak Wiwid melotot ke arahku dan aku paham dengan kode yang ia berikan yaitu memintaku untuk tidak memberi tahu ibu kalau ia punya utang tiga puluh juta. "Ah, nggak, kok, Bu?" Mbak Wiwid tersenyum dan maju kemudian menepuk pundak ibunya dengan lembut. "Tapi, Antika bilang?" Kini ibu beralih menatapku. "Nggak ada, Bu, aku punya utang tapi cuma sedikit, iya, kan, Tik?" Kata Mbak Wiwid dengan mengedipkan matanya berulang kali sebagai kode aku harus mengiyakan ucapannya. Semoga saja bulu mata palsunya tidak rontok digunakan berkedip seperti itu. Mbak Wiwid memang modis dan pintar dandan. Saat di rumah pun, ia selalu memakai make up tebal, pakai bulu mata palsu pula. Katanya kepercayaan dirinya akan hilang jika keluar rumah sampai tidak pakai make up. Padahal ia hanya seorang ibu rumah tangga biasa. "Sebentar, Bu. Aku mau ngomong empat mata sama Antika," ucap Mbak Wiwid kemudian menyeret tanganku keluar dari rumah. Setelah sampai di luar, ia melepaskan tanganku dengan kasar, untung aku tidak terjengkang. "Aduh, sakit, Mbak," ucapku meringis seraya memegang tanganku yang baru saja dipegang Mbak Wiwid "Ngeyel kamu, ya, sudah dibilang jangan bilang ibu kalau aku punya utang," ucap Mbak Wiwid dengan tatapan tajam. "Maaf, Mbak, keceplosan," jawabku. "Ingat, ya, jangan sampai ibu tahu kalau aku punya utang sebanyak itu." Bola mata Mbak Wiwid melotot seperti mau loncat dari tempatnya. Ia juga mencengkeram bajuku dengan kasar. "Lho, katanya tiga puluh juta sedikit?" ujarku mengernyitkan dahi setelah ia melepaskan cengkeraman tangannya. "Ah, nggak usah bawel, intinya kalau ibu sampai tahu tentang aku yang punya utang, itu pasti dapat informasi dari kamu. Dan ingat, Mbak Ranti sudah janji akan membantu membayar utangku, jadi, aku tidak perlu khawatir. Senangnya punya saudara yang bisa diandalkan. Tidak seperti kamu yang tidak berguna sebagai saudara," Mbak Wiwid melangkah pergi begitu saja. Ia pulang dengan tangan kosong, mungkin lupa kalau awalnya dia berniat ke sini mau minta naget. Aku masuk rumah dan menutup pintu, belum juga aku berbalik, pintu sudah digedor kembali. "Ada apa lagi, Mbak?" tanyaku. Semakin lama aku muak harus bertemu dengan orang sombong, tetapi ternyata utangnya banyak itu. "Nagetnya lupa," jawabnya seraya mengambil naget yang ada di meja. "Hm, aku pikir nggak jadi minta," ucapku lirih. Padahal aku tadi sudah senang karena nagetku selamat. "Kalau aku nggak jadi minta, naget kamu ini mau buat apa?" jawabnya dengan mengangkat naget ke udara. Walah, ngakunya aja sok sosialita dan banyak gaya, serta bilang aku tidak berguna, kenapa masih minta juga. Untungnya dia tidak tahu kalau dia punya adik kaya. Kalau dia tahu, bisa-bisa dia minta uang setiap hari. Naget saja diminta, apalagi uang. Hadeuh, aku memijit pelipis sembari geleng-geleng kepala melihat kepergian Mbak Wiwid, sang ratu gaya. Kok bisa, dia bisa tenang punya utang sebanyak itu, sedangkan yang diandalkan saja belum pasti bisa. Oke, kita tunggu kabar dari Mbak Ranti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN