Bab 6. Belum Saatnya Mereka Tahu

997 Kata
"Apa Ibu bilang? coba katakan sekali lagi? Aku nggak salah dengar, kan, kalau Yudi setiap bulan selalu mengirim uang kepada Ibu?" Mbak Wiwid melebarkan mata seraya maju dan mencoba meraba kening Ibu lagi. Ibu mundur beberapa langkah saat tanya anak perempuannya itu ingin meraba keningnya. "Ibu tidak panas, tapi, kenapa dari tadi bicaranya seperti ada yang tidak beres? Ngaco terus ngomongnya.Tadi nyeramahin aku dan sekarang bilang kalau setiap bulan Yudi selalu kirim uang. Tidak mungkin, Bu. Ibu jangan mimpi, bangun, woy!" ucap Mbak Wiwid dengan nada tinggi dengan tangan yang ia kibaskan di depan wajah Ibu. Aku menekan d**a perlahan karena kaget melihat perlakuan Mbak Wiwid pada ibunya. Beginikah sikap seorang anak yang sangat di sayang pada ibunya? Sungguh tidak pantas. "Mbak, nggak sopan berbicara seperti itu dengan Ibu. Ibu ini ibu kandung Mbak yang harus kita hormati." Ucapku seraya menepuk pundak Ibu, posisiku kini berada di belakang Ibu. "Habis aku kesel, dari tadi kamu selalu di bela Ibu. Mana mungkin setiap bulan Yudi selalu kirim uang sama Ibu. Mau makan aja susah? Gimana bisa kirim uang untuk Ibu? Kalau ngehalu jangan ketinggian, kalau jatuh sakit lho?" Ujar Mbak Wiwid sinis. "Memang benar kenyataannya begitu," kata Ibu. "Tidak percaya, apa jangan-jangan Ibu yang selalu kirim uang buat Yudi dan istrinya ini, kemudian uang itu dikirimkan lagi kepada Ibu biar seolah-olah Yudi yang mengirim semata-semata untuk cari muka?" Kata Mbak Wiwid. "Ribet amat, Ibu mengirim uang kemudian dikirim lagi," imbuhnya lagi masih dengan nada sinis. "Terserah kamu mau bilang apa, aku tidak memaksa kamu untuk percaya dengan ucapanku tentang Yudi yang selalu mengirimiku uang secara diam-diam. Ibu memang tidak pernah bilang sama kamu dan juga Ranti karena Yudi yang melarang," ucap Ibu. "Aku tetap tidak percaya. Mana ada penjual bakso yang bisa kirim uang kepada ibunya setiap bulan? Untuk makan sama bayar kontrakan saja sudah nyukup-nyukupin, jadi tidak mungkin bisa menyisihkan uang untuk Ibu," ucap Mbak Wiwik panjang lebar. "Tik, sudah saatnya kamu bilang ke kakak-kakak kamu kalau sebenarnya setiap bulan selalu mengirim uang biar mereka tidak merendahkanmu lagi. Ibu kasihan sama kamu yang selalu dihina dan direndahkan oleh keluarga suamimu sendiri. Ibu sekarang sadar, untuk menyayangi seseorang tidak harus yang berseragam rapi, namun, yang pengertian seperti kamu sudah cukup. Maafkan ibu yang selama ini hanya mengikuti Bapak yang membenci kamu padahal kamu adalah menantu yang baik," ucap Ibu dengan lembut. Semoga Ibu benar-benar berubah, mau menyayangiku sepenuh hati. Mbak Wiwid melotot padaku lalu tertawa terbahak-bahak padahal tidak ada yang lucu menurutku. Aku mengambil minum untuk meredakan emosi yang sudah tersulut ini. Jika tiba saatnya nanti, akan aku katakan yang sebenarnya dan kupastikan mereka tidak akan menghina dan menertawakanku seperti ini lagi. "Tentu saja dia nggak akan bilang, pasti malu, seandainya benar Yudi memberi uang pasti jumlahnya tidak seberapa. Percuma saja mengirimi uang kalau pada kenyataanya uang yang Mas Yudi berikan lebih sedikit daripada punya Ibu sendiri. Itu sama artinya dengan menabur garam di atas laut, percuma. Atau jangan-jangan kamu memang sengaja ngasih uang biar dikira anak dan menantu baik padahal hanya ingin mendapatkan uang yang lebih banyak dari Ibu. Licik ya, rupanya kalian paham dengan konsep memancing, untuk mendapatkan ikan harus menggunakan umpan. Ya, seperti Antika ini, sok-sokan ngasih uang padahal hanya ingin mendapatkan yang lebih banyak. Selamat Tik, kamu berhasil memperdaya Ibu. Buktinya sekarang kamu dan Yudi diminta tinggal di sini," ucap Mbak Wiwid dengan nada sinis dan merendahkan. "Cukup, Wid, jangan hina dan merendahkan adik iparmu lagi. Ibu meminta mereka bertiga tinggal di sini agar Ibu ada yang merawat karena kamu dan Ranti tidak peduli pada Ibu," hardik Ibu. Aku tertegun melihat reaksi ibu yang membentak anak kesayangannya demi membelaku. Mimpi apa aku semalam? "Ibu?" Mbak Wiwid juga kaget dengan ucapan ibunya yang tiba-tiba membentaknya. "Kenapa? Kaget? Ibu membentak kamu?" Kata Ibu lagi. "Aduh, aduh, ternyata pengaruh Antika cukup besar pada Ibu. Dari dulu Ibu tidak pernah membentakku karena aku adalah anak kesayangan Ibu dan Bapak. Kenapa sekarang Ibu jadi begini, mentang-mentang Bapak sudah tiada?" tanya Mbak Wiwid. "Ibu sekarang sadar karena sudah memanjakan kamu selama ini sehingga kamu menjadi berbuat sesuka hati dan suka merendahkan orang lain. Sadar, Nak, Antika itu istri dari Adik kamu, dia bagian dari keluarga kita juga," ucap yang tadi sudah melotot kini berucap lembut. Tangannya meraih pundak Mbak Wiwid, tetapi anak perempuannya itu menepisnya. "Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menganggap ia sebagai bagian keluargaku meski Ibu sekarang sudah menyayanginya," ucap Mbak Wiwid dengan tangan bersedekap. Ibu hanga menggelengkan kepala melihat tingkah anak yang selama ini ia banggakan begitu keras kepala. "Aku kasihan sama Antika, Bu, mimpinya terlalu tinggi, siapa yang akan percaya kalau setiap bulan Yudi selalu mengirim uang. Daripada buat Ibu lebih baik buat ditabung untuk beli rumah di kota nanti, ha ha ha," Mbak Wiwid tertawa lebar. "Buat apa beli rumah di kota, ini rumah Yudi dan akan tetap tinggal di sini menemani Ibu," jawab ibu. Mereka tidak tahu kami sudah punya rumah di kota yang lumayan bagus. Ya, mereka belum pernah mengunjung kami di kota, jadi, tidak tahu keadaan kami yang sebenarnya. Bahkan saat aku melahirkan Sasya pun, mereka tidak sudi menjenguk dengan berbagai alasan. "Dek, maafkan aku," ucap Mas Yudi sendu. Waktu itu ia baru saja pulang dari rumah ibu untuk memberi tahu kalau aku baru saja melahirkan. "Mas minta maaf untuk apa?" Aku mengusap pundaknya dengan lembut. "Ibu tidak mau menjenguk anak kita padahal ia cucunya juga, kan?" Mata suamiku berkaca-kaca dan setelah itu bulir bening sudah membasahi pipinya. "Mbak Ranti dan Mbak Wiwid juga?" tanyaku dengan hati yang berdesir perih melihat suamiku menangis. Mas Yudi mengangguk. Ingatan saat mereka mengabaikan undangan kami untuk menghadiri acara syukuran atas kelahiran Sasya waktu itu begitu membekas di hati. Mbak Wiwid masih tertawa mengejekku yang dia anggap telah bermimpi terlalu tinggi. Semoga dia tidak pingsan nanti saat tahu siapa kami yang sebenarnya. Semoga jantungnya masih kuat saat menyadari bahwa orang yang selama ini mereka hina dan rendahkan lebih kaya darinya. Ya, suatu saat mereka pasti akan tahu juga. Hanya saja tidak sekarang karena memang belum waktunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN