RETAKAN YANG MULAI TERLIHAT

1109 Kata
Andre mulai memperhatikan sesuatu yang tak ia mengerti. Alya—perempuan yang biasanya ceria di dapur, yang selalu tenang saat mengatur pesanan—kini sering tampak gelisah. Ia tersenyum, tapi matanya lelah. Gerakannya cepat, tapi seperti dikejar sesuatu yang tak terlihat. Suatu sore di Dapur Cinta, saat para pegawai sudah pulang, Andre menemukan Alya duduk sendiri di ruang bumbu, menatap ponsel dengan wajah tegang. Ia buru-buru mematikan layar begitu Andre datang. “Lagi nulis laporan?” tanya Andre santai. Alya tersentak sedikit, lalu memaksakan senyum. “Iya, Mas. Laporan bahan habis.” Andre menatapnya sesaat. “Kamu kelihatan capek. Kalau ada apa-apa, jangan dipendam sendiri.” Alya menggeleng cepat. “Nggak apa-apa kok. Cuma kurang tidur.” Jawaban sederhana itu seharusnya cukup. Tapi tidak bagi Andre. Ada nada gugup di suaranya—sesuatu yang disembunyikan. Andre tidak menekan lebih jauh. Ia tahu, kadang seseorang baru bicara kalau diberi ruang. Tapi sejak hari itu, pikirannya terus mengusik: ada apa dengan Alya? --- Beberapa hari kemudian, saat pagi di dapur berjalan seperti biasa, Alya terlihat sedikit lebih tenang. Tapi Andre tahu ketenangan itu seperti lapisan tipis di atas air yang bergejolak. Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil—cara Alya sering menatap jendela, atau memeriksa ponsel lalu menunduk dalam diam. Sampai akhirnya, sore itu, saat Andre keluar dari dapur menuju parkiran, ia melihat sesuatu yang membuat langkahnya terhenti. Seorang pria berdiri di seberang jalan, menatap ke arah Dapur Cinta. Tubuh tegap, berjaket hitam, dengan ekspresi sulit dibaca. Saat Andre menatapnya lebih lama, pria itu berbalik dan pergi. Ada sesuatu di tatapan itu—bukan pelanggan biasa. Dan entah kenapa, firasat Andre langsung tertuju pada Alya. --- Sementara itu, di rumahnya sendiri, Alya sedang berperang dengan hatinya. Theo datang lagi sore itu, tapi kali ini Alya tak membiarkan ia masuk. “Cukup, Theo. Aku sudah bilang jangan ke sini lagi,” ucapnya tegas dari balik pintu. Theo tertawa kecil di luar. “Aku cuma mau ngobrol, Alya. Nggak lebih.” “Obrolan kita sudah selesai waktu kamu pergi dulu tanpa pamit,” jawab Alya, suaranya bergetar tapi kuat. Hening sejenak. Lalu suara Theo terdengar lebih lembut, lebih berbahaya. “Aku pergi karena keadaan. Tapi aku balik karena masih ada yang belum selesai di antara kita.” Alya menutup matanya, menarik napas panjang. “Yang belum selesai itu cuma di kepalamu, Theo. Aku sudah selesai sejak lama.” Tapi Theo tidak bergeming. “Yakin?” Nada suaranya berubah dingin. “Karena dari caramu bicara, sepertinya kamu masih menyimpanku di hatimu.” Alya menggigit bibir. “Keluar dari sini, Theo. Sekarang juga. Kalau kamu masih maksa datang, aku lapor polisi.” Keheningan menggantung. Lalu langkah berat menjauh dari depan pintu. Untuk pertama kalinya, Alya menangis bukan karena takut, tapi karena lega. Ia gemetar—namun kali ini karena keberanian yang baru lahir. --- Keesokan harinya di dapur, Andre memperhatikan bahwa Alya tampak sedikit berbeda. Wajahnya masih lelah, tapi tatapannya lebih tegas. Seperti seseorang yang baru saja memenangkan perang kecil dalam dirinya. “Kayaknya kamu mulai pulih,” kata Andre sambil menuang teh. Alya tersenyum samar. “Sedikit, Mas. Aku cuma… sadar kalau terlalu lama menanggung hal yang harusnya aku lepaskan.” Andre menatapnya heran, tapi tidak menanyakan lebih. Ia tahu setiap orang punya masa lalu, dan kadang, membicarakannya justru membuka luka baru. Namun di dalam hati, Andre tak bisa menyingkirkan rasa cemas itu. Ia merasa seperti sedang menyaksikan seseorang yang sedang menutup pintu dari badai, tapi belum sadar kalau jendelanya masih terbuka. --- Beberapa malam kemudian, setelah Dapur Cinta tutup, Andre memutuskan mampir ke rumah Alya untuk mengantarkan bahan yang tertinggal di mobil. Jalanan sepi. Lampu-lampu gang berkelip. Saat ia berhenti di depan rumah itu, pandangannya langsung menangkap sesuatu. Di depan pagar, berdiri pria yang sama—berjaket hitam. Theo. Pria itu menatap ke arah rumah Alya, wajahnya tegang. Tapi begitu melihat Andre turun dari mobil, matanya berubah tajam. Mereka saling menatap dalam diam. “Permisi,” kata Andre akhirnya, suaranya tenang tapi waspada. “Bisa saya bantu?” Theo tersenyum kecil. “Nggak perlu. Saya cuma lewat.” “Lewat sambil berhenti di depan rumah orang?” sahut Andre datar. Tatapan mereka beradu lama, sebelum Theo memalingkan wajah. “Kamu Andre, kan? Aku dengar nama itu disebut Alya waktu kami dulu dekat.” Nada bicaranya ringan, tapi tajam seperti pisau yang disembunyikan dalam senyum. Andre tidak bereaksi. Tapi hatinya mencatat setiap kata. Dulu dekat. Kata itu menggantung di udara, memecah ketenangan malam. Theo berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Andre menatap punggungnya sampai menghilang di tikungan, lalu baru mengetuk pintu rumah Alya. Alya keluar dengan wajah terkejut. “Mas Andre? Tumben ke sini.” Andre menyerahkan tas kecil berisi bahan. “Ini ketinggalan di mobil. Aku sekalian lewat.” Alya menerima dengan senyum gugup. “Terima kasih, Mas.” Namun Andre tetap berdiri di depan pintu, menatapnya dalam. “Alya… aku tadi lihat seseorang di depan rumahmu. Pria berjaket hitam. Kamu kenal?” Wajah Alya langsung pucat. Tangannya gemetar memegang tas. Ia tak menjawab, tapi matanya cukup menjelaskan semuanya. Andre menatap lebih lama. “Dia ganggu kamu?” Alya menunduk, suara kecilnya bergetar. “Dia… seseorang dari masa lalu. Tapi aku sudah menegaskan padanya untuk berhenti datang.” Andre menarik napas panjang. “Kalau dia datang lagi, kabarin aku. Jangan dihadapi sendirian.” Alya mengangguk pelan. “Iya, Mas. Aku janji.” Sebelum pergi, Andre menatap wajah Alya sekali lagi. Ada sesuatu yang berubah di sana—perpaduan antara ketakutan dan keberanian. Dan entah kenapa, itu membuat d**a Andre terasa berat. --- Setelah Andre pergi, Alya duduk lama di ruang tamu. Matanya menatap pintu yang baru saja ditutup. Ia tahu Andre kini mulai tahu sedikit, tapi belum semuanya. Dan ia pun sadar, Theo takkan berhenti begitu saja. Malam itu, Alya menulis satu pesan di ponselnya—pesan yang ia kirim tanpa ragu: > Theo, berhenti datang. Ini peringatan terakhir. Tak ada balasan. Tapi entah kenapa, ia tahu pesan itu sudah diterima. Ia berjalan ke jendela, membuka sedikit tirai. Jalanan kosong. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, rumahnya terasa tenang. Namun di luar sana, dalam bayangan pohon di ujung jalan, sepasang mata menatap dari jauh. Tenang. Menunggu. --- Di tempat lain, Andre duduk di dapur Dapur Cinta yang sudah sepi. Ia menatap meja kayu tempat Alya biasa menulis resep. Di atasnya, ada catatan kecil tertinggal: “Rasa itu seperti api—kalau dibiarkan, membakar; kalau dijaga, menghangatkan.” Andre tersenyum tipis, tapi pikirannya berputar. Ia tahu Alya sedang berjuang, tapi dari siapa — dan untuk apa — ia belum tahu pasti. Namun satu hal ia yakini: ada seseorang di luar sana yang sedang mengusik ketenangan Dapur Cinta. Dan Andre bertekad, kali ini ia tidak akan diam saja
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN