AROMA YANG MENYIMPAN RAHASIA

1046 Kata
Pagi di Karawang terasa hangat, meski udara masih lembab sisa hujan semalam. Di Dapur Cinta, cahaya matahari menembus jendela dapur, menyinari meja kayu yang penuh bahan-bahan segar: tomat merah yang menggoda, daun kemangi hijau yang baru dipetik, paprika kuning yang berkilau, dan beberapa bumbu aromatik yang dibeli Andre semalam. Alya sudah berada di dapur, mempersiapkan bahan untuk menu hari itu. Wajahnya terlihat tenang, tapi ada ketegangan halus di matanya. Ia tahu posisi mereka rumit; ia ingin membantu Andre, tapi ia juga tak ingin mengganggu rumah tangga Andre dan Ratna. Andre masuk membawa beberapa kantong belanja, matanya sesekali melirik Ratna yang duduk di pojok, menyesap teh hangat sambil memperhatikan mereka. “Selamat pagi,” sapanya pelan. Ratna mengangguk singkat, matanya masih menatap Andre dengan campuran cemburu dan penasaran. “Pagi,” jawab Ratna, berusaha terdengar biasa. Hatinya sedikit berdebar melihat interaksi Andre dengan Alya pagi itu. Alya tersenyum kecil pada Andre. “Kau mau bantu?” tanyanya sambil menyerahkan pisau kecil untuk memotong sayuran. Andre mengangguk, mencoba fokus pada bawang dan paprika yang harus dipotong, tapi pikirannya terus melayang ke Ratna. Ia tahu hatinya rumit, antara perasaan pada Alya dan tanggung jawabnya pada Ratna. Ratna berdiri perlahan dan berjalan mendekat ke meja, duduk di samping Alya. “Alya, semoga kita bisa kerja sama hari ini,” ucapnya tenang, tapi nada suaranya menegaskan kedekatannya dengan Andre. Alya mengangguk, menyadari ketegangan itu, tapi tetap profesional. Mereka mulai menyiapkan bahan untuk menu baru: pasta seafood ala Dapur Cinta. Andre memotong udang, Alya menyiapkan saus rahasia, dan Ratna mengiris sayuran. Kadang mereka diam, sesekali Andre dan Alya bertukar pandang, sementara Ratna memperhatikan setiap gerakan mereka. Suasana dapur dipenuhi aroma masakan, namun ada ketegangan halus yang tak bisa diabaikan. Andre merasakan hati Ratna sedikit menjauh, sementara Alya menahan perasaan yang tak bisa ia ungkapkan. “Andre, jangan terlalu menunduk saat mengiris. Nanti bisa salah potong,” kata Ratna sambil tersenyum tipis. “Ah, iya, Rat. Terima kasih,” jawab Andre, menatap istrinya sebentar sebelum kembali fokus pada tugasnya. Alya memperhatikan interaksi mereka dan menelan rasa cemburu yang mulai muncul. Ia ingin berkata sesuatu, tapi memilih diam, membiarkan suasana tetap profesional. Beberapa menit kemudian, mereka berhenti sejenak untuk mencicipi saus yang sedang dimasak Alya. Andre mengambil sendok, mencicipi, lalu menatap Alya. “Rasanya… luar biasa. Kau memang jenius, Alya.” Ratna menatap mereka, hatinya bergetar. Ia menahan komentar, hanya tersenyum tipis. “Ya, Alya memang berbakat,” katanya, suaranya tenang tapi penuh arti. Alya menunduk sedikit, merasakan beratnya situasi. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi memilih diam. Ia tahu bahwa terlalu banyak kata bisa memperkeruh suasana. Mereka kembali memasak. Udara dapur hangat, aroma pasta dan rempah memenuhi ruangan. Andre mencoba fokus, tapi pikirannya tetap bercampur. Ia sadar Ratna masih merasakan sakit hati dari malam sebelumnya, sementara Alya diam-diam membuat hatinya bergejolak. “Tadi malam… kau sudah bicara dengan Ratna, kan?” Alya bertanya pelan saat mereka menyiapkan saus. Andre menatap Alya sebentar, lalu mengangguk. “Iya… tapi aku masih harus membuktikan dengan tindakan, bukan kata-kata saja.” Alya tersenyum samar, memahami maksudnya. “Aku tahu. Aku juga harus sabar.” Ratna berdiri, mengambil beberapa piring dan menata meja makan. “Makan siang sudah siap dalam beberapa menit. Semoga ini bisa jadi momen yang menenangkan,” ucapnya, mencoba menenangkan hati sendiri. Saat mereka duduk, Andre mengambil tangan Ratna sebentar. “Rat… aku minta maaf kalau aku bikin hatimu sakit. Aku akan berusaha lebih baik,” katanya lirih. Ratna menatapnya, hatinya bergetar. “Aku tahu, Mas. Tapi jangan lupa… aku juga perlu merasa aman. Jangan biarkan hatimu terseret ke arah yang salah.” Andre menunduk, menelan rasa bersalah. Di sisi lain, Alya memandang mereka, merasakan jarak emosional yang sulit ditembus. Ia ingin dekat dengan Andre, tapi ia juga tak ingin menjadi penyebab retaknya rumah tangga mereka. Suasana makan siang berlangsung hangat tapi penuh ketegangan. Sesekali Andre dan Alya saling bertukar pandang, lalu cepat-cepat menoleh saat Ratna menatap. Ketegangan itu membuat suasana dapur terasa hangat tapi juga getir. Setelah makan, Andre membantu membereskan dapur. Tangannya bersentuhan dengan Alya beberapa kali, membuat detak jantungnya bergejolak. Ratna memperhatikan itu, tapi tak berkata apa-apa—hanya menatap mereka dengan campuran cemburu dan pengertian. “Andre… Alya… aku harap kita bisa jujur satu sama lain,” ucap Ratna akhirnya, memecah keheningan. “Aku tahu hati kita rumit sekarang, tapi aku percaya kita bisa menjaga cinta ini tetap utuh.” Andre mengangguk. “Aku janji, Rat. Aku akan selalu memilihmu, tapi aku juga harus menghadapi perasaan sendiri dengan benar.” Alya tersenyum tipis, menunduk, menyadari posisinya. “Aku akan sabar… dan menghargai kalian berdua,” katanya pelan. Suasana di Dapur Cinta tetap hangat, meski ada ketegangan terselip di antara aroma masakan. Mereka tahu jalan menuju kebahagiaan tidak mudah, tapi setidaknya mereka berada di jalur yang sama: saling menjaga, saling memahami, dan belajar untuk tetap cinta meski hati mereka teruji. Siang itu, aroma pasta yang harum, cahaya matahari yang menembus jendela, dan suara percikan wajan di kompor seakan menyatukan hati mereka. Andre menatap Ratna dan Alya, bertekad menjaga keduanya — dan dirinya sendiri — tetap berada di jalur yang benar. Setelah membereskan dapur, mereka duduk di meja, menikmati teh sore. Ratna menatap Andre, mencoba menyingkirkan rasa cemburu yang masih ada. “Kita bisa mulai hari ini dengan lebih jujur,” katanya lembut. Andre menggenggam tangannya, menatap mata istrinya. “Aku tahu, Rat. Aku akan lakukan yang terbaik. Dan Alya… kau juga tetap teman yang penting. Tapi aku berjanji hatiku untuk Ratna.” Alya menunduk, tersenyum samar. Ia mengangguk, merasa lega karena setidaknya mereka bisa menjaga harmoni untuk sementara. Hari itu di Dapur Cinta terasa berbeda: ada aroma masakan yang lezat, ada ketegangan yang lembut, tapi ada juga harapan. Mereka tahu, perjalanan mereka masih panjang, dan tak mudah menghadapi hati yang bersinggungan. Tapi satu hal pasti: mereka berada bersama, mencoba menjaga cinta tetap hangat meski diuji. Ketika sore mulai mereda, cahaya matahari berpindah ke sisi lain dapur. Andre menatap Ratna dan Alya, dan tersenyum pelan. Ia sadar, cinta tak selalu mudah, tapi jika dijaga dengan hati, ia bisa tetap bertahan. Di Dapur Cinta, rasa itu perlahan tumbuh: hangat, kompleks, penuh emosi, dan penuh harapan. Seperti resep yang tak bisa ditulis, hanya bisa dirasakan dengan hati. Dan hari itu, ketiganya belajar bahwa cinta, rasa bersalah, dan pengertian bisa menyatu—meski tak sempurna, tapi indah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN