Do not chase people. Work hard and be you. The right people who belong in your life will come find you and stay. Do your thing.
- yourtango.com -
Nathan melempar jaketnya dan kunci motornya ke sembarang arah ketika ia masuk ke dalam kamarnya. Entahlah, ia benar-benar merasa marah sekarang! Dadanya terbakar dan terasa panas. Ben dan Mia membuat tatto pada tubuhnya? Nathan pusing memikirkan bagian tubuh mana tatto Mia berada.
Ia mengacak rambutnya tanpa arah untuk sekadar mengurangi kesalnya, tapi rasa marah itu tetap ada. Tetap membakarnya tanpa ampun tatkala ia membayangkan tangan Ben menyentuh Mianya, bahkan lemari kayunya menjadi sasaran pukulannya saat ia membayangkan kemungkinan Mia dan Ben sudah lebih jauh bersentuhan.
"b******k!!!".
.
.
Nathan menjemput teman-temannya untuk menghindari dirinya mendatangi Ben dan menghajarnya karena sudah membuat Mianya berubah dalam waktu sebulan saja! Baru juga hubungan mereka jalan satu bulan dan Mia sudah berani membuat tatto pada tubuhnya? Di mana?? Ia akan mencari tahu! Nathan memukul setir mobilnya dan membuat Rino dan Zack terkejut setengah mati karena kaget.
"k*****t!"
"t***t SASHA GEDE BANGET ANJIR!" suara Zack latah.
Rino dan Nathan malah tertawa terbahak sembari melemparkan apapun yang bisa dilempar ke arah Zack.
"Lo mau bikin kita mati kaget ya Bro?" tanya Rino serius.
"Diem aja..." sahutnya dingin.
Zack memunculkan kepalanya di tengah-tengah antara Nathan dan Rino, "Ini kalau tebakan gue, ada hubungannya ama si mata biru, pasti!" ujarnya sok tahu.
Rino mengangguk sambil melihat ke arah Nathan yang sok serius memperhatikan jalan. "Kali ini lo bener, kalo gue enggak sama lo pada, mungkin gue udah datengan si banci Bento itu dan bikin hidungnya jadi dua!" berangnya.
"Eh buset!" Zack melonjak ke belakang dengan ekspresi ngeri.
Mobil Nathan membelok di sebuah pusat perbelanjaan terkenal di Jakarta Selatan. Karena ini hari kerja, parkiran tidak sepenuh kalau di saat weekend. Mereka bertiga turun dan berjalan menuju ke lobi mall.
"Kita mau makan Bro?" tanya Rino melihat ke arah Nathan yang ekspresinya masih garang, ia kelihatannya mau makan orang saja.
"Lo mau makan apa?! Pilih aja, bebas!" sahut Nathan membuat kedua temannya membelalak dengan suka cita. Belum juga tercetus pilihan Rino dan Zack mau makan di mana, tiba-tiba Nathan bergumam dengan keras. Bukan ia memaki seseorang.
"k*****t!!" serunya sambil melihat ke arah seseorang di ujung sana.
Mata Rino dan Zack mengikuti ke mana arah mata Nathan. Dan mata mereka ikut membelalak melihat Ben yang sedang merangkul wanita dan sedang berjalan ke arahnya. d**a Rino dan Zack ikut was-was melihat Nathan, karena melihat wanita yang dirangkul Ben itu bukanlah Mia.
"Bro, bisa aja itu adiknya kan?" ujar Rino berusaha menengahi.
"Lo gitu enggak sama adik lo?" tanya Nathan setajam silet.
Rino menoleh dan menggeleng, "Heh? Enggak sih..."
"Ya udah..." sahut Nathan dan menghampiri Ben dan wanita itu yang berbelok ke arah berlawanan.
Zack mencoba mencegah, "Eh Bro, tunggu..." tapi percuma, langkah Nathan lebih cepat dari mereka berdua dan sekarang ia sudah dekat kepada Ben.
Nathan berada di belakang Ben dan wanita itu sekarang. Nathan menyentuh bahunya, dan si empunya bahu menoleh ke belakang dan menatapnya dengan mata membesar. Rangkulannya pada gadis itu dengan cepat ia lepaskan. Dan Nathan tanpa basa basi lagi menjotos wajah Ben sekali dan menyebabkan Ben langsung jatuh tersungkur. Gadis itu dan beberapa orang di sekitarnya memandangi Ben penuh iba.
"LO DENGER YA b*****t! LO DAN MIA PUTUS!! JANGAN BERANI LAGI DEKETIN MIA!!" ancam Nathan tegas dan keras. Rino dan Zack berusaha memegangi tangan Nathan untuk menahan diri sebelum keamanan mall datang dan membawa mereka.
Gadis itu menatap Nathan dan Ben bergantian, "Siapa Mia?" tanyanya.
"Lo siapanya?" Zack menyambar ikut bertanya.
"Gue pacarnya Ben" jawabnya.
Zack mengangguk, "Bagus deh! Urus tuh pacar lo, sebelum temen gue bikin hidung pacar lo jadi dua" ujarnya dan mereka bertiga beranjak pergi dari sana.
Tapi Nathan tiba-tiba memutar tubuhnya lagi dan menunjuk Ben, "LO DAN MIA PUTUS! INGET ITU!!" teriaknya keras seraya mengacungkan jari tengahnya pada Ben.
Giliran gadis tadi melotot pada Ben dan bertanya penuh selidik, "Siapa Mia!"
"Mampus!" gumam Rino keras sambil terbahak.
.
Zack memilih tempat makan yang biasa saja pada akhirnya, Burger King. Tempat favorit mereka bertiga.
"Rejeki lo emang enggak kemana, Bro! Lo pengin mukul Ben, dihadirkan di depan mata, lo pengin Mia balik lagi, lo langsung bisa dapetin juga..." ujar Rino sambil menyeruput minumannya.
"Kenapa tadi enggak lo videoin sih Nyet?" ujar Zack.
Mata Rino menatap Zack seolah ingin menelannya hidup-hidup, "Lo pikir tadi gue enggak panik ngeliat Nathan bikin KO Zack dalam sekali pukul? Gue takut anak orang mati gimana?!" Rino menggigit burgernya, "mana kepikiran gue bikin video?"
"Ck! Lebay lo...kalo video m***m aja lo sempet-sempetin!" tukas Zack.
Rino melemparkan es batu dalam minumannya ke arah Zack dengan gemas. "k*****t"
Mereka kembali bungkam ketika melihat Nathan masih bergeming belum menyentuh makanannya, tapi malah sibuk dengan ponselnya. "Tenang Bro, Mia pasti mutusin Ben lah! Udah ketahuan selingkuh gitu..."
Nathan memainkan ponselnya dengan tangannya, "Kayaknya si banci udah ngadu ke Mia..." ujar Nathan.
Zack dan Rino menatap Nathan penuh ke-kepo-an, "Oya? Pasti dia ngarang cerita..." tebaknya.
Nathan mengangguk dan berdiri seraya mengeluarkan uang tiga lembar berwarna merah, "Gue mau ke rumahnya, lo pada balik naik taksi!" ujarnya seraya meninggalkan kedua temannya yang melongo dengan mulut penuh burger.
.
.
.
Mbok Jum sumringah lagi melihat Nathan kembali ke rumah ini. Sasy sepertinya juga sudah di rumah, karena ada mobilnya di halaman depan. Nathan menyapa Mbok Jum dan langsung menuju ke kamar Mia. Namun ia tidak menemukan Mia di sana. Ia kembali lagi ke Mbok Jum dan bertanya Mia ada di mana.
"Nah, makanya saya bingung kenapa Mas Ganteng ke kamar Mbak Mia, wong Mbak Mianya ada di ruang makan kok, baru selesai makan malam..."
Nathan tidak menjawab dan menuju ke ruang makan. Ia menemukan Mia sedang mencecap minumnya sambil memegang ponsel. Ia menoleh ke arah Nathan ketika menyadarii ada orang lain dalam ruang makannya.
Terdengar Mia berdecak. Nathan mengambil duduk di seberangnya. "Kamu apa-apaan sih Nath?"
"Kenapa?"
"Ngapain kamu mukul Ben di tempat umum?!"
"Dia bilang apa?" Tanya Nathan sambil mengunyah kentang gorengnya dan mencecap kopi panasnya, sambil matanya tidak lepas menatap Mia dan menunggu cerita versi Ben dari mulutnya.
"Ya kamu yang tiba-tiba datang, terus mukulin dia di depan sepupunya dan bikin malu dia di depan orang banyak! Itu sepupu Ben, Nath. Namanya Riana, aku kenal sama dia!" tukas Mia membela pacarnya.
Nathan manggut-manggut masih tetap dengan ekspresi yang datar, tanpa senyum. "Jadi dia pacaran juga sama sepupunya?" sindir Nathan.
"Nath! Jaga mulut kamu ya. Ben enggak gitu, aku kenal dia..."
Nathan mengedikkan bahunya, "Terserah, yang pasti kamu sama dia udah putus!" ujarnya membuat mata Mia membelalak.
"Hah?"
Nathan menatap mata biru Mia yang membesar tapi tetap cantik itu. s****n!
"Kamu P U T U S dari Ben Tol itu!!"
Mia menggebrak meja dengan gelasnya dan membuat Nathan sedikit terlonjak karena kaget, "Kamu siapa ngatur-ngatur aku?"
"Mulai sekarang pacar kamu bukan Ben lagi, tapi aku!" tegas Nathan yakin.
Ya, ia sudah memantapkan hatinya untuk merebut Mia kembali menjadi miliknya. Dia tidak tahan membayangkan tubuh Mia disentuh pria lain selain dirinya. Dan si tatto milik si banci itu nanti akan dia minta hapus segera! Eerrgghh, membayangkan wajahnya membuat buku-buku jarinya berkedut ingin memukul Ben lebih keras lagi.
Mia tersedak tiba-tiba, "Apa kamu bilang?"
"Kamu denger Mi"
"Enggak, aku enggak denger dan enggak ngerti mau kamu apa!" Mia menatapnya dengan bibir bergetar sesaat dan kemudian memilih meninggalkan Nathan menuju ke kamarnya.
Nathan menghela napasnya.