Pagi itu Karawang mulai sibuk lebih awal. Langit masih menyisakan kabut tipis, tapi di “Dapur Cinta”, aroma kopi dan roti panggang sudah mengisi udara. Andre berdiri di depan konter, merapikan apron hitamnya sambil menunggu pelanggan pertama. Ratna sibuk di dapur belakang, sedangkan Alya menata beberapa piring kecil untuk menu sarapan ringan.
Beberapa hari terakhir, suasana terasa lebih tenang — seolah badai kecil di antara mereka sudah mulai reda. Namun, di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang perlahan mendidih seperti air di panci: tenang di permukaan, tapi panas di bawahnya.
“Mas, meja tiga pesan dua kopi latte dan pancake buah,” kata Alya, suaranya lembut tapi sedikit tergesa.
Andre mengangguk, menyeduh kopi dengan gerakan hafal. “Baik, nanti aku bantu antar.”
Alya mengangguk cepat, lalu kembali ke meja bar. Ia berusaha menjaga jarak, tidak terlalu dekat dengan Andre, tidak terlalu jauh. Setiap gerakannya penuh perhitungan — antara menjaga profesionalitas dan menekan perasaan yang masih menggantung.
Ratna keluar dari dapur membawa sepiring omelet dan roti isi. “Mas, bisa bantu bawa ini juga,” katanya datar. Tatapannya sempat melintas ke arah Alya — bukan tajam, tapi waspada.
Andre mengambil nampan itu. “Iya, Rat. Aku antar sekalian.”
Ratna hanya mengangguk, lalu kembali ke dapur. Tapi di dalam dadanya, ia tahu ia belum benar-benar tenang. Ia berusaha mempercayai Andre, namun bayangan malam ketika ia memeluk suaminya sambil menahan tangis masih sering datang di benaknya.
---
Sekitar pukul sebelas siang, seorang pria berjas rapi datang bersama dua rekan wanitanya. Mereka tampak membawa kamera kecil dan buku catatan. Alya yang menyambut mereka.
> “Selamat datang di Dapur Cinta! Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya ramah.
Salah satu wanita tersenyum. “Kami dari Majalah Kuliner Nusantara. Kami tertarik meliput restoran ini. Katanya, Dapur Cinta punya konsep unik — bukan cuma soal rasa makanan, tapi juga cerita di baliknya.”
Alya tertegun sejenak. “Wah… terima kasih, tentu kami senang sekali.”
Andre yang baru keluar dari dapur langsung mendekat. “Selamat datang. Saya Andre, pemilik sekaligus koki di sini.”
Reporter pria itu menjabat tangannya. “Kami ingin menulis edisi spesial tentang restoran lokal yang lahir dari cinta dan perjuangan. Nama ‘Dapur Cinta’ itu menarik sekali. Boleh kami wawancarai Anda sebentar?”
Andre menatap Ratna yang baru keluar dari dapur. Ratna tersenyum sopan. “Silakan. Tapi mungkin sebaiknya Alya juga ikut. Dia salah satu orang penting di sini.”
Reporter itu menoleh ke Alya. “Oh, benar? Wah, berarti Anda koki juga?”
Alya tersenyum kecil. “Bisa dibilang begitu, saya bantu di bagian resep dan penyajian.”
Sesi wawancara berlangsung di meja sudut. Mereka membahas awal berdirinya Dapur Cinta, filosofi menu, hingga tantangan menjalankan bisnis keluarga. Andre bicara dengan antusias, Ratna menimpali sesekali, sementara Alya menjelaskan detail rasa dan bahan.
Semua berjalan lancar — sampai salah satu reporter wanita bertanya ringan, tapi tajam:
> “Jadi… inspirasi nama Dapur Cinta itu berasal dari kisah cinta Anda dan Ibu Ratna?”
Andre tersenyum gugup. “Ya, betul. Kami ingin restoran ini jadi tempat yang mengingatkan bahwa cinta bisa tumbuh lewat hal-hal sederhana… seperti memasak bersama.”
Reporter mencatat cepat, lalu memandang Alya. “Kalau begitu, peran Ibu Alya di sini apa? Apakah juga bagian dari kisah cinta itu?”
Ruangan mendadak hening. Ratna menegakkan punggungnya, sementara Andre menelan ludah pelan. Alya tersenyum sopan, tapi pipinya memerah.
> “Oh tidak, saya hanya membantu di dapur. Kami semua di sini seperti keluarga,” jawabnya hati-hati.
Namun reporter itu tersenyum penuh arti. “Keluarga ya… menarik sekali. Kombinasi rasa dan emosi yang kuat.”
Setelah wawancara selesai, mereka pamit. Tapi suasana di antara tiga orang itu jadi aneh.
Ratna sibuk membersihkan meja dengan gerakan terlalu cepat. Andre hendak bicara, tapi Ratna lebih dulu menatapnya.
> “Mas… mereka bakal tulis apa pun yang mereka mau. Kita nggak bisa kendalikan.”
“Aku tahu,” jawab Andre lirih. “Tapi aku akan pastikan semuanya jelas.”
Ratna tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menatap noda kecil di meja yang terus ia lap meski sudah bersih.
---
Malamnya, restoran sudah tutup. Dapur hening. Hanya lampu kecil di atas wastafel yang menyala. Alya masih di sana, membereskan alat masak. Andre masuk, menatapnya dari pintu.
> “Kamu belum pulang?”
“Sebentar lagi. Aku cuma mau pastikan semuanya rapi,” jawab Alya pelan.
Andre mendekat, berhenti di samping meja. “Tentang siang tadi… maaf. Aku nggak nyangka mereka bakal nanya seperti itu.”
Alya tersenyum samar. “Aku nggak apa-apa, Mas. Cuma… kadang aku lupa, dunia luar nggak tahu cerita kita. Dan mungkin lebih baik begitu.”
Andre menatapnya dalam. “Kamu merasa nggak nyaman?”
Alya menatap meja. “Aku pikir… sudah saatnya aku mundur. Dapur ini milikmu dan Ratna. Aku cuma bagian kecil yang kebetulan lewat.”
Kata-kata itu menghantam Andre seperti batu. “Jangan bilang gitu. Tanpa kamu, Dapur Cinta nggak akan jadi seperti sekarang.”
Alya menghela napas. “Justru karena itu aku harus pergi. Supaya semuanya tetap utuh. Aku sudah cukup lama di sini, Mas. Mungkin Tuhan memang cuma ingin aku bantu sampai titik ini.”
Andre menatapnya, matanya basah tapi suaranya tenang. “Alya, kamu bukan sekadar bagian. Kamu salah satu alasan restoran ini hidup.”
Alya menatap balik, lalu tersenyum getir. “Tapi setiap rasa punya waktunya, Mas. Mungkin rasa yang ini sudah lewat.”
Mereka terdiam lama. Di luar, hujan turun lagi — lembut, seperti bisikan kenangan. Andre ingin menahan Alya, tapi langkahnya berat. Ia tahu, jika ia menahan, luka itu akan terbuka lagi.
Ratna muncul di pintu, membawa payung. “Alya, sudah malam. Aku antar pulang.”
Alya menoleh pelan, sedikit terkejut. “Oh, nggak usah, Mbak Ratna. Aku bisa sendiri.”
Ratna tersenyum lembut. “Nggak apa. Aku ingin bicara sebentar.”
Andre hanya bisa menatap keduanya. Ada sesuatu di mata Ratna malam itu — bukan cemburu, tapi ketegasan yang tenang.
---
Dalam perjalanan pulang, mobil Ratna berjalan pelan menembus jalan Karawang yang basah. Suara wiper menghapus sisa hujan di kaca depan. Mereka berdua diam cukup lama, sampai Ratna akhirnya berbicara.
> “Alya, aku tahu kamu orang baik. Aku juga tahu kamu tulus bantu kami. Tapi aku juga tahu… kadang cinta muncul bukan untuk dimiliki, tapi untuk mengingatkan.”
Alya menatap ke luar jendela, air matanya mengalir pelan. “Aku tahu, Mbak. Aku juga nggak mau jadi alasan rumah kalian retak.”
Ratna menoleh sekilas, lalu tersenyum tipis. “Kamu bukan alasan, Alya. Kami yang masih belajar menjaga apa yang kami punya. Tapi kamu sudah bantu kami — lebih dari yang kamu kira.”
Alya menunduk. “Aku akan pergi, Mbak. Bukan karena kalah, tapi karena aku mau menghormati cinta kalian.”
Ratna menatapnya lama, lalu mengangguk. “Kalau begitu, pergilah dengan tenang. Tapi ingat, Dapur Cinta akan selalu punya satu rasa yang namanya kamu.”
Mobil berhenti di depan rumah Alya. Mereka saling menatap sebentar, lalu Ratna memeluknya — hangat, tulus, seperti kakak kepada adik.
> “Terima kasih, Mbak Ratna,” bisik Alya. “Terima kasih juga, Alya.”
---
Keesokan harinya, artikel Majalah Kuliner Nusantara terbit. Judulnya:
“Dapur Cinta: Sebuah Kisah Rasa, Perjuangan, dan Kejujuran di Balik Piring.”
Foto di halaman utama menampilkan Andre dan Ratna berdiri berdampingan, dengan Alya di belakang, sedang menata piring pasta. Di bawahnya tertulis:
> “Chef Alya, sang pencipta rasa rahasia Dapur Cinta.”
Ratna menatap artikel itu lama. Ada rasa bangga, juga getir. Andre memeluknya dari belakang.
> “Kita nggak bisa sembunyikan kebenaran, Rat. Tapi kita bisa menjaganya tetap indah.”
Ratna menatap foto Alya di majalah itu. “Aku harap dia bahagia, di mana pun nanti.”
Andre mengangguk pelan. “Aku juga.”
Di luar, matahari Karawang mulai menembus jendela restoran. Meja-meja kembali terisi pelanggan, aroma kopi kembali memenuhi udara, dan “Dapur Cinta” kembali hidup — tapi kini dengan rasa yang baru: rasa kehilangan yang lembut, tapi penuh makna.
---
Hari itu, Andre, Ratna, dan Alya belajar satu hal penting:
Cinta sejati bukan soal siapa yang dimiliki, tapi siapa yang mampu menjaga rasa tetap hangat meski harus melepaskan.
Dan di Dapur Cinta, setiap aroma, setiap masakan, setiap senyum pelanggan — adalah saksi bahwa dari luka pun, cinta bisa terus tumbuh.