Dapur Cinta sore itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada tawa kecil, tidak ada gurauan ringan antara tim dapur. Hanya suara pisau beradu dengan talenan, dan desis minyak yang mendidih perlahan.
Ratna berdiri di dekat jendela, menatap langit yang memantulkan warna keperakan dari sisa hujan siang tadi. Tangannya sibuk memotong bawang bombai, tapi pikirannya melayang ke tempat lain. Ia memperhatikan Andre dari sudut mata — pria itu kini lebih sering melamun di depan kompor, seolah pikirannya jauh entah ke mana.
“Ada yang aneh, ya,” gumam Sinta, salah satu asisten dapur, mencoba memecah keheningan.
Ratna menoleh sekilas. “Kenapa?”
“Mas Andre. Belakangan sering diam. Kadang keluar tanpa bilang ke mana. Alya juga makin sering pulang malam.”
Ratna tak menjawab. Ia hanya menaruh pisau perlahan, lalu mengusap tangannya dengan lap kering. Ucapannya terdengar datar, tapi tajam seperti pisau yang baru diasah.
“Kadang diam itu bukan karena tenang, Sin. Tapi karena sedang menahan sesuatu.”
Sinta mengangguk kecil, merasa ucapannya sudah cukup berani, lalu pergi melanjutkan pekerjaan. Ratna menatap punggung Andre lama sekali. Dulu, punggung itu adalah tempat ia bersandar tanpa takut kehilangan. Tapi kini, setiap kali melihatnya, Ratna merasa seperti sedang menatap seseorang yang perlahan menghilang.
---
Malam itu, Dapur Cinta sudah tutup. Andre berpamitan lebih dulu, katanya ada urusan dengan vendor bahan makanan. Ratna hanya mengangguk tanpa bertanya. Ia tahu Andre berbohong. Bukan karena insting istri, tapi karena nadanya—nada yang sedikit terlalu halus, terlalu hati-hati.
Setelah Andre pergi, Ratna duduk lama di ruang kantor kecil di belakang dapur. Di meja itu masih ada laporan keuangan, catatan pesanan, dan secarik kertas kecil dengan tulisan tangan Andre.
Tulisan itu membuat dadanya mengeras.
“Theo Ardian — cek di Bandung, perusahaan lama.”
Ratna membaca berulang kali. Ia tahu nama itu. Theo. Nama yang sudah beberapa minggu ini melayang di udara, disebut dengan suara samar, kadang dari Alya, kadang dari gosip tak sengaja.
Ia menyandarkan tubuhnya di kursi, menghela napas panjang. Jadi benar — Andre menyelidikinya. Demi siapa? Demi Alya, tentu saja.
Ratna menatap bayangan dirinya di kaca jendela. “Sampai kapan aku harus berpura-pura tidak tahu?” bisiknya lirih.
---
Keesokan harinya, Ratna sengaja datang lebih awal ke Dapur Cinta. Andre belum tiba, tapi Alya sudah di sana, sedang menata bahan-bahan di meja.
“Pagi, Mbak Ratna,” sapa Alya ramah.
Ratna tersenyum tipis. “Pagi. Capek semalam?”
Alya mengangguk. “Lumayan. Tapi senang, pesanan catering besar kemarin lancar.”
Ratna memperhatikan Alya — ada semburat lelah di matanya, tapi juga ketegangan yang tak bisa disembunyikan.
“Kau kelihatan kurang tidur,” kata Ratna lembut.
Alya tersenyum canggung. “Iya, ada yang datang ke rumah beberapa kali… urusan lama, Mbak. Tapi nggak penting.”
Ratna menatapnya tajam. “Theo?”
Alya terdiam. Sekilas saja, tapi cukup bagi Ratna untuk tahu jawabannya.
“Dia cuma teman lama, Mbak. Nggak lebih,” ucap Alya cepat, berusaha menutup luka yang justru semakin terlihat.
Ratna menatap wajahnya beberapa detik tanpa bicara, lalu berjalan mendekat. “Alya, aku nggak akan menghakimi kamu. Tapi aku harap kamu tahu, beberapa luka lama… bisa berbahaya kalau dibiarkan terbuka.”
Alya menunduk, suaranya nyaris bergetar. “Aku tahu, Mbak. Aku cuma belum tahu harus bagaimana.”
Ratna hanya mengangguk, lalu kembali ke meja kerjanya. Tapi di dalam dadanya, kata-kata Alya bergema seperti suara besi jatuh. Belum tahu harus bagaimana.
Ia tahu artinya: Alya sedang goyah. Dan Andre… mungkin juga.
---
Malam berikutnya, Ratna menunggu Andre di rumah. Hujan deras turun di luar, menimbulkan suara gemuruh yang menelan waktu. Jarum jam menunjukkan hampir pukul sebelas ketika suara pintu akhirnya terbuka.
Andre masuk, menutup payung, dan mencoba tersenyum. “Maaf, ada urusan mendadak.”
Ratna berdiri di ambang ruang tamu, menatapnya tanpa ekspresi. “Urusan Theo?”
Andre terdiam. Wajahnya berubah. “Kamu tahu dari mana?”
“Dari cara kamu bohong,” jawab Ratna tenang. “Kamu bukan tipe yang pandai menyembunyikan sesuatu, Dre.”
Suasana di antara mereka hening beberapa detik. Hanya suara air hujan yang menetes dari payung.
“Aku cuma ingin memastikan Alya nggak dalam masalah,” kata Andre akhirnya.
Ratna menyilangkan tangan. “Kau yakin itu alasanmu?”
Pertanyaan itu meluncur tajam, tapi suaranya tetap datar. Andre menatapnya, tidak menjawab. Dan di situlah Ratna tahu — diam Andre adalah pengakuan yang paling jujur.
Ratna melangkah pelan mendekat. “Aku nggak akan melarang kamu, Dre. Aku tahu perasaan tidak bisa dikendalikan. Tapi aku juga tidak akan tinggal diam sementara kamu membiarkan dirimu hanyut oleh sesuatu yang mungkin hanya semu.”
Andre menghela napas berat, menunduk. “Aku nggak tahu kenapa semua ini jadi serumit ini.”
Ratna menatapnya lama. “Karena kamu tidak jujur pada dirimu sendiri.”
Tanpa menunggu jawaban, Ratna berbalik menuju kamar. Di tangannya masih tergenggam kertas catatan nama Theo yang tadi ia ambil diam-diam dari dapur.
---
Beberapa hari kemudian, Ratna duduk sendirian di sebuah kafe kecil di pinggiran kota. Di depannya, laptop terbuka, menampilkan halaman hasil pencarian tentang Theo Ardian. Beberapa artikel lama muncul — berita tentang kasus penipuan ringan, laporan kehilangan, dan satu artikel yang membuat jantungnya berdegup keras:
> Seorang pria bernama Theo Ardian dinyatakan hilang selama dua tahun setelah kasus konflik pribadi yang melibatkan mantan tunangannya, A—.
Huruf berikutnya samar, tapi Ratna tidak butuh lebih banyak untuk tahu siapa yang dimaksud.
Ia menutup laptop perlahan, menarik napas panjang, lalu menatap keluar jendela. Di luar, langit tampak mendung, tapi tidak ada hujan.
“Jadi ini masa lalu yang kalian sembunyikan,” gumamnya. “Kalau Andre ingin tahu siapa Theo, aku akan tahu lebih dulu.”
Ratna bangkit, mengambil tasnya, lalu berjalan keluar dari kafe dengan langkah mantap. Di matanya kini ada sesuatu yang belum pernah muncul sebelumnya — bukan hanya cemburu, tapi tekad yang tajam dan dingin.
Hari itu, tanpa banyak kata, Ratna memutuskan satu hal:
Jika cinta adalah medan perang, maka ia tidak akan lagi jadi korban diam-diam di tepi.
Ratna seakan bertekad untuk tetap kuat dan memperjuangkqn apa yang selama ini diraih.
Meski harus mengorbankan perasaannya Ratna tetap berusaha nenpertahankan rumah tangganya