JEJAK YANG TAK TERHAPUS

1271 Kata
Andre duduk di kursi pojok Dapur Cinta, tempat yang dulu sering jadi sudut tenangnya ketika dunia terasa terlalu bising. Tapi pagi itu, bahkan aroma kopi dan suara spatula yang beradu dengan wajan pun tak bisa menenangkan pikirannya. Ia memperhatikan Alya dari kejauhan — cara perempuan itu menunduk terlalu lama pada irisan bawang, caranya tersenyum tanpa benar-benar melihat siapa pun. Ada sesuatu yang berbeda. Sudah beberapa minggu ini Alya seperti hidup di dua dunia. Di depan semua orang, ia masih Alya yang ramah, cekatan, penuh senyum. Tapi di mata Andre, ada sesuatu yang tak bisa disembunyikan: kegelisahan kecil di balik tatapan matanya. Setiap kali ponselnya bergetar, Alya seakan menahan napas sesaat sebelum menjawab. Setiap kali seseorang menyebut nama “Theo”, tubuhnya seolah menegang tanpa sadar. Andre mencoba tak berpikir jauh. Ia tahu betapa rumitnya masa lalu seseorang. Tapi semakin ia menahan diri, semakin rasa penasaran itu menggigit. Hingga akhirnya, malam itu, di tengah kesunyian restoran yang sudah tutup, Andre memutuskan satu hal: ia harus tahu siapa sebenarnya Theo. --- Ia mulai dengan cara sederhana. Mencari nama itu di media sosial, menelusuri jejak lama di dunia digital. Tak butuh lama, nama Theo Rahman muncul — dengan wajah yang tak asing. Lelaki itu tampak berkarisma; senyumnya penuh percaya diri. Foto-foto lama bersama Alya bermunculan di layar, sebagian dari mereka di tempat-tempat yang kini terasa seperti bayangan masa lalu: kafe pinggir pantai, taman kota, bahkan dapur kecil yang mirip dengan milik Alya sekarang. Andre menatap layar itu lama, hingga dadanya terasa sesak. Ia menutup laptopnya pelan, tapi gambar itu tetap menempel di kepala. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasa cemburu — bukan karena cinta yang tumbuh sepihak, tapi karena bayangan seseorang dari masa lalu Alya tampak lebih hidup daripada dirinya sendiri. --- Hari-hari berikutnya Andre jadi lebih banyak diam. Ia masih datang ke Dapur Cinta seperti biasa, masih membantu Alya dengan senyum yang sama, tapi matanya terus mengamati. Suatu sore, ketika hujan baru saja reda dan udara masih lembap, Andre memperhatikan Alya tergesa keluar restoran. Ia mengenakan jaket tipis, wajahnya gugup, ponselnya terus dipegang erat. Tanpa berpikir panjang, Andre mengikuti dari kejauhan. Langkah Alya membawanya ke jalan kecil di pinggir kompleks perumahan. Di sana, di depan rumah sederhana bercat abu muda, berdirilah seseorang yang membuat darah Andre berhenti mengalir sejenak — Theo. Lelaki itu bersandar santai di pagar rumah, seolah sudah menunggu. Alya berhenti beberapa meter di depannya, mereka berbicara pelan, nyaris berbisik. Andre tak bisa mendengar apa pun dari jarak itu, tapi ia melihat cara Theo menatap Alya — terlalu akrab, terlalu yakin, dan terlalu berani. Setelah beberapa menit, Alya menepis tangan Theo yang berusaha menyentuhnya. Wajahnya tegang, bibirnya bergetar, lalu ia berbalik cepat dan masuk ke rumah tanpa menoleh lagi. Theo tetap berdiri di sana, tersenyum samar seperti seseorang yang baru memulai permainan yang panjang. Andre bersembunyi di balik mobil yang terparkir. Dadanya sesak, bukan karena cemburu semata — tapi karena ia tahu sesuatu yang lebih berbahaya sedang terjadi. Tatapan Theo tadi bukan tatapan orang yang menyesal atau ingin memperbaiki masa lalu. Itu tatapan seseorang yang ingin merebut kembali apa yang dulu hilang. --- Malamnya, Andre duduk di balkon rumah kontrakannya, menatap langit gelap yang tanpa bintang. Pikiran tentang Alya dan Theo berputar tanpa henti di kepalanya. Ia tahu ia tak berhak ikut campur terlalu jauh, tapi hati kecilnya menolak diam. Alya bukan sekadar teman kerja baginya. Ia adalah alasan Dapur Cinta terasa hidup, alasan ia betah di sana, alasan setiap pagi tak lagi terasa kosong. “Kenapa kau harus kembali, Theo?” gumamnya pelan. Di dalam d**a Andre, sebuah ketakutan tumbuh — bukan hanya karena Theo bisa melukai Alya, tapi karena ia takut Alya masih menyimpan sisa cinta untuk lelaki itu. Rasa takut yang aneh, getir, tapi nyata. --- Keesokan harinya, Andre datang lebih pagi dari biasanya. Alya tampak berusaha bersikap biasa, tapi suaranya serak, dan matanya bengkak. Andre ingin bertanya, tapi menahan diri. Ia hanya mengulurkan secangkir teh hangat. “Tidurmu kurang, ya?” tanyanya perlahan. Alya tersenyum kaku. “Iya, cuma mimpi jelek.” Mimpi jelek. Kata itu menempel di kepala Andre sepanjang hari. --- Sore harinya, Andre memutuskan kembali ke rumah Alya. Bukan untuk mengintip, tapi sekadar memastikan semuanya baik-baik saja. Tapi ketika ia sampai di ujung jalan kecil itu, bayangan yang paling ia khawatirkan kembali muncul. Theo berdiri di depan pagar rumah Alya, mengetuk pelan sambil memanggil namanya. Andre menggenggam setir mobilnya erat. Tangannya bergetar. Hatinya terbakar. Tapi kali ini, Alya tidak membuka pintu. Dari balik tirai, Andre sempat melihat siluet perempuan itu berdiri tegak, menatap ke luar dengan mata yang tegas. Lalu suara Theo meninggi — tak jelas, tapi terdengar seperti seseorang yang tak rela ditinggalkan. Andre hampir turun dari mobil. Tapi ia menahan diri. Ia tahu, bila ia campur tangan sekarang, semuanya akan hancur. Alya harus menghadapi masa lalunya sendiri. Namun dalam hati, Andre bersumpah: jika Theo melangkah satu langkah saja terlalu jauh, ia tidak akan diam lagi. --- Malam itu, Andre kembali ke Dapur Cinta seorang diri. Restoran sudah gelap, hanya lampu di dapur yang menyala lembut. Ia berjalan ke meja kerja Alya, menyentuh sendok kayu yang masih ada bekas adonan di ujungnya. Entah mengapa, benda kecil itu terasa seperti pengingat: tentang perempuan yang kuat tapi rapuh, yang sedang berjuang antara masa lalu dan masa depan. Andre menutup matanya. Dalam kesunyian itu, ia tahu satu hal pasti: perasaannya pada Alya bukan lagi sekadar simpati. Itu cinta — cinta yang tumbuh di antara keheningan, di tengah aroma masakan dan luka yang belum sembuh. Dan mungkin, cinta itulah yang akan menuntunnya menemukan kebenaran tentang siapa Theo sebenarnya. Andre duduk di ruang tamunya malam itu, lampu sengaja dibiarkan redup. Di depannya laptop terbuka, menampilkan halaman media sosial lama yang baru saja ia temukan—nama “Theo Ardian”, foto-foto lama yang buram, dan beberapa komentar dari akun tak dikenal. Ada satu yang menarik perhatiannya: sebuah unggahan tiga tahun lalu, menandai lokasi di Bandung, dengan keterangan singkat “Alya, aku akan kembali.” Dada Andre terasa mengeras. Jari-jarinya mengetik cepat, menelusuri akun lain, membaca setiap komentar, setiap tanda, seolah mencari sesuatu yang bisa menjelaskan alasan Theo muncul kembali sekarang. Tapi yang ia temukan justru kabut baru: sebuah benang merah yang membuatnya makin curiga. Ia membuka ponsel, menghubungi seorang teman lama yang bekerja di perusahaan logistik tempat Theo pernah bekerja dulu. “Bro, lo masih inget cowok namanya Theo Ardian? Dulu di Bandung?” Hening sebentar di ujung sana. “Inget. Tapi lo hati-hati, Dre. Dia itu… bukan orang yang gampang ditebak. Ada masalah berat waktu dia keluar dulu. Katanya karena kasus pribadi. Lo kenapa nanya?” Andre menatap layar laptop yang kini menampilkan foto Alya tersenyum di dapur — foto yang diambilnya diam-diam beberapa minggu lalu. “Nggak apa-apa,” katanya singkat, lalu menutup telepon. Tapi pikirannya tak tenang. Kata “kasus pribadi” bergema di kepalanya. Ia tahu seharusnya tak ikut campur dalam masa lalu Alya, tapi sesuatu di dalam dirinya menolak diam. Rasa peduli yang dulu sederhana kini berubah jadi kegelisahan yang menekan. Jam menunjukkan hampir tengah malam. Di luar, angin menggoyang dedaunan, menimbulkan suara seperti bisikan. Andre memejamkan mata sejenak, lalu mengambil jaketnya. Ia tahu alamat lama tempat Theo pernah tinggal, hasil dari pencariannya barusan. Dan entah kenapa, malam itu juga ia ingin melihatnya sendiri. Ketika mobilnya melaju pelan menembus jalan yang sepi, wajah Alya terus terbayang. Wajah itu — lembut tapi kini penuh rahasia — membuat hatinya terasa berat. “Siapa sebenarnya dia buatmu, Alya…” bisiknya lirih, hampir tak terdengar. Malam itu, untuk pertama kalinya, Andre merasa dirinya melangkah ke wilayah yang berbahaya — bukan karena Theo, tapi karena hatinya sendiri yang mulai kehilangan arah antara kepedulian dan cinta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN