Pagi di Karawang kembali diselimuti kabut tipis. Dapur Cinta, yang biasanya ramai menjelang siang, hari itu sudah sibuk sejak matahari baru muncul. Suara panci berdenting, aroma tumisan bawang putih memenuhi udara, dan langkah-langkah cepat terdengar di setiap sudut dapur.
Andre berdiri di depan kompor, tangannya cekatan menumis udang dan cabai merah untuk pesanan besar dari sebuah acara perusahaan. Hari itu bukan hari biasa — mereka harus menyiapkan lebih dari lima puluh porsi untuk jamuan siang. Ratna sibuk di bagian plating, sementara Alya mengatur bahan dan memeriksa bumbu agar tak ada yang kurang.
“Ratna, pastikan sausnya jangan terlalu kental. Mereka minta rasa ringan,” kata Alya, berusaha menjaga nada suaranya tetap profesional.
Ratna hanya mengangguk. “Aku tahu,” jawabnya singkat, tanpa menatap Alya. Ia masih berusaha menyeimbangkan antara logika dan rasa di dadanya.
Andre memandangi mereka sekilas. Ia tahu, di balik keheningan dapur itu, ada sesuatu yang belum benar-benar pulih. Tapi hari ini bukan waktu untuk membahas hati — mereka harus bekerja.
Aroma udang panggang memenuhi ruangan, menggoda siapa pun yang melintas. Andre menambahkan sedikit lemon, lalu berkata, “Alya, kau siapkan garnish-nya ya. Ratna, plating mulai sepuluh menit lagi.”
“Siap,” jawab keduanya hampir bersamaan.
Mereka bekerja dalam diam, tapi ritme mereka seakan sudah padu. Sesekali tangan mereka bersentuhan, dan setiap kali itu terjadi, Alya menahan napas sejenak, sementara Ratna berpura-pura tak melihat. Namun di dalam hati, ada getar halus yang tak bisa diabaikan.
Ketegangan itu seperti bumbu rahasia dalam setiap masakan mereka — tak terlihat, tapi terasa dalam setiap gigitan rasa.
---
Beberapa jam kemudian, pesanan besar itu siap dikirim. Tim pengantar membawa kotak demi kotak keluar dari dapur. Ratna menyandarkan tubuhnya di meja, menghela napas panjang. “Akhirnya selesai juga,” katanya lirih.
Andre menatapnya, lalu tersenyum kecil. “Kerja bagus, Rat. Kamu cepat sekali adaptasi di dapur besar.”
Ratna membalas senyum itu. “Terima kasih, Mas. Tapi sepertinya aku harus belajar banyak dari Alya,” ucapnya, mencoba jujur meski nada suaranya masih sedikit kaku.
Alya yang sedang membersihkan meja menoleh pelan. “Ah, jangan begitu, Mbak. Aku juga masih belajar. Tanpa bantuan kalian berdua, pesanan tadi nggak bakal beres,” katanya lembut.
Suasana sedikit mencair. Tapi ada sesuatu di mata Ratna — bukan lagi kemarahan seperti dulu, melainkan kelelahan. Ia tahu hatinya masih belum benar-benar berdamai, tapi ia juga tak ingin terus larut dalam rasa curiga.
Saat itu, pintu dapur terbuka. Seorang pelanggan masuk — manajer dari perusahaan yang memesan makanan tadi. “Mbak Alya, rasanya luar biasa! Semua tamu bilang Dapur Cinta punya cita rasa yang beda. Ini kartu nama saya, kalau nanti mau kerja sama lagi.”
Alya tersenyum lega. “Wah, terima kasih banyak, Pak. Kami senang kalau para tamu puas.”
Setelah pelanggan itu pergi, Andre menepuk bahu Alya. “Kerja kerasmu terbayar. Aku bangga.”
Kalimat sederhana itu seharusnya terasa biasa. Tapi bagi Ratna, nada hangat Andre saat mengatakannya membuat dadanya terasa sesak. Ia mencoba menenangkan diri, meneguk air, lalu berkata pelan, “Aku juga bangga. Kita bertiga bisa kerja sama.”
Alya menatapnya — tatapan yang penuh rasa bersalah tapi juga lega. “Terima kasih, Mbak Ratna. Aku tahu ini nggak mudah buat kita semua.”
Ratna menarik napas dalam. “Tidak ada yang mudah, Alya. Tapi mungkin… memang begini caranya Tuhan ngajarin kita tentang rasa.”
Andre hanya diam. Ia tahu Ratna sedang berusaha keras untuk berdamai, dan itu membuatnya semakin menghormati istrinya.
---
Menjelang sore, hujan turun perlahan. Dapur Cinta mulai sepi, hanya tersisa suara gemericik air dan aroma sisa masakan di udara. Alya sedang mencatat bahan yang habis di buku inventori. Andre menghampirinya, membawa dua cangkir teh hangat.
“Ini buatmu,” katanya, menyodorkan satu.
Alya menerima dengan senyum kecil. “Terima kasih, Mas Andre.”
Mereka duduk di bangku kecil dekat jendela. Hujan di luar menetes lembut, membungkus suasana dengan kehangatan samar.
“Aku tahu, Alya,” kata Andre pelan. “Kita berdua sudah melewati banyak hal. Tapi aku ingin semuanya tetap berjalan dengan cara yang benar.”
Alya menunduk. “Aku tahu, Mas. Aku pun nggak mau jadi alasan siapa pun terluka.”
Andre menatap keluar jendela, menahan sesuatu di dadanya. “Tapi kadang, rasa itu datang tanpa bisa dikendalikan. Yang bisa kita lakukan cuma mengarahkannya agar nggak menyesatkan.”
Alya menggenggam cangkirnya erat-erat. “Mungkin memang begitu. Aku belajar dari kalian berdua, bahwa cinta itu bukan cuma tentang memiliki, tapi juga tentang menjaga jarak dengan hati-hati.”
Hening. Hanya suara hujan dan detak jam dinding yang terdengar.
Ratna muncul dari ruang belakang, membawa payung lipat. Ia berhenti sejenak melihat mereka berdua duduk di jendela, tapi kali ini tak ada rasa marah. Hanya pandangan tenang, meski matanya tetap dalam.
“Mas Andre,” katanya pelan. “Hujannya lumayan deras. Kalau mau pulang, sebaiknya sekarang, nanti jalanan susah dilalui.”
Andre menoleh, tersenyum kecil. “Iya, Rat. Aku ambil jaket dulu.”
Begitu Andre pergi, Alya berdiri, menatap Ratna. “Mbak Ratna… aku minta maaf kalau semua ini membuat Mbak terluka. Aku nggak bermaksud apa-apa, sungguh.”
Ratna menatapnya dalam-dalam. “Aku tahu, Alya. Aku sudah lelah marah. Tapi aku juga nggak bisa langsung percaya begitu saja. Mungkin waktu yang bisa bantu kita.”
Alya mengangguk pelan, matanya berkaca. “Aku ngerti. Aku akan sabar, Mbak. Aku cuma ingin kita bisa tetap kerja bareng, tanpa saling menyakiti.”
Ratna menatap wajah Alya yang tulus, lalu berkata, “Kau perempuan kuat, Alya. Aku paham kenapa Andre bisa nyaman bicara sama kamu. Tapi tolong, bantu aku menjaga dia, bukan merebutnya.”
Alya menahan air mata. “Aku janji, Mbak.”
Mereka saling diam sejenak, lalu Ratna berbalik membantu membereskan meja. Suasana dapur terasa aneh — bukan lagi penuh amarah, tapi juga belum sepenuhnya damai. Seperti dua rasa dalam satu hidangan yang belum menyatu sempurna.
---
Malam mulai turun, dan Dapur Cinta tampak remang-remang diterangi lampu gantung kuning. Andre keluar dari gudang membawa payung besar. Ia menghampiri dua perempuan yang kini berdiri di depan pintu.
“Ayo, aku antar sampai parkiran,” katanya.
Ratna tersenyum, Alya menunduk sopan. Mereka bertiga melangkah bersama di bawah satu payung besar — hujan turun pelan, menimbulkan aroma tanah yang lembut.
Saat mereka melewati jalan kecil menuju parkiran, tak ada yang bicara. Tapi langkah mereka seirama.
Bagi Andre, itu seperti pertanda kecil: bahwa meski banyak luka, mereka masih bisa berjalan beriringan.
Bagi Ratna, itu bentuk ujian kesabaran.
Dan bagi Alya, itu janji diam untuk menjaga batas, sekaligus menjaga persahabatan yang tumbuh di antara rasa yang sulit dijelaskan.
Sesampainya di parkiran, Andre memegang payung di atas kepala Ratna lebih lama dari Alya. Ia menatap istrinya dengan lembut. “Kau lelah, Rat?”
Ratna tersenyum samar. “Lelah, tapi lega. Hari ini… aku belajar sesuatu.”
“Apa itu?” tanya Andre.
“Bahwa kadang, cinta itu bukan soal siapa yang paling benar. Tapi siapa yang paling mau bertahan,” jawabnya.
Alya menatap mereka berdua, tersenyum kecil di balik rasa yang masih perih. “Kalian berdua hebat. Aku banyak belajar dari kalian.”
Andre menatap keduanya. “Kita semua belajar, Alya. Mungkin Dapur Cinta bukan cuma tempat masak — tapi tempat kita menguji hati.”
Mereka saling berpandangan sebentar. Hujan perlahan reda, menyisakan embun di ujung dedaunan.
Ratna menepuk bahu Alya. “Sampai besok, ya. Kita mulai hari baru lagi.”
Alya mengangguk. “Sampai besok, Mbak.”
Andre menatap keduanya — dua perempuan yang kini berdiri di bawah cahaya lampu jalan yang temaram. Dalam hati, ia tahu perjalanan mereka masih panjang. Tapi malam itu, setidaknya satu hal sudah berubah: rasa yang dulu penuh luka kini mulai berubah menjadi pengertian.
Dan di tengah aroma hujan, Dapur Cinta menyimpan satu rahasia baru — bahwa kadang, rasa paling jujur justru muncul ketika kita belajar menahan diri.